Magic Of Skill

Magic Of Skill
Chapter 13


__ADS_3

Di negara yang jauh, terdapat sebuah legenda tentang seorang perempuan cantik yang ahli membunuh seseorang dengan tanpa jejak. Perempuan itu memiliki wajah yang cantik, tubuhnya seperti seorang remaja, dan konon katanya dia juga baik hati.


Dia membunuh siapapun yang berbuat jahat kepadanya. Pemerkosaan adalah faktor yang paling digaris bawahi disini. Saking cantik jelitanya si perempuan tersebut, banyak pria yang tak sanggup menahan nafsunya dan beralih dengan mencoba memperkosa si perempuan.


Siapapun itu, entah seseorang atau kelompok, mereka semua mati tanpa luka sedikitpun di tubuh mereka.


Itu adalah rumor yang beredar tentang putri pembunuh, karena kecantikan dan keahlian membunuhnya. Tetapi ada juga yang menyebutnya sebagai ratu, karena dianggap dia memeliki daerah kekuasaan yang selama ini ia sembunyikan.


Berbeda dengan rumor tentang Raja Penyihir, putri atau ratu pembunuh ini bukanlah ancaman secara luas.


***


Pada kenyataannya, rumor itu memang benar adanya, tapi salah faktanya.


Apakah pembunuh itu adalah putri atau ratu? Nyatanya dia adalah ratu. Dialah sang Ratu Holiana, pemimpin dari kerajaan Le-Ugen, sebuah negara besar yang makmur dengan sumber dayanya yang berlimpah.


Ratu Holiana adalah pewaris tahta dari pasangan raja-ratu sebelumnya yang meninggal akibat tragedi pengkhianatan bangsawan. Ratu Holiana diangkat menjadi ratu diumur ke 18 tahun, dan menjadi garis keturunan terakhir keluarganya bersama sang adik yaitu Putri Nerna.


Holiana memiliki skill langka yang bernama True Death, itu adalah skill yang bisa membunuh seseorang dengan hanya menyentuhnya. Berbahaya memang, tapi Holiana bisa mengontrolnya dengan menggunakan sarung tangan. Meskipun begitu, fakta bahwa orang-orang takut dengannya memang tak bisa dipungkiri.


Selama belasan tahun, Holiana tak memiliki riwayat membunuh manusia dengan skill itu, yang ia tak sengaja bunuh hanyalah makluk seperti hewan.


Sampai ketika tragedi pengkhianatan terjadi. Dimana pada saat itu bangsawan di kerajaan Le-Ugen sadar akan betapa cantiknya Holiana di masa remaja. Mereka berencana untuk membunuh pasangan raja-ratu agar Holiana diangkat menjadi ratu secara politik, dan dapat dipinang oleh para bangsawan secara politik juga.


Nerna, adik perempuan Holiana, sadar akan kematian kedua orang tuanya yang terlalu mendadak dan seakan dibuat-buat. Dia akhirnya mengetahui fakta bahwa kematian orang tuanya adalah sebuah pembunuhan berencana yang dilakukan oleh pengkhianat.


Berita ini sampai ke Holiana. Holiana marah dan membunuh mereka yang terlibat dalam kasus pembunuhan itu. Lebih dari 20 orang bangsawan mati dalam waktu kurang dari seminggu, Holiana adalah pelakunya. Namun Holiana tidak dinyatakan bersalah karena itu adalah otoritasnya.


Kemudian Holiana diangkat menjadi seorang ratu. Tetapi ia tak bisa memaafkan dirinya sendiri yang telah membunuh banyak orang. Dia mengurung dirinya sendiri di kamar kerajaan selama berbulan-bulan sejak kejadian itu terjadi.


Kerajaan Le-Ugen pun dipimpin oleh Putri Nerna. Nerna sebagai adik Holiana merasa kasihan dengan kakaknya.


Holiana itu sama sekali tak pernah keluar kamar. Tapi dia diberi makanan teratur, dan penjaga yang menunggunya semalaman di depan kamarnya meskipun tak pernah mendengar perintah.


Dan begitu, cerita tentang ratu yang membunuh dengan skill mematikannya.


Tak banyak warga Le-Ugen yang mengetahui fakta ini. Meskipun mereka tahu pun, mereka hanya menganggap bahwa cerita tersebut adalah konyol. Mengingat Holiana selama ini bersikap baik kepada rakyatnya dan dikenal sebagai pewaris tahta yang sangat layak.


Holiana hanya bisa berharap. Apakah ada orang diluar sana yang bisa menghilangkan skill terkutuknya? Kalaupun memang tak ada, Holiana ingin hidup bersama dia yang mau menerima tangan pembunuh itu apa adanya. Dengan kata lain, Holiana menginginkan sosok orang yang tak bisa terbunuh dengan tangannya itu.


