Maple Leaf Kingdom

Maple Leaf Kingdom
Page 25


__ADS_3

Duk... Duk...


"Ada apa ini?!" bentak Alfa saat kereta kuda tiba-tiba berguncang hebat. Hampir saja aku terperosok ke depan seandainya Alfa tidak menahan tubuhku.


Kereta kuda berhenti. Seorang prajurit maju dan menimbulkan kepalanya ke jendela kereta kuda.


"Maaf, Yang Mulia Raja. Di depan ada pedagang tomat. Roda gerobak pedagang itu rusak dan terlepas. Tomat-tomat berhamburan di jalan dan menghalangi," jelas prajurit itu.


"Baiklah, kita turun dan lihat, Ratu," ajak Alfa menuntunku turun dari kereta kuda sesaat prajuritnya membukakan pintu.


Baru beberapa langkah aku turun, lantas saja disuguhkan pemandangan seorang pria setengah baya berpakaian lusuh tengah bersujud sembari memohon, "Maafkan saya, Yang Mulia. Maafkan saya, mohon ampun."


Kasihan sekali, batinku, lalu aku melirik ke arah Alfa yang sudah mengepalkan tangan kesal. Ekspresi pria ini begitu seram saat sedang marah. Apa dia marah hanya karena roda gerobak pedagang ini rusak? Ck, ck, ck, benar-benar.


"Kau tahu?! Yang Mulia Raja dan Ratu ingin pergi ke daerah Barat. Kau menghambat perjalanannya!" maki salah satu prajurit yang berada di hadapan pria lusuh itu.


Untung aku teringat akan peran hari ini. Berarti aku tidak salah memilih peran. Melihat Alfa sudah melenggang maju selangkah dengan tampang kejamnya. Aku segera menyela dengan melangkah mendahului Alfa.


Aku berjongkok di depan pria pedagang tomat tersebut, tidak peduli dengan para pelayan pribadiku yang ikut juga pada perjalanan ini memekik kalau baju kebanggaanku akan kotor. Aku tidak menggubris pekikan mereka.


"Yang Mulia Ratu, baju Anda akan kotor. Bangkitlah, Yang Mulia Ratu..." Para pelayan mendekat.


Mana mau aku menanggapi mereka, jelas-jelas pria ini lebih kasihan dari sekedar baju yang bisa dicuci. Sebelum Alfa murka, lebih baik aku meredakan suasana dulu.


"Bangkitlah, Tuan. Roda gerobak yang rusak bukanlah salah Anda," ucapku mendalami peran memasang senyum cantik dan berkata-kata ramah. Terkadang aku heran, diriku ini masuk ke dalam kategori munafik atau tidak. Tetapi mengingat aku tidak berbuat hal yang salah kepada orang lain, sepertinya bermain peran bukan perbuatan dosa.


Aku menatap banyak sekali tomat-tomat yang benyek atau juga yang berserakan di tanah.


"Pasti Anda mengalami kerugian sebab tomat-tomat banyak sekali yang terbuang sia-sia," ungkapku, setelahnya menoleh ke arah Alfa. "Raja, ke marilah..."


Alfa dengan patuh menghampiriku.


Saat Alfa sudah berada di sisiku, aku bangkit berdiri dan mulai membujuknya, "Bukankah kasihan Tuan ini? Tomat-tomat banyak yang berserakan. Sebagai pemimpin kerajaan, akan lebih baik jika memberikan kompensasi untuk Tuan ini agar tidak rugi."


Alfa tampak berpikir dan berteriak ke Rudolf. "Rudolf! Berikan Tuan ini dua puluh keping emas agar tidak mengalami kerugian."


Pria pedagang tomat yang semula sudah duduk bersimpuh, kini kembali bersujud, menempelkan dahi ke tanah. "Tidak berani, Raja! Maafkan nyawa saya! Jangan tukar nyawa saya dengan kepingan emas tersebut, saya masih memiliki keluarga untuk dinafkahi!"


"Siapa yang ingin membunuhmu?!" bentak Alfa tidak terima niat baiknya disalahartikan. Dalam hati aku mencibir, Siapa suruh punya tabiat yang ganas? Kena 'kan, rakyat semua takut padamu.


Orang-orang yang berada di sekitar tempat itu menatap dengan iba, tidak berani mereka menolong pria pedagang tomat tersebut. Apa aku juga yang harus turun tangan?

__ADS_1


Aku menghela napas lelah, kemudian kembali berjongkok.


"Bangkitlah, tidak ada yang ingin membunuhmu. Tuan bisa menerima kepingan emas tersebut tanpa perlu risau, ini adalah bentuk kebaikan Raja," ucapku lemah lembut masih dengan senyum menawan. Berperan sangat melelahkan.


Pedagang itu tidak menunjukkan tanda-tanda bangun. membuat aku merasa pegal berjongkok seperti sekarang.


Dengan wajah datar nan dingin, Alfa berujar, "Kau tidak mendengar perkataan, Ratu? Mau aku benar-benar membunuhmu?"


Cih, bedebah ini sangat kasar! makiku dalam hati.


"Ti-tidak berani! Maafkan saya, Yang Mulia Raja dan Ratu!" pekik pedagang itu segera bangkit berdiri.


