
"Claude!"
"Serahkan kepada saya, Master!"
Claude kemudian muncul dari dalam lingkaran sihir sebelum mengeluarkan pedangnya dari sarung.
Serangan Claude begitu mendadak sampai membuat pembunuh itu melebarkan mata dalam periode serangannya sehingga menimbulkan celah.
Sementara keduanya tengah sibuk beradu pedang, nah ... Aku akan meminta penjelasan dari orang yang sekarang mulutnya menyerupai bentuk "O" dihadapanku.
"Apakah masih ada pembunuh lagi disini?"
"Che, mana mungkin aku akan──"
"Selesai ..."
Dan dalam kalimat terakhir itu, baik aku dan pedagang budak akan melihat Claude yang sudah menyarungkan pedang, sebelum dengan anggun mengatakan.
"Target sudah dibereskan, Master!"
"Mustahil!"
Mata Pedagang budak menjadi melebar.
Jika aku bertanya apakah dia sedang panik?
Nah ... Aku akan menemukan jawabannya ketika dia meraih sesuatu yang tajam dari dalam saku mayat yang berada di dekatnya.
...----------------...
"Apa yang terjadi?"
Tuan Putri Elia yang tiba-tiba saja muncul menutup mulut dia ketika melihat seseorang sudah menusuk leher──
"Seperti yang kau lihat, dia sudah mati. Atau lebih tepatnya, mengakhiri hidup dia sendiri."
"Bagaimana ..."
Entah, aku menaikan bahu dalam pertanyaan dia selanjutnya.
Semua terjadi begitu cepat sampai aku tidak sanggup menghentikan perbuatan orang itu bahkan dengan skill [Speed Boost] sekali pun.
Pokoknya, orang itu masih sanggup melakukannya lebih cepat daripada skill itu diaktifkan.
Mungkin karena tadi aku cukup lengah sehingga tidak menyangka dia akan melakukannya sampai sejauh itu.
"Lagipula, aku sudah tahu bagaimana cara untuk mengatasi kerah ini."
"Tunggu, ini mustahil. Biar bagaimanapun mereka hanya akan bisa dihilangkan oleh mantra tertentu."
Seperti elemen cahaya contohnya. Nah ... Dalam hal tersebut sepertinya dia sudah tahu garis besarnya, jadi aku rasa aku tidak perlu menceritakannya lebih lanjut kepada Elia.
Mengabaikan soal itu.
Karena kami belum menemukan solusi atas permasalahan tersebut, karena aku hanya mengetahui caranya saja daripada memiliki skill yang termasuk kategori itu, aku berniat mengatakan sesuatu pada gadis yang baru saja aku selamatkan tadi.
"Ah, iya? Apakah ada yang bisa saya bantu?"
Aku menggangukan kepala ketika dia terlihat panik sambil menatapku, meskipun aku merasa diriku tidak pantas melihat dia yang berpenampilan seperti itu (melirik tubuh dia yang dipenuhi pakaian ketat dan agak terbuka).
"Karena kau sudah pernah dikurung sebelumnya, nah ... Dalam hal ini kami mungkin bisa mengetahui beberapa lokasi tempat para budak lain disimpan."
Sederhana saja, aku tidak bisa melupakan kemungkinan akan ada korban lain selain gadis ini.
Dan kerena dia sudah ada disini cukup lama.
"Tentu ... Tentu saja aku akan memberitahumu."
Dia menggangukan kepala tegas dalam perkataanya.
__ADS_1
Gadis itu kemudian menjadi penunjuk jalan kami, aku mengikuti dia dari belakang.
Karena sudah tidak mungkin bagi aku menanyai hal ini pada pedagang budak, karena dia sudah mati, satu-satunya cara yang tersisa adalah mengandalkan gadis ini.
Nafas aku tertahan ketika dia membawa aku ke lokasi yang agak gelap dan dipenuhi dengan bau tidak sedap.
"Ruangan bawah tanah, huh?"
"Ya, disinilah seluruh budak disimpan."
Mata aku beralih dari gadis budak ke arah Elia untuk melihat gadis itu menggangukan kepala ragu.
Aku pikir dia tidak akan tahan dengan itu.
Maksudku bagian aroma yang tidak sedap tersebut.
"Hebat sekali kau, padahal aku sangat tidak ingin berlama-lama disini karena bau mereka yang sangat aneh."
"Ya ... Meskipun ini cukup untuk membuatku mual, namun aku tidak punya pilihan lagi."
Sementara kami sudah memasukinya, lagi-lagi aku akan dikejutkan dengan apa yang ada di dalam ruangan itu.
"Tolong beli kami!"
"Tuan, kumohon! Aku akan melakukan apa saja! Asalkan tuan membeli saya!"
