Magic Of Skill

Magic Of Skill
Chapter 21


__ADS_3

Killifer mendatangi istana dengan pakaian yang biasa ia kenakan, yaitu kaus yang ketat karena ototnya, dan celana panjang yang tampak nyaman. Sebuah pedang yang hebat disarungkan di pinggangnya, Killifer Voil berjalan dengan penuh percaya diri memasuki istana tanpa seorang pun menghentikannya.


Sampai di dalam istana, Killifer tak memiliki alasan untuk melihat-lihat, dia sudah cukup tahu apa yang ada di istana Kaisar. Ia bergegas menuju ruangan Kaisar, dimana akan ada seseorang yang penting tengah menunggu kedatangannya.


Ia adalah Marquis Daralo, seorang bangsawan kelas atas yang merupakan sahabat dari Kaisar Valarish dan juga Killifer. Begitu melihat Killifer datang memasuki ruangan, Daralo sangat gembira, ia segera memeluk sahabatnya itu dengan sangat erat.


Terjadilah percakapan hangat antara mereka berdua, dimana Killifer menceritakan apa yang terjadi selama peristiwa pemberontakan festival. Daralo mendengarkan itu tanpa sedikitpun merasa curiga, karena Daralo tahu sahabatnya tak memiliki alasan untuk berbohong.


Namun yang menjadi perhatian Daralo adalah ungkapan Killifer yang mengatakan bahwa dirinya berpura-pura menjadi bawahan Meffery Walter. Sesuai dugaan Daralo, Walter ternyata memang orang yang sangat kuat, bahkan sampai bisa memperbudak Killifer.


“Orang itu sangat berbahaya, dia memiliki peri legendaris bersamanya, juga pasangannya yaitu roh, dia juga memiliki Ksatria Kerajaan bernama Quine von Harold. Kita tak bisa membiarkan orang sepertinya berkeliaran, Daralo.” Ungkap Killifer dengan wajah yang meyakinkan.


“Kau benar. Tapi kenapa kau ada disini..?”


“Aku diperintahkan olehnya agar menjadi mata-mata yang mengawasimu. Dia tahu kedekatanmu denganku, dan ingin mengambil keuntungan dari situ. Beruntung dia tidak sadar kesetiaanku selama ini hanyalah kepura-puraan.”


“.. jadi.. apa yang kau rencanakan?”


“Kau orang yang cerdas, Daralo, aku tahu itu. Aku bisa menjadi mata-mata untuk kedua belah pihak, aku bisa memata-matai Walter untukmu, dan tentu saja aku akan sepenuhnya berpihak padamu. Bersama-sama kita hentikan ******** itu. Kalau tidak, Kekaisaran ini sudah pasti akan runtuh.”


Mendengar hal itu, Daralo tersenyum. Ia berdiri, kemudian melihat keluar jendela. Semua hal, berbagai peristiwa, bentuk pelarian, bahkan rencana dibalik rencana, tengah diproses di dalam otak cerdas Daralo. Kali ini ia tak lagi takut dengan Walter, setelah tahu bahwa ia memiliki orang dalam yang kuat.


Dan ada sebuah kabar baik muncul dari orang tercintanya. “Kau tahu.. istriku menyusup ke Raverine seorang diri, dengan menyamar menggunakan topeng pelindung. Ia melakukan itu karena kesal kepadaku yang mengucapkan hal buruk kepadanya. Tapi..” senyuman di wajah Daralo menjadi semakin besar, “Itu sudah tak penting, kita bisa mengabarinya kapan saja tentang rencana pembunuhan Raja Loiros.”


“.. kau berencana membunuh Raja Loiros?”


“Ya, membunuh Walter adalah hal konyol, aku berpikir bahwa itu sangat mustahil. Malahan, bukankah akan impas bila kita membunuh rajanya saja?”


“Sempurna. Baiklah, Daralo, aku akan ikut!”


***


Seorang perempuan yang menggunakan topeng dan jubah, menunggangi sebuah kuda dengan terburu-buru. Ia berkendara di tengah kota, yang mana sebenarnya itu normal meskipun di sekitarnya terdapat banyak pejalan kaki. Karena di Raverine, hewan seperti kadal raksasa atau rubah peliharaan, sengaja digunakan untuk menarik kereta karena kekuatan dan besarnya tubuh mereka. Ini membuat jalanan Raverine sangat ramai.


Entah ingin pergi kemana si perempuan yang menggunakan jubah hitam itu, ia seperti tak memiliki tujuan khusus meskipun mengendarai kudanya.