***


Aku, Florinas dan Killifer berteleportasi ke istana Kaisar Valarish. Sebuah kebahagiaan bisa menggunakan Dimension Teleport terus-menerus. Dan lagi skill ini tidak memerlukan kemampuan pelacak, jadi aku bisa berteleportasi ke tempat manapun yang kumau tanpa harus mengetahui tempat itu sebelumnya.


Fungsinya mungkin mirip dengan Locating yang kusalin dari Valarish, tetapi skill Locating hanya bisa digunakan untuk melacak makhluk hidup saja.


Ketika berteleportasi, kami muncul di sebuah ruangan yang luas dengan dindingnya yang dicat mewah. Ada sebuah meja, sofa dan beberapa hiasan ruangan seperti perapian dan karpet. Tak ada siapapun di ruangan itu, aku juga heran kenapa Dimension Teleport membawaku kesini daripada ke gerbang istana.


“Tuan, ini adalah tempat dimana kaisar bisanya mengadakan pertemuan ekslusif dengan bangsawan kelas atas.” Ucap Killifer.


Aku mengangguk. Kulihat ke sekeliling, semuanya benar-benar mewah penuh dengan kekayaan. Berbeda dengan istana Raja Loiros yang mewah tapi bisa ditolerir, disini kekayaan untuk satu negara seolah dihabiskan hanya untuk satu ruangan.


Di sudut-sudut ruangan, aku melihat sebuah dinding, tetapi dengan warna catnya yang agak berbeda. Seluruh dinding dilapisi dengan cat kuning emas, tetapi pada dinding yang kulihat warnanya agak sedikit pudar.


Florinas dan Killifer sibuk melihat-lihat apa yang ada di ruangan, aku perlahan menuju ke dinding itu dan mulai memeriksanya.


Entah kebetulan atau tidak, pada dinding itu terdapat sebuah energi sihir yang dirapalkan untuk melindungi si dinding. Inilah yang mereka sebut dengan segel. Energinya memang samar, tapi segelnya sangat kuat.


“Florinas kemarilah.” Aku memanggil Florinas untuk mengecek segel ini. “Apa kau bisa merusak segelnya?” tanyaku pada Florinas.


Florinas yang selesai melihat-lihat segel itu kemudian menjawab, “Kalau Master memukulnya dengan serius kemungkinan segelnya akan hancur.”

__ADS_1


“Tidak, itu terlalu merusak. Killifer, apa kau ada ide?” sekarang aku berganti dialog ke Killifer.


“Hmm.. bagaimana kalau menggunakan belati untuk memotong segelnya. Kekuatan Tuan Walter ‘kan sangat besar, daripada kekuatan itu dikeluarkan melalui pukulan, bagaimana kalau dikeluarkan melalui belati yang penggunaannya terkontrol.” Jelas Killifer.


Masuk akal, kalau belati ini merespon kekuatanku, maka seharusnya ketika aku memotongnya itu sama dengan ketika aku memukulnya. Ide yang bagus.


Mengikuti saran dari Killifer, aku menggunakan belati itu untuk memotong segelnya. Dan ternyata berhasil. Segel yang rumit dan kuat itu berhasil terpotong dengan sebuah belati.


Ketika segelnya menghilang, secara ajaib dinding yang terkena segel itu juga menghilang. Seolah-olah dinding itu sejak awal memang tidak ada, kepadatan dan wujudnya hanyalah sebuah ilusi. Di balik dinding yang bolong itu, terdapat ruangan dengan cahaya yang redup.


“Kerja bagus, Killifer. Florinas kau kalah.” Kataku meledek Florinas.


“Master, aku tadi juga ingin menawarkan ide itu.”


Kami masuk ke dalam ruangan.


Dan ternyata itu adalah ruangan tempat dimana senjata-senjata Valarish disimpan.


Saat kami masuk, dinding yang tadinya hilang kembali muncul. Tapi seharusnya itu bisa dengan mudah dibuka dari dalam.


“Ini.. sungguh hebat.” Florinas kagum.


Ya, ada banyak sekali senjata yang dipajang disini. Mulai dari senjata tajam yang dipajang di kaca, zirah, tombak, tongkat, bahkan pedang yang tertancap di sebuah batu.


Diantara banyaknya senjata yang terpajang layaknya sebuah pameran, aku tertarik pada dua pedang yang tertancap di batu. Kedua pedang itu masing-masing mengeluarkan cahaya dan bayangan, tertancap bersebelahan di sebuah batu yang dikelilingi oleh seutas rantai di sekitarnya.


“Pedang apa itu?” tanyaku pada Killifer.


Killifer menjawab, “Oh, itu adalah Pedang Kutukan Garanof dan Pedang Suci Exaviel. Aku hanya mendengarnya dari pada bangsawan.. tapi.. sepertinya itu bukan pedang yang Kaisar Valarish bisa gunakan.”