Rudolf maju dan menyerahkan kepingan emas yang diperintahkan Raja untuk diberikan kepada pria itu.


"Prajurit, tolong bantu bereskan tomat-tomat yang berserakan dan tepikan gerobaknya dengan hati-hati," perintahku dengan ramah. Sepertinya aku sangat cocok menjadi ratu dengan kepribadian seperti ini.


"Bereskan sesuai perintah, Ratu!" titah Alfa.


Tabiat orang ini sangat-sangat keji. Tetapi, aku mulai sadar kalau dia memiliki sisi lembut terhadapku, pikirku merasa sedikit tersentuh.


"Te-terima kasih, Yang Mulia Raja dan Ratu," ujar pedagang itu sembari menyodorkan sekantung penuh tomat ke arahku. "Mungkin ini tidak seberapa, tetapi emas yang diberikan oleh Raja bahkan bisa untuk saya membangun toko tomat. Terima kasih atas kebaikan, Ratu. Terimalah ini."


Baru saja ingin menerimanya, tiba-tiba Rudolf maju menghadang. "Lancang! Kau memberikan barang kotor itu kepada Ratu?!" bentak Rudolf tidak suka.


Ah... Rudolf kurang ajar, aku sampai kaget, batinku.


"Ampun, Ratu! Tomat-tomat ini belum terjatuh dari gerobak. Saya hanya ingin memberikannya untuk Anda," panik pedagang itu diiringi bungkukan badan beberapa kali.


Aku lantas menengok ke arah Alfa yang tampak begitu berwibawa selayaknya Raja. Raut wajahnya begitu menusuk saking dinginnya.


"Raja, aku ingin itu. Tidak bolehkah aku memakan tomat selagi di perjalanan?" pintaku dengan raut wajah andalan yang tidak mungkin dapat ditolak pesonanya.


"Rudolf! Terima dan cuci hingga bersih agar Ratu dapat menikmatinya," perintah Alfa.


"Baik, Yang Mulia Raja," patuh Rudolf, menerima sodoran sekantong tomat dari pedagang itu.


"Terima kasih atas tomatnya, Tuan," ujarku membuat semua orang terkaget-kaget, namun tidak dengan Alfa. Di mata Alfa apapun yang aku kerjakan sudah benar saja bawaannya.


Dalam benak mereka yang menyaksikan.


Ratu mengucap terima kasih?

__ADS_1


Ratu sangat murah hati, ramah, lemah lembut, dan murah senyum.


Bahkan Raja tidak mengelak saat Ratu meminta.


Sepertinya Raja begitu menyayangi Ratu.


Ternyata orang kerajaan tidak seperti kedengarannya.


Rumor tentang Ratu yang baik hati memang benar adanya.


Dan masih banyak lagi.


"Jangan berkata seperti itu, Ratu. Ucapan terima kasih dari Anda sangat berat untuk saya terima," sahut pria pedagang tomat tersebut.


"Baiklah, Ratu. Ayo kita kembali ke kereta kuda," ajak Alfa menuntun tanganku agar berjalan kembali masuk ke dalam kereta kuda.


"Salam Sejahtera kepada Yang Mulia Raja dan Ratu. Semoga perjalanannya diberkahi!" teriak semua orang yang ada di sana menyertai kepergian kami memasuki kereta kuda.


Sebelum kereta kuda melaju lagi, Rudolf menimbulkan kepalanya di pintu kereta kuda sebelum ditutup.


"Sesuai perintah Raja, ini adalah tomat yang sudah dicuci hingga bersih. Silakan Yang Mulia Ratu menyantapnya," sodor Rudolf memberikan sepiring besar dan penuh dengan tomat yang tampak sangat menggiurkan.


Aku tidak dapat menahannya lagi, ingin cepat-cepat menyantap tomat-tomat itu. Dengan senang hati aku terima sodoran piring yang entah dari mana Rudolf mendapatkannya. Mungkin dari penduduk di sekitar.


"Terima kasih, Rudolf."


"Suatu kehormatan dapat melayani Anda, Yang Mulia Ratu," sahut Rudolf, menutup pintu kereta kuda.


Kereta kuda sudah melaju dan aku sibuk menyantap tomat segar itu. Rasanya manis agak masam, tetapi segar. Aku sangat suka.


"Kau mau Raja?" tanyaku memberikan sebuah tomat kepada Alfa.


Tanpa diduga Alfa menerimanya dan langsung menyantap tomat itu meski dia agak ragu diawal.


"Ternyata memang enak," ucapnya.


"Apa kau tidak pernah memakannya?" tanyaku heran mendapati ekspresi Alfa yang seakan memperoleh harta karun terbaik di dunia.


"Aku sudah pernah memakan tomat, tetapi tidak pernah memakan langsung seperti ini. Biasanya hanya memakan jika sudah dimasak. Siapa sangka memakannya langsung akan terasa sangat enak dan segar," ungkap Alfa membuat aku ber-oh ria.


"Kalau begitu hidupmu sangat sia-sia selama ini," cibirku tidak sama sekali membuat Alfa marah.

__ADS_1


__ADS_2