Sampai tiba-tiba perempuan tersebut lepas kendali, dan tak sengaja menabrak pejalan kaki. Pejalan kaki itu sampai terpental dan tersungkur ke tanah. Terlihat sebuah bingkisan berisi pita kain berjatuhan dari tangan si pejalan kaki yang tertabrak.


Karena merasa bersalah, perempuan dengan jubah itu turun dan menolong si pejalan kaki.


“Maaf, tuan, kau baik-baik saja?” tanya perempuan berjubah.


“.. Y-Ya.. aku baik-baik saja.”


Ketika melihat wajah pria yang baru saja ia tabrak, perempuan berjubah itu seketika terdiam.


“Maafkan saya, apakah anda adalah Tuan Meffery Walter?”


“Ya, aku Walter. Aku terkejut kau mengenalku.” Kata orang yang menyebut dirinya adalah Walter.


Si perempuan berjubah langsung bertindak serius, ia melihat ke sekeliling seperti memperhatikan sesuatu. Setelah sadar bahwa yang memperhatikannya tak terlalu banyak, ia segera berbisik kepada Walter.

__ADS_1


“Saya adalah utusan dari Kekaisaran Nasaroth, nama saya.. Cardella. Saya diperintahkan untuk memberikan surat ini kepada Tuan Walter.” Perempuan bernama Cardella itu mengambil sesuatu di dalam jubahnya, yang ternyata adalah sebuah gulungan surat dengan tali merah yang mengikatnya. Ia memberikan itu pada Walter. “Kalau begitu, saya permisi dulu.”


“Tunggu, jangan asal pergi begitu saja.” Henti Walter ketika Cardella berencana untuk kembali menunggangi kudanya.


“.. tapi, tuan, perintahku adalah agar segera memberikan itu dan pergi secepatnya sebelum orang lain menyadari pertemuan kita.”


Tanpa bantahan yang lebih lama lagi Cardella menunggangi kudanya kemudian berkendara ke arah yang sebaliknya. Ketika ia menjauh, dan sosok Walter sudah tak lagi terlihat, ia melaporkan sesuatu dengan menggunakan item sihir, message scroll untuk berbicara kepada orang yang jauh, “Surat telah diterima oleh Walter, sayang. Aku bersiap untuk mengintainya sekarang.”


Walter, saat itu masih memegang surat tak jelas dari perempuan yang menyebut dirinya sebagai Cardella. Ia membuka surat itu, dan melihat isinya;


‘Atas nama Kekaisaran Nasaroth sebelumnya izinkan kami meminta maaf kepada Tuan Meffery Walter karena ketidaksopanan kami dalam mengirim surat. Kami sangat menghormati keputusan Raja Loiros yang mengembalikan mayat Kaisar kami.


Tetapi mohon maaf, karena ini berdampak buruk pada Kekaisaran. Kami sangat menyarankan agar Raja Loiros mau datang ke perjamuan kami, lusa, di istana kami. Gunanya adalah untuk mempertegas kesalahan salah satu pihak, terutama kami yang mengacau festival tersebut.’


“Penghinaan.”


Walter membakar surat itu sampai tak bersisa. Ia mengumpulkan kantung belanjaannya yang berisikan pita untuk hiasan gaun Hile. Lalu berjalan kembali ke istana.


***


Sore hari, Cardella dengan tetap menggunakan jubah hitam dan topeng penyamaran, berdiri di atap perumahan untuk mengintai targetnya yaitu Meffery Walter. Rumah yang Cardella tumpangi itu berhadapan langsung dengan beranda dari kamar Putri Lennef, meskipun ketinggiannya jauh berbeda.


Cardella yang pada saat itu melihat Walter memasuki istana seorang diri tentu tidak bisa mengintai lebih dekat. Mengintai dari rumah seperti ini adalah cara yang paling tepat.


Tentu saja, Cardella tidak semata-mata mengintainya dengan hanya mata telanjang. Istana dikelilingi tembok besar, sedangkan kamar Putri Lennef berada di atas. Satu-satunya cara untuk melihat beranda itu adalah dengan menaiki temboknya, tapi kalau itu dilakukan jelas penjaga akan tahu.


Karena itulah Cardella menggunakan magic item yaitu Tap Point, sebuah anting yang memiliki fungsi menyadap suara dan visual dari target. Cardella bisa dengan mudah melihat bagaimana Walter bersandar di pagar beranda dengan di sebelahnya adalah Putri Lennef. Bukan hanya bisa melihat, Cardella juga bisa mendengar.


“Benarkah? Kalau begitu bagus, ayah juga merasa canggung dengan hubungan antar negara belakangan ini.” Tanggap Putri.