“Pedang kutukan atau pedang suci akan memilih siapa yang berhak memegangnya. Mereka bagaikan kebaikan dan keburukan, jadi mustahil ada seseorang yang memegang keduanya.” Florinas menyambung penjelasan Killifer.


Aku sedikit kecewa dengan penjelasan itu, “Ah,.. sayang sekali, padahal keduanya tampak keren. Memangnya tahu darimana kalau pedang itu menolak seseorang?”


Berarti kalau belum dicoba belum tahu kan?


Aku berjalan menuju batu yang dikelilingi rantai itu, kemudian memotong rantainya dengan menggunakan belati. Tepat di depanku, sebuah pedang yang tampak indah dan kuat seperti memanggilku.


Dengan tanpa niatan sama sekali, aku memegang kedua pedang itu dengan kedua tanganku, kemudian mencabutnya.


Tak disangka, pedang itu tercabut lebih mudah dari yang kukira.


Jangankan seperti menarik akar pohon dari tanah, rasanya pedang itu memang hanya tertempel di batu itu. Memangnya orang bodoh mana yang tak bisa mengangkat pedang segitu ringannya?


Aku melihat-lihat kedua pedang itu. Tak ada yang spesial. Ternyata setelah pedang itu ada di tanganku, pesonanya tidak begitu menonjol ketimbang mereka masih menancap di batu. Apa-apaan ini? Aku merasa dibohongi.


“Master.. itu..” Florinas terbelalak. Mulutnya menganga ketika melihat aku memegang kedua pedang itu.


Killifer jauh lebih terkejut, ia kagum tapi juga heran dengan yang dilihatnya, “Tuan Walter.. memang benar-benar orang yang spesial, ya.”


Dilihat dari reaksi mereka yang seperti melihat hantu, kemungkinan ini memang pedang yang kuat. Aku juga merasakan kekuatan yang berbeda dari pedang ini. Ya sudahlah, apa gunanya mengagumi pedang, itu ‘kan hanya pedang.


“Kalian berdua carilah senjata yang kalian inginkan. Aku ingin segera memasukkan semuanya di Inventory milikku.”


Inventory adalah sebuah sihir yang dimana kita mampu membuat ruang hampa dan memasukkan benda apapun ke ruang itu. Semua benda yang dimasukkan bisa diambil kembali setiap saat. Jadi sihir ini seolah seperti asisten berupa tas. Kudapatkan sihir ini dari Killifer.


Killifer merasa ragu dan tak enak ketika aku menyuruhnya mengambil satu senjata, tapi ia menyerah dan mengambil sebuah pedang panjang yang tampak kuat.


Sedangkan Florinas, ia berkata bahwa ia tak memerlukan senjata apapun untuk bertarung. Bahkan dengan Ice Area, itu adalah sebuah kemampuan yang terlalu mematikan bagi setiap makhluk hidup. Tapi meskipun tak tertarik, nyatanya Florinas memandangi sebatang tongkat yang melayang di atas pajangan batu.


Tongkat itu memiliki bentuk abstrak, seperti tongkat penyihir kebanyakan, di atas tongkatnya terdapat bola hitam seperti mutiara dengan kilatan dan pantulan di dalamnya.

__ADS_1


“Florinas, kau menginginkan tongkat itu?” tanyaku.


“Tidak, aku hanya penasaran apakah tongkat ini bisa memenuhi keinginan Master atau tidak.”


“Keinginanku yang mana?”


“Itu ‘lho saat kita pertama kali kita bertemu. Bukankah Master bilang ingin menghilangkan skill? Kupikir tongkat ini jawabannya.”


Aku terkejut kau masih mengingatnya. “Jadi tongkat ini bisa menghilangkan skill?”


“Bukan, tongkat ini bisa menyimpan skill seseorang di dalam bola kristalnya,” Florinas menunjuk ke bola yang tertempel di atas tongkat itu, “Dengan begitu skill orang itu akan masuk ke dalam kristal, dan pengguna tongkat ini bisa menggunakan skill-nya dengan mengaktifkan tongkatnya.”


Begitu, jadi kalau aku memasukkan Evolver milik Neressy ke dalam sini maka skill Neressy akan mengilang. Tapi kalau begitu jadinya itu sama saja menjadikan tongkat ini sebagai titipan Raja Penyihir. Aku sendiri juga tak mau berpergian membawa tongkat.


“Ya sudah, Florinas, kau yang akan memakai tongkat ini. Terserah kau ingin menjadikannya dudukan ketika terbang, atau alat pengaduk adonan kue. Kita kembali setelah aku menyimpan semuanya.”


