
🌊 KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹
💐 HAPPY READING 💐
Praaaaaanggggggg, suara pecahan tedengar begitu nyaring.
Sontak saja, Jasmine dan beberapa pelanggannya keluar dari dalam toko, di ikuti dengan beberapa pemilik toko yang bersampingan dengan toko Jasmine.
“Uncle?” Canva merasa terkejut, karena Chiko berhasil memecahkan dinding kaca dari toko sebelah.
“Siapa yang nendang bola ini?!” Teriak seorang wanita cantik, yang mempunyai toko supermarket di sebelah Jasmine.
Chiko terdiam, pura - pura tidak mendengar pertanyaan ibu itu. Namun Canva melihatnya, dan membantu Chiko untuk mengangkat tanganya.
“Ini Tante, Uncle ini.” Tunjuk Canva pada Chiko, membuat Jasmine yang melihat itu lagi - lagi hanya menghela nafasnya, dan banyak - banyak mengucap istighfar.
Chiko tidak ada pilihan lain, selain mengakuinya. “Maafkan aku karena melakukkan hal ini. Aku sangat - sangat menyesalinya.” Ucap Chiko dengan begitu santainya, seperti tidak ada rasanya bersalah sama sekali.
“Ganti rugi apa yang sudah kamu rusak!” Pinta wanita itu baik - baik, agar Chiko mau mengangti rugi kerusakaan tokonya.
Tapi ada yang aneh dengan Chiko, dia menatap wanita pemilik toko itu dengan begitu lekat. “Kamu seperti tidak asing? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” Tanya Chiko, mengalihkan pembicaraan.
Gadis itu menyeritkan keningnya bingung, “iya, bukankah lima menit barusan kita bertemu.” Jawab wanita itu dengan perasaan begitu kesal. Karena dirinya sedang membahas tentang ganti rugi, pria di hadapannya ini malah membahas tentang yang lainnya.
“Aku mau ganti ruginya sekarang! Kamu sudah merusak tokoku dengan sedemikian rupa!” Tuntut gadis itu pada Chiko.
“Tentu saja aku akan mengganti rugi, aku akan mentransfer uangnya padamu! Berikan nomor rekeningmu!” Sahut Chiko, lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku.
“Sebutkan!” Pinta Chiko, ketika dia sudah masuk ke dalam aplikasi Mbangkingnya.
“50 juta cukup?” Tanya Chiko, dengan begitu santainya.
“Ya.” Jawab wanita itu, karena dia merasa itu sudah cukup untuk membeli kaca tokonya itu lagi.
__ADS_1
Chiko menganggukan kepalanya pelan, sembari memperlihatkan bukti transaksi yang sudah dia kirim ke rekening wanita itu. “Sudahkan.” Ucap Chiko, merasa tidak mempunyai tanggung jawab apa pun lagi.
“Eh, tapi tunggu! Aku rasa aku pernah melihatmu tidak mengenakan baju, apakah kita pernah berhubungan sebelumnya?” Tanya Chiko lagi, dan kali ini pertanyaan terdengar santa sensitif.
Belum saja wanita itu menjawab, Jasmine sudah lebih dulu menjambak rambut Chiko dengan kuat. “Aaarrggghh, Jasmine, Aarrghh.” Jeritnya merasa sakit, karena Jasmine menarik rambutnya lalu membawanya masuk ke dalam toko.
Jasmine sudah benar - benar tidak tahu, harus bagaimana menghadapi Chiko ini. Rasanya tekanan darahnya sudah naik, ketika seharian ini Chiko selalu saja membuat kesalahan.
Karena sudah tidak kuat menahan sakit kepalanya, Jasmine memilih untuk menutup tokonya agar bisa segera pulang dan beristirahat.
“Jasmine, tadi itu bukan kesalahanku,” ucap Chiko, masih membela dirinya, merasa bahwa dirinya tidak pernah salah.
“Lalu salau siapa?” Tanya Jasmine, menunggu jawaban dari Chiko.
“Itu salah anginnya, kenapa juga anginnya membawa bola itu ke sana.” Jawab Chiko, tepat seperti dugaan Jasmine sebelumnya, kalau Chiko akan menyalahkan keadaan atau bahkan menyalahkan alam.
Jasmine hanya bisa menggelengkan kepalanya pusing, “bagaimana bisa orang tuamu tahan dengan kelakuaanmu itu.” Ucap Jasmine, tanpa sadar membuat Chiko merubah ekspresi wajahnya.
“Orang tuaku tidak mau aku, makanya mereka tidak kuat denganku.” Kalimat itulah yang terakhir kali keluar dari mulut Chiko, sebelum akhirnya pria itu melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Jasmine di toko.