Mendengar tanggapan Putri yang salah, Walter membenarkan, “.. itu adalah jebakan. Tidak akan ada perjamuan disana. Tebakanku kalau Raja akan disergap selama perjalanan dan dihukum mati.. mungkin. Itu masuk akal bila mereka menginginkan balas dendam atas hilangnya pemimpin.”


Cardella yang mendengar itu langsung terkejut. Bukan hanya Walter yang berhasil menebak rencana Marquis Daralo, tapi juga kenyataan bahwa dia membicarakan masalah ini dengan orang ketiga terpenting di Raverine, yaitu Putri Lennef.


Selain itu, kalau Walter berhasil menebak rencana ini, itu artinya dia sudah mengatakannya terlebih dahulu kepada raja, atau kemungkinan lain adalah Walter tak memberikan surat itu kepada raja.


Mau bagaimanapun, ini adalah pembalasan untuk dua pihak sekaligus. Marquis Daralo ingin Walter terjebak dan berakhir dengan kematian raja. Sekalipun raja berhasil dibunuh, dan Walter marah, maka itu adalah jalan yang sudah tak bisa dihindari lagi apabila mereka menginginkan balas dendam.


Tapi Cardella tak ingin langsung mengambil kesimpulan, ia juga hanya memiliki beberapa message scroll lagi. Dalam rencana seperti ini laporan adalah hal yang penting, tapi Cardella memilih untuk mendengarkan lebih jauh.


“Jadi apa yang akan kau lakukan?” tanya Putri Lennef pada Walter.


“Tenang saja, aku memiliki seseorang disana untuk mengatur semuanya. Aku punya Killifer Voil, dia sekarang bersama Daralo dan menjadi rekan setianya. Kita bisa memanipulasi Daralo lewat Killifer.” Jawab Walter.


Cardella langsung mengingat-ingat kalimat itu dengan baik di telinganya. Apakah dia salah mendengar? Killifer Voil adalah ketua militer, bagaimana bisa dia menjadi mata-mata Walter?


Tapi kalau dipikirkan memang ada benarnya juga, Killifer tak terlihat selama Kaisar menghilang. Kalau Killifer saja bisa tunduk kepada Walter, bagaimana dengan suami Cardella?


Dengan menggunakan message scroll, Cardella melaporkan bahwa Killifer adalah mata-mata bagi Walter. Dia juga mengingatkan kepada suaminya agar jangan langsung mengiyakan perkataan Killifer, juga jangan langsung melabraknya, itu mungkin bisa menjadi pembrontakan kalau Killifer merubah rencana menjadi langsung menyerang.


Selesai melapor, ketika Cardella sudah bersiap ingin pergi, Walter kembali mengatakan sesuatu yang menarik, “Aku akan memerintahkan kepada Killifer agar dia melapor ke Daralo seperti ini, ‘Rombongan raja akan datang, pengawalnya adalah dua Ksatria Kerajaan yaitu kakak beradik Quine dan Neressy.’ Dengan begitu mereka akan mengumpulkan pasukan untuk menjebak raja. Tapi pada kenyataannya, raja tidak akan datang, dan kelompokku-lah yang akan menyergap mereka nanti.” Sambil mengatakan rencana itu kepada Putri Lennef, Walter menulis apa yang dia katakan di sebuah surat. Surat itu digulung kemudian diberikan ke merpati pengirim pesan.

__ADS_1


Dengan begini, Cardella sudah tahu rencana Walter. Itu artinya raja tidak akan datang, dan pasukan Walter sudah lebih dulu menunggu disana. Berarti nantinya yang akan tersergap adalah pasukan dari Nasaroth. Selain itu Walter juga mengatakan bahwa dia akan ikut menyergap, itu artinya apabila terjadi peperangan maka Nasaroth jelas kalah.


Baru Cardella ingin melaporkan, dia sadar bahwa scroll yang dia punya tersisa satu, dan itu akan digunakan untuk melaporkan rute perjalanan yang informasinya masih belum didapatkan. Jadi daripada membuang waktu, Cardella bergegas mengejar burung itu.


Hingga ia berlari terlalu jauh dari istana, burung merpati yang ia kejar terbang merapat di dekat atap perumahan tinggi. Cardella bisa dengan mudah berlari dan melompat di atas gedung itu, tapi untuk meraih si burung rasanya agak sulit.


Dia mengeluarkan magic item dari tas selempangnya, yaitu Light Shooter. Sebuah item yang berbentuk seperti magnet berbentuk tapal kuda, namun memiliki cara kerja yang unik. Apabila benda tersebut diarahkan ke objek, maka Light Shooter akan mengeluarkan sinar panas yang terbentuk seperti laser. Kesempatan menembaknya hanya 3 kali.


