
"Woy! Elia!"
"Apa──nya?"
Nafas aku tertahan ketika gadis itu mulai meniru suara kucing. Tapi, bukan hanya bunyinya, tapi! Eh, tingkah itu?!!
"Kau adalah manusia!"
Dan jangan sok-sokan jadi kucing, woy!
"Aku tahu──meow! Kau menyukainya, kan──nyaa? Jadi aku akan melakukan ini sebagai permintaan maaf."
Dan dalam tindakannya selanjutnya, gadis itu menunduk dalam-dalam.
Bahkan mengabaikan statusnya yang saat ini, dia tanpa ragu melakukan itu meskipun kita masih berada didalam istana.
"Jadi tolong terima hukumanmu tadi──nya."
"Aku tidak akan!"
"Kumohon──nya!"
...----------------...
"Tapi sebelum itu, aku ingin membicarakan suatu hal kepada raja."
"Oke, aku akan membawamu ke tempat ayah. Tapi pastikan agar kau menjaga sikapmu kali ini."
"Ya, aku akan menjaga sikap."
Lagi pula setelah ini aku tidak akan bertindak sebodoh sebelumnya seperti membentak raja seperti itu.
Dan kami kemudian tiba di depan sebuah pintu ganda besar, yang akan membawa aku ke hadapan seorang pria yang tengah duduk santai di dalam ruangan bersama──
"Oh, Elia ..."
"Ayah, bunda ... Saya membawakan kalian tamu."
Sementara Elia pertama kali menyapa keduanya.
Ini, aku harus berkata bagaiamana?
Apakah pantas bagi aku yang sebelumnya sedikit berkonflik dengan raja menyapa dia seolah-olah kejadian itu tidak pernah terjadi?
Jadi aku akan memulai dengan, "Halo!" atau apalah itu. Sial! Kenapa aku bisa menjadi segugup ini?!
"Aku tahu alasanmu datang ke sini, petualang Kyle. Sekalian saya ingin kita berbicara sebentar empat mata disana."
Oh, ada apa dengan sikap yang berbeda itu?
Maksudku, raja yang tersenyum ramah kepadaku. Padahal baru-baru ini aku memiliki masalah dengannya.
Ketika raja sudah membawa aku ke balkon yang memperlihatkan pemandangan ibukota.
"Nah, nak Kyle. Bisakah aku mulai meminta maaf atas semua yang sudah aku lakukan tadi?"
Sebelumnya adalah Tuan Putri yang melakukan itu, tapi sekarang──Eh?!
Raja sudah membungkuk dengan sungguh-sungguh serta tulus. Wah~ dia ternyata melakukannya. Tapi!! Dalam periode itu aku akan menjadi sangat panik!
__ADS_1
"Tolong angkat kepalamu, Yang Mulia!"
"Ya, terimakasih ..."
Huft~ sambil menghela nafas aku akan menoleh ke sekitar untuk memastikan tidak ada yang melihat kejadian tadi.
"Jadi, Yang Mulia ... Etto, aku sebenarnya tidak mempunyai kesempatan untuk menanyakan ini sebelumnya, tapi, kenapa harus aku yang mengalahkan raja iblis?"
"Tebak, seseorang memberitahukan tentang kekuatanmu."
Ketika Raja tersenyum penuh makna sambil dengan sedikit, "Fufufu~" menoleh ke arah seorang gadis.
Sial! Tuan Putri itu!
"Tapi aku sungguh berharap ada yang sekuat dirimu yang bersedia membantu saya mengalahkan mereka."
"Begini Yang Mulia, tujuan aku ke tempat ini hanyalah demi mengurusi penginapan. Bukan untuk bertingkah seperti──"
"Aku tahu, oleh karena itulah aku akan membiarkanmu bebas setelah selesai membantuku mengurusi masalah ini. Tentu saja, Kyle akan mendapatkan imbalan jika berhasil mengalahkan raja iblis."
Nah, kalau begini aku akan merasa lega karena Raja sudah berani menjamin itu.
"Satu hal lagi, Yang Mulia."
"Apa itu?"
Setelahnya Raja akan melebarkan mata dalam kalimatku selanjutnya.
"Meskipun kau mengatakan tidak menggerakan angkatan ksatria untuk tujuan lain. Nah, karena lawanya yang sekarang adalah raja iblis."
"Oh, tentu ... Tentu saja aku akan menyerahkan itu kepadamu."
...----------------...
Nah, aku rasa dia sudah salah paham sekarang!!
