
🌊 KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹
💐 HAPPY READING 💐
Chiko mendatangi Jasmine, dengan wajahnya yang sangat memelas itu. Bahkan Jasmine yang melihatnya rasanya ingin sekali menampar wajah sang raja drama ini.
“Sayang maafin aku ya, karena aku tidak ada di saat musibah ini terjadi.” Ucapnya, lalu memeluk tubuh Jasmine dengan erat dan tanpa malu di lihat oleh beberapa warga, dan bahkan juga Canva yang ada di sebelah Jasmine.
“Maafkan aku ya sayang,” tambahnya lagi, lalu menguraikan pelukannya, dan kini beralih menatap Canva yang bingung melihat Chiko dengan lancang memeluk Mamahnya.
“Maafkan Papah ya sayang,” kali ini kalimat maafnya itu di tujukan untuk Canva, dan karena Canva tidak tahu apa - apa, dia jadi memilih untuk diam saja dan menganggukan kepalanya pelan.
Lalu Chiko kembali melihat ke arah warga yang lain lagi. “Nanti, ini tolong di catat saja berapa biaya yang harus di ganti rugi karena kerusakannya, biar saya yang ganti nanti.” Pintanya pada sang pemilik salah satu rumah itu.
“Nanti kalau sudah di catat semuanya, serahkan saja pada Pak Rt, nanti biar pak Rt yang berkordinasi dengan saya.” Sambungnya lagi. Menunjukan bahwa dia itu sangatlah bijak, dan sangat dermawan. Padahal aslinya, semua kejadian ini adalah sebuah keisengan yang Chiko lakukkan. Karena ingin melihat reaksi Jasmine ketika rumahnya habis kebakar.
“Kalau begitu, saya permisi dulu ya, saya mau bawa istri dan anak saya untuk pulang.” Pamitnya, meminta agar Jasmine segera ikut dengannya mencari rumah baru untuk mereka.
“Oke pak Chiko, silahkan.” Sahut beberapa warga mempersilahkan Chiko untuk membawa Jasmine dan Canva pergi.
***
Di perjalanan, Jasmine melihat Canva yang tertidur dengan lelap di kursi belakang. Sepertinya putranya itu sangat kecapekaan, karena memang semalaman mereka tidak ada yang tidur.
“Ini semua ulah kamu kan!” Tungkasnya, langsung menuduh Chiko atas semua kejadian ini.
“Kenapa jadi aku?” Tanya Chiko dengan menampilkan wajah kebingungannya.
“Karena kamu mau aku tinggal sama kamu, dan kamu tahu aku tidak akan mau meninggalkan rumah itu, makanya kamu bakar!” Jawab Jasmine, tepat pada sasarannya.
“Bukan aku -“
“Bukan kamu, tapi anak buahmu!” Sahut Jasmine dengan cepat, memotong kalimat Chiko yang pasti akan menyembut kata anak buahnya untuk menjadi kambing hitam untuk masalahnnya.
“Yang jelaskan bukan aku,” balas Chiko lagi, masih tidak menunjukkan rasa bersalahnya.
“Iya emang bukan kamu yang melakukkan tapi kamu yang memerintah!” Timpalnya lagi, merasa tidak akan pernah menang ketika berdebat dengan Chiko.
Kalau biasanya di dalam sebuah hubungan, selalu perempuan yang selalu tidak mau menang, lain halnya dengan hubungan mereka, yang di mana perempuan selalu kalah.
“Kenapa harus di pusingkan sih?! Lagian aku juga sudah beli rumah baru yang lebih bagus dari rumahmu itu!”
“Yang tetangganya bukan warga seribu bibir, yang warganya tidak pernah mengurusi warga yang lainnya,” tegas Chiko, merasa Jasmine terlalu berlebihan dalam menanggapi sebuah musibah kebakaraan kecil seperti itu.
__ADS_1
“Bukan masalah rumah bagus atau tidak Chiko! Masalahnya kenanganku semua ada di dalam situ! Kamu paham tidak sih artinya kenangan?!”
“Sekarang karena ulahmu semuanya kebakar, itu Rumah Chiko! Bukan ayam bakar! Yang bisa kamu bakar di saat kamu mau!” Jasmine rasanya ingin sekali mencekik Chiko sampai mati.
Dia benar - benar marah, bahkan sangat - sangat marah, tapi Chiko tidak pernah menganggap kemarahan dan perasaannya itu sebuah keseriusan.
Sampai Jasmine harus menggaruk kepalanya dengan keras, karena pusing sendiri bagaimana memberi pengertian untuk pria gila ini.
“Sudahlah, itu berarti kamu di suruh lupain kenangan di masa lalu, karena kita akan melangkah maju di kedepannya.” Ungkapnya, bahkan dengan senyum manisnya. Membuat Jasmine sudah kehabisan kata - kata dan tidak tahu harus berkata apa lagi saat ini.
***
Setelah sepanjangan jalan ke duanya hanya di penuhi dengan suasana hening. Kini tibalah Mereka di sebuah perumahan di daerah Bekasi Timur.
Sebuah perumahan yang cukup asri dan sangat hijau. Dengan deratan perumahan sederhana namun masih terlihat sangat mewah.
“Ayo masuk - masuk,” ajak Chiko pada Canva, dan di ikuti oleh Jasmine di belakang mereka.
“Waahhhh rumahnya bagus ya Uncle.” Puji Canva, ketika masuk ke dalam rumah itu, dan melihat rumah itu lebih bagus dari rumahnya yang terbakar semalam.
