Maple Leaf Kingdom

Maple Leaf Kingdom
Page 16


__ADS_3

Kami sudah sampai di ruang makan. Setelah mengambil posisi duduk, para pelayan menghidangkan makanan. Sepertinya di luar, hujan masih tetap mengguyur.


"Kau harus menghentikan hukuman Rudolf dulu," ucapku.


"Tidak bisakah kita makan dulu baru membicarakan ini?" tanya Alfa dengan wajah dingin dan tidak suka.


"Tidak."


Prang!


Sebuah garpu dilemparkannya ke lantai dengan keras, membuatku dan para pelayan terkejut bukan main.


"Ck, marah-marah lagi," gerutuku pelan, entahlah terdengar oleh Alfa atau tidak.


"Pelayan!" teriaknya. Seorang pelayan terdekat dari posisinya maju tergesa-gesa.


"Iya, Yang Mulia Raja."


"Perintahkan Rudolf untuk menghentikan hukumannya," titahnya tegas.


"Baik, Yang Mulia Raja."


"Semuanya... Tinggalkan kami!" perintahnya lagi membuat semua orang meninggalkan ruang makan.


"Kau puas?" tanyanya.


Dengan senyum mempesona, aku berkata, "Sangat puas. Terima kasih, Yang Mulia Raja." Kemudian langsung menyantap makan malam, karena jujur saja, diri ini sudah sangat lapar sebenarnya. Namun, hawa dingin Alfa membekukan rasa lapar setelah menguapkannya.


Luciana... kau sangat berlebihan.


Melihatku begitu lahap menyantap makanan, Alfa ikut makan. Di antara kami tidak ada yang memulai pembicaraan hingga seseorang datang, membuat Alfa begitu geram dan gusar.


"Kau! Ada apa kemari?!" bentaknya.


Aku hanya melanjutkan makan dalam diam, namun setelah melihat siapa orang yang dibentak Alfa padahal orang itu belum sama sekali membuka suara. Mataku sontak membulat penuh.


"Dev?" ucapku tanpa sadar.


Membuat orang yang dipanggil menampakkan raut wajah bingung.


"Salam Sejahtera kepada Yang Mulia Raja dan Ratu," hormatnya. "Benar. Saya Dev, atau Deva Kasafanya. Maaf mengganggu waktu makan malam kalian. Saya kemari untuk..."

__ADS_1


"Sudah tahu mengganggu, kenapa tidak segera pergi?" sarkas Alfa, tatapan menyindir sekaligus membunuh menjadi satu ketika dia melirik ke arah pria itu.


"Maaf, Yang Mulia Raja. Saya akan pergi."


"Tunggu... jika sudah kemari, bukankah yang ingin dibicarakan adalah hal penting?" ucapku, namun tidak digubris oleh keduanya. Apa-apaan ini? Alfa diam, sementara Dev seperti sangat ingin berbicara. Pada akhirnya aku memang tidak dianggap.


"Oh, mungkin masalah yang ingin dibicarakan tidak seharusnya kudengar. Kalian berbincanglah, kalau begitu aku akan per..."


"Duduklah!" ujar Alfa membuatku yang sudah setengah bangkit, kini duduk kembali.


"Katakan!" ucapnya kepada Dev yang masih dengan setia berdiri. Sementara aku? Melanjutkan makan malam tentunya. Mendengar masalah politik sangat membosankan, juga menyuruh Dev bicara hanya kasihan melihatnya diperlakukan dingin begitu oleh si Beku.


Melihatku yang seolah tidak peduli membuat Alfa menggelengkan kepala. Dalam benaknya, Siapa yang baru saja ingin mendengar laporannya? Sekarang malah tidak peduli dan fokus pada makanannya. Wanita sangat membingungkan...


"Saya ingin menyampaikan dua hal penting, Yang Mulia. Pertama, para menteri ingin mempercepat pertemuan jadi besok."


"Mereka tidak memandangku sebagai raja? Mengapa begitu tidak toleran sekali melihat ratu sedang sakit?" tanya Alfa garang.


"Maaf, Yang Mulia Raja. Mereka mendesak dan ini tidak terelakan lagi." Melihat Dev bahkan meminta maaf tanpa berlutut, pasti posisinya begitu penting. Ini adalah masa transisi atau pergantian kepemimpinan. Dari kebanyakan buku tentang kerajaan yang aku baca, masa-masa ini biasanya dimanfaatkan untuk menggeser kekuasaan raja yang baru.


Hm... Tetapi, ini sangat tidak masuk akal. Raja sebelumnya bahkan belum meninggal, jika raja baru mati pun tidak akan bermanfaat untuk mereka. Apa mungkin mereka ingin menekan Alfa agar segala peraturan di bawah kendali para menteri? Kalau seperti itu... kasihan sekali si Beku ini.


"Tidak masalah soal jubah. Aku sudah meminta Refisha memesan jubah baru tanpa bulu kepada penjahit terkenal di kerajaan ini," ucapnya tenang.


Alfa tidak menghalangiku? Mungkinkah dia juga penasaran dengan apa yang ingin dibicarakan para menteri?


Aku mengangguk.


"Baiklah. Katakan pada mereka, bila ingin memajukan pertemuan para menteri menjadi besok, maka lakukan saja."


