Magic Of Skill

Magic Of Skill
Chapter 18


__ADS_3

Ratu Holiana tak bisa berkata apa-apa ketika di depannya tampak lautan api yang menyala layaknya sebuah neraka. Pandangan yang terlalu buruk untuk seseorang yang baru selesai mengurung diri. Seluruh daerah kerajaan kecuali istana, habis terbakar.


“.. apa.. yang terjadi?”


Sial, Ratu Holiana syok berat.


Restart!


Aku menggunakan sihir tingkat tinggi bernama Restart, itu adalah sihir yang bisa memundurkan waktu. Seberapa lama waktu itu mundur ditentukan dari banyaknya mana yang digunakan. Aku menggunakannya cukup banyak. Kira-kira untuk 1 menit, aku kehabisan lebih dari 1,5 juta mana. Pada dasarnya ini memang sihir sederhana yang hanya mampu memundurkan waktu beberapa detik.


.............


.......


“.. j-jangan menggodaku terus!” ucap Holiana, ia kembali melontarkan kalimat yang diucapkannya semenit yang lalu.


Kemudian, All of Freeze! Seluruh dunia membeku, waktu pun berhenti. Di saat itu, aku menghilangkan efek pemberhentian waktu ini kepada Holiana, sehingga dia tidak ikut membeku.


Seperti burung yang baru keluar dari sangkar, bingung dan kagum, Holiana mengamati sekelilingnya yang tiba-tiba berubah menjadi biru es. Orang-orang yang ada di bawah kami berhenti berjalan, awan juga berhenti bergerak, “Apa yang terjadi?”


“Holiana dengarkan aku, sebentar lagi akan terjadi ledakan besar yang melahap kerajaan ini. Aku ingin kau tenang dan menunggu disini, selagi aku menghentikan ledakan itu. Kau mengerti? Jangan panik.” Jelasku pada Holiana.


Meskipun begitu Holiana tetap tidak mengerti, ia memiringkan alisnya. “Apa yang kau katakan? Semuanya baik-baik saja, kan?”


“Tidak, ini buruk. Ledakan itu bukan berasal dari makhluk biasa,..” aku mencoba memikirkan darimana asal ledakan itu, “.. Varnella?” sadar bahwa ini berbahaya, aku segera melompati tangga dan bergegas menuju tempat ledakan berasal.


Sebelum aku benar-benar melompat, Holiana berhasil menghentikanku, “Tunggu, jangan meninggalkanku sendirian!”


“Tapi ini berbahaya. Kau tenang saja. Kalau pemberhentian waktu ini berhenti, itu artinya aku berhasil, jadi kau—”


“Aku tidak mau!”


“.. Holiana?”


“Aku.. tidak mau. Kalau kau bertindak egois seperti itu,.. aku merasa takut. Paling tidak aku harus ikut denganmu.” Holiana memohon kepadaku, wajahnya memelas seperti kucing kecil yang kelaparan.


Wajahnya terlalu imut dan aku tak bisa membiarkannya, “Holiana, ayolah, ini bukan urusan sepele. Kau mungkin tak tahu, tapi ledakannya bisa membunuh kita kapan saja.”


“Di saat itu,.. kau akan melindungiku kan?”


Pertanyaan yang terdengar sangat menyakitkan.


Benar juga, aku akan melindungi Holiana. Kalau aku meninggalkan Holiana itu artinya aku menganggapnya sebagai beban. Ya sudahlah, lagipula ini keinginannya.


Aku tersenyum, menyetujui permintaannya. Kemudian aku menggendong tubuhnya seperti seorang putri, Holiana yang terkejut ketika tubuhnya diangkat langsung memasang muka merah dan memukuli dadaku. Dengan sihir Fly Up, aku terbang sambil menggendong Holiana.


Locating!


Aku melacak keberadaan Varnella. Dengan skill Locating yang berguna sebagai pelacak mutlak ini, hampir tak ada makhluk hidup yang tak bisa kutemukan. Tak terkecuali Varnella, yang bahkan bukan merupakan makhluk terkuat di dunia.


Menurut pelacakanku, Varnella ada di dalam tanah, sangat jauh dari gedung istana berada. Dengan berhentinya waktu, aku bebas melakukan apapun, tapi tetap saja aku menuju Varnella sambil terburu-buru.


Yang aneh adalah adanya sosok lain di dekat Varnella, 4 orang mungkin? Karena aku tak tahu siapa mereka, aku menggunakan Long Sense untuk melihatnya. Mereka bertiga ternyata adalah Quine, Killifer, dan Florinas. Ketiganya sedang berada dalam posisi kuda-kuda, bersiap untuk menyerang. Varnella ada di antara mereka, berhadapan tiga lawan satu dengan rekan-rekanku.


