Malam Panas, Hasrat Bersama Sang Psychopat

Malam Panas, Hasrat Bersama Sang Psychopat
Tukang Ungkit


__ADS_3

🌊 KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹


💐 HAPPY READING 💐


Jasmine menyadari ketakutaan Gilang, lalu menoleh ke arah sahabat dari mendiang Canva itu. “Kamu kenapa sih Gil? Tanya Jasmine, merasa bingung dengan suasana ini, apa lagi ketika mendengar pertanyaan Gilang tentang kapan dia mengenal Chiko, itu membuat dirinya semakin merasa kebingungan sendiri.


Sedangkan Chiko, yang sedari tadi membuat suasana menjadi tegang, saat ini malah melihat - lihat bunga yang ada di dalam toko Jasmine, tanpa merasa bahwa dialah penyebab ketakutaan Gilang.


Gilang menarik tangan Jasmine, menjauh dari Chiko sejenak. “Jas, kamu tahu dia itu siapa?” Tanya Gilang, mengecilkan suaranya, agar Chiko tidak bisa mendengarnya.


Jasmine melirik ke arah Chiko sejenak, lalu menganggukan kepalanya. “Aku tahu dia siapa.” Jawab Jasmine dengan begitu santai.


“Siapa?” Tanya Gilang, menguji batas pengetahuan Jasmine dengan kelompok itu.


“Dia adalah seorang pria yang gesrek.” Jawab Jasmine dengan senyumnya.


Sedangkan Gilang, menanggapinya dengan tatapan malasnya. “Bisa tidak kamu serius sedikit?!” Tegas Gilang, merasa ini bukanlah waktunya untuk main - main.


“Ya terus gimana, aku hanya tahu jika Chiko itu bos, tapi aku gak tau bos di mana, dan perusahaan apa.” Balas Jasmine, merasa hal itu sangatlah tidak penting untuk di bahas saat ini.


Gilang menganggukan kepalanya pelan, lalu memberikan Jasmine berkas yang dia bawa tadi. “Aku datang ke sini, untuk memberitahukanmu hal ini.” Ucapnya, lalu membiarkan Jasmine membuka apa isi di dalam dokumen tersebut.


Jasmine membukanya, lalu membacanya satu persatu, di sana terlihat jelas, beberapa anggota Phantom Trope yang terlibat dalam pembunuhan Canva.


Jasmine meradang lalu menatap Gilang dengan serius. “Ini maksudnya apa? Apa hubungan semua ini dengan Chiko?” Tanya Jasmine, yang sepertinya saat ini mulai dengan mode seriusnya.


“Chiko mempunyai sebuah tato yang sama dengan tato mereka.” Tunjuk Gilang, pada gambar foto - foto pembunuh Canva.


“Mereka itu adalah klompok kriminal Phantom Trope, yang terdiri dari 12 orang, yang di ketuai dengan 1 orang. Yaitu Chiko.” Jelas Gilang lagi, lalu tanpa berbasa basi, Jasmine langsung keluar dan menghampiri Chiko dengan wajah yang penuh emosi.


“Apa maksudnya ini?” Tanya Jasmine pada Chiko.


“Entah, kan aku tidak melihat itu.” Jawab Chiko dengan begitu santai.


Jasmine sudah tidak bisa menahan emosinya, lalu membukakan berkas itu agar Chiko bisa melihatnya. “Kamu kenal siapa mereka?!” Tanya Jasmine dengan tegas.

__ADS_1


Chiko melihat foto - foto itu, lalu melirik ke arah Gilang, “ya aku tahu mereka.” Jawab Chiko lagi.


Plaaakkkk, tampar Jasmine tiba - tiba, membuat Chiko terkejut lalu memegangi pipinya yang terasa begitu panas.


“Hiskk,, hiskk, berarti selama ini pembunuh kekasihku itu adalah kamu!” Pekik Jasmine, namun Chiko hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.


“Aku tidak membunuh,” jawab Chiko, lagi - lagi membela dirinya.


“Kamu tidak membunuh, lalu itu apa? Dua anak buahmu yang melakukkannya,” pekik Jasmine lagi.


Lalu Chiko dengan replek mengambil lagi bunga Milik Jasmine, dan kali ini sekalian dengan Vasnya lalu di berikan pada Jasmine.


