
Setelah aku sudah menghabisi sekitar 70% (ditambah 10% lagi dari Claude) kekuatan mereka.
"Nah, kupikir saatnya mengumpulkan batu kristal pasukan iblis ini."
Tapi sebelum itu, aku lupa satu hal jika seseorang akan datang tidak lama lagi.
Sesuatu yang menyerupai lautan manusia besi akan datang menerjang aku dari belakang.
...----------------...
"Apa-apaan ini?!"
Mata gadis rambut pirang itu terbuka lebar ketika melihat lautan mayat yang perlahan berubah menjadi batu kristal.
Sementara para ksatria sudah datang setelah memperbaiki posisi menyerang mereka, aku tidak mempedulikan keterkejutan itu dan mengumpulkan batu demi batu yang terjatuh ditanah sampai──
"Woy! Kau dengar tidak?!"
Bersamaan dengan suara itu, sebuah pedang menghancurkan kristal yang mau aku ambil.
Aku menoleh ke atas dan menemukan pelakunya adalah gadis ksatria itu.
"Dengar apa? Apakah kau tidak melihat aku sedang sibuk sekarang ini?"
"Kau ..."
Mengabaikan gadis itu yang sudah memanas, aku mengambil batu lainnya dan memasukan mereka ke penyimpananku.
Yup, mereka sudah terkumpul sebanyak lebih dari 1000 di dalam kantong ku.
Jumlah itu sudah cukup banyak bagiku, namun karena aku dan Claude sudah mengalahkan sebanyak 8000 pasukan raja iblis, jadinya aku tidak boleh membuang mereka.
Mengumpulkan semuanya secara perlahan dan mengambilnya dalam periode hari.
Umu-umu ... Sepertinya ide tersebut tidak buruk juga. Jarang-jarang aku bisa panen sebanyak ini.
Meskipun sudah aku abaikan, ternyata seseorang di dekatku menatap aku marah sekarang.
"Oi, nona ksatria, bukankah kau ada pekerjaan yang harus diurus?"
"Kamu ... Cara bicaramu itu ..."
Oh, iya? Karena mereka adalah orang-orang terpilih dari kerajaan ... Jadinya aku harus memperlakukan mereka berbeda, begitu?
"Aku panggil kamu dengan ... Ummm, gadis zirah kalau begitu?"
Yang aku panggil begitu langsung terlihat seperti tercekik di leher ketika aku mengatakannya.
__ADS_1
"Awas kau ... Kalian para petualang tidak tahu sopan santun!"
"Lancang! Beraninya menghina Tuan Putri!"
Tapi, oi ... Yang benar saja? Jika panggilan "Nona" itu salah, lalu "Gadis zirah" itu juga salah? Nah, kau ada saran untuk itu, sobat?
Ketika dalam kalimat terakhir itu aku mendengar seorang prajurit mengatakannya.
Aku memiringkan kepalaku sambil mengulangi kalimat, "Tuan Putri?"
"Ya! Benar, aku seorang Tuan Putri tahu?! "
Seolah-olah bangga dengan statusnya saat ini.
Tapi tunggu sebentar, eh? Tuan Putri?
"Tuan Putri rupanya. Oh, aku akan memanggilmu begitu."
"Baguslah kalau kau mengetahui posisimu."
Sambil melipat tangannya dia tersenyum puas.
Aku melanjutkan kalimatku yang terpotong.
"Nah, kalau ini sudah selesai mengapa kalian tidak membasmi sisa pasukan raja iblis itu? Kalian tahu, aku sudah kehabisan tempat penyimpanan untuk mengumpulkan batu ini dan tidak ingin menambah lagi. Dan karena pekerjaan kalian sudah dimudahkan. Nah, waktunya kamu menunjukan dirimu sebagai seorang ksatria terhormat dengan membasmi monster itu sekarang, Tuan Putri."
"Kau bahkan masih tidak mengerti setelah tahu siapa aku? Ugh ... Penghinaan ini!"
Dan, aku rasa aku sudah berlebihan menyuruh dia tampil pada belakangan.
Maksudku apa yang bisa didapat dari menghadapi sisa-sisa tentara musuh yang sudah babak belur?
Tapi siapa yang sudah menyuruh 2 orang vs 10 000 sebelumnya, huh? Aku rasa ini termasuk adil untuk aku membalas perbuatan gadis ini sebelumnya, dengan tidak memberikannya muka dalam pertarungan ini.