Beberapa menit kemudian, aku sampai di atas tanah dimana Varnella seharusnya berada. Dengan hanya sekali tendang ke bawah dengan kekuatan penuh, itu cukup untuk melubangi tanah hingga kedalaman puluhan meter.


Aku dibawa masuk ke dalam sebuah ruangan bawah tanah yang besar, dengan banyak batu-batu gua yang tajam ke atas dan kebawah. Dimana-mana gelap, tetapi dipasangi banyak obor yang membuatku bisa melihat betapa luasnya ruangan ini.


Tak jauh dari tempatku berdiri, Florinas dan lainnya sedang menyiapkan posisi menyerang. Varnella ada di depanku, di sebuah singgsana mewah dengan hiasan api yang menakutkan, ia membawa tongkat kayu yang jelek tapi aku bisa merasakan kekuatan di dalamnya. Di sebelah Varnella ada lelaki gendut, jelek, yang menggunakan pakaian bangsawan yang mahal, ekspresinya ketakutan.


Padahal Varnella duduk santai di singgsananya, tak sedikitpun menunjukkan wajah ancaman atau apapun. Tapi yang membuat suasana menegang adalah adanya lingkaran sihir besar yang muncul di tengah ruangan. Lingkaran sihir itu terukir di tanah, memunculkan aura api yang sangat kuat.


“.. Walter.. kita.. dimana?” Holiana bertanya dengan ketakutan, ia melihat sekelilingnya yang berupa tanah gelap.

__ADS_1


“Sebagai Ratu seharusnya kau tahu. Jangan tanya aku.”


“Tapi aku tak pernah tahu ada ruang bawah tanah di Le-Ugen.”


Aku menonaktifkan Super Skill All of Freeze.


Waktu kembali berjalan, interaksi antar semua orang di ruangan pun kembali terjadi.


“Master?” Florinas terkejut melihatku.


Tapi tak ada waktu untuk bertegur sapa. Aku sadar lingkaran sihir yang tercetak di tanah itu adalah sebuah bom yang akan menghancurkan Le-Ugen. Beberapa detik sebelum itu meledak, aku menggunakan sihir Area Protection, yaitu hasil penggabungan dari Locating dan Protection.


Sebuah kubah berwarna merah transparan menutupi lingkaran sihir, kemudian menahan ledakan besar dan tekanan berat yang di dalamnya. Tapi tenang saja, sihir sekuat apapun tak akan mampu menembus Area Protection yang kubuat, kecuali ia lebih kuat dariku.


Setelah ledakan bunuh dirinya selesai, Varnella menatapku dengan penuh kebingungan. Tim-ku berbaris di sebelahku, mereka paham dengan kondisi diriku yang membawa Ratu Holiana, sehingga mereka memasang kuda-kuda untuk melindungi.


Varnella menghembuskan napas kesal, ia berdiri dari kursinya dan mulai berbicara, “Kaukah tuan dari Florinas?” tanya Varnella. Nada bicaranya seperti orang jahat asli, kejam dan menyiksa. Meskipun kecantikannya sebanding dengan Florinas, Varnella tak mungkin menarik pria manapun dengan matanya. “Tak kusangka Florinas saudariku kini berubah menjadi budak.” Lanjutnya.


“Sepertinya kau salah paham, Florinas memanggilku Master karena dia menganggapku begitu, tapi aku tak pernah menganggapnya sebagai pelayan. Florinas adalah keluargaku.”


“Astaga, terserah, aku tak peduli.” Varnella menuruni tangga yang memanggungi dirinya di atas gundukan tanah, dia turun dengan membawa tongkat kayunya yang jelek. Sedangkan lelaki gendut yang berdiri di sebelah Varnella tadi, dia hanya memperhatikan dengan wajah bodoh. “Sampai bisa menghentikan sihir terkuatku, Great Explosion, sepertinya kau bukan orang biasa ya..”


Ketika Varnella semakin dekat denganku, Holiana menjadi ketakutan. Ia mendekatkan tubuhnya kepadaku.


“.. entahlah, ya. Aku hanya pria beruntung yang dihormati oleh seorang Ksatria Kerajaan, ahli pedang, dan Ratu Peri, dimana kuatnya diriku?”


Varnella tertawa mendengar lelucon itu, “Kau menghinaku?”


Aku membalasnya dengan senyuman yang sama dengannya.


Tunggu, aku tak ingat pernah memiliki senyuman seperti itu di wajahku.


Senyuman yang membuatku berpikir bahwa aku adalah orang jahat. Aku tersenyum karena melihat bagaimana Varnella tersiksa karena kekuatanku.


Holiana yang tadinya mendekat, kembali menjauh ketika senyuman licik terukir di wajahku. Aku yang sadar dengan hal itu segera meminta maaf dan memintanya untuk tetap berada di dekatku.