Tak butuh banyak kesempatan, Cardella hanya membutuhkan satu tembakan untuk membuat burung itu jatuh.


Saat burungnya terjatuh, Cardella segera menangkapnya, kemudian membawanya ke sebuah gang yang sempit dan jarang orang lihat. Disitulah dia melihat isi surat yang merupakan laporan bagi Killifer nantinya.


Ternyata memang benar, apa yang Walter katakan sesuai dengan isi surat itu, berarti saat itu Walter tidak sedang menjebak Cardella apalagi sadar akan keberadaannya.


Cardella mengganti laporan tersebut, ketika baru ingin mengulis, Cardella baru ingat bahwa Killifer adalah mata-mata bagi Walter. Kalau Cardella mensabotase laporan yang seolah membantu Nasaroth, Killifer pasti akan curiga dan meragukan isi surat tersebut. Itu artinya dia harus pandai mengatur ulang laporan agar dia bisa memanipulasi Killifer.


Yang dilaporkan Cardella adalah seperti ini, ‘Raja tidak akan datang, aku juga tidak akan bertindak bodoh dengan berusaha menyergap mereka. Anggap saja misi ini dibatalkan. Kau laporkan ke Nasaroth persis seperti apa yang ditulis sebelumnya.’


Dengan begini, Cardella berhasil memanipulasi Killifer dengan harapan bahwa nantinya Killifer akan melaporkan bahwa raja memang tidak akan datang yang artinya Marquis Daralo tidak perlu menyiapkan pasukan di tempat tersebut.


Selesai sudah, dengan begini pasukan Walter akan menyergap hal yang sia-sia, pikir Cardella dalam hati begitu.


Ia menyembuhkan burung yang ia tembak dengan ramuan penyembuh, kemudian membiarkan burung itu kembali terbang untuk memberikan suratnya pada Killifer.


Tapi Cardella sedikit kecewa pada dirinya sendiri, pada akhirnya rencana yang dibuat suaminya tidak berjalan lancar. Padahal ia berharap bahwa raja akan pergi tanpa pengawalan Walter. Tapi kalau Walter turun tangan, maka tak ada pilihan lain selain membatalkan misi.


***


Quine dan Florinas berada di tempat yang sudah ditentukan, sesuai rencana dari Walter dimana kini mereka tengah memasang perangkap berupa Space Prison di tempat yang Walter inginkan. Tempat itu adalah sebuah tepi hutan, yang menghadap langsung ke padang rumput sepanjang 17 kilometer lahan kosong, seperti yang Quine pernah jelaskan.


Namun keberadaan Quine dan Florinas disitu bukan untuk memasang perangkap yang sebenarnya, melainkan mengawasi pekerjaan Varnella, karena Space Prison adalah sihir milik Varnella yang kesetiannya sendiri masih diragukan oleh Walter.


Dan Varnella bekerja dengan baik, meskipun ia sering adu mulut dengan Florinas, ia menyelesaikan Space Prison itu sampai tahap yang sangat sempurna dengan nol kesalahan.


Florinas melaporkan hal ini ke Walter dengan menggunakan sihir Call, “Master, penjaranya sudah berhasil disiapkan. Apalagi yang harus kulakukan?”


“Bagus, terima kasih, Florinas.. tidak, terima kasih untuk Varnella.”


“Aku juga bekerja, Master!!”


“.. sudahlah. Florinas, gunakan Call pada Killifer, suruh dia agar melaporkan kepada Daralo bahwa esok Raja Loiros akan datang, rutenya adalah melewati padang di tempat kau berdiri sekarang. Kau mengerti?”


“Tentu, tapi Master bilang laporan Killifer sudah diurus.”


“.. ya.. ada sedikit masalah. Kau lakukan saja tugasmu, oke?”


“Baiklah, Master.”


Di sisi lain, Walter menerima panggilan dari Florinas itu ketika dia masih berada di beranda kerajaan. Mata Walter tertuju pada pemandangan langit, tak peduli meskipun matahari membakar matanya. Hingga sesuatu yang ditunggu oleh Walter akhirnya datang. Sesuatu yang terbang di langit, hewan berbulu yang bertugas mengantar surat, yaitu burung merpati.


Burung itu hinggap di tangan Walter. Seperti dugaan Walter, suratnya sudah diganti.

__ADS_1


“.. Cardella..?” Walter menyebutkan nama dari orang yang menyentuh burung jebakan ini, dimana burung itu sudah dilapisi dengan sihir pendeteksi yang membuat mana orang tertempel dan dapat diidentifikasi. “Cardella.. oh, yang tadi siang itu? Ya ampun, dia tidak ahli membuat nama samaran rupanya.”


__ADS_2