"Aku juga tidak tahu akan menjadi seperti ini! Maksudku, dia berkata akan memberikan aku izin khusus untuk memimpin sebuah pasukan kecil dan menyuruhku untuk mengembangkannya sendiri."
Lagipula, apa-apaan dengan dugaan Tuan Putri itu yang mengira aku akan menjadi komandan seluruh angkatan ksatria?! Tidak mungkin, bukan? Itu mustahil!!
"Jadi maksudmu kamu disuruh membentuk pasukan lain?"
"Ya, uhmmm ... Seperti itulah. Lalu karena aku tidak punya pengalaman soal ini."
Ah, menyebalkan!
Aku tidak pernah berfikir raja akan seenaknya lagi memutuskan siapa yang menjadi pemimpin sekarang!
Padahal tadi aku hanya berniat meminta bantuan ksatria kerajaan untuk membantuku melawan pasukan musuh, dan bukan menjadi komandan itu sendiri!
Aku akan baik-baik saja jika mendapatkan rekan, meskipun akan diperlakukan sebagai prajurit biasa nanti.
Yang penting mendapatkan bantuan.
Setidaknya itu jauh lebih mudah daripada harus menjadi komandannya.
"Aku sudah mengerti situasinya. Apa boleh buat, karena aku sudah mengatakan akan selalu membelamu. Oke, bagaimana jika kita mulai merekrut anggota sekarang?"
"Tunggu, Elia berniat bergabung dalam pasukanku?"
__ADS_1
"Tentu saja."
Whoa~ ini pasti akan menjadi sedikit lebih mudah.
Dengan Tuan Putri yang memiliki pengalaman memimpin bergabung dalam party aku.
Ngomong-ngomong, bagaimana cara aku merekrut anggota?
"Huh, kau tidak pernah bilang kita bisa memasang poster ini?"
"Nah, itu lebih baik daripada tidak melakukannya sama sekali. Dan, lihat antrean ini!"
Whoaa! Itu ternyata benar-benar bekerja! Maksudku, kerumunan orang-orang yang berbaris dihadapanku ini adalah buktinya.
"Etto, saya melihat Tuan Putri berniat membuat sebuah kelompok pasukan. Kalau berkenan, izinkan saya berga──"
"Tentu saja, meskipun aku bukan komandannya sih."
Elia melirik kearahku, nah ... Pada saat itulah situasi ini akan menjadi membingungkan ketika seseorang berkata sambil mengejek ke arahku──Apa-apaan dengan sikap dia itu, huh?
"Siapa dia, Tuan Putri?"
"Anggota ksatria baru."
"Mungkinkah pahlawan yang baru saja dilantik itu?"
Ketika Elia menggangukan kepala tidak membantah.
"B-betapa konyolnya!"
Pria itu langsung mencemooh kearahku sambil menatapku tidak percaya──ah! Tentu, tentu saja ini akan terjadi!!
"Tuan Putri, mohon maafkan saya. Tapi, bukankah lebih baik jika tugas pemimpin diserahkan kepada orang yang bisa dipercaya? Bukan rakyat jelata?"
Rakyat jelata, huh?
"Begini-begini aku adalah bagian dari kalian, lho."
"Che! Aku tidak mengakuinya!"
Nah, kalau sudah begini.
"Baiklah, bagaimana cara aku membuatmu menarik kalimat itu?"
Setelah aku mengatakan itu, pria dihadapanku langsung tersenyum puas seolah-olah dia sudah menentukan pemenang dalam kalimat dia selanjutnya.
"Bertarunglah denganku? Pewaris dari keluarga bangsawan Reed, John Von Reed menantangmu! Kalau kau sungguh seorang ksatria, maka terimalah ini!"
Dan dalam tindakan dia selanjutnya──Orang itu kemudian melempariku sarung tangan dia ke arah wajahku, yang seperti biasa setiap benda yang mengarah ke bagian itu akan aku tangkis.
Namun, khusus kali ini aku hanya menangkapnya sebelum mengeringai.
"Keluarga Reed rupanya, ya? Boleh, kalau begitu kita akan memulainya dari sini."
Tapi tunggu sebentar, siapa? Aku bahkan belum pernah mendengar tentang keluarga itu sebelumnya, dan orang ini berkata itu cukup terkenal.
Nah, karena aku tidak peduli darimana asal dia, karena orang ini sudah mencari gara-gara denganku, maka aku hanya perlu menjawab dengan pedang yang sudah dihunuskan.
"Kalau begitu kita mulai."
__ADS_1
"He~ siapa takut?"