"Yang Mulia Raja, dan laporan yang kedua adalah... Sepertinya pasukan yang dipimpin Jenderal Reyhan berhasil memenangkan peperangan dan akan pulang dalam waktu beberapa hari," laporan kedua Dev yang hanya disahuti dehaman mengiyakan Alfa.


Uhuk... uhuk...


Aku tersedak mendengar nama Reyhan disebut-sebut. Bukan 'kan? Bukan Reyhan yang aku kenal tentunya. Masa iya, dia juga ada di dalam sejarah dengan posisi jenderal pula. Pikiranku mengawang mengingat betapa laki-laki itu seolah cinta mati kepadaku. Bukannya terlalu percaya diri, jika dia juga menjadi budak cinta di sini. Bukankah sama saja menyeretku ke dalam kematian lebih cepat? Seorang jenderal menyukai Ratunya? Oh, tidak... skandal yang sangat menggoda untuk dijadikan gosip.


"Kau baik-baik saja?" tanya Alfa menyodorkan segelas air. "Minumlah!"


"Terima kasih," sahutku setelah meneguk air yang diberikannya.


"Baik, Yang Mulia Raja. Kalau begitu saya akan menyampaikan perihal pertama kepada para menteri. Salam Sejahtera kepada Yang Mulia Raja dan Ratu," pamit Dev seraya membungkuk hormat.

__ADS_1


Dev... Sebenarnya apa jabatanmu di sini? batinku menatap kepergiannya, kemudian mengalihkan pandangan menatap Alfa yang kini menyantap makan malam dengan tenang. Pria ini... Apakah sudah mengetahui niatan para menteri itu?


"Ehem... Mengapa kau menatap ke arahku terus?" tanyanya membuyarkan pikiran sebelumnya.


"Ratu menatap Rajanya apakah sebuah kesalahan?" ujarku salah tingkah ketika ketahuan menatap ke arahnya. Untuk apa salah tingkah Luciana... benar, itu bukan salahmu sebagai seorang ratu jika ingin menatapnya. Pelit sekali si Beku ini... bahkan menatap saja tidak boleh.


Aku melanjutkan makan hingga hening yang cukup lama, pria itu baru berkata, "Bukan kesalahan."


Hah? Aku tidak salah dengar? Perkataannya, oh ralat, gumamannya barusan itu. Sudahlah, sudahlah Luciana, lanjutkan saja makan malammu dengan tenang. Jika kau terus menanggapi hal sepele, kapan selesainya makan malam ini?


Makan malam berakhir.


"Sudah malam, kau kembalilah ke kamar terlebih dahulu. Aku masih ada hal yang perlu diurus," ucap Alfa.


Setelah dipikir-pikir, selain membaca buku, aku juga sudah tidur siang ini. Sangatlah membosankan jika harus berdiam diri di kamar karena belum mengantuk.


"Hm, Alfa... Oh bukan, maksudku Yang Mulia Raja."


"Kau pasti teringat ucapan Rudolf. Tidak masalah bagiku jika kau memanggil langsung dengan nama, lagi pula kau adalah ratu. Hanya saja orang lain tidak terbiasa mendengarnya."


Apakah di sini ada alat perekam? Alfa di kehidupan nyata tidak akan percaya mendengar perkataan seperti ini terlontar dari mulutnya sendiri. Orang yang bahkan tega menjatuhi hukuman potong tangan untuk orang lain yang menyentuh barang-barangnya tanpa izin. Bagimana bisa membiarkanku memanggil seenaknya seperti itu?


"Baiklah. Aku hanya ingin berkata, mungkin malam ini aku tidak bisa tidur. Bolehkah aku berkeliling istana?" tanyaku dengan tatapan memohon. Ayolah, boleh ya, boleh. Aku tidak bisa berdiam diri di kamar tanpa melakukan apapun, sementara buku-buku yang ada di kamar sangatlah membosankan untuk dibaca berulang-ulang.


"Tidak! Jika aku biarkan, kau mungkin akan ke hutan belakang tempat koleksi binatang buas lagi," larangnya tegas. Apa-apaan dia? Berkeliling saja tidak boleh. Tunggu... Apa dia bilang tadi?


"Hutan itu, tempat koleksi binatang buas?" tanyaku dengan tangan gemetar. Alfa mengangguk seraya meneguk sisa anggur merah dari gelasnya.


Pasti dia menganggapku sedang uji nyali waktu itu. Mengapa orang bodoh ini malah mengoleksi binatang buas secara liar di hutan belakang? Bahkan tanpa penjagaan... Oh ya ampun. Beku... jika suatu hari aku menyinggungmu, apakah kau akan langsung melemparku ke hutan itu? batinku, seluruh tubuh bergidik ngeri.


"Jika kau bosan, mengapa tidak ikut aku?" tawarnya saat melihatku meratapi nasib sial ini.


"Ikut denganmu? Kemana?"


"Kau akan mengetahuinya nanti. Ayo ikut!" Alfa menghampiri dengan menawarkan lengannya untuk dipegang.


Haisss... apa memegang lengan sangat diperlukan setiap kali berjalan dengannya? Sedikit-sedikit berpegangan, sedikit-sedikit berpegangan. Aku juga tidak akan jatuh kali...


Mau tidak mau aku menurut, penasaran juga si Beku akan membawaku kemana sekarang.


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2