Malam Panas, Hasrat Bersama Sang Psychopat

Malam Panas, Hasrat Bersama Sang Psychopat
Masa Lalu Chiko


__ADS_3

🌊 KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹


💐 HAPPY READING 💐


Sedangkan di sisi lain, terlihat Canva yang baru saja pulang memasuki rumahnya. Entah dari mana pria itu tadi dan baru sekarang sampai ke rumah.


“Ada apa dengan Ketua?” Tanya Conan, yang merupakan anggota klompok Thrope, pasalnya Chiko pulang dengan wajah yang kurang bersahabat, membuat para anggotanya menjadi bingung.


Sheila, yang juga merupakan salah satu anggota Thrope wanita, memilih untuk mengedikan bahunya singkat.


“Sudah 5 tahun belakangan ini ketua sama sekali tidak fokus dengan kita, selalu pergi ketika kita masih mempunyai urusan yang penting.” Ucap Sheila lagi, merasa kecewa dengan sikap ketua mereka saat ini.


Meruem, terlihat berdiri ketika ke dua temannya itu, membahas tentang ketua mereka. “Bukankah kita hanya sebuah kelompok, di mana kitalah yang menjadi kaki tangan dari Chiko, tetapi jika kita kehilangan ketua itu sangatlah tidak pengaruh untuk kita.” Serunya, yang di jawab dengan anggukan kepala oleh yang lainnya.


“Tetapi, bukankah kita juga harus mendukung setiap apa yang di lakukkan oleh Bos?” Tanya Samuel, anggota yang paling dekat dengan Chiko.


“Mendukung yang seperti apa? Kalau ketua terlihat begitu lemah hanya karena seorang wanita itu, apakah dia masih layak menjadi seorang ketua?” Sahut yang lainnya lagi.


Kini 11 anggota Phantom Trope terlihat sedang beradu argumen, tentang sikap Chiko yang acuh pada mereka belakangan ini.


***


Sedangkan Chiko sendiri, terlihat sedang merenung di dalam kamarnya. Dia mengingat kata - kata Jasmine yang mengatakan bagaimana orang tuanya tahan dengannya? Dia bahkan langsung tersenyum ketika mengingat kalimat itu.


Flash Back On


Di sebuah kota terlihat seorang anak yang menjadi seorang pengamen di lampu merah, dengan membawa krencengan yang terbuat dari tutup botol dan juga membawa kaleng bekas untuk menaruh uang yang diberikan orang - orang kepadanya.


“Aku yang dulu bukanlah yang sekarang, dulu ku di hina sekarang aku bahagia.” Begitulah kira - kira dia bernyanyi. Walaupun suaranya pas - pasan, tapi tetap saja dia bernyanyi.


“Terima kasih pak.” Ucapnya, ketika seorang pengamudi motor ada yang memberikannya uang.


Wajah gembirnya terlihat begitu menyejukan, sudah seharian ini dia mengamen, akhirnya bisa mendapatkan uang untuk makan.


Hari ini dia mendapatkan uang yang cukup untuk membeli makanan untuk dirinya dan juga ibunya.

__ADS_1


“Tante, nasi bungkusnya 2 ya, pakai telor.” Pintanya pada penjual warung, yang tak jauh dari lampu merah.


“Pakai telor hari ini Chiko? Ada uangnya?” Tanya penjual warung itu.


Chiko tersenyum, karena memang dari kemarin dia hanya mampu membeli nasi dengan tempe saja. Tapi karena hari ini ada rezeki, maka dia memilih untuk membeli dengan Telur.


“Ini Chiko, totalnya 26 ribu.” Ucap penjual warung itu lagi, dengan memberikan plastik yang berisikan dua bungkus makanan itu.


“Ini uangnya tante, terima kasih ya.” Balas Chiko, dengan memberikan uang pada penjual warung.


Hari ini dia mendapatkan uang banyak, jadi dia bisa pulang dengan menggunakan angkutan umum.


Sesampainya di rumah, dia langsung masuk untuk mencari ibunya. “Ibu, ibu.” Panggil Chiko pada Ibunya.


Chiko melewati kamar ibunya, lalu melihat ibunya sedang melayani seorang pria yang sepertinya sudah bau tanah.


“Hish, siapa anak itu? Kenapa kamu tidak mengunci pintunya?” Sentak pria bau tanah itu, marah pada ibunya Chiko, karena pelayanan yang kurang memuaskan serta ada anak yang masuk dengan tiba - tiba, membuat nafsunya jadi menurun.


