Maple Leaf Kingdom

Maple Leaf Kingdom
Page 9


__ADS_3

Tak lama, Pak Rudolf tiba.


"Nona Luciana Lighter, Nona Tiara Granindra, Tuan Reyhan Linggasatya, dan Tuan Deva Kasafanya," sapa Pak Rudolf seolah sedang mengabsen satu-satu, "mari saya antar."


Pria tua itu membimbing jalan menuju ruangan private perpustakaan khusus.


"Mengapa suram sekali?" suara Rey melihat lorong yang begitu gelap.


"Di sini sudah sangat lama tidak digunakan," sahut Pak Rudolf, kemudian mengeluarkan sebuah kunci yang mirip dengan punyaku, lalu membuka pintu yang berada di hadapan kami.


"Uwahhh..." takjub kami berempat.


Lorong penghubung perpustakaan utama dan khusus begitu suram, gelap, seperti tidak terurus. Namun siapa sangka ruangan private ini begitu bersih dan terjaga.


"Nona Luciana Lighter boleh ke sini kapanpun dan dengan siapapun yang diinginkan, namun semua buku yang ada di sini hanya dapat digunakan di ruangan private, tidak boleh dibawa keluar," ujar Pak Rudolf dan aku mengangguk mengerti. "Kalau begitu, saya permisi."


"Terima kasih, Pak Rudolf," seruku.


Pak Rudolf melenggang pergi setelah membalas dengan anggukan.


"Luci, lihat!" tunjuk Tiara ke salah satu sisi rak buku. "Buku-buku di sebelah sini berisi hal-hal yang berkaitan tentang tanaman dan bidang kedokteran."


"Kalau kau suka dan ingin membacanya, aku akan mengajakmu ke sini sering-sering," ujarku.


"Woww... entah mengapa aku tertarik dengan rak sebelah sini," seru Rey di sisi lain rak dengan buku tentang ksatria dan peperangan.


"Kalau begitu aku akan mengajakmu juga," ujarku lagi.


"Benarkah, Princess?"


Aku mengangguk.


"Bagaimana denganku?" tanya Dev menunjuk wajahnya sendiri.


"Kau tertarik buku yang mana?" tanyaku.


Dev berjalan mengelilingi ruang private ada empat sisi rak buku, dua di antaranya sudah sesuai dengan bakat dan kesukaan Tiara dan Rey.


Matanya tertuju pada sebuah rak yang berisi buku-buku mengenai strategi pemerintahan dan kepemimpinan, "Bolehkah yang ini?"


"Silakan," ucapku santai.


Baik Tiara, Rey, dan Dev, ketiganya menatap ke arahku.


"Bagaimana denganmu?" tanya mereka serentak.


"Aku?" tanyaku menunjuk wajah sendiri, ketiganya mengangguk.


"Dari awal aku sudah tertarik dengan sisi rak sebelah sini," sahutku menunjuk sisi rak yang tersisa.


Sebenarnya aku tertarik dengan satu buku bersampul emas itu yang terlihat berbeda dibanding buku lainnya, pikirku.


Aku sedang tidak dalam suasana hati yang mendukung, maka niat membaca buku itu pun aku urungkan. Di saat ketiga temanku sibuk dengan sisi raknya masing-masing, aku justru malah membuka Aknusbang News online yang menampilkan promosi wajahku sepanjang hari.


Mengerikan. Bagaimana cara mereka mendapat foto paparazi ini? tanyaku dalam hati melihat wajah cantikku terekspos ke seluruh penjuru Akademi Nusa Bangsa.


***


Malam begitu sepi, namun aku tak kunjung mengantuk. Padahal sudah mengguling-gulingkan badan ke kiri dan ke kanan, mendengarkan musik, membaca buku, novel, dan komik. Bosan sekali rasanya, mau tidur pun susah...


Diam-diam aku memakai sendal, membuka pintu kamar, dan masih menggunakan piyama tidur melangkah keluar asrama.