"Aku mau keluar dari sini──nya!"
Seolah-olah semuanya menaruh harapan kepadaku.
Tunggu, tunggu sebentar!
Kenapa mereka justru salah mengira aku adalah seorang pembeli disini?
"Kami datang untuk membebaskan kalian."
Bukan untuk membeli, tahu?!
Dan dalam jeritan setiap penghuni tempat itu, aku akan menghancurkan seluruh pagar besi yang menghalangi, meskipun dalam prosesnya akan diikuti oleh suara PRANG! dan DHUAK!
"Kyaaa!"
"Wah!"
Semuanya, maksudku tentu saja ini akan terjadi.
Meskipun mereka berteriak ketakutan sekarang, aku akan tetap menghancurkan dan merusak siap pagar yang ada disana.
Jumlah mereka sekarang sudah melebihi 10 pagar, 12 tepatnya.
Dari yang aku lihat, masing-masing berisi sekitar 5 orang meskipun ada beberapa yang kosong.
Bahkan aku tidak dapat mengatakan itu layak dihuni oleh lima orang karena ruangannya yang terlalu sempit.
"Sepertinya kalian sudah mengalami berbagai penderitaan disini."
"Ya, Tuan. Menurut cerita salah-satu penghuni lama, dia berkata hanya makan sekali setiap satu hari sekali."
"Bagaimana kau bisa berta──"
"Oh, tidak. Saya baru saja tiba kemarin, jadi saya belum sempat mendapatkan pengalaman itu."
Aku menghela nafas.
Nah, setelah aku pikir-pikir lagi ternyata tidak semuanya yang bernasib sama.
Contohnya gadis ini yang berhasil menjaga sesuatu berharga miliknya karena aku yang datang tepat waktu.
Jika seandainya aku tidak membeli skills [Shadow] pada waktu itu. Apakah ini akan terjadi? Atau hanya dituda selama beberapa waktu?
__ADS_1
Aku tidak akan pernah menemukan jawabannya jika hanya fokus pada hal tersebut, jadi aku akan mulai mengambil alih kendali perhatianku ke yang ada dihadapanku sekarang.
"Tentang mereka yang berjumlah sekitar lima puluhan."
"Kumohon, bisakah kau menambah mereka lagi?"
Aku melihat Elia yang menundukan kepala sebelum aku mengangguk setuju dan menggunakan [Teleportation] untuk memindahkan mereka ke lokasi penginapan.
Seluruhnya, maksudku semua yang telah menjadi korban perbudakan itu akan berada dalam perhatian kami sekarang, tanpa terkecuali.
Karena tidak ada tempat yang aman selain di penginapanku sejauh kami membawa mereka, mungkin.
"Selanjutnya, apa yang akan kau lakukan dengan semua orang ini?"
Aku bertanya kepada Elia untuk mendapatkan penjelasan dari permintaan dia membawa mereka ke tempat ini.
Memang semua biaya sewa kamar akan ditanggung oleh Elia.
Ngomong-ngomong Tuan Putri itu ternyata baik sekali, menghabiskan seluruh uang dia hanya demi membayar setiap kamar tersebut.
"Aku tidak tahu, tapi pokoknya aku akan mengembalikam mereka ke keluarga mereka."
Umu-umu. Aku rasa itu adalah tindakan yang bijaksana.
Kemudian kami menanyai setiap budak itu untuk mengkonfirmasi mengenai tempat tinggal mereka ... Hanya untuk melihat semuanya menggelengkan kepala dalam pertanyaan itu. Kenapa──
"Karena kami tidak punya rumah, karena mereka menghancurkannya."
"Desa aku lenyap tanpa ada sisa sedikitpun setelah penyerangan oleh kelompok bandit."
"Semua orang selain aku sudah dibunuh disana──nya."
Ini buruk, setidaknya jika semuanya tidak mempunyai tujuan setelah ini.
"Aku tidak bisa memikirkan ide yang lebih baik lagi."
Sementara Tuan Putri itu memegangi kepala dia sambil berjongkok. Dasar menyedihkan~ aku akan melihat Aisha mulai berjalan kearahku sebelum membisikan sesuatu. Hohoho~ rencana yang bagus, Aisha!
── ── ──
Happy new year 2023🎆🎉
Terimakasih untuk:
1.Rizky Rahmawan
2. Sky Dragon
3. Zero
4. Sa ku
5. Ariq baihaqis
6. R.iz
7. A.P.Azril ( Eososmjsosksjsj )
8. ADRIAN_1102
9. Irfan Fajar
10. Zafrullah Effendy
11. pembaca fantasy
12. Lidya Astani
13. hunter
__ADS_1
14. Dan yang lainnya.
Untuk support yang telah kalian berikan.