Majikan Tampan

Majikan Tampan
ancam orang tua visya


__ADS_3

2 jam perjalanan sampai lah mereka diperkampungan tepencil, fahmi menjalankan mobilnya dengan pelan ia melihat kanan kiri kampung itu yang sangat sepi,


visya terbangun karena mereka sudah dijalan batu yang penuh lubang,


"emm kita udah sampai pak, kenapa bapak gak bangunin visya?" tanya visya dengan mata yang masih belum terbuka dengan sempurna, fahmi menatap wajah visya dengan serius, karena ia tau bagaimana kehidupan visya yang ditelantarkan oleh kedua orang tuanya,


"jangan tatap visya, atau visya lompat dari mobil" pinta visya yang menundukkan pandangannya, fahmi memberhentikan mobilnya, ia langsung memegang kedua pipi visya.


"lihat saya!" perintah fahmi dengan lembut,


"**kenapa pak, kita udah sampai sebaik nya kita lanjut kan per..."


"lihat saya! tatap saya visya**" pinta fahmi dengan nada yang teramat serius, fahmi tau visya mengingat perlakuan kedua orang tuanya, walaupun visya tak pernah memberontak atas perlakuan orang tuanya,


namun jelas teramat sakit dibenak visya, bahkan kedua orang tuanya, yang jelas jelas sedarah sedaging dengan visya tak pernah mengakui visya sebagai anak mereka, hanya karena anak perempuan, orang tua visya hanya akan mengakui anaknya yang berjenis kelamin lelaki.

__ADS_1


visya menatap pelan fahmi, mata nya berkaca kaca, nafas nya tak teratur, tangannya meremas kuat bajunya, fahmi merasa sangat tersakiti melihat mata visya yang bekaca kaca, seolah yang dirasakan visya juga dirasakan oleh fahmi.


"kamu percaya saya kan? saya akan menjaga kamu, jangan khawatir" bisik fahmi yang langsung memeluk visya, tangis visya pecah dipelukan fahmi, fahmi mengelus pelan rambut visya, dan mencium keningnya.


saat tangis visya mereda, fahmi memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, visya menunjukan arah kerumahnya, tak lama sampailah mereka dirumah yang sederhana, dengan bunga didepan rumahnya.


"pak ini rumah orang tua visya, hmm kita akan masuk sekarang? apa bapak yakin" tanya visya menarik pelan nafasnya dan kemudian dihembuskan lagi,


"**kenapa rumahmu sangat sepi visya? dimana orang tuamu?


"mungkin mereka sedang didapur pak, itu lah kebiasaan mereka"


saat pintu mobil dibuka, ada yang menelfon fahmi.


"**visya kamu masuk lah dulu, saya akan menyusul setelah panggilan selesai"

__ADS_1


"em baik pak**"


visya meninggalkan fahmi dimobil, sampai lah visya di pintu rumahnya, ia ingat betul bagaimana mereka memperlakukan visya sebelum ia bersama kakek neneknya.


visya mengucapkan salam, namun tak ada yang keluar, ia langsung masuk kerumahnya, yang pertama kali visya lihat adalah ayah,ibu, dan adik lelakinya sedang bercanda gurau didapur.


"aaah mereka keluarga yang sangat bahagia" gumam visya dalam hati.


"ayah, ibu?" panggil visya yang mengagetkan kedua orang tuanya itu.


mereka saling pandang, diam tak berbicara, mata visya kembali meneteskan butiran butiran jernihnya, sedangkan ayah, ibu, dan adiknya menatap sinis ke arah visya.


"kenapa kau kesini ha?" bentak ibu visya


"benar, kau mau apa!, oooo aku tau kau ingin tinggal bersama kami ya? hahaha sepertinya kau masih ingat persyaratan yang dulu!" sambung ayah visya dengan nada tingginya

__ADS_1


"benar yah , bu gadis semacam dia tak pantas untuk hidup bersama kita" lanjut adik visya.


visya semakin deras meneteskan airmatanya, ia tak menyangka bahwa orang tuanya akan mengatakan hal itu, bahkan adik laki lakinya yang masih menginjak sekolah menengah pertama, akan mengatakan hal itu juga


__ADS_2