Maple Leaf Kingdom

Maple Leaf Kingdom
Page 14


__ADS_3

"Maaf."


Para pelayan menoleh terkejut ke arah Alfa.


"Aku bukannya membentakmu. Ayo sarapan! Kita bicarakan hal itu lagi nanti," ucap Alfa kembali melembut.


Aku mengangguk cepat dan menerima uluran lengannya untuk dipegang.


Di ruang makan.


Meskipun tidak sesuram keadaan makan malam, namun tetap saja hening dan sepi.


Lapar sekali... kenapa sarapannya hanya roti? batinku.


"Melihatmu makan, sepertinya sangat menyukai roti," ucap Alfa.


Siapa semalam yang berkata adab makan. Kini malah dia yang memulai pembicaraan.


"Bukannya suka, aku sangat kelaparan. Oh, iya. Mengapa para pelayan berteriak histeris ketika aku membuka gorden kamarmu?" ujarku menanggapi respon pelayan ketika gorden kamar Alfa dibuka.


"Aku biasanya memotong tangan orang yang membuka gorden di kamarku," sahutnya tenang.


"Apa kau juga akan memotong tanganku?" ujarku tak kalah tenang. Sebelum berpindah ke dalam sejarah di buku, aku sudah mempersiapkan diri dengan segala resiko terburuk, bahkan sampai siap jika tiba-tiba dijatuhi hukuman mati.


"Tidak," seru Alfa singkat dan tanpa ekspresi.


"Tidak?" tanyaku tak percaya.


Mengapa aku bertanya seperti ini seolah ingin dipotong tangan? tanyaku dalam hati.


"Kau ingin aku menotong tanganmu?"


"Ah... tidak, terima kasih."


Alfa mengulas senyum di tengah aktivitas makannya. Kemudian benakku teringat sesuatu. Putri Luciana Lighter diasingkan di kamar berbeda selama 10 tahun mulai dari hari pertama pernikahan mereka, mungkin kini giliranku.


"Kalau begitu, bukankah lebih baik aku memiliki kamar lain?"


"Tidak!" ucapnya dengan nada meninggi.


Mengapa mudah sekali marah? pikirku melihat raut wajah Alfa langsung tidak bersahabat.


Aku hanya diam saja. Kalau sudah begini malas sekali melihat wajahnya. Dengan cepat menghabiskan sarapan dan bangkit berdiri. "Yang Mulia Raja, saya pamit untuk membersihkan diri."


"Kau belum mandi?"


"Belum. Permisi, Yang Mulia Raja."


Bagaimana bisa dia berpikir aku sudah mandi? Tidak bisakah melihatku masih memakai gaun pengantin? Cih, penglihatannya sangat buruk.


Aku melenggang pergi setelah mendapat anggukan, namun kembali lagi.


"Hm... Yang Mulia Raja. Bolehkah aku bertanya, di mana aku harus mandi dan pakaian gantinya..." ucapku ragu-ragu. Kenapa orang-orang di sini tidak ada inisiatif? Tidak seperti di Kerajaan Lighter, Hannah bahkan membangunkanku dari tidur.


Alfa bertepuk tangan dua kali dan seorang pelayan menghampirinya.


"Bilang kepada para pelayan Ratu agar segera membantunya bersiap. Apakah semua pakaian Ratu sudah berada di kamarku?"


"Sudah, Yang Mulia Raja. Baiklah, akan segera saya sampaikan."

__ADS_1


Tanpa disuruh, aku duduk kembali di tempat semula, menunggu para pelayan tiba. Kalau menunggu dengan berdiri akan sangat melelahkan, bukan?


"Yang Mulia Ratu..." sapa para pelayan yang sama ketika di depan pintu kamar Alfa pagi tadi.


"Alfa... ups... Maaf, maksudku Yang Mulia Raja. Tidakkah kau melihat, para pelayan ini bahkan tidak berani masuk ke dalam kamar, kau ingin mereka melayaniku?" tanyaku bingung. Jika mereka tidak berani masuk ke kamarnya, bagaimana bisa melayaniku bersiap?


"Layani Ratu bersiap. Setelah ini akan ada pertemuan dengan para menteri," titah Alfa membuat para pelayan ketakutan.


"Tetapi, Yang Mulia Raja berkata siapapun tidak diperbolehkan memasuki kamar Anda," sahut salah satu pelayan yang langsung mendapat tatapan tajam dari Alfa yang seolah berkata, Kau berani membantah?


"Ba-baik, Yang Mulia Raja," serempak ketiga pelayan itu menuntunku menuju kamar pribadi laki-laki dingin itu. "Mari, Yang Mulia Ratu."