“Bagus dong, rumah ini sekarang juga sudah jadi Rumah Canva sekarang.” Balas Chiko, dengan penuh senyuman, menatap ke arah Canva.
“Loh rumah Canva sama Mamah Uncle?” Tanya Canva bingung.
“Canva, sekarang Uncle sudah menikah dengan Mamah Jasmine, jadi Canva harus memanggil Uncle dengan sebutan Papah ya!” Jelasnya pada Canva, dia tahu bahwa Jasmine pasti belum mengatakan apapun soal pernikahaan mereka.
“Ha? Uncle dan mamah sudah menikah? Tapi kapan? Kok Canva tidak di undang?” Tanyanya, memprotes kalimat mamahnya yang kemarin berjanji akan memberitahu dirinya jika mamahnya memiliki suami baru.
“Maafkan mamah ya Canva, kemarin itu ada sedikit masalah, jadi mau tidak mau mamah harus menikah dengan Uncle Chiko, Canva bisa terima ini gak?” Jasmine merasa sangat sedih, karena ternyata dia ketahuan bohong oleh putranya.
Tadinya dia memang ingin mengajukan perceraian pada Chiko. Tapi kalau keadaanya seperti ini. Ya mau tidak mau dia harus berlajar menerima Chiko untuk mengisi kekosongan di hatinya dan juga hati Canva.
“Memangnya Mamah bahagia? Kalau Canva izinin Menikah dengan Uncle Chiko?” Tanya Canva balik sama Jasmine.
Karena menurutnya, kebahagiaan mamahnya adalah hal yang menjadi nomor satu di dunia ini.
“Mamah bahagia sayang, walaupun yah Uncle Chiko sedikit agak gak waras, tapi Mamah bahagia kok.” Jawabnya dengan menampilkan wajah seriusnya.
“Baikalah mah, kalau begitu sekarang Uncle Chiko adalah Papah Canva.” Sahut Canva, lalu menampilkan senyum manisnya.
Chiko langsung tersenyum, dan bahkan menjadi lebih narsis dari biasanya di dean Jasmine karen merasa sudah mendapatkan restu dari anaknya Jasmine. Tinggal menunggu waktu sampai Jasmine juga membalas perasaanya itu.
“Kalau begitu, ayo kita ke atas untuk melihat kamar kamu.” Ajak Chiko pada Canva.
__ADS_1
“Loh, yang di bawah ini kamar apa?” Tanya Jasmine bingung, karena di bawah terdapat satu kamar yang bersebelahan dengan dapur.
“Ahh, itu bisa jadi kamar Tamu nanti, tapi yang jelas kamar kita semua ada di atas.” Jawab Chiko, membuat Jasmine menganggukan kepalanya pelan, dan ikut untuk melihat kamar - kamar di atas.
Sesampainya di atas, Jasmine melihat ada 3 ruangan, dan ruang keluarga. Karena di bawah hanya ada taman, ruang tamu, kitchen, dan juga kamar yang tidak terlalu besar namun cukup untuk menjadi kamar tamu.
“Nah ini kamar Canva,” ucap Chiko, memperlihatkan kamar bernuansa sepak bola Christian Ronaldo seperti apa yang di katakan oleh Jasmine dulu.
“Waaahhhhhhh Ronaldo,, bagus banget Mah, Pah, Canva suka.” Sorak Canva penuh kebahagiaan, karena akhirnya dia bisa memiliki kamar impiannya.
“Kok kamu tahu Canva suka Ronaldo?” Tanya Jasmine heran.
“Kamu pernah mengatakannya.” Jawab Chiko, tidak menghiraukan Jasmine, dan ikut masuk ke dalam kamar Canva.
“Ini ada komputer, laptop dan Ipad ya Canva, semuanya sudah tersedia di sini untuk di gunakan keperluan sekolah,” tunjuk Chiko lagi, pada barang - barang Elektronik Canva yang baru.
“Waahhhh, ada kamar mandi dalamnya juga Mah.” Lapor Canva pada Mamahnya, memperlihatkan Shower mandi, yang ada air panasnya juga.
Jasmine hanya tersenyum dengan bahagia, ketika anaknya merasa sangat bahagia. “Kalau begitu Canva mandi dulu ya, baru Canva boleh melanjutkan istirhatnya lagi.” Tandas Jasmine, menyuruh anaknya untuk mandi dulu, karena semalaman mereka sangatlah kotor, belum lagi asap kebakaraan itu pasti membuat tubuh mereka sangat penuh dengan bakteri.
“Oke mah,” sahut Canva, dan lalu Jasmine dengan Chiko memilih keluar untuk memberikan privasi pada Canva.
“Kalau yang kamar yang ini masih kosong sih, cuman nanti akan di isi oleh anak ke dua kita, dan mudahan anak ke dua adalah perempuan, biar kita bisa dapat sepasang.” Ucapnya memperlihatkan kamar yang ada di sebelah kamar Canva.
Di mana kamar itu juga memiliki kamar mandi dalam, yang memang Chiko siapkan untuk anak ke dua mereka nanti.
“Anak ke dua? Memangnya aku pernah bilang kalau aku mau memiliki anak ke dua?” Tanya Jasmine dengan sinis, menanggapi kalimat Chiko yang menginginkan anak darinya.
“Aku tidak meminta persetujuanmu!” Jawab Chiko tegas.
“Tapi aku memerlukan, tubuhmu!!!” Timpalnya lagi, dan lalu segera membawa Jasmine masuk ke dalam kamar utama, untuk membuat adonan anak ke dua! Yang pastinya tidak akan di tolak Jasmine karena itu adalah bagian surga dunia.
*To qBe Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
__ADS_1
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*