
"Luci... Luci..."
Mamah memanggilku untuk menyantap sarapan pagi. Sambil menuruni tangga, aku menyahut, "Iya, Mah."
"Hari ini Mamah hanya membuat roti lapis selai coklat kesukaanmu dan ini bekal untuk di sekolah." Mamah memberikan sekotak bekal makanan berwarna merah muda, sementara aku duduk dan menyantap sarapan.
Setelah selesai makan, aku memasukkan kotak bekal yang sebelumnya Mamah berikan ke dalam tas dan berlari menuju bus sekolah yang sudah membunyikan klaksonnya, tanda bahwa bus sudah sampai di depan rumah.
Tinnn... Tinnn...
"Mah, Luci berangkat ya..." ucapku sambil melambaikan tangan.
"Iya... Hati-hati dan belajarlah dengan rajin."
Dengan kecepatan sedang mobil melaju menuju Akademi Nusa Bangsa yang terkenal dengan sebutan Aknusbang. Jika dibandingkan dengan sekolah umum setara dengan jenjang sekolah menengah atas.
Akademi Nusa Bangsa merupakan sekolah elit yang terkenal karena memiliki beragam murid dengan kepintaran dan keahlian di bidangnya masing-masing. Sekolah yang tidak sembarang orang dapat masuk dan menuntut ilmu di sana, namun jika sudah terpilih menjadi salah satu murid di sana, maka segalanya seperti surga. Apapun keahlian muridnya akan mendapat dukungan dan fasilitas yang lengkap, orang tua dari murid yang berhasil terpilih juga tidak perlu mengeluarkan sepeserpun uang untuk biaya sekolah sebab semuanya sudah ditanggung.
Aku, Luciana Lighter, terpilih oleh Akademi Nusa Bangsa hanya karena hasil sebuah tes tahap pertama. Biasanya para murid harus melewati tes IQ, EI, SI, dan berbagai tes bakat lainnya hingga ditemukan temuan suatu keunggulan yang memenuhi syarat bagi masing-masing calon murid. Namun bagiku yang lolos pada tes tahap pertama, yaitu IQ (Intelligence Quotient), entah merupakan sebuah keberuntungan atau keajaiban.
Jika diingat-ingat saat itu...
"Mah, aku tidak mau ikut tes yang merepotkan ini. Lebih baik aku masuk ke sekolah umum saja," ujarku ketika pertama kali Mamah membawaku ke depan gerbang Akademi Nusa Bangsa untuk mengikuti tes masuk.
"Luci sayang... Mamah janji, jika tidak berhasil lolos tes masuk ini, baru kita akan mendaftar di sekolah umum. Untuk sekarang kamu coba dulu saja ya..."
"Baiklah, Mah. Kalau begitu aku masuk dulu," kataku.
"Iya, Mamah tunggu di sini bersama dengan para orang tua calon murid."
Aku melangkah memasuki gerbang setelah menganggukkan kepala untuk menjawab kalimat dari Mamah sebelumnya. Setelah menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, aku membatin, Yah... lagi pula hanya tes, untuk apa terlalu serius. Aku hanya perlu menjawab seadanya saja sesuai kemampuan, tidak perlu terlalu dipusingkan.
Peraturan utama tes masuk Akademi Nusa Bangsa, yaitu hasil tes tidak transparan, sehingga hanya pihak sekolah dan keluarga murid yang mengetahui alasan anak mereka diterima. Setiap calon murid mengikuti serangkaian tes dan baru dipulangkan, namun ada beberapa juga yang langsung diperintahkan pulang ketika baru melakukan beberapa tes saja. Untuk calon murid yang langsung diperintahkan pulang ada dua penyebab, pertama, karena mereka gagal, dan kedua, ini kasus yang sangat sedikit karena sudah pasti jika tidak gagal, maka mereka sudah ditemukan bakatnya.
