
" Hai sayang, apa kabar? ko tiap aku whatsapp, kamu gak pernah respon, kenapa? " tanya mantan mantan kekasih Vera.
Vera tidak menggubris pertanyaan dari lelaki itu. Vera hanya memalingkan pandangan nya saja, dengan mata yang beredar untuk melihat angkot yang ingin dia tumpangi.
" kamu kenapa sayang? ko kamu di tanya sama aku malah gak jawab ? " lanjutnya.
" Mohon jangan ganggu aku lagi ! " ketus Vera.
" Loh, kenapa sayang? kita kan mau menikah karena kejadian kemaren? ko kamu jadi kayak gini sama aku? " ucap mantan kekasihnya lagi.
" Jangan harap deh, aku ingin menikah dengan mu !" timpal Vera, dengan nada yang sedikit meninggi.
" Lah, emang suami kamu mau nerima kamu lagi? anak itu kan anak aku, bukan anak dari suami mu itu. " Ujar lelaki itu, seraya menatap bagian perut Vera.
" Aku gak bakalan mungkin mengandung anak kamu, paham ! " bentak Vera.
" Lihat saja nanti, sayang. " Ucap lelaki itu sambil berusaha menyentuh bagian perut Vera.
" Jangan sentuh aku ! apa kamu mau aku laporin ke polisi? " hardik Vera, berusaha mengancam mantan kekasihnya.
" Ko kamu jadi galak begini sama aku? " tanya lelaki itu.
Tiba-tiba, Angkot yang di tunggu Vera pun tiba. Tanpa basa basi, Vera langsung masuk kedalam angkot itu.
Di Sepanjang perjalanan, Vera menjadi kepikiran dengan ucapan mantan pacarnya. Ya, karena dia takut mengandung anak dari benih lelaki itu.
" Ah, sudah lah ! itu urusan nanti, yang penting aku bisa berubah dulu buat mas Bobi. " Ucap nya dalam hati.
Kini, Vera sudah berada di tempat kerja Bobi. Vera langsung menghampiri security yang sedang bertugas. Dia hanya ingin melapor untuk memberikan makanan saja kepada suaminya.
Setelah mendapatkan izin dari petugas security tersebut, Vera langsung melangkahkan kakinya untuk menghampiri petugas receptionis.
" Selamat siang, mbak. Saya mau antar makanan buat suami saya yang bernama Bobi. " Ujar Vera, kepada petugas receptionis tersebut.
" Mohon maaf bu, pak Bobi tidak masuk kerja sudah 4 hari ini, di karenakan beliau sakit. " Jawab petugas receptionis tersebut dengan sangat ramah.
" Sakit kenapa ya, mbak? jika saya boleh tau? " tanya Vera, seraya mengerutkan keningnya.
" Kurang tau juga bu, memang ibu gak tau ya? bukan nya ibu bilang, kalau ibu istrinya pak Bobi? " tanya petugas itu.
__ADS_1
" Iya mbak, saya udah seminggu menginap di rumah orang tua saya, jadi saya nggak tau dengan keadaan suami saya. " Imbuhnya.
" Yasudah mbak, terima kasih atas informasinya. " Ujar Vera, seraya melangkahkan kakinya untuk kembali keluar dari kantor tersebut.
Pikiran Vera menjadi bertanya-tanya.
" Mas Bobi sakit apa ya? ko mas Bobi gak pernah ngabarin aku, kalau dia sedang sakit? apa semarah itu mas Bobi kepadaku? atau jangan-jangan, mas Bobi sudah tidak mau lagi hidup bersamaku? " ujar Vera dalam hatinya.
Tanpa berpikir panjang, Vera pun langsung berangkat ke rumah Bobi. ketika baru saja sampai depan gerbang, ternyata lelaki yang menjadi mantan pacar Vera itu sudah berada di hadapan nya kembali.
Ya, pria itu mengikuti Vera, ketika tadi vera sudah menaiki angkot.
" Kok kamu masih nenteng-nenteng makanan itu? itu makanan buat siapa? Jangan-jangan buat suami kamu ya? aku gak salah kan tadi bilang sama kamu, pasti suami kamu tidak akan menerima kamu lagi. Jangankan menerima kamu, menerima makanan dari kamu saja dia sangat enggan. " Ujar lelaki itu.
Tanpa mendengarkan perkataan dari lelaki itu, Vera kembali menaiki angkot untuk menuju kerumah Bobi.
" Apa sih maunya itu orang, " batin Vera berkata.
