
🌊 KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹
💐 HAPPY READING 💐
“Kamu marah sama aku? Karena kalimatku tadi siang?” Tanya Jasmine, agak ragu.
“Kalimat yang mana?” Tanya Chiko balik, tanpa sedikitpun menatap Jasmine.
Jasmine menghela nafasnya, karena Chiko sepertinya pura - pura melupakkannya. “Chiko, aku memintamu datang ke sini, karena aku ingin menanyakannya,” Jasmine memilih untuk mengalihkan topik pembicaraanya.
“Menanyakan apa?” Tanya Chiko balik.
“Tentang berita yang beredar di Tv, tidak mungkin kamu tidak mengetahuinya.” Jawab Jasmine, dengan wajahnya yang terlihat sangat serius.
Chiko diam saja, dia tidak menanggapi apapun kalimat yang keluar dari mulut Jasmine.
“Apakah ini juga ulah anak buah kamu?” Tanya Jasmine lagi, langsung to the point. Apa yang menjadi inti dalam kepalanya.
“Kenapa kamu berpikir kalau ini adalah ulah anak buahku?” Tanya Chiko kembali.
Jasmine kembali menghela nafasnya, dia kesal karena Chiko menjawab pertanyaanya terus dengan pertanyaan.
“Karena seperti yang Gilang katakan tadi siang, kamu adalah ketua, dan anak buah kamu yang melakukkan penculikan terhadap Angel dulu, dan -“ ucapnya terputus ketika tatapan Chiko kini tertuju ke arahnya.
“Dan, anak buah kamu yang melakukkan semua hal itu.” Sambungnya lagi, namun Chiko terlihat begitu santai menanggapinya.
“Tidak ada laporan dari mereka, lagian dari sore mereka sudah berangkat ke Mesir,” jawab Chiko, dengan singkat.
Jasmine menatap Chiko dengan tatapan yang mengartikan rasa curiganya. “Kenapa kamu menatapkku seperti itu?” Tanya Chiko, memprotes tatapan Jasmine yang seperti sudah siap memangsanya.
“Kamu mencurigakan.” Jawab Jasmine dengan jujur.
Semenjak dia mengetahui, bahwa Chiko adalah sebuah ketua atau pemimpin sebuah kelompok yang sangat menakutkan, Jasmine sangat kesulitan menaruh rasa percayanya pada Chiko.
Namun, mengingat semua yang Chiko lakukkan selama 9 tahun ini, rasanya tidak mungkin lagi kalau Chiko yang melakukkan semua itu.
__ADS_1
Chiko seperti memiliki dua kepribadian yang berbeda, membuat dirinya merasa percaya dan tidak percaya.
“Siapa sebenarnya kamu Chiko?” Pertanyaan itulah yang akhirnya kembali keluar dari mulut Jasmine.
Dia ingin Chiko jujur kepadanya, tentang siapa dirinya dan apa yang dia inginkan.
Di saat Jasmine merasa begitu tegang, Chiko malah tersenyum sembari menggelengkan kepalanya pelan. “Siapa aku?” Kalimatnya mengulang pertanyaan Jasmine yang menurutnya terdengar begitu konyol.
“Aku Chiko Watimmena.” Jawabnya singkat.
“Kamu sudah tahu namaku selama 9 tahun ini, dan kamu kembali menanyakannya lagi untuk apa?” Tanya Chiko balik.
“Bukan nama kamu, tetapi siapa diri kamu sebenarnya?” Jasmine memperbaiki kalimat tanyanya.
“Selama 9 tahun kamu mengenalku, dan baru hari ini kamu menanyakan tentang siapa diri aku? Kamu penasaraan atau memang hanya sekedar ingin tahu?” Chiko kembali mempertanyaakan tentang niat Jasmine.
Sebenarnya dia tahu, apa yang sebenarnya Jasmine ingin korek dalam kehidupannya. Namun sepertinya dirinya sudah tidak setertarik itu dengan Jasmine.
Bingung menanggapi Chiko seperti apa, dan sepertinya memang benar, Jasmine merasa bahwa Chiko mulai dingin kepadanya setelah dia mengatakan kalimat yang mungkin melukai hati Chiko tadi sore.
“Minta maaf untuk apa? Kamu benar kok, orang tua aku memang tidak tahan denganku, makanya mereka membuang aku.” Sahut Chiko, yang membuat Jasmine semakin yakin, bahwa Chiko marah dengannya karena hal itu.