__ADS_1


Wuss...


Angin malam ini begitu dingin, aku menyesal keluar tanpa memakai sweater atau jaket. Kemudian kutengadahkan kepala, menatap langit yang gelap bersih, hanya ada satu bintang yang bersinar cerah di dekat bulan.


Aku menyusuri lorong menuju ruangan private perpustakaan khusus.


Di malam hari lorong ini lebih suram dari sebelumnya, pikirku.


Aku terus berjalan hingga sampai di depan pintu ruangan private itu. Dari balik piyama, tanganku mengambil kunci yang seharian ini mengalung di leher.


Ceklek! Ngikkkk...


Gelap sekali... sepertinya di luar mulai turun hujan.


Untung saja kali ini aku tidak lupa membawa ponsel. Aku menyalakan senter dari ponsel, mencari saklar untuk menghidupkan lampu ruangan.


Ketika lampu menyala.


"Luciana Lighter?"


Aku refleks membalikkan badan, menoleh ke asal suara.


"Haisss... Mengagetkan saja," ucapku sambil mengelus dada.


Ternyata yang datang adalah kepala sekolah dan Pak Rudolf.


Di dalam ruangan private perpustakaan khusus.


Aku, kepala sekolah, dan Pak Rudolf duduk di sofa saling berhadapan.


Ibu Refisha datang menyuguhkan teh untuk kami, kemudian buru-buru keluar ruangan. Aku hanya dapat menatapnya aneh.


Mengapa terburu-buru sekali? Seperti sangat ketakutan, batinku.


"Silakan," sila kepala sekolah.


"Kalau begitu, saya permisi, Tuan," ucap Pak Rudolf dan dibalas anggukkan oleh kepala sekolah. Aku hanya dapat menatap kepergian pria itu.


"Aku tahu ada yang tidak beres dengan Akademi Nusa Bangsa," tuturku bahkan sama sekali tidak membuat kepala sekolah terkejut.


"Kalau begitu, apa yang ingin kau tanyakan?" tanya kepala sekolah.


"Aku penasaran, apa hubunganmu dengan Pak Rudolf?" tanyaku. Setelah kupikirkan, kupikir lagi, dan lagi, sepertinya hubungan mereka tidak semudah kelihatannya.


"Hubungan kami layaknya majikan dan orang kepercayaan," jawab kepala sekolah santai sambil meneguk teh dari cangkirnya.


"Majikan? Orang kepercayaan?" tanyaku bingung.


"Iya... aku majikan dan Rudolf adalah orang kepercayaanku," sahutnya.


"Oke, aku bisa mengerti itu. Lalu, kau yang begini muda, bagaimana bisa menjadi kepala sekolah di Aknusbang?"


"Aku tidak semuda kelihatannya." Untuk pertama kalinya aku melihat pria di hadapanku ini tersenyum, dan dia terlihat begitu tampan. Yahh... walaupun senyumnya hanya sedikit.


"Apakah ini alasanmu tidak menggunakan panggilan 'Pak' ketika berbicara denganku?" tanyanya.


"I-itu... a-aku tidak..." gagapku kemudian berdeham untuk melancarkan tenggorokanku, "Aku tidak tahu juga, kau yang seperti berusia dua puluh tahunan membuatku tidak nyaman jika menggunakan panggilan seperti itu. Meski begitu... entah mengapa, aku merasa hatiku hanya ingin memanggil namamu saja kalau bisa."


Aku memegang dadaku yang kini berdegup kencang, aku bingung sekali, hati dan pikiranku sama sekali tidak berkompromi. Seperti ada hal yang aneh denganku setiap kali berdekatan dengan kepala sekolah. Ini bukan aku, bukan, aku tidak akan seperti ini. Ada apa denganku?


"Mungkin aku mengetahui alasannya. Namun yang jelas usiaku sudah bukan dua puluh tahunan, melainkan seribu dua puluh dua tahun," jawabnya membuatku terbahak.

