Maple Leaf Kingdom

Maple Leaf Kingdom
Page 24


__ADS_3

"Oke. Peranku kali ini menjadi apa ya? Ratu cantik dan murah senyum. Ah, iya. Itu saja, aku suka," gumamku pada diri sendiri.


Para pelayan membantuku bersiap-siap. Hal pertama yang aku syukuri adalah Alfa sama sekali belum memunculkan batang hidungnya. Syukurlah, aku cukup salah tingkah jika dia tiba-tiba dat--


"Ratu..."


Aku membeku. Baru saja ingin bersyukur, yang dihindari justru datang.


"Sudah siap?" tanyanya. Aku mengangguk tanpa menoleh. Untung saja sekarang para pelayan sedang menyisir rambutku. Jadi aku punya alibi untuk tidak menoleh atau bangkit berdiri.


"Aku akan menunggumu di bawah, kau cepatlah bersiapnya," pinta Alfa, kemudian pergi meninggalkan kamar.


"Huffttt..." embus napas legaku. Nasib baik aku tidak mati karena menahan napas sedari tadi, batinku merutuki kebodohan diri.


"Buat apa juga aku sampai melakukan itu," gumamku pelan. Para pelayan tentu saja mendengar, namun apakah mereka punya keberanian untuk menyela? Hohoho... aku Ratu yang disayangi Raja. Mana berani mereka melawanku, banggaku dalam hati.


Setelah bersiap, aku sengaja membawa tiga buah buku yang kuambil secara acak. Niatnya agar aku tampak tetap keren meski jantung berdebar hebat dan gugup bukan main. Aku cukup gengsi jika harus salah tingkah di mata Alfa. Nanti dia terlalu percaya diri dan berkata kalau aku gugup karena dia. Hahaha... padahal memang begitu.


Sebuah kereta kuda sudah siap di depan gerbang. Kalau aku deskripsikan, kemewahannya mengalahkan mobil sport di dunia nyata. Lihat saja, ada empat ekor kuda yang menarik kereta, dengan dua orang kusir, dan banyak prajurit yang mengawal. Tubuhp kereta kuda berwarna emas. Apa ini memang terbuat dari emas?


"Salam kepada Yang Mulia Raja dan Ratu." Sapaan yang selalu terlontar dari mulut orang-orang yang aku dan Alfa lewati.


"Ada apa Ratu? Mengapa kau memukul-mukul kereta kuda? Kau tidak suka? Aku bisa menggantinya," ucap Alfa dengan enteng.


"Ah, tidak. Aku hanya berpikir... Apa ini terbuat dari emas?" tanyaku yang dibalas kekehan dari Alfa. Apa pertanyaanku lucu? pikirku mendengar dia terkekeh begitu geli.


"Aku pikir kau tidak menyukainya, Ratu. Ternyata seleramu bagus juga. Apa lain kali aku perlu menambahkan beberapa berlian di kereta kudamu?" ujar Alfa diakhiri pertanyaan yang membuat aku terkaget-kaget.


Dalam benakku, Apa itu artinya kereta ini benar-benar terbuat dari emas? Seluruhnya? Wah... melihat dia ingin menambahkan berlian, berarti benar.


"Tunggu... Apa kau bilang? Ini kereta kudaku? Milikku?"

__ADS_1


Alfa mengangguk. "Milikmu, tetapi jika pergi bersamaku, maka kita akan satu kereta."


"Sudah kuduga," gumamku pelan.


"Kenapa? Apa kau tidak senang?" tanya Alfa membuat kedua mataku membulat. Dia mendengarnya? Pendengarannya benar-benar sangat baik.


Aku baru teringat, peranku hari ini menjadi Ratu cantik dan murah senyum. Lantas aku jalankan peran yang seharusnya. Tersenyum.


"Bukan begitu, seharusnya kita segera masuk, Raja. Terlalu lama di luar akan membuat banyak waktu terbuang." Benar-benar hebat. Aku menyadari kemampuan acting-ku mengalami peningkatan yang pesat semenjak berpindah ke sini. Terbukti, Alfa kini balas tersenyum dan mengangguk, serta berkata, "Baiklah, ayo kita berangkat ke Barat menuju tempat Para Ayahanda dan Ibunda."


Sampai lupa kalau aku memiliki Ayahanda dan Ibunda di sini. Mengingat itu membuatku teringat Mamah di dunia nyata. Bagaimana ya kabarnya? batinku sesaat setelah memasuki kereta kuda yang dalamnya ternyata sangat luas dan mewah. Warna di sini didominasi merah dan orange. Sangat segar.


"Kau menyukai bagian dalamnya?"


