
🌊 KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹
💐 HAPPY READING 💐
Yang awalnya Jasmine ingin bersantai, pada akhirnya dia harus menerima kabar buruk ini. Mungkin akhir - akhir ini memang dia tidak terlalu dekat dengan Angel dan Gilang. Namun pada akhirnya tetaplah ke dua orang itu yang membantunya untuk bangkit seperti sekarang ini.
“Mamah,” panggil Canva ketika melihat mamahnya menangis sendirian di ruang tamu.
Jasmine sejenak menghapus air matanya pelan, lalu menoleh ke arah Canva yang berdiri di belakangnya.
“Iya nak.” Sahut Jasmine, dengan senyum manisnya, berusaha menutupi perasaan sedihnya.
“Mamah kenapa? Mamah nangis ya?” Tanya Canva, ketika masih sempat melihat mata Jasmine yang masih basah dan memerah.
Jasmine kembali tersenyum, lalu membuka ke dua tanganya, meminta anaknya untuk masuk ke dalam pelukkannya. “Kenapa Mah, mamah belum jawab Canva.” Tanyanya sekali lagi, sembari memeluk tubuh mamahnya. Berusaha menjadi penenang untuk ibunya.
“Sayang, Mamah barusan dapat kabar kalau Tante Angel dan Om Gilang meninggal sayang.” Jawab Jasmine memilih jujur pada putranya yang sudah dewasa itu, bahkan tangisannya kembali pecah tanpa harus di tutup - tutupinya lagi.
Dia menangis dengan memeluk tubuh putranya. Namun Canva masih berusaha bersikap dewasa, dengan mengusap punggung belakang Mamahnya. “Sabar ya Mah, kan mamah pernah bilang sama Canva, kalau misalnya semua orang yang meninggal itu pasti di sayang sama Tuhan,” ucap Canva, mengingatkan apa yang penah di katankan oleh Mamahnya kepadanya, ketika menanyakan kenapa Papahnya lebih dulu meninggalkan mereka.
Jasmine menganggukan kepalanya pelan, dia bahkan masih bisa tersenyum ketika anaknya menceramahinya seperti itu.
“Makasih ya sayang.” Ucapnya pada Canva.
“Terima kasih buat apa Mah? Memangnya Canva ada memberikan Mamah sesuatu?” Tanya Canva pada Jasmine, ketika dia menguraikan pelukannya dari tubuh Mamahnya.
“Terima kasih bukan hanya sekedar memberikan barang sayang,” jawab Jasmine dengan lembut.
“Selama Canva mau memberikan yang terbaik untuk Mamah, Canva selalu ada untuk Mamah, Canva menjadi anak yang baik untuk Mamah, semua itu juga Mamah harus berterima kasih pada Canva,” jelasnya pada Canva, untuk membimbing anaknya itu di tahap yang lebih.
“Walaupun, kamu harus dewasa sebelum waktunya.” Batin Jasmine, ketika dia mengingat bagaimana sikap anaknya yang mau menasehatinya di dalam keadaan duka.
Tidak bisa di pungkiri, terkadang walaupun Jasmine sudah dewasa, tetapi dia masih perlu ada yang menasehatinya, mengingatkan padanya tentang kesulitan yang bisa saja tidak bisa di hadapi.
“Ya sudah, sekarang Canva tidur ya sayang, besok pagi kita pergi ngelayat di rumah Mendiang Om Gilang dan Tante Angel.” Ucap Jasmine, yang di jawab dengan anggukan kepala oleh Canva.
“Tapi Mamah jangan nangis lagi ya, nanti Canva jadi sedih kalau mamah nangis lagi.” Balasnya, namun masih memberikan mamahnya sebuah ultimatum.
Kembali Jasmine menganggukan kepalanya pelan, lalu tersenyum mendapatkan anaknya bisa mengancamnya seperti itu. “Mamah tidak akan nangis lagi, Mamah janji.” Ujarnya lagi, dan kali ini bisa membuat Canva sedikit senang mendengarnya.
__ADS_1
“Baiklah, Canva tidur dulu ya Mamah, selamat malam Mamah.” Pamitnya, lalu mengecup pipi Jasmine sejenak, lalu pergi ke kamarnya.
“Selamat malam sayang.” Sahut Jasmine, menatap langkah putranya yang hilang di balik pintu.