“Apakah aku salah bicara?” Tanya Jasmine, ketika dia menyadari perbuahan wajah Chiko tadi.
“Ahh, biarkan saja, aku bahkan tidak perduli kalau dia mau marah atau dia tidak mau datang ke sini lagi.” Serunya lagi, merasa tidak ada yang salah dengan kalimatnya.
Jika Chiko benar - benar marah padanya, itu adalah sebuah keberuntungan, karena dia akan kembali hidup tenang seperti dua hari belakang ini.
“Loh, Uncle Chiko kok pulang Mah?” Tanya Canva, ketika baru kembali dari belakang, dan melihat Chiko yang sudah masuk ke dalam mobilnya.
Jasmine tersenyum, lalu mengusap puncak kepala putranya dengan lembut. “Tidak apa - apa sayang, mungkin Uncle Chiko sudah lelah seharian membantu mamah di toko.” Jawab Jasmine dengan begitu lembut pada Canva Junior. Walaupun pada kenyataanya Chiko sama sekali tidak membantu, malah menghancurkan toko orang lain.
“Mah, Uncle Chiko itu pacarnya Mamah ya?” Tanya Canva, tiba - tiba, membuat Jasmine menatapnya dengan lekat.
“Bukan sayang, Uncle Chiko hanyalah teman Mamah saja.” Jawab Jasmine, tidak mau sampai anaknya itu berpikir bahwa posisi Papahnya bisa digantikan oleh pria seperti Chiko.
__ADS_1
“Lalu, teman - teman Canva pernah bilang Mah, kalau misalnya Papah sudah meninggal, dan Mamah dekat dengan seorang pria, maka pria itu pasti kekasihnya mamah.” Ungkap Canva lagi, memberitahukan apa yang dia dapatkan dari teman - temannya di sekolah.
Jasmine tersenyum kecut menanggapinya, betapa mirisnya anak - anak kelas 3 Sd zaman sekarang, karena sudah bisa membicarakan tentang keluarga yang seharusnya tidak mereka bahasa di saat usia mereka masih sangat belia.
“Mamah, Canva juga suka di Bully, di bilangin, ihhh Dasar!! Canva anak yatimmm gak punya ayah, kasihan dehh. Gitu Mah.” Adunya lagi pada Jasmine.
Sontak saja, Jasmine terhunyu mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut putranya. Lalu segera dia memeluk tubuh putranya itu dengan begitu erat. “Sayang, kalau Canva dibilangin begitu sama teman Canva, apakah Canva sedih?” Tanya Jasmine, yang walaupun dia sendiri pasti sudah tahu jawabannya.
Namun di luar dugaan, Canva malah menggelengkan kepalanya pelan, lalu membalas pelukan Mamahnya itu dengan erat. “Tidak Mah, Canva tidak sedih, karena Canvakan masih punya Mamah.” Jawabnya, malah membuat Jasmine yang merasakan sakit.
“Mamah sendiri yang bilang, kalau Papah itu tidak pergi Mah, tetapi ada di sini, di hati kita.” Ucap Canva lagi. Dan sontak Jasmine langsung menganggukan kepalanya pelan di iringi dengan tangisnya.
“Iya sayang, kamu benar, Papah akan selalu berada di dalam hati kita, karena Papah mencintai kita ber dua, dan tidak akan pernah ada yang mengangntikan posisi papah, Canva dengar itu sayang!” Lirih Jasmine pelan, laly menguraikan pelukkanya, untuk menangkup wajah putranya, agar putranya itu bisa melihat bagaimana perasaanya cintanya pada Canva.
“Tidak perlu ada seorang ayah baru atau kekasih mamah, karena apa? Karena Mamahn sendiri sudah cukup untuk Canva, Mamah bisa menjadi Papah sekaligus Mamah untuk Canva, Mamah juga bisa menjadi sahabat terbaik untuk Canva. Ya sayang ya.” Timpalnya lagi, memberitahu pada putranya kalau dia adalah seorang ibu yang serba bisa. Apa pun akan dia lakukkan hanya untuk putranya seorang.
“Iya Mah,” sahut Canva dengan begitu polosnya, dan itu membuat Jasmine tidak sanggup, untuk tidak kembali memeluk putranya.
*To Be Continue. **
Guys, Hari ini Mimin Birthday yang ke 22, mohon doa yang terbaiknya ya 🙏🏻🙏🏻🥳🥳
Hahah Edisi Minta di Ucapin nih 🤣🤣🤣🙏🏻🙏🏻
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
__ADS_1
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*