
🌊 KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹
💐 HAPPY READING 💐
Seperti yang di mau oleh Chiko, kini Samuel dan Fateh masih Menunggu situasi menjadi aman, agar bisa menyerang secara bersamaan.
Namun terlihat Gilang yang dari jauh melihat wajah yang tak asing baginya.
“Diakan?” Gumam Gilang, namun sepertinya semuanya sudah terlambat, di lantai satu dan dua sudah tercium seperti bau gas yang mampu merusak indra penciuman dan pengheliatan.
“Sayang,” teriak Angel, ketika dia juga ke ikut terserang gas beracun itu.
Sontak saja, Gilang langsung berlari menghampiri Angel yang terjatuh di tangga, karena ingin menyelamatkan diri.
“Angel, Angel.” Gilang berusaha menyadarkan Angle, namun sudah tidak ada jawaban, begitu juga dengan yang lainnya.
Gilang menggelengkan kepalanya pelan, menolak apa yang sedang terjadi di rumahnya itu. Dia segera mengambil ponselnya untuk menelpon ambulance, dia ingin menyelamatkan orang - orang yang masih bisa di selamatkan.
Sreeekkkkk, uhukkkkk, Gilang merasakan jantungnya baru saja di tusuk dengan pisau. Hingga membuat dirinya terjatuh di lantai tepat di samping Angel.
Dengan nafas yang sudah sekarat, Gilang mengirim Voice Note ke Jasmine, mengatakan bahwa pembunuhan di rumahnya dia terjadi oleh pelaku yang sama.
“Kamu terlalu serakah Fateh, aku bahkan baru membunuh satu orang saja, kamu sudah banyak.” Protes Samuel, merasa bahwa malam ini dia tidak menikmati permainan yang ada.
“Kamu yang salah, kamu terlalu lambat, ketika aku menyadari ada yang memantau kita dari atas, di saat itulah aku melempar bola yang bisa menyebarkan gas beracunku. Kalau tidak pria itu akan menjadi masalah besar untuk kita.” Sahut Fateh, terlihat sangat tidak perduli dengan protesan Samuel.
Yang terpenting malam ini misi mereka sudah selesai, dan tidak ada satu orangpun yang masih bisa keluar dengan hidup - hidup. Karena gas beracun yang di milik Fateh, sama sekali tidak ada yang memiliki penawarnya selain Fateh itu sendiri.
“Baiklah, karena ini sudah selesai, ayo kita gabung dengan yang lainnya, kita masih sempat untuk ikut perampokan di Mesir.” Ajak Samuel, dan mulai melangkahkan kakinya.
“Kamu tidak mau mengambil ponsel pria ini?” Tanya Fateh, sembari menunjuk ponsel yang ada di dalam genggaman Gilang yang sudah tidak bernyawa.
Langkah samuel terhenti, dan dia mengingat akan hal itu. Dengan menghela nafasnya Samuel kembali lagi mendekat pada jasad Gilang lalu mengambil ponsel tersebut.
__ADS_1
“Terkunci.” Ucapnya, ketika melihat ponsel milik Gilang terkunci dengan sandi yang tentu saja tidak mereka ketahui.
Namun Fateh diam saja, dia ingin melihat apa yang akan di lakukkan oleh Samuel untuk menghilangu sebuah barang bukti.
Samuel mengantongi ponsel itu, lalu kembali melangkahkan kakinya untuk turun ke lantai satu. “Kamu mau ngapain?” Tanya Fateh, ketika melihat temannya itu malah mengarah ke kolam renang.
Dengan senyum Samuel mengeluarkan ponsel milik gilang tadi. “Terkadang masih ada ponsel yang bisa menyala walaupun sudah di rendam berjam - jam lamanya.” Ucap Fateh, ketika dia sudah tahu apa yang akan di lakukkan oleh Samuel.
“Gunakan ini.” Timpalnya lagi, meminta ponsel yang ada di tangan Samuel.
“Zat asam, apakah kamu selalu membawanya?” Tanya Samuel, ketika melihat zat yang bisa menghancurkan apa saja itu.
“Hanya pada saat tertentu.” Jawab Fateh dengan begitu santai. Lalu merendam ponsel Gilang dengan sebuah Zat mematikan.