Jasmine menghela nafasnya kasar, dia berpikir keras atas kejadian malam ini, apakah masih ada hubungannya di masa lalu? Apakah orang yang dulu menculik Angel kini datang lagi dan kembali melakukkan aksinya? Dan apakah yang melakukkan hal itu, kembali menyewa anak buah Chiko untuk melakukkannya? Banyak sekali pertanyaan - pertanyaan yang berputar di dalam otaknya.
Apa lagi, biasanya jam segini Chiko sudah datang bertamu ke rumahnya, menganggunya setiap malam dengan alasan numpang makan.
Tetapi saat ini, dia tidak ada dan tidak datang, kemana kira - kira pria ini? Apakah dia marah dengan kalimat Jasmine tadi? Atau bagaimana?
Jasmine sampai harus mengusap wajahnya kasar, karena pertanyaan di kepalanya tidak ada yang bisa menjawabnya.
……
Sedangkan di sisi lain, melihat berita yang ada, Chiko terlihat biasa saja, datar tidak ada ekspresi sama sekali.
Bahkan ketika dia mendapatkan laporan tugas selesai dari Fateh dan Samuel, dia terilah biasa saja.
Ya begitulah Chiko, sebenarnya dia juga tidak tahu, sejak kapan dia jadi hobby melihat penderitaan seseorang.
Yang jelasnya dia merasa itu adalah kepuasaanya sendiri.
Chiko menatap laptopnya, seperti sedang berpikir tentang penaikan laba di perusahannya. Namun tidak lama kemudian dia melihat ponselnya berbunyi, dan melihat nama Jasmine yang ada di sana.
Namun Chiko memilih untuk membiarkannya, sampai pada panggilan ke tiga barulah dia mengangkatnya.
“Kenapa?” Tanya Chiko dengan begitu santai.
“Kenapa?”
“Kenapa?”
“Kenapa?”
“Oke.”
Hanya itu yang di jawab oleh Chiko dalam pembicaraan mereka.
Sebenarnya dalam pembicaraan itu, Jasmine menanyakan, di mana Chiko dan di mana rumahnya, namun Chiko tidak akan pernah menjawab. Dia tidak sembarangan memberikan alamatnya pada siapapun termasuk dengan Jasmine.
__ADS_1
Dan karena tidak mendapatkan titik terang, akhirnya Jasmine meminta Chiko untuk ke rumahnya, dan akhirnya di setujui oleh pria itu.
Chiko memilih untuk mengerjakan dulu pekerjaannya sejenak, lalu bersiap untuk pergi ke rumah Jasmine.
****
Setelah dua jam lebih Jasmine menunggu, ketika dia baru mau masuk kamar, karena mengira Chiko tidak jadi datang. Akhirnya dia mendengar suara ketukan pintu dari luar.
“Baru datang dia,” gumam Jasmine ketika dia mengintip di jendela, dan melihat Chiko yang sedang berdiri sembari memainkan ponselnya.
“Kenapa baru datang? Aku sudah menunggu kamu dua jam.” Protes Jasmine, ketika dirinya membukakan pintu untuk Chiko.
“Aku tidak ada bilang sama kamu, jam berapa aku akan datang, kamu bukan satu - satunya prioritas yang harus aku lakukkan, masih banyak pekerjaanku yang lain.” Tegas Chiko, membuat Jasmine terdiam mendengarnya.
Ini pertama kali dalam 9 tahun dia mendengar Chiko berbicara ketus seperti itu kepadanya.
“Aku -“ Jasmine kini gugup menanggapi Chiko yang padahal Chiko sama sekali tidak melihat ke arahnya.
“Langsung pada intinya! Kenapa kamu mengajak aku bertemu di sini?” Tanya Chiko, sepertinya tidak ingin berbasa - basi.
“Chiko Are you okay?” Tanya Jasmine, merasa Chiko berbeda sifat malam ini.
Meskipun Chiko biasanya petakilan dan bahkan membuatnya emosi jiwa, dan bahkan kalau Jasmine mengajaknya bertemu duluan, pasti dia mengatakan bahwa Jasmine merindukannya duluan, tetapi mendapatkan Chiko yang dingin seperti ini, membuatnya bertanya - tanya, apa masalah dengan Chiko? Sampai dia dijadikan pelampiasan.
“Ya,” jawab Chiko dengan singkat dan padat.
Jasmine bingung harus bersikap seperti apa saat ini, “kamu marah sama aku? Karena kalimatku tadi siang?” Tanya Jasmine, agak ragu.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
__ADS_1
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*