Aku berjalan begitu percaya diri di antara sekumpulan calon murid yang memandangiku dengan berbagai jenis tatapan. Kalau kalian perhatikan, parasku ini terlampau jauh di atas rata-rata, jadi tidak heran bila menjadi salah satu pusat perhatian. Namun, tidak hanya aku saja, beberapa murid dengan wajah di atas rata-rata ada begitu banyak di sini dan kebanyakan berasal dari golongan orang kaya, bahkan ada pula anak dari pemimpin negara yang juga mengikuti tes.
"Haihhh... lumayan juga kalau dia masuk ke club kita, Girls..." ucap seorang gadis yang juga berparas cantik, namun sedikit terlihat... licik?
Aku menengok kiri dan kanan, memastikan apakah gadis itu barusan berbincang denganku atau bukan.
"Girls, ternyata wajahnya saja yang cantik, tetapi otaknya kosong... hahahaha..." Gadis itu tertawa, diikuti tawa dua gadis di belakangnya.
__ADS_1
"PENGUMUMAN... TES TAHAP PERTAMA AKAN SEGARA DIMULAI. CALON MURID SEGERA MEMILIH TEMPAT DUDUKNYA MASING-MASING DAN MENUNGGU PENGAWAS TES DATANG," intruksi dari pengeras suara.
Aku hanya dapat mendengus malas, baru menginjakkan kaki sudah mendapati orang yang ingin mencari keributan. Sabar Luci... sabar... anggap saja kita cuma main-main di taman hiburan dan bertemu anak usia belia yang kurang didikan orang tua, batinku sambil mengelus dada dan berniat duduk di kursi dengan secarik kertas bertuliskan nomor 100 dimejanya.
"Heh! Yang pertama kali melihat meja nomor 100 itu aku, kau lebih baik duduk di meja nomor 99 saja," seru gadis yang tadi mengolok-olokku, kemudian ia terkekeh entah apa yang dikekehkannya dengan kedua temannya itu. Tak pikir panjang, aku berjalan santai ke arah meja nomor 99 dan menduduki kursinya, namun bisik-bisik terdengar bersautan hingga ribut sekali.
"Dia sungguh duduk di meja nomor 99?"
"Sayang sekali, padahal wajahnya cantik, namun nasibnya akan sial."
"Meja nomor 99 bukannya terkenal sebagai meja yang membawa sial itu 'kan?"
"Sungguh kasihan sekali, kita lihat saja kesialan apa yang akan didapatkannya."
Begitulah bisik-bisik yang mampu indera pendengaranku tangkap. Haihhh... sungguh ribut sekali... ucapku dalam hati.
"Baik, semua calon murid harap tenang, tes tahap pertama akan dimulai. Kalian dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan di lembar soal di meja kalian masing-masing dimulai dari... SEKARANG!" Pengawas tes sudah mengintruksi dan tes dimulai.
"Oh... tes tahap pertama, yaitu tes IQ. Apa yang perlu disulitkan, hanya perlu dijawab saja," gumamku. Terlihat para calon murid begitu serius mengerjakan tes tahap pertama ini dan aku malah sudah selesai mengisi semua soal dalam waktu setengah jam.
Untuk apa terlalu serius, aku juga dapat mendaftar di sekolah umum jika tidak lolos, seru batinku.
Satu jam berlalu dan pengawas tes mengintruksi bahwa tes tahap pertama selesai. Beberapa pria dewasa berpakaian putih mengutip lembar soal calon murid dan membawanya.
"Baik, semua calon murid harap mendengarkan dengan seksama. Saya akan membacakan beberapa nama yang harus pulang."
Kemudian pengawas tes mulai memanggilkan nama-nama calon murid yang tertera di kertas di genggamannya. "Dan yang terakhir adalah... Luciana Lighter..." Pengawas memasukkan kertas itu ke map coklat lagi, "silahkan berjalan teratur untuk nama-nama yang sudah disebutkan, petugas kami akan memberikan bingkisan untuk masing-masing dari kalian. Untuk yang tidak disebut namanya, bersiap sepuluh menit lagi akan ada tes selanjutnya. Pada saat itu, saya akan kembali lagi ke sini. Sampai jumpa nanti."
