
fahmi sudah sangat marah kali ini, matanya lagi lagi memerah, airmata menetes, rahangnya mengeras, tangannya mengepal
melihat visya seperti itu,
"pak visya gak papa kok, jangan berbuat kasar, visya mohon" mohon visya, visya tak mau melihat keributan lagi,
visya sangat takut, fahmi benar benar seperti ingin membunuh ririn, namun saat fahmi melihat visya merengek dengan nada lembut
fahmi pun memilih pergi dengan menggandeng tangan visya, tak lama security datang, mereka langsung menggeret tangan ririn
"pak apa apaan sih!! saya bisa jalan sendiri,
jangan membuat luka ditangan saya yang mulus ini!!" berontak ririn
namun security tak menggubris, mereka menghempas kan tubuh ririn keluar gerbang dengan kasar.
ririn pun mengoceh diluar gerbang, dengan mengacak ngacak rambutnya sendiri.
ruangan khusus pemilik kampus
fahmi membawa visya keruangannya,
"bella boleh tinggalkan kami berdua" pinta fahmi
"eh iya pak siap, titip visya pak"
"ya" jawab fahmi dengan memanggukan kepalanya,
bella pun keluar dari ruangan fahmi, sedangkan visya ia masih meneteskan airmatanya, ia melamun tak ada henti
__ADS_1
"visya ada baju dikamar pribadi saya, masuklah dan ganti pakaianmu, pilih lah yang kamu suka" perintah fahmi, visya pun mengangguk , visya memasuki ruangan tsb
ruangan tsb memang sudah disiapkan pakaian wanita penuh 1 lemari, karena fahmi memang sudah mempersiapkankan segalanya untuk istrinya kelak
selama ini tak ada wanita yang memasuki ruangan pribadinya tsb, visya lah satu satunya wanita yang memasuki ruangannya
fahmi pun tak tau, perasaan nya kepada visya sangat lah tidak biasa, fahmi pun menatap pintu ruangan pribadinya tsb
tak lama visya keluar dengan gaun maroon sebawah lutut, dan lengan diatas siku,
fahmi tertegun melihat kecantikan alami visya, rambut visya yg panjang dengan dijepit sedikit kebelakang membuatnya terlihat cantik alami,
"sempurna " ucap fahmi yang tak sadar karena melihat visya
"pak, bapak jangan natap visya seperti itu, visya malu" pinta visya dengan menundukkan kepalanya
visya pun duduk di kursi hadapan fahmi.
"visya setelah ini saya berjanji, perempuan itu gak akan melakukan hal hal seperti itu lagi"
ucap fahmi dengan wajah memelas
"pak visya gak papa kok." balas visya dengan senyum yang sangat manis itu
"makasih visya, ririn itu sahabat saya, ia memang terobsesi dengan saya, sekali lagi saya minta maaf atas insiden tadi?" lanjut fahmi
" **iya pak, pak visya boleh tanya?"
"iya visya?"
__ADS_1
"pak kenapa didalam lemari banyak pakaian wanita yang masih baru, apa bapak punya adik perempuan?"
"ruangan itu sebenarnya saya sediakan untuk istri saya kelak, dan adik saya hanya adi"
"em ja jadi bapak sudah punya calon istri?"
"haha belom visya**,"
entah apa yang membuat visya sebahagia itu mendengar fahmi berkata bahwa ia belum memiliki calon, namun visya kembali sadar harapan nya terlalu tinggi
"hmm mana mungkin" ucap visya setelah membayangkan pikirannya itu
"apanya visya yg mana mungkin?" tanya fahmi penasaran
"**e enggak pak, visya permisi pak ada kelas, makasih pak bajunya assalamualaikum "
ucap visya yang gelagapan, ia sangat deg deg an keluar dari ruangan itu, saat sampai diluar pintu , fahmi keluar menemuinya
"ya allah visya deg degan**" ucap visya
"visya nanti tunggu saya dimobil," ucap fahmi
yang tiba tiba berada dibelakangnya
"a a bapak, e oke" visya pergi meninggalkan fahmi,
sedangkan fahmi ia hanya tersenyum bahagia melihat visya kik kuk seperti itu
"gadis yang menggemaskan " begitulah ucap fahmi, yang kembali keruangannya.
__ADS_1