Vera pun tidak memikirkan hal itu lagi. yang terpenting sekarang, dia sudah berusaha untuk memperbaiki diri buat suaminya.
***
Ketika baru sampai di ambang pintu, Vera kaget melihat sosok seorang pria yang sedang terduduk seraya mengeluarkan muntahan dari dalam mulutnya.
Ya, Vera lebih kaget lagi karena Bobi mengeluarkan muntah darah.
" Astagfirulloh, mas. kamu kenapa? apa yang terjadi sama kamu? mas. " Tanya Vera, seraya berlari untuk menghampiri Bobi.
Bobi tidak bisa menjawab apa-apa, dia hanya terus-terusan mengeluarkan darah dari mulutnya.
Vera bergegas untuk menelpon kedua orang tua nya, wanita itu ingin meminta bantuan kepada kedua orang tua nya, untuk membawa Bobi ke rumah sakit.
" Hallo, mah. tolong aku, mas Bobi harus di bawa ke rumah sakit sekarang juga. " Ujar Vera ketika menelpon orang tuanya.
" Kenapa dengan Bobi? nak? " tanya orang tua Vera.
" Mas Bobi sakit, mah. Dia sekarang sedang muntah muntah darah. Kalau bisa, tolong sambil bawa orang yang bisa nyetir, mah. " Jawab Vera dengan tergesa.
" Iya nak, mamah sama papa berangkat sekarang kesana. " Jawab orang tua Vera.
__ADS_1
" Segera, mah. " Ujar Vera, sambil menangis.
" Tunggu sebentar ya, mas. kamu harus kuat, aku akan membawamu kerumah sakit. " Imbuhnya, seraya mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
Vera sangat khawatir sekali terhadap suaminya, wanita itu benar-benar merasa bersalah.
Tiba-tiba, ada seseorang yang masuk kedalam rumah. Ya, orang itu adalah mantan kekasih nya Vera. Pria itu langsung terbahak, ketika melihat kondisi Bobi yang sangat mengenaskan.
" Hahahah dasar payah. Kemarin saja pas ngeliat aku sama kamu lagi asik berhubungan, dia berani menghajarku di hadapan kamu dan juga orang tua kamu. Sekarang, hanya bisa menahan sakit sendirian sambil muntah darah. " Ujar mantan kekasih Vera.
" Diam kamu ! keluar kamu dari sini ! atau kamu akan ku laporkan kepada RT, karena kamu sudah membuat kegaduhan di rumah ini ! " bentak Vera berusaha mengancam lelaki itu.
" Oke sayang, karena kamu yang menyuruhku untuk keluar dari sini, jadi aku akan menuruti permintaan kamu. " Jawab lelaki itu.
" keluar brengsek ! " bentak Vera kembali, dengan mata yang membelalak.
Pria itu pun langsung bergegas keluar, berlalu meninggalkan Vera dan Bobi.
Tak lama kemudian, orang tua Vera datang. Mereka kaget ketika melihat Bobi yang kondisi nya sangat mengenaskan.
" Ya ampun, kamu kenapa bob? ayo buruan kita bawa ke rumah sakit, mama sudah bawa orang yang bisa nyetir. " Ucap orang tua Vera tergesa.
Bobi langsung di papah oleh papa nya Vera, bersama orang yang ingin mengantarkan mereka ke rumah sakit.
Mereka langsung bergegas untuk berangkat.
Sepanjang perjalanan, Bobi masih saja mengeluarkan darah dari mulutnya.
Vera menjadi lebih panik, dan berkata kepada suaminya.
" Maafin aku mas, karena kelakuan ku, kamu jadi seperti ini. " Ucap Vera, sambil memangku kepala Bobi.
Vera semakin bersalah kepada suami nya, yang selalu sabar menghadapi sikap Vera, ketika dulu Vera masih berpura-pura cinta kepada Bobi.
Tibalah mereka di rumah sakit, Bobi langsung di bawa ke ruangan IGD oleh petugas rumah sakit tersebut.
Dengan keadaan seperti ini, Vera hanya bisa menangis dan merasa sangat cemas dengan keadaan suaminya.
" Sudah, nak. Jangan terus-terusan menangis, mudah-mudahan Bobi baik-baik saja. " Ujar orang tua Vera, yang berusaha menenangkan anaknya.
__ADS_1
" Aku gak bisa tenang, mah. Aku takut kalau mas Bobi kenapa-napa. " Lirihnya, sambil mengusap air mata yang terus-terusan mengalir ke pipinya.