“Aku tidak tahu siapa kamu, dan bagaimana kehidupan kamu Chiko, dan aku memang reflek mengeluarkan kata - kata itu, karena aku merasa emosi dengan kelakuan kamu tadi siang.” Tandasnya, Jasmine mencoba untuk membela dirinya walaupun dia tahu dia salah.
Chiko menghela nafasnya pelan, lalu dia menutup layar ponselnya, dan kini fokus menatap Jasmine yang malah menundukan kepalanya ketika Chiko balas menatapnya.
“Kalau sebenarnya niat kamu membahas masalah ini dan kamu meminta maaf cuman lantara ingin mendapatkan informasi dengan tragedi yang di Tv itu. Sepertinya hasilnya akan percuma Jas.” Tungkasnya, membuat Jasmine seketika bingung mendengarnya.
“Tapi -“
“Aku memang pemimpin mereka, tetapi tidak semua keputusan Pekerjaan dan Misi kejahatan yang mereka lakukkan itu harus diketahui olehku, tidak -“ ungkapnya pada Jasmine.
“Aku akan memerintahkan mereka, dalam sebuah tindak kejahatan yang besar, kalau hanya hal kecil bunuh membunuh, itu mereka lakukkan sendiri tanpa perlu ada izin dariku.” Chiko memberitahukan pada Jasmine bagaimana kerja dalam kelompoknya.
Mungkin memang benar Chiko adalah sebuah pemimpin Kelompok. Tetapi banyak yang tidak tahu arti dari simbol laba - laba yang dia ambil.
__ADS_1
Simbol itu mengatakan, jika kepalanya atau bisa kita sebut pemimpin dalam kelompok Laba - laba mati, itu tidak akan berpengaruh apa - apa. Karena kaki mereka masih bisa bergerak walaupun kepalanya sudah hancur. Begitulah kesepakataan dalam kelompok Phantom Trope.
“Sejujurnya aku hanya mau hidup tenang Chiko.” Jelas Jasmine pada pria yang masih menatapnya itu.
“Aku sebenarnya sudah malas membahas tentang siapa yang membunuh Canva dan mengapa dia dibunuh, sebenarnya sudah malas, hanya saja jika kamu yang melakukkan tragedi di balik kematian Angel dan Gilang, itu maknanya kamu sudah keterlaluan Chiko.” Sambungnya lagi, kembali dengan wajahnya yang begitu serius.
“Kamu mau mencuri, merampok, membunuh apa pun yang kamu lakukkan di luar sana, demi Tuhan aku sama sekali tidak mau perduli. Tapi kalau kamu sentuh keluarga atau orang - orang tedekatku, itu salah Chiko.” Ucapnya lagi, namun bukannya menanggapi dengan serius kalimat Jasmine, Chiko malah terlihat begitu santai tanpa berpikir tentang apa pun.
“Mau kamu, mau anak buahmu, mau senjatamu, pokoknya apapun itu, semua itu salah!”
“Kamu juga seorang owner dari sebuah perusahaan, masa itu tidak cukup untuk kehidupanmu? Sampai kamu harus menjadi seorang kriminal.” Jasmine seperti sedang menasehati seorang anak yang masih berusia 10 tahun ke bawah.
Namun lagi - lagi, Chiko menampilkan wajah datarnya. Dia sama sekali tidak mendengarkan apa yang sedang di bicarakan oleh Jasmine.
“Chiko.” Tegurnya lagi, memanggil nama itu, karena tidak ada respon sama sekali dari pria yang ada dihadapannya.
Kini giliran Chiko yang menghela nafasnya panjang, “kamu tidak tahu hidup bagaimana yang aku jalanin Jasmine, dan kamu bahkan tidak mengerti kenapa aku bertingkah konyol selama ini, kamu bukan tidak mengetahui siapa aku, tapi kamu tidak mau mengetahui siapa aku. Itu dua hal yang berbeda,” ucap Chiko, yang kini sepertinya mulai berbicara dengan serius.
“Aku sama sekali tidak mengerti, inti dari pembicaraanmu!” Tegas Jasmine, dengan wajahnya yang menanmpilkan senyum kekesalan.
“Ya begitulah kamu.” Balas Chiko dengan lukas.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*
__ADS_1