Begitulah cara mereka terkadang dalam menghilangkan barang bukti, bahkan terkadang mereka merendam mayat - mayat mereka dengan Zat itu. Agar tidak ada yang tahu kalau mereka melenyapkan seseorang. Karena zat itu bisa melarutkan apa saja tanpa adanya sisa.
Dan begitulah di rumah Chiko, ada dua kolam renang tesedia di sana, dan salah satunya di isi dengan Zat asam itu. Apakah kalian bisa membayangkan sudah berapa mayat yang hilang di sana?
“Sudah, ayo kita pulang.” Ajak Fateh lagi, ketika misi mereka sudah selesai.
Sesampainya di dalam mobil, Samuel dan Fateh tidak langsung mengendarai mobil untuk pergi. Mereka bahkan menelpon polisi dan melaporkan pembunuhan yang terjadi, tentu saja itu bukan menggunakan nomor mereka, tetapi menggunakan nomor asing yang sering mereka pakai untuk mengelabui polisi.
Tak lama kemudian, mereka melihat ambulance yang lewat, sepertinya ambulance itu datang karena telpon dari Gilang tadi.
“Untuk apa kita di sini?” Tanya Samuel pada Fateh yang tak kunjung menyalakan mobil mereka.
“Aku hanya ingin melihat mereka saja.” Jawab Fateh dengan begitu santai.
“Tidak perlu, ayo kita pergi sekarang sebelum Reza meninggalkan kita dan kita tidak jadi mengikuti keseruan di Mesir.” Ajak Samuel lagi.
Fateh yang paling malas mendengarkan ocehan Samuel, akhirnya mengiyakannyan dan mulai mengendarai mobil mereka pergi meninggalkan lokasi.
*****
__ADS_1
Berbeda di sisi lain, Jasmine yang baru saja selesai mencuci piring bekas makan malam mereka. Kini memilih untuk duduk bersantai di ruang tamu untuk melanjutkan film drama China kesukaanya. Sedangkan Canva sudah masuk ke dalam kamarnya untuk belajar.
Jasmine melihat televisi, sembari memeriksa ponselnya mengecek apakah ada pesanan bunga yang masuk atau tidak. Lalu dia membuka tiktoknya, karena selain di Instagaram Jasmine juga mempunyai akun tiktok untuk mempromosikan bucket - bucket bunganya.
Jasmine mulai mengscroll tiktok, hingga dia melihat sebuah berita yang baru saja di upload.
Tragedi Komplek Grand Tjokhro Jakarta, 62 orang meninggal akibat Gas Beracun yang mematikan indra, tetapi satu korban terlihat mati di sebabkan penusukan di jantung, pemiliki rumah adalah Angelica Saylendra, yang turut meninggal bersama dengan tamu yang lainnya. Sedangkan pria yang di tusuk di duga pasanganya bernama Gilang Putra Atmaja.
Jasmine mengerjapkan matanya pelan, dia sedang menyimak berita yang dia dapatkan saat ini. Karena tidak terlalu fokus, Jasmine mengecilkan volume televisinya. Lalu kembali mengscroll tiktoknya.
Memang benar, sekarang semua berita - berita Viral lebih dulu ada di tiktok dari pada di berita.
Angelica Saylendra dan Gilang Putra Atmaja yang merupakan pemilik rumah di kawasan Grand Tjokhro yang mengadakan sebuah pesta perayaan sebelum tragedi berdarah itu terjadi. Polisi masih mendalami apa motif dari pelaku pembunuhan. Tapi polisi juga mebgatakan bahwa ini adalah ulah musuh yang mungkin saja ingin menghancurkan keluarga ini tanpa sisa.
Berita itu di sertai dengan foto Angle dan Gilang yang mungkin mereka dapatkan dari Instagram ke duanya.
Jasmine terpaku mendengar berita itu. Dia masih menyimak dan mencari kebenaran tentang kematian Gilang dan Angel.
Satu persatu sahabat lama dia dan mendiang Canva mulai mengirimkan Whatsaap padanya, menanyakan apakah dia sudah melihat berita atau belum. Yang membuat Jasmine semakin menahan hatinya agar bisa kuat menerima kenyataan yang ada.
“Gilang dan Angel? Gak mungkin.” Lirihnya pelan, tidak percaya dengan berita yang sedang beredar.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
__ADS_1
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*