Pertanyaan itu lagi, aku sampai bosan mendengar Alfa sering sekali bertanya 'Kau suka?', atau 'Kau menyukainya?', atau juga 'Kau tidak suka? Aku bisa menggantinya.'


Memangnya pendapatku sepenting itu? Luciana Lighter, ingat peranmu. Senyum, senyum yang cantik, Luciana... ingatku dalam hati.


Kereta kuda sudah melaju sesuai perintah Alfa, sementara mataku menemukan buku yang kuminta pelayan meletakkannya ke kereta kuda. Dan benar saja, sudah tergeletak tiga buah buku tersebut di atas meja.


"Sepertinya kau memang sangat suka membaca, Ratu. Tetapi bacaanmu kali ini agak lain," ujar Alfa saat aku menaruh buku ke pangkuan. Memang aku mengambil buku apa?


Aku melihat ke arah sebuah buku yang dimaksud Alfa, tentu saja buku yang ada di pangkuanku.


"Buku apa ini?" tanyaku tanpa sadar saat melihat deretan huruf aneh yang aku yakini adalah judul. Mudah saja. Huruf-huruf itu ada di cover depan dan ditulis yang paling besar di antara yang lainnya. Bukankah itu yang dinamakan judul?


Alfa tertawa, mungkin karena melihat wajah bengongku yang memalukan ini. "Hahaha... kau tidak tahu buku apa yang kau bawa, Ratu?"


Aku mana mau kalah. Aku berdeham. "Ehem. Gunanya membaca buku itu untuk menambah pengetahuan, makanya aku penasaran dengam buku aneh yang satu ini," alibiku. Padahal untuk menutupi rasa malu sebab salah mengambil buku.


"Sebenarnya ini buku yang lumayan seru untuk dibaca, hanya saja tulisannya memang menggunakan huruf Hieroglif Mesir," jelas Alfa membuatku ber-oh ria.

__ADS_1


Mengingat Mesir, aku jadi teringat juga dengan cerita Ramses II yang aku baca dari komik populer berbau Mesir, lebih tepatnya menceritakan masa kejayaan Ramses II yang tersohor itu.


"Ramses dua?" tanyaku.


"Kau ingin bertemu dengannya?" tanya Alfa membuatku membelalak tak percaya.


"Bisa?" tanyaku benar-benar tidak yakin atas tawaran yang Alfa berikan.


"Bisa saja. Akan aku pertimbangkan jika kau mau," sahut Alfa tenang.


Apa ini sungguhan? Ramses II? Aku akan bertemu dengan Ramses II? benakku tak menyangka.


"Tunggu, Alfa. Hm, maksudku, Raja. Ramses dua saat ini apakah masih ada?" tanyaku ragu-ragu, bahkan tergagap di awal.


"Tentu saja ada. Kau pikir dia mau ke mana? Dia yang masih pangeran, meski ada perang pun juga akan kembali ke Mesir. Kita bisa ke sana secepatnya. Biar aku atur waktu yang tepat," jawab Alfa membuat aku semakin terkejut.


Masih pangeran? Apakah setampan di komik yang aku baca? Aku jadi penasaran sekali, pikirku selagi menebak-nebak bagaimana rupa Firaun Ramses II yang terkenal itu.


"Kau benar-benar bisa membawaku ke sana? Benarkah? Kalau aku boleh tahu, berapa umur Ramses dua saat ini?" ucapku memberondong Alfa dengan banyak pertanyaan.


"Itu... kurang lebih dua puluh tahun. Dia dan aku hanya selisih dua tahun sekarang, aku lebih tua. Kau sungguh ingin? Aku tentu saja bisa membawamu jika kau sangat mau ke sana," ujar Alfa santai sekali. Sangat berbeda denganku yang sudah jingkrak-jingkrak dalam hati.


Aku mengangguk penuh semangat. "Aku mau."


Berarti ini ada di 1284 sebelum masehi. Siapa yang menduga kalau masanya Alfa bersamaan dengan dinasti ke-18 Mesir yang sebentar lagi berganti menjadi dinasti ke-19 saat meninjak 1279 sebelum masehi di bawah kepemimpinan Ramses II, batinku semangat sekali.


"Hebat. Sepertinya akan sangat menyenangkan," takjubku membuat senyum Alfa terulas tanpa kusadari sebab terlalu bahagia ingin bertemu Ramses II sewaktu umur 20 tahunan. Kebetulan yang sangat langka.


Aku tersenyum begitu lebar. Tidak salah aku memilih peran sebagai Ratu yang cantik dan murah senyum. Aku memang sedang ingin tersenyum cantik terus, tidak sabar ingin ke Mesir. Mesir... I'm coming....


To be continue.

__ADS_1


__ADS_2