
🌊 KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹
💐 HAPPY READING 💐
Sesampainya di rumah, Jasmine terkejut melihat banyaknya warga yang ada di depan rumahnya apa lagi dia melihat pak Rt dan Rw yang ada di sana.
“Ada apa ini banyak orang?” Tanya Chiko, melihat ramainya orang yang ada di depan rumah.
Jasmine merasa khawatir, jantungnya berdegup dengan sangat kencang. Dia memikirkan hal buruk tentang Canva.
“Hentikan mobilnya Chiko!” Tegas Jasmine, karena Chiko masih saja mengendarai mobilnya.
“Sabar! Itu banyak orang di situ aku mau parkir di mana?! Sabar dulu!” Balas Chiko yang menunjuk ke arah orang - orang yang menggrombolin rumah Jasmine.
Jasmine menghela nafasnya, karena Chiko terus saja menjawab padahal dirinya bukan memberikan pertanyaan.
Setelah mendapatkan tempat strategis untuk parkir, Chiko memarkirkan mobilnya di sana dan Jasmine lebih dulu keluar dari mobil untuk melihat apa yang terjadi di depan rumahnya.
“Maaf pak Eko, ini ada apa ya?” Tanya Jasmine ketika melihat sosok Pak Rt yang ada di depan rumahnya.
“Ini pak, dia orangnya.”
“Iya pak, dia yang membawa aib untuk kampung kita pak.”
“Iya pak.”
Suara warga satu persatu terdengar, membuat Jasmine kini menyeritkan keningnya bingung.
“Tenang dulu ibu - ibu, bapak - bapak, saya di sini mau menyelesaikan masalahnya baik - baik, kalau kalian berteriak seperti ini, bagaimana saya mau menyelesaikannya?” Seru Pak Eko yang berusaha cukup sabar menghadapi warganya yang sedikit rusuh.
“Ada apa ini?” Tanya Chiko, yang baru saja turun dari mobilnya dan melihat warga yang bersorak - sorak meneriaki Jasmine.
Eko yang melihat adanya Chiko, kini hanya menghela nafasnya. “Bisa kita bicara di dalam Jasmine?” Tanya Eko, yang membuat Jasmine semakin bingung karena pak Rt yang mau masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
Namun Jasmine tidak mau banyak bertanya, dia membuka pintu rumahnya dan mempersilahkan Pak Eko masuk ke dalam.
Jasmine, Pak Eko, Chiko dan Dua warga lainnya yang menjadi saksi kini di dudukan di dalam satu meja agar bisa di sidang.
“Begini Jas, maaf karena menganggu kenyamanan Jasmine dan membuat kributan di Rumahmu seperti ini.” Ucap Eko meminta maaf sebelumnya atas ketidak nyamanan yang di buat oleh warga lainnya.
“Tadi ada warga yang melapor kepada saya, katanya melihat seorang pria masuk ke dalam rumahmu, dan keluarnya lama lalu tidak lama kemudian pria itu keluar dan mengganti bajunya di luar, apakah hal ini benar demikian?” Ungkap Pak Rt meminta kejelasaan dari Jasmine tentang kejadian tadi.
Jasmine yang mendengar penjelasaan itu, hanya bisa menghela nafasnya dan melirik tajam ke arah Chiko. “Semalam juga katanya ada yang melihat pria yang sama datang ke sini dan cukup lama dengan pintu tertutup, dan pulang di tengah malam. Apakah benar?” Tanya pak Rt lagi.
“Hemm, begini Pak, yang dikatakan oleh warga memang benar, tetapi kami tidak berbuat apa - apa pak, dan juga semalam kita tidak tutup pintu melainkan pintu itu terbuka dan tidak pulang di tengah malam,” jawab Jasmine, menjelaskan pada Pak Rt bahwa yang ada di dalam pemikiran warga tentangnya itu adalah salah.
“Pria itu saya pak, nama saya Chiko, jangan menyebutnya dengan pria itu - pria itu, saya punya nama pak.” Protes Chiko, yang sejak tadi hanya mendengar saja Pak Rt membicarakannya tapi tidan menyebutkan namanya.