“Baik, Master.” Florinas menatapku heran meskipun sudah membalas perintah dariku dengan kesiapannya, kemudian dengan nada yang sangat pelan, Florinas bertanya, “Sampai bisa memegang pedang yang melambangkan kebaikan dan kejahatan.. Master, sebenarnya siapa kau ini?”


***


Keesokan harinya Florinas melakukan ritual pada tongkat yang ia beri nama Fairy Staff, itu adalah tongkat yang sama dengan tongkat yang sebelumnya mampu memindahkan sebuah skill untuk masuk ke dalamnya.


Saat kembali ke istana, aku harus menjelaskan sedikit tentang Killifer Voil yang mulai sekarang akan bergabung dengan kelompokku bersama dengan Florinas. Bersyukur Putri Lennef mengizinkannya, begitu juga dengan Ratu Andervine yang padahal kemarin baru saja disandera.


Ada Neressy dan Quine, aku, Killifer, dan tentu saja Florinas. Betapa senangnya Neressy ketika aku mengabarkannya bahwa skill-nya bisa dihilangkan, meskipun ‘menghilangkan’ dalam artian yang lebih khusus.


“Sudah selesai, Master.”


Setelah beberapa saat Florinas memegang tangan Neressy, dan tangan satunya lagi ia taruh ke Fairy Staff yang mengeluarkan cahaya. Aku bisa merasakan energi sihir yang rumit mengalir dari tangan Neressy melalui tubuh Florinas, baru kemudian sedikit demi sedikit terwadah di Fairy Staff.


Wajah Florinas yang imut terlihat berkeringat setelah ia melakukan tugasnya.


“Sudah selesaikah?” Neressy bertanya sambil melihat telapak tangannya sendiri. “Penderitaanku.. hilang seketika,” Neressy merangkulku kemudian memelukku dengan bahagia. Quine, adiknya, juga tampak terharu ketika melihat kakaknya terbebas dari belenggu kekuatan.


“Ya, ini bagian dari janjiku.. firasatku mengatakan bahwa kita akan menjadi sahabat untuk kedepannya.” Kataku.


“Oh, tentu saja, aku akan senang bila bisa bersahabat denganmu.”


Satu dari tujuanku sudah terpenuhi. Sisanya..


Ice Dragon!


Oh, iya, aku lupa dengan Ice Dragon itu. Kalau aku menyentuhnya pasti bisa memberikanku efek ketahanan yang luar biasa. Dan juga hawa dingin yang dikeluarkannya tak kunjung hilang. Tapi aku baru sadar bahwa perginya Florinas dari gunung itu, dan apabila Ice Dragon dikalahkan kemungkinan besar es di gunung itu akan meleleh.


Saat itu terjadi pasti akan ada banyak orang yang menambang disana. Tidak, tentu tidak akan ada ancaman. Lagipula ancaman longsornya muncul karena saljunya masih ada. Oke, setelah mengalahkan Ice Dragon aku akan menambang disana.


“Master, kau yakin memberikanku tongkat dengan skill Evolver ini? Bukanlah lebih baik kalau menyimpannya di Inventory?” tanya Florinas.


“Kau ini kenapa? Sejak awal kau selalu menanyakan itu, bukankah sudah kubilang untuk menggunakannya? Aku percaya padamu, itu saja.” bantahku.


Florinas terlihat merasa bersalah, dia seperti membayangkan hal yang mengerikan dengan raut wajahnya yang sedikit takut. Ratu Peri Es dengan ~~~~rambut berwarna salju itu tak pernah menunjukkan ekspresi seperti itu sebelumnya.


Karena khawatir dengan keadaan Florinas, aku bertanya, “Apa kau keberatan memegang tongkat ini? Padahal kau sendiri yang menamainya Fairy Staff.”


“Master, sejujurnya menggunakan skill milik Raja Penyihir adalah suatu penghinaan bagiku. Dewa mengutuk skill itu, dan aku tidak seharusnya menggunakannya.” Jawab Florinas dengan tatapan dalam.


Lihat, benar, kan? Aku memang tak pandai bertindak egois. “Baiklah, kalau itu maumu. Aku akan menyimpannya di Inventory.” Jadi keputusan akhirnya adalah tongkat itu kusimpan, dan tak jadi digunakan oleh Florinas.


“Baiklah, rencana kita selanjutnya adalah menaklukkan Ice Dragon. Sekalian kita akan kuras habis emas disana!” aku mengumumkan rencana baruku pada dua orang anggota kelompokku.


Secara mengejutkan, Quine yang berada di ruangan yang sama dengan kami mengangkat tangannya, “Walter, izinkan.. izinkan aku memasuki kelompokmu juga.”

__ADS_1


Sempurna, sekarang anggota kelompokku bertambah satu orang perempuan cantik yang kuat.


__ADS_2