
🌊 KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹
💐 HAPPY READING 💐
“Menikah?”
“Iya menikah, lalu apa lagi? Kalian berdua sudah cocok untuk menikah, dan Canva tentunya sangat ingin untuk memiliki seorang Papahkan.” Andi memperjelas pertanyaanya, dan membuat Jasmine menjadi gelabakannya sendiri mendengarnya.
“Lebih baik kalian menikah, dari pada kalian kumpul kebo seperti itu,” sahut Luna lagi.
“Memangnya kamu tahu apakah kami melakukkanya apa tidak?” Balas Chiko, yang memang dari tadi fokusnya sudah pada Luna.
Dia sangat tidak suka ketika ada sesorang yang suka sekali menyindir seperti itu, mulutnya jadi panas ingin sekali menjawabnya.
“Chiko sudah!” Tegas Jasmine, kembali mengingatkan pria di sebelahnya kalau dia tidak perlu meladeni seorang ibu - ibu.
“Luna, kamu itu mulutmu bisa kamu jaga tidak?! Ngapain sih kamu ngurusin hidup orang lain? Kalau hidupmu aja belum becus!” Kali ini giliran Mona yang bersuara.
Dia sedari tadi diam bukan karena hanya diam saja, tetapi dia juga ingin mengawasi setiap gerak gerik Luna.
Galih memberikan kode pada istrinya untuk jangan berbicara seketus itu.
“Kamu sebagai suaminya, masa diam saja istrimu seperti itu? Atau karena memang kamu suami takut istri?” Tanya Chiko lagi. Dan Dika akhirnya menghela nafasnya kasar.
“Maafkan atas perbuatan istriku, maafkan aku.” Ucap Dika dengan sungguh - sungguh.
__ADS_1
Chiko mengecap bibirnya, dia merasa kesal dengan Dika yang harus di tegur dulu baru mau memperingatkan istrinya.
“Kamu, kalau kamu terus begitu mulutmu! Aku laporkan kamu atas perbuatan yang tidak menyenangkan.” Ancam Chiko pada Luna yang kini menatapnya dengan lekat.
“Chiko sudah!” Tegas Jasmine lagi.
“Ayolah, kita pindah ke meja lain saja, di sini terlalu muak melihat wajah wanita ini!” Tekannya, membuat Andi dan yang lainnya harus berdiri menahan Chiko.
“Sudah - sudah, kalian ini kenapa sih? Malah berantem seperti ini.” Seru Shabrina, menanngkan semua teman - temannya.
“Iya benar, kita ini baru saja kehilangan Angel dan Galang, jadi please, jangan buat kita semua inu bermusuhan.” Ikut Andi, yang juga memberikan nasehat pada yang lainnya.
Jasmine menganggukan kepalanya, lalu kembali menarik tangan Chiko untuk kembali duduk.
****
Dan barulah di situ suasana mulai terlihat tenang dan masing - masing dari mereka menikmati makan siang mereka.
“Oh iya, kami penasaraan, bagaimana ceritanya kalian bisa bertemu?” Tanya Mona, yang sejak tadi penasaraan dengan kedekatan Jasmine dengan Chiko.
“Kami bertemu pada saat Jasmine ingin melahirkan di jalan 9 tahun yang lalu, tidak ada taksi maupun angkutan yang lewat yang bisa membantu mengantarnya ke rumah sakit.” Jawab Chiko dengan jujur, membuat Jasmine kembali menoleh ke arahnya.
“Bayangkan pada malam itu, dengan membawa perutnya yang sangat besar, serta rasa sakit yang sangat luar biasa dia tahan, di mana kalian yang katanya adalah sahabatnya?” Chiko mempertanyakan keberadaan orang - orang ini yang mengatakan jika dirinya adalah sahabat Jasmine dan mendiang Canva.
“Maafkan kami, karena kami tidak tahu kamu mengalami hal itu, kami mengira kalau jalan kamu ke Rumah sakit begitu mulus tanpa hambatan Jasmine.” Sahut Shabrina menyesali keadaan pada saat itu.
__ADS_1
“Dari mana bisa mulus? Kalau orang sakit perut memangnya bisa berjalan sendiri mengurus dirinya?” Sindir Chiko lagi, membuat semua yang berada di situ terlihat menatap Jasmine dengan perasaan sedih mereka.
“Sudahlah, semuanya sudah berlalu, sekarangkan Canva dan aku sehar - sehat saja, tidak ada masa lalu yang bisa di sesali.” Seru Jasmine merasa tidaj nyaman di antara mereka.
Kerena merasa khawatir jika Chiko akan mengatakan hal - hal yang buruk lagi, Jasmine mimilih untuk bangkit dari duduknya. “Sudah siang, aku harus pulang dulu karena Canva akan segera pulang.” Pamitnya pada semua yang ada di sana.
“Loh, kenapa buru - buru? Kita saja baru selesai makan?” Tanya Mona, berusaha menahan Jasmine.
“Canva akan segera pulang, dan kunci rumah aku bawa, kasihan dia kalau harus menunggu di luar.” Jawab Jasmine lagi, lalu berpamitan dengan yang lainnya.
Padahal jam masih menunjukkan pukul 1 siang, dan Canva pulang sore hari jam setengah 5. Namun Jasmine tahu bahwa mulut Chiko sedari tadi tidak bisa di kontrol untuk selalu menjawab semua pertanyaan teman - temannya.
*To qBe Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*
__ADS_1