__ADS_1


"Kau pasti bercanda," seruku masih dengan kekehan.


"Hahahaha... sayangnya itu benar," sahutnya balik tertawa.


Sementara di luar, Pak Rudolf sedang berjaga di pintu mendengar tawa majikannya hingga membuat dirinya heran bukan main. Pasalnya, tuannya itu belum pernah tersenyum apalagi tertawa sejak seribu tahun yang lalu.


Kami masih tertawa. Beberapa saat setelahnya senyap, masing-masing menetralkan diri.


"Benarkah?" tanyaku masih dengan topik sebelumnya, namun lebih santai sambil meneguk teh agar membasahi tenggorokanku yang kering setelah tertawa.


"Tentu saja."


"Kau tidak sedang mempermainkanku 'kan?"


"Tidak," jawabnya final.


Pufffttt... Aku menyemburkan teh ke wajahnya setelah mendengar jawaban pasti itu.


"Maaf!" panikku melihat wajah pria ini sudah basah karena ulahku.


"Tidak apa." Pria itu mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya dan mengelap wajahnya yang basah.


"Tetapi... apa kau pikir aku akan percaya?" kataku lagi.


"Percaya atau tidak pun, tak akan mengubah kenyataan."


Aku hanya mampu termenung karena banyak sekali pertanyaan yang belum terjawab, kejanggalan ini tidak dapat dipercaya.


"Aku masih tidak mengerti. Bagaimana bisa? Juga aku masih ada pertanyaan, mengapa Pak Rufolf melaporkan tentangku kepadamu pagi tadi, menyimpan kontakku, dan mengawasi keseharianku. Sebenarnya ada apa ini? Aku coba pikirkan sekeras apapun tetapi tetap tidak mengerti," ujarku panjang lebar.


"Kalau ingin mengetahuinya, kau harus mempersiapkan diri terlebih dahulu," ucap kepala sekolah.


"Aku siap," jawabku mantap.


"Kau yakin?" tanyanya memastikan.


"Ada pepatah mengatakan 'rasa penasaran akan membunuhmu' dan itu terbukti benar, aku sedang mengalaminya sekarang. Jadi, jika kau tidak segera memberitahukannya, maka aku mungkin akan mati penasaran," tuturku.


"Baiklah, baiklah, akan aku beritahukan. Karena kisahnya sangat panjang dan kau harus berjanji satu hal sebelum itu," sahutnya.


"Janji?" tanyaku menautkan kedua alis bingung.


"Iya, ada satu syarat yang harus kau lakukan. Apakah kau keberatan? Aku tidak akan memasksamu jika tidak ingin melakukannya."


Aku buru-buru menggelengkan kepala meskipun sedikit ragu dengan pilihanku sekarang. "Apa syaratnya?"


"Kau harus membantuku menghapuskan kutukan penghenti waktu ini," ucapnya dengan wajah serius, mungkin agar aku tidak terbahak lagi setelah mendengar perkataannya.


"Baiklah. Bagaimana caranya?" tanyaku.


Semoga pilihanku menyetujuinya bukan suatu kesalahan, batinku.


Pria itu bangkit dari duduknya, kemudian mengambil sebuah buku dari salah satu sisi rak. "Kau harus masuk ke dalam sejarah di buku ini. Aku akan memberimu waktu satu hari untuk mempertimbangkannya."


Buku bersampul emas itu? tanyaku dalam hati.


"Selain itu, ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu," ucapnya mengeluarkan sebuah kotak dari saku jasnya, lalu menyodorkannya ke arahku, "Semula aku ingin menyuruh Rudolf agar memberikannya kepadamu, namun setelah kupikirkan lagi, akan lebih baik jika aku yang memberikannya langsung."


To be continue...


"Berikan aku vote, like, dan cinta kalian," ucap Luciana Lighter disertai kerlingan sebelah mata andalannya.

__ADS_1


See you soon.


__ADS_2