Pengawas tes sudah pergi dan aku bersiap bangkit dari kursi.
"Hahahaha... Girls, benar 'kan kata aku kalau dia itu wajahnya saja yang cantik, tetapi otaknya kosong... huhuhu kasian sekali, baru tes tahap pertama saja sudah gagal, padahal baru saja ingin direkrut masuk ke club kita. Yah... mau bagaimana lagi, dia tidak cocok dan tidak mampu," ucap gadis yang dari awal sepertinya sangat tidak suka melihatku. Seketika dua temannya dan calon murid lain ikut tertawa.
"Ck, ck, ck... ternyata ia benar-benar sial."
"Iya, baru tes tahap pertama sudah gagal."
"Huh, sayang sekali. Aku baru saja berniat mengencaninya jika ia diterima nanti."
Sahutan para calon murid.
Haihhh... nenek sihir ini sepertinya begitu bahagia mengolok dan memprovokasi orang lain, aku biarkan saja jika itu membuatnya begitu bahagia, anggap saja hiburan untuk mereka, ucapku dalam hati.
__ADS_1
Aku pergi dengan santai seolah tidak terpengaruh dengan ucapannya.
"Hei! Mau pura-pura tidak mendengar, hah?" ucap gadis itu ketika aku lewat di hadapannya begitu saja, "uh... aku sepertinya mencium sesuatu."
"Mencium apa, Ketua?" tanya salah satu temannya.
"Apa ya? Sepertinya aku tahu bau apa ini."
"Bau apa, Ketua? Jangan membuat kita penasaran," sahut temannya yg satu lagi.
"Sepertinya aku mencium bau... KE-GA-GA-LAN... hahahahahaha..."
"Ish... ada untungnya juga aku gagal, jadi tidak perlu mengotori pandangan lagi dengan melihat dia yang di sana," gumamku sengaja sedikit diperkencang hingga membuat gadis itu geram mendengarnya.
"APA KAU BILANG?! KAU MENYEBUTKU KOTOR?!" teriak gadis itu, membuat calon murid yang lain merasa seru seolah sedang menonton pertandingan debat.
Aku membalikkan tubuh, menantapnya, lalu berkata, "Kau... hmm, kau siapa? Apa aku mengenalmu? Kita tidak sedekat itu untuk saling berbincang."
Aku pergi dengan senyum puas, kemudian menghampiri Mamah, dan keluar menuju gerbang Akademi Nusa Bangsa. Sebelumnya, aku menerima sebuah paperbag.
Aku memasuki mobil menyusul Mamah yang sudah lebih dulu.
"Luci mengapa cepat sekali diperintahkan pulang? Apakah gagal?" tanya Mamah sambil menyetir.
"Sepertinya begitu," jawabku seadanya karena kini lebih penasaran dengan isi paperbag berwarna keemasan di pangkuanku ini, "ini isinya apa ya, Mah?"
"Entah, mana Mamah tahu..."
Aku membuka perlahan paperbag itu dan mendapati sebuah setelan baju dan sebuah pin berbentuk daun maple, juga secarik amplop. Lebih dulu aku membuka amplop dan membaca surat di dalamnya.
"Mah, Mah, kayanya aku diterima di Akademi Nusa Bangsa," ucapku dengan santai.
"Hobi berkhayalmu belum hilang juga rupanya," sahut Mamah.
"Akan tetapi, Mah, ini surat resmi pernyataan bahwa aku diterima sebagai murid dengan hasil tes IQ tergolong Genius ber-skor 200."
Ngikkk--
"MAHHH... Kenapa tiba-tiba menepi? 'Kan bahaya, Mah..." seruku ketika Mamah mendadak menepikan mobilnya ke pinggir jalan raya.
"Coba Mamah lihat!" Mamah menyambar kertas di genggamanku secepat kilat, lalu berujar, "ini nyata?"
__ADS_1
To be continue...