Dan dengan begitu pasukan ksatria kerajaan ini melakukan tugasnya dengan baik, membasmi 2 000 tentara musuh dengan mudahnya dan mengalahkan 10 000 pasukan raja iblis berkat kerja keras mereka.
Semua orang, termasuk warga kota Palous akan aman dari ancaman raja iblis selama beberapa waktu.
Mereka akan mengenang pahlawan wanita yang menunggangi kuda itu, gadis dengan rambut pirang itu akan dianggap sebagai pahlawan yang kisah dia akan dikenang sampai 100 tahun.
Nah, begituah yang ingin aku buat ceritanya.
"Dan kau akan mendapat semua pujian itu. Sementara aku sudah puas dengan batu-batu ini, selamat~"
"Eh? Yang benar saja, kau mengharapkan aku mendapatkan kemenangan yang diperoleh dari cara curang seperti ini?!"
Gadis ksatria ini, maksudku Tuan Putri terus mengikutiku sampai ke jalanan kota Palous bahkan setelah aku menyerahkan semua hal yang berhubungan dengan penghargaan atas kontribusi mengalahkan pasukan raja iblis kepada dia.
__ADS_1
Tuan Putri terlihat cemberut dan hanya mengembungkan pipi menatap punggungku. Dan ketika aku membalikan wajah untuk menatap mata dia.
"Apa kau belum puas dengan prestasi itu? Percayalah kepadaku, aku tidak akan membocorkan ini. Klaim saja bahwa kau yang sudah mengalahkan mereka seorang diri."
"Kau mengejek ku, ya? Jadi kau mengira aku orang yang seperti itu?!"
Ketika dia semakin terlihat kesal, aku menggelengkan kepala tegas.
"Aku tidak mengejek, kau tahu? Aku sudah cukup repot menjadi terkenal karena menjadi dragon slayer, dan jika itu ditambah menjadi pahlawan, nah ... Kau mungkin akan kehilangan posisimu jika sampai mereka mengetahui kau gagal menghalau serangan tentara raja iblis!"
Aku mencoba memberitahunya beberapa kemungkinan yang terjadi jika saja dia menolak tawaranku itu.
Nah, aku menemukan wajah dia terlihat terkejut selama beberapa detik setelahnya.
"Kamu memikirkanku sampai sejauh itu?"
"Ya ... Uhmmm, begitulah."
Aku mencoba untuk tidak berurusan dengan ini setelahnya.
Aku pikir quest di guild hanya menyuruh aku membantu pasukan ksatria kerajaan yang terkepung oleh pasukan raja iblis.
Tapi aku tidak menyangka ternyata yang menjadi pemimpin mereka adalah seorang Tuan Putri, yang keras kepala juga.
"Namaku Elia Von Relia! Jika kau tidak mau penghargaan itu maka aku akan memaksamu untuk mendapatkannya! Lagipula aku tidak suka mengambil hal yang bukan merupakan hak milik ku!"
"Jadi Elia rupanya. Nah, jangan katakan hal yang membuat jantungku hampir copot!"
Ah, tidak ada gunanya.
Aku berniat untuk menjauhi dia sesegera mungkin, jadi aku meningkatkan kecepatanku untuk pergi ke guild sambil membawa kantong besar yang berisi 8000 lebih kristal monster.
Sementara itu, Tuan Putri Elia mengikutiku sambil berjalan cepat dari belakang dengan wajah semakin kesal.
Aku tidak menyangka dia akan berbuat sejauh ini, tapi mengabaikan soal itu.
Heh, ada apa dengan kerumunan yang mulai terbuat ini?
"Apakah dia adalah Tuan Putri Elia?"
"Kyaaa! Benar, dia adalah Tuan Putri sekaligus Pahlawan di kerajaan kita!"
Aku menepuk jidat melihat itu. Yang benar saja, untuk inilah aku menolak keras ide tentang dibuntuti oleh seorang gadis seperti dia di belakangku.
Maksudku semua orang sudah menatap tajam aku setelahnya seolah-olah bertanya, "Sedang apa Tuan Putri mengikuti pria itu?" lalu, "Dia terlihat seperti seorang ksatria juga, tapi ... Ugh, apa-apaan dengan kantong besar itu?".
Dan membuatku berakhir menjadi sasaran bola mata mereka. Woy! tolong hentikan ini, sobat!
__ADS_1
Aku sudah berlari sekarang sambil meneriaki, "Tolong, ada penguntit!"
"Aku bukan penguntit! Sialan! Awas kau!"