Sasha ibu Chiko langsung menoleh ke pintu, melihat Chiko yang berdiri di sana. “Maafkan saya mas, saya -“


“Mas, tapi saya sudah melayani masnya tadi.”Protes Sasha, karena pria itu tidak mau membayar jasanya.


Pria bau tanah itu tersenyum, lalu mendorong tubuh Sasha. “Barangku saja belum masuk apa lagi keluar! Kamu sudah minta bayaran! Mimpi.”


“Urus anakmu itu itu! Lain kali kalau mau panggil tamu! Kunci pintumu! Agar tidak ada yang sembarangan masuk seperti itu!” Serkasnya terakhir kali, sebelum pria tua itu melangkahkan kakinya pergi.


Sasha yang melihat pelangganya pergi tanpa membayar dirinya. Kini menatap Chiko dengan tatapan yang ingin membunuh. ”kamu! Ngapain kamu pulang cepat ha?!” Makinya pada Chiko, yang harusnya pulang malam, malah pulang sore seperti ini.


Chiko merasa ketakutan, lalu dia memberikan ibunya plastik yang berisikan nasi itu. “Ini bu, aku sudah mendapatkan uang yang cukup.” Ucapnya dengan suara yang gugup.


Sasha melihat plastik yang di berikan oleh Chiko, lalu membuangnya ke lantai! “Cuman gara - gara makanan sampah ini, kamu pulang menganggu pekerjaanku?!” Bentaknya lagi, lalu menginjak - injak makanan yang tadi di beli oleh Chiko.


“Bu, jangan bu, jangan, Chiko lapar bu.” Tangisnya pecah, dan mencoba menahan kaki Sasha yang menginjak - injak nasi yang dia beli tadi.


Namun, Sasha langsung mendorong tubuh Chiko ke belakang. “Dengar ya! Sejak hamil kamu dan melahirkan kamu! Hidupku jadi susah! Banyak pelanggan yang menolakku karena barangku sudah lober karena melahirkan kamu! Dan kamu juga sama sekali tidak bisa jadi anak yang berguna, dan malah membuatku tambah miskin!” Pekik Sasha, yang sepertinya sudah sangat capek dengan keberadaan Chiko saat ini.

__ADS_1


Dia saja tidak tahu siapa ayah dari Chiko, karena sangking banyaknya pria yang bersamanya. kalau saja dia tahu, mungkin dia akan meminta pertanggung jawaban atau menjual saja anak itu.


Mulai sejak saat itulah, Chiko merasa sangat benci pada Ibunya, dia melihat ke arah nasi yang sudah bersatu dengan tanah.


“Pergi dari sini!” Sasha mengusir Chiko dari rumah, dia melempar baju anaknya itu keluar, agar Chiko bisa tau diri bahwa dirinya sudah di usir.


Tidak ada yang bisa Chiko katakan lagi, menurutnya perlakuan ibunya kali ini sudah sangat - sangat kelewatan.


Dia sudah begitu lapar, dan makanan yang dia beli dengan hasil dia berpanas - panasan emngamen di jalanan malah di injak - injak seperti itu.


“Tidak berguna.” Ulangnya, mengingat kalimat yang dikatakan ibunya.


“Apakah kamu pernah berguna sebagai seorang ibu?” Tanya Chiko yang kini balik menyerang ibunya.


Bahkan kini Chiko berani menatap wajah ibunya yang terlihat begitu marah padanya. “Kalau kamu tidak mau aku lahir kenapa kamu lahirkan??!!!!!!” Teriak Chiko, merasa sudah begitu lelah dengan keadaan.


Plaaaakkkkkk, satu tamparan yang begitu keras, berhasil di daratkan oleh Sasha pada anak laki - lakinya, sehingga Chiko harus terjatuh kembali ke tanah. “Berani kamu berteriak di depan wajahku ha?!” Bentak Sasha, yang lalu kembali mendekati Chiko yang berada ditanah.


“Kamu! Gak bakal jadi manusia kalau aku gak ada rasa kasihan sama kamu, Ngerti!” Ucapnya, sambil menoyor kepala Chiko, agar anak itu tersadar dengan apa yang dia ucapkan.


Setelah ifu, Sasha bangkit berdiri dan meninggalkan Chiko begitu saja. Sedangkan Chiko kini menatap langkah ibunya yang hilang karena perempuan itu sudah menutup pintu.


Chiko merasa marah, karena dia sama sekali merasa tidak berguna untuk melawan ibunya. Hingga dendam dan kemarahan itu tumbuh di hatinya.


*To Be Continue. **


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*

__ADS_1


*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*


__ADS_2