Jasmine menginjak kaki Chiko, menegur agar pria di sampingnya ini tidak bicara sembarangan di situasi seperti ini.
“Kami tidak menanyakan ada hubungan apa Kamu dengan dia, yang saya tanyakan kenapa hal ini terus berlanjut? Karena harusnya kamu tahu kalau kamu sedang tinggal di sebuah pemukiman warga dan tidak bisa sembarangan bertindak!” Tegas pak Eko pada Jasmine.
“Iya pak, saya minta maaf pak, saya tidak akan berbuat hal seperti demikian lagi.” Jasmine tidak akan membantah lagi, dia menyadari kesalahannya dan hanya bisa meminta maaf saja.
10 tahun dia tinggal di kampung itu, dari dirinya melihat mendiang Canva dan sampai Canva Junior lahir. Begitupun juga dengan istrinya, dia tidak mau warga terus menerus memprotesnya hanya karena masalah ini.
“Tidak pak.”
“Iya pak, nikahin kami saja, dari pada kami zinah.” Seru Chiko, yang membuat ke dua mata Jasmine membulat sempurna dan banyak - banyak menyebut di dalam hatinya.
“Asto firullah, asto firullah, Chiko.” Geramnya, rasanya ingin merauk wajah pria di sampingnya ini.
“Nahkan benar pak, mereka berdua inilah yang membuat aib untuk warga kita, nikahkan aja pak.” Usul salah satu warga lagi.
Dan kali ini Jasmine tidak bisa berkata apa - apa lagi, dia merasa benar - benar malu menampakan wajahnya pada warga dan pak Rt. Sedangkan Chiko begitu PDnya hingga senyum itu terus tampil di wajahnya.
“Bagaimana Jas? Apakah kamu mau di nikahkan saja? Dari pada pembicaraan buruk terjadi pada kalian?” Tanya Eko lagi, meyakinkan jawaban Jasmine dan juga Chiko.
__ADS_1
Melihat warga yang seperti ingin menghakiminya, Jasmine tidak bisa berkata apa - apa lagi selain menganggukan kepalanya.
Dia malu, dia benar - benar malu saat ini. Dia juga tidak tahu harus berkata apa untuk membela diri sedangkan warga sudah lebih banyak mengetahui apa yang mereka lakukkan.
Nasibnya karena mempunyai tetangga 1000 bibir, yang membuat semua gerak gerik yang dia lakukkan pasti tersebar kemanapun.
Dengan di ikuti para warga, Pak Rt membawa Jasmine dan Chiko ke KUA, mendaftarkan pernikahaan mereka.
Awalanya pihak KUA menolak, karena untuk mengajukan nikah butuh waktu sekitaran 5 - 1 minggu, namun Pak Rt memohon agar ke dua orang itu di nikahkan saja dulu dan urusan buku nikah bisa di susul nanti.
Dan akhirnya pihak KUA menyetujuinya, namun masih meminta waktu 3 jam untuk mempersiapkan semuanya terlebih dahulu.
Dan waktu 3 jam itu di manfaatkan oleh Bu Itta , istri pak Rt yang pergi ke pasar dan mencarikan Jasmine Cincin dari uang milik Chiko, namun Chiko memberikan uang yang cukup banyak dan Itta bisa membelikan satu set emas beserta Perangkat Alat sholat yang bisa di gunakan untuk mas kawin pernikahaan.
“Apakah sudah siap semua?” Tanya Itta yang baru kembali dari pasar.
“Baru mau di mulai, tadi bapak penghulunya bertanya tentang mahar, aku menjawab satu set emas, seperangkat alat sholat dan juga uang 1 juta rupiah. Benarkan?” Jawab Eko, dan kembali bertanya pada istrinya tentang mahar yang diberikan pada Jasmine.
“Benar pak.” Jawab Itta dan memperlihatkan mas kawin yang juga sudah di hias. Tadi dia menyempatkan diri ke tukang mahar untuk membentuk seala kadarnya.
Dan sisa uang itu akan di kembalikan lagi pada Chiko nantinya setelah membayar KUA.
*To qBe Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
__ADS_1
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*