“Kalau kau tak datang, saudariku Florinas pasti sudah mati.. hihi.. setelah ribuan tahun kau terkurung di dalam telur sekarang akhirnya—”


“Konyol! Kau dan aku diciptakan sebanding. Apabila kita tak abadi sekalipun, butuh waktu yang lebih lama dari Perang Besar untuk menyelesaikan perkelahian diantara kita. Dan di akhir akulah yang akan menang, Dewa berkata begitu.” Florinas menyangkalnya.


Mendengar sangkalan Florina yang terdengar serius, Varnella tertawa sangat keras. Tawanya membuat telinga sakit, aura jahat yang dikeluarkannya terlalu kuat, aku ragu orang biasa bisa tetap berdiri tegak. Setelah selesai tertawa keras, Varnella malah lebih mengeluarkan aura jahatnya.


Karena aura yang menakutkan itu, pria bodoh di pihak Varnella sampai tak bisa berdiri, Holiana juga sempat jatuh sampai kuberikan sihir Peace Warm agar dia membaik, Quine dan Killifer juga takut. Yang menakutkan adalah ekspresi Florinas. Padahal sang Ratu Peri baru mengatakan bahwa dia dan Varnella sebanding, tapi apa yang kita lihat sekarang, nyatanya Florinas gemetar ketakutan.


“Hei, Florinas, kau sama sekali tak pernah belajar. Aku juga pernah mengucapkan kata ‘mati’ sesaat sebelum aku membuatmu tersegel.” Varnella mengatakan sesuatu yang Florinas tak bisa mengerti, “Aku yang sekarang sudah berbeda. Kau yang tertidur selama ribuan tahun mungkin tak akan pernah tahu, betapa sulitnya aku meningkatkan diriku sedikit demi sedikit sampai titik ini.”


Ini gawat. Florinas memang tak sebanding dengan Varnella yang sekarang, apalagi dengan mana-nya yang sering bocor. Aku bisa tahu itu dari raut Florinas yang seperti ingin mati.


Di Inventory-ku masih ada pedang Garanof dan Exaviel, selain itu aku juga lebih kuat dari Florinas dan Ice Dragon, mana-ku berada di angka 2,7 juta. Mustahil untuk kalah.


Florinas mempersiapkan pedang dari es yang bisa ia ciptakan sesuka hati, ia menodongkan pedang itu ke Varnella seperti dia pernah menodongkannya kepadaku, “Kalau begitu, kita lihat seberapa kuat dirimu.”


“Oh tidak, kau.. bahkan kalian tidak akan melihatnya.”


“.. apa?”


“Saksikanlah Florinas, inilah skill terhebat yang berhasil kudapatkan!” Varnella mengangkat tongkatnya, kemudian membenturkan tongkat itu ke lantai.


Tak terjadi apapun setelah itu, aku hanya bisa was-was bersama dengan Holiana yang semakin takut.


Apakah skill Varnella tak berhasil?


Sebelum aku meledeknya, aku bisa merasakan efek dari skill itu. Bukan dariku, tapi dari orang lain.

__ADS_1


Secara tiba-tiba Florinas mengayungkan pedang esnya kepadaku. Ayunan yang tak kupredisksi itu hampir saja membelah kepalaku menjadi dua, Holiana yang ditarik olehku juga kehilangan beberapa senti rambutnya akibat serangan Florinas.


Aku menjauh dari Florinas, dan baru ingin memarahinya. Ayunan lain muncul dari sisi kananku, pedang cepat milik Killifer yang diarahkan kepadaku lebih cepat dari suara, aku menghindar dengan susah payah karena harus melindungi Holiana dari sisi yang lain. Selain dari Killifer, Quine juga tak segan menusukkan ujung pedangnya kepadaku.


Aku yang tak punya pilihan selain menghindar, terpaksa membuat Area Protection yang membatasi antara aku dan dan rekan-rekanku sendiri. Hanya Holiana yang berlindung di dalam Area Protection-ku.


Saat aku berada di dalam kubah, mereka berhenti menyerang. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, ketika tim-ku berubah pihak.


Florinas dan yang lainnya berjalan, dan berdiri di sisi Varnella seolah mereka adalah satu tim sekarang.


Ada apa ini sebenarnya? Apa dari awal Florinas menjebakku?


Tidak, coba perhatikan lagi pada mata mereka. Mata mereka berbeda dari sebelumnya. Tak salah lagi, ini adalah efek skill milik Varnella. Dia pasti menghipnotis Florinas sehingga membuatnya menjadi rekannya.


“Kau hebat juga, bocah. Padahal yang kubutuhkan adalah si ratu jelek itu, kenapa kau melindunginya?” Varnella bertanya.


