
🌊 KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹
💐 HAPPY READING 💐
Chiko melihat dari kaca, bahwa Jasmine sedang meminta maaf pada warga - warga itu. Namun Chiko bingung, kenapa Jasmine harus berbuat demikian? Kenapa harus sampai harus merasa tidak enak seperti itu.
Setelah menunggu lama, Akhirnya Jasmine masuk juga ke dalam mobilnya. “Sudah selesai minta maafnya?” Tanya Chiko dengan wajah betennya.
Dia kesal, karena harus menunggu lama di dalam mobil, apa lagi hawanya sedang sangat panas saat ini.
Jasmine menghela nafasnya, dan tidak menanggapi sama sekali perkataan Chiko, dia memasang sabuk pengamannya, lalu duduk dengan tenang. “Jalan!” Perintahnya pada Chiko, dan mau tidak mau Chiko menurutinya dan mengendari mobilnya untuk keluar dari pemukiman tetangga seribu bibir itu.
Setelah merasa jarak mereka sudah jauh dari rumah, Jasmine kembali menghela nafasnya. “Pinggirkan mobilnya!” Perintah Jasmine lagi, membuat Chiko terkejut mendengarnya.
“What?! Tapi kita saja belum sampai, kamu mau -“
“Pinggirkan!” Perintah Jasmine lagi, dan kali ini auranya benar - benar sangat dingin, membuat Chiko mau tidak mau menepikan mobilnya dari pada nasibnya menjadi buruk.
Chiko mencari tempat yang aman untuk dirinya menepikan mobilnya, dia melihat ke arah spion memastikan bahwa dirinya tidak menganggu perjalanan orang lain.
“Baiklah, kam -“
Buggggghh, sebuah bogeman mentan di layangkan oleh Jasmine ke perut Chiko, dan tentu saja itu sakit, karena Jasmine tidak memberikan aba - aba dan Chiko belum menyiapkan tubuhnya untuk menerima pukulan.
“Uhuuukkk.” Chiko terbatuk, merasakan pukulan Jasmine itu, sebenarnya tidak terlalu keras, hanya saja pukulan itu tepat di ulu hatinya.
Sudah sejak tadi dia menahan sakit di ulu hatinya lantaran Maggnya kambuh, dan kali ini Jasmine malah meninjunya.
“Kenap kamu pukul aku?!” Sentak Chiko, tidak terima jika Jasmine terlalu kasar padanya.
__ADS_1
“Kamu punya otak, bisa kamu pakai gak sih?!” Sentak Jasmine balik.
“What?” Chiko kembali tersentak, dengan pertanyaan Jasmine yang mempertanyaakn kerja otaknya.
“Wait,, wait, maksud kamu apa ya?” Tanya Chiko, sedikit merasa tersinggung dengan pertanyaan Jasmine yang mempertanyaakan apakah dirinya tidak bisa menggunakan otak atau apa.
“Maksud aku. Kamu punya otak di pakai gak?”
“Kamu katanya orang berpendidikan, tetapi kamu tidak tahu caranya menjaga attitude dan sopan santun.” Jelas Jasmine, yang sebenarnya sudah capek berdebat dengan Chiko, karena ujung - ujungnya pria ini pasti tidak akan mengakui kesalahannya.
“Memangnya aku berbuat apa? Apa yang aku lakukkan sampai kamu mengatakan aku tidak punya Attitude?” Tanya Chiko lagi, karena masih belum tahu, di mana letak kesalahan dirinya.
“Are you sure? Kamu masih nanya sama aku, apa yang kamu lakukkan?” Tanya Jasmine balik, dan di jawab dengan anggukan kepala oleh Chiko.
“Of course aku tanya, karena aku merasa -“
“Chiko, aku tinggal di dalam sebuah pemukiman warga, aku bukan tinggal di Eropa atau perumahan elite seperti kamu! Jadi please, hargai aku sebagai tuan rumah yang membawamu bertamu, meskipun kamu adalah tamu yang tidak di undang.” Ungkapnya, memberitahu pada Chiko apa yang sedang dia rasakan.