“Letakan itu!” Perintah Jasmine, menolak untuk menerimanya. Ya jelas di tolak, orang itukan punya dia.


“Jasmine, aku tidak membunuhnya.” Chiko kembali membuat pembelaan di depan Jasmine.


“Lalu siapa?” Tanya Jasmine dengan suara yang sudah meninggikan oktafnya.


“Anak buahku kan.” Jawab Chiko lagi, semakin membuat Jasmine merasa pusing sendiri menanyakan hal penting dengan pria ini.


Jasmine memijat kepalanya pusing, “kalau anak buahmu yang kerjakan, kamu sebagai ketuanya memangnya tidak memberikan perintah?!” Seru Jasmine lagi.


“Iya, tapi kalau pekerjaan mereka berhasil aku hanya mendapatkan 30%nya saja.” Balas Chiko, benar - benar tidak merasakan bersalah sama sekali.


Di terus merasa, bahwa dirinya tidak bersalah apa pun, jika anak buahnya melakukkan kesalahan.


“Pergi kamu dari sini!” Usir Chiko pada Galang.


Galang yang merasa terusir, menjadi bingung sendiri, karena orang asing di situ adalah Chiko, bukan dirinya, kenapa dia yang di usir.


“Pergi!” Perintah Chiko lagi, dan karena Galang tidak mau bermasalah dengan Chiko, akhirnya dia memilih pergi tanpa mengatakan apa pun.


Setelah Galang pergi, Chiko masih berdiri melihat - lihat bunga yang ada. “Kamu ngapain masih di sini?” Kini giliran Jasmine yang menanyainya.


“Karena aku masih mau bersamamu.” Jawab Chiko, dengan senyumnya yang paling menawan.

__ADS_1


Jasmine benar - benar merasa begitu pusing menghadapi Chiko ini. Bagaimana bisa, ada seorang laki - laki, yang sangat tidak peka sepertinya?


Jelas - jelas saat ini Jasmine sedang menangis, karena ulah anak buahnya atau ulahnya terserah, yang jelas ada campur tangan Chiko dalam kematian Canva, walaupun pria itu tidak mengakuinya, tetapi tetap saja dia yang memberi perintah.


“Chiko, apa yang harus aku lakukkan, agar kamu bisa meninggalkan aku atau menjauhiku? Aku benar - benar sudah muak dengan kamu yang selalu ada di sekitarank!” Kini Jasmine, memasang wajah memelasnya, bahkan air matanya masih jatuh menetes, karena memperlihatkan kelemahan Jasmine akan semua masalah ini.


Chiko terlihat berpikir sejenak, “sepertinya tidak ada, karena aku tidak akan pernah menjauhimu.” Jawab Chiko, lagi - lagi memperlihatkan senyumannya yang tidak akan pernah pudar.


Jasmine menghela nafasnya kasar, lalu mengusap wajahnya, melambangkan betapa muaknya dia saat ini. “Ah, Jasmine,” panggil Chiko pada wanita itu.


“Apakah aku perlu mengingatkan kamu, jika kamu mempunyai hutang budi denganku?” Tanya Chiko lagi, kembali mengungkit masalah yang dia membantu Jasmine melahirkan pada saat itu.


Jasmine terdiam sejenak, lalu dia menatap Chiko dengan lekat. Rasanya dia ingin sekali mencekik laki - laki itu, agar berhenti berbicara dan tidak lagi mengungkit tentang balas budi itu.


“Iya aku ingat.” Jawab Jasmine dengan begitu malas menanggapinya.


“Bagus, jadi aku tidak perlu menjauhimu, agar kamu bisa membalas budi untukku.” balas Chiko lagi, merasa begitu senang, karena Jasmine masih mengingat kebaikannya.


Seperti biasa, jika Chiko sudah membahas masalah itu, Jasmine lebih memilih untuk diam, karena dia merasa jika yang waras lebih baik mengalah pasa orang yang sakit.


*To Be Continue. **


Guys, Hari ini Mimin Birthday yang ke 22, mohon doa yang terbaiknya ya 🙏🏻🙏🏻🥳🥳


Hahah Edisi Minta di Ucapin nih 🤣🤣🤣🙏🏻🙏🏻


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*

__ADS_1


*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*


__ADS_2