“Apa maksudmu?” ketika aku bertanya, mataku tak sengaja melihat pemandangan yang sedikit misterius. Lelaki gendut dengan pakaian bangsawan perlahan-lahan pergi dari ruangan bawah tanah ini. Dia berlari di antara bayang-bayang dan menghilang begitu saja.


“Holiana Katherine Jillian, pemilik dari skill True Death. Sayang sekali skill sehebat itu dimiliki oleh perempuan bodoh yang malah mengurung dirinya di kamar.. haha, aku akan malu sekali jika jadi dirinya.”


“Apa yang kau inginkan dari Holiana?”


“Bukan hal besar. Aku hanya perlu mempersembahkan jiwanya pada tongkat yang bisa menyimpan skill dalam kapasitas tak terbatas, tongkat yang kupegang sekarang ini, Staff of Leader..” Varnella menunjukkan tongkat jeleknya padaku, “Sayang sekali karena kau sulit dibunuh, aku terkejut kau dan si ratu tak terkena efek Royal Servants milikku.”


“Royal Servants? Itukah nama skill-mu? Maaf saja, tapi aku punya skill yang bisa..” aku menghentikan ucapanku setelah menyadari hal yang penting. “Itu berarti kau menggunakan skill-mu padaku?”


“Tentu saja, dan aku masih menunggu jawaban kenapa kau tak terdampak serangannya.” Varnella menyindir.


“.. kalau begitu.. terima kasih.”


“Hah?”


Double Drive, super skill yang memungkinkanku untuk menyalin kekuatan dari orang yang menyentuhku atau menyerangku, baik secara fisik atau apapun. Dengan Varnella yang baru saja menggunakan skill-nya padaku. Itu artinya semua kekuatannya menjadi milikku.


Hebat, mana-nya bahkan jauh lebih tinggi dari Florinas.


Jumlah mana-ku sekarang adalah 4.921.722, jumlah yang lebih dari cukup untuk menidurkan orang di seluruh dunia dengan Sleeper.


Aku menghilangkan pelindung Area Protection, ketika pelindungnya menghilang, Holiana menjadi panik dan menyuruhku untuk segera membuat pelindungnya kembali. Aku berkata agar tidak perlu panik.


Florinas, Quine, Killifer, berlari ke arahku dengan masing-masing pedang di tangan mereka. Dengan mengaktifkan skill Royal Servants, mereka bertiga kini kembali ke pihakku. Mereka berhenti berlari. Aku menyuruh mereka bertiga untuk pergi membawa Holiana. Tentunya aku akan menghilangkan efek ini nanti.


Varnella terkejut karena skill-nya tiba-tiba tak berfungsi. Sebelum mencerna keadaan, dia sudah dihadapkan dengan diriku yang berdiri tak jauh dari tempatnya.


Dari dalam Inventory, aku mengeluarkan pedang kembar Garanof dan Exaviel. Melihat pedang legendaris itu di tanganku, Varnella menahan rasa takut dan terkejutnya, “.. Garanof.. Exaviel.. bagaimana bisa?”


Aku mengayunkan pedang Garanof, Varnella menangkisnya dengan tongkat yang ia pegang. Memang berhasil, tapi terlihat jelas betapa kerasnya ia menahan kekuatan pedangku. Perbedaan fisik kami terlalu jauh.


Aku menendang Varnella hingga ia mundur beberapa langkah.


“Pedang yang melambangkan kejahatan dan kebaikan, bagaimana bisa manusia sepertimu memegang keduanya.. memangnya siapa kau?”


“Justru itu yang ingin kutanyakan kepadamu, kudengar kau ahli dengan kepribadian orang lain. Bagaimana kalau kau melihat kepribadianku?”


Tentu saja aku tahu kalau kemampuannya untuk membaca kepribadian adalah People Reading, itu adalah sebuah Teknik Kosong. Tapi tetap saja aku sulit melakukannya kepada diriku sendiri.


“Dan kenapa aku harus menjawabmu?” tanya Varnella sombong.


“Weapon Upgrade!” aku meningkatkan ketajaman pedang Exaviel yang kupegang di tangan kiri, kemudian kulemparkan pedang itu ke Varnella yang terdorong mundur dari tendangan sebelumnya. Lemparan pedang itu mengejutkan Varnella, ia tak sempat menahannya. Dan sekarang perut Varnella tertusuk oleh pedang.


Varnella menahan rasa sakit yang luar biasa. Mengingat Exaviel adalah pedang suci, dan kekuatannya kutambah dengan Weapon Upgrade.


“.. kau akan tahu, bahwa untuk pertama kalinya kau akan menyesal diciptakan abadi.” Kataku.

__ADS_1


__ADS_2