“Ya, aku tahu kamu tinggal di pemukiman warga, terus masalahnya di mana?” Chiko seperti orang bodoh yang terus menerus menanyakan apa salahnya, dan mengapa Jasmine sejak tadi hanya mutar - mutar saja bicaranya.
“Kamu buka baju tadi itu loh, masa kamu gak pikir? Banyaknya orang di sana yang lihat? Dan apa yang akan mereka pikirkan tentang kamu? Tentang aku?”
“Chiko, aku ini seorang wanita yang mempunyai seorang anak, bahkan aku tidak tahu status aku apa? Di bilang Janda bukan, di bilang perawan juga bukan.”
“Status aku itu yang paling jelek di mata mereka, bahkan aku tidak melakukkan apa apa saja, mereka kadang menuduhku mencuri suami mereka, menggoda suami mereka dan lain - lain. Jadi kalau kamu buka baju seperti tadi, itu akan semakin membuat mereka menCap diriku yang lebih jelek.” Kini Jasmine menjelaskan semua kepada Chiko, berharap pria itu bisa sedikit mengerti dirinya.
“Setelah ini, aku tidak akan jamin kalau nanti para warga seribu bibir itu tidak nyinyir dan bahkan tidak melaporkan kejadian tadi ke Pak Rt, kamu paham gak sih?!” Jasmine kembali kesal, karena Chiko sepertinya sama sekali tidak memahami, atau bahkan memang tidak mau memahami apa yang sejak tadi Jasmine katakan.
“Ya itu salah tetanggamu, kenapa mereka melihatku seperti itu, lagian salahku di mana? Aku hanya mengganti baju di depan sana, bukan dengan sengaja memamerkan tubuhku ini, kalau mereka terkesima ya itu salah mereka, lagian kenapa harus bilang ke Pak Rt, kita bahkan tidak berbuat asu sila di depan mereka.” Respon Chiko, benar - benar persis seperti dugaan Jasmine. Pria ini sepertinya tidak pernah menerima kalau dirinya salah.
__ADS_1
“Ya sudahlah Chiko, percuma juga bicara dengan kamu, semuanya salah di mata kamu, hanya kamu saja yang benar.” Jasmine memilih untuk tidak lagi membalas hal itu, dia juga sudah malas berdebat dengan Chiko yang sudah pasti tidak akan pernah ada ujungnya.
Chiko menyeritkan keningnya bingung, “aku tidak merasa -“
“Sudah - sudah, sekarang ayo kita cepat sampai di sana! Aku tidak mau di bilang manusia tidak tau terima kasih dengan mereka, karena datangnya telat.” Serunya, membuat Chiko kembali bungkam dan menganggukan kepalanya pelan.
“Baiklah.” Sahut Chiko dan mulai lagi menyetir mobilnya memecah jalan.
Sebenarnya, bukan Chiko tidak mengerti dengan apa yang di rasakan oleh Jasmine, dia tahu dari selama ini jika banyak warga yang membully dan mendeksriminasinya. Mamandangnya buruk, menghina dirinya dan lain - lainnya.
Tetapi, Chiko akan tetap diam, dan tidak akan pernah bersuara, sampai Jasmine merasakan lelah dan meminta pertolongan darinya.
Meskipun dari sikap Jasmine yang gengsian Chiko merasa hal itu tidak akan pernah terjadi, tetapi Chiko yakin, akan ada masa di mana Jasmine memintanya untuk menolongnya Suatu saat nanti.
Tetapi, untuk sekarang biarkan seperti ini dulu, Chiko akan terus menjadi seorang penonton sampai sutradara film itu memanggilnya untuk ikut serta dengan film itu.
*To qBe Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*
__ADS_1