***


Setelah selesai mandi.


Aku sudah memakai pakaian khas Ratu Kerajaan Maple Leaf. Setelah disadari, ternyata pakaian mereka didominasi dengan warna merah dan orange, serta ada logo daun maple yang persis seperti logo Akademi Nusa Bangsa. Lama-lama aku jadi semakin percaya kutukan Putri Luciana Lighter yang mengubah Kerajaan Maple Leaf menjadi Akademi Nusa Bangsa.


Salah seorang pelayan membawakan jubah merah yang tebal dan cantik, di bagian lehernya terdapat bulu-bulu yang tebal. Membuatku...


"Hatcihhh... hatcihhh..."


"Yang Mulia Ratu... Anda baik-baik saja?" seru para pelayan panik, melihat Ratu kesayangan Raja mereka bersin-bersin.


"Singkirkan itu!" perintahku, mendorong pelan jubah itu agar menjauh.


"Tetapi Yang Mulia Raja bisa marah besar jika Anda tidak memakainya."


"Kalian ingin aku bersin-bersin sepanjang jalan dan pertemuan para menteri?"


"Tidak, Yang Mulia Ratu. Tetapi Anda harus memakainya."


"SINGKIRKAN!!" bentakku membuat mereka ketakutan. Siapa suruh masih mendekatkan jubah itu padaku, membuat marah saja.


"Ada apa ini? Ribut sekali... Mengapa bersiap saja membutuhkan waktu lama?"


Tiba-tiba Alfa datang, entah sejak kapan dia sudah memakai jubah kerajaan yang berbulu juga. Para pelayan berlutut takut.


"Salam Sejahtera kepada Yang Mulia Raja..."


"Kau... Jangan mendekat juga!" pekikku pada Alfa yang sudah mau berjalan lebih mendekat. Bukan dia namanya jika langsung patuh. Tanpa peduli berjalan semakin mendekat.


Aku mundur beberapa langkah hingga menubruk meja rias yang entah sejak kapan sudah ada di sana, karena seingatku sebelum sarapan tadi belum ada.


"Hatcihhh... jangan mendekat! Hatcihhh..."


Bersin berlebihan membuat kakiku melemas hingga terduduk di lantai. Alfa yang semakin mendekat membuatku semakin sering bersin.


"Hatcihhh... Hatcihhh..."


"Ada apa ini? Mengapa kau bersin-bersin seperti ini?" tanya Alfa dengan raut wajah memancarkan kekhawatiran. "Pelayan! Ada apa?"


Alfa memegang kedua bahuku. Oh... percayalah, aku sudah tidak tahan berdekatan dengannya. Hidungku gatal sekali. "Hatcihhh... Hatcihhh... Jubahmu... Hatcihhh... Lepaskan!"


Bukannya langsung menurut, pria itu malah menautkan kedua alisnya bingung.


"Alfa, Cepat!" bentakku membuatnya terkejut, bahkan para pelayan juga melempar tatapan terkejut seolah berkata 'Oh, tidak... Yang Mulia Ratu dalam masalah sudah membentak Raja Alfa.'


Aku bingung harus berbuat apa, akhirnya menundukkan kepala masih disertai bersin tiada henti. Dan di luar dugaan, Alfa melepas jubah berbulunya, kemudian melemparnya menjauh.

__ADS_1


"Sudah baik-baik saja?" tanyanya lembut yang kubalas anggukan. "Mulai hari ini... Singkirkan semua benda-benda berbulu di istana kerajaan! Jangan biarkan ada satupun!" titahnya tegas.


"Katakan kepada Rudolf, pertemuan para menteri diundur lusa. Ratu sedang sakit, jadi Raja juga tidak akan menghadirinya tanpa Ratu. Tinggalkan kami dan segera panggil dokter kerajaan!"


Semua pelayan keluar membawa jubah-jubah berbulu itu. Tanpa disangka senyumku terukir mendengar titahnya barusan. Sadar Luciana, sadar. Kau jangan jatuh cinta, nyawamu bisa kapan saja direnggut olehnya.


Alfa menggendongku dan membaringkan di ranjang, kemudian dia duduk di sisi ranjang. "Dokter kerajaan akan segera tiba. Kau akan baik-baik saja."


"Hm..." dehamku mengiyakan.


"Apa kepalamu pusing?"


Aku menggeleng pelan.


"Apakah badanmu ada yang sakit atau terasa tidak nyaman?"


Lagi-lagi aku hanya menggelengkan kepala.


"Kau butuh apa? Biar aku ambilkan."


Apa ini masih Alfa? Tidak seperti yang diceritakan Alfa yang di kehidupan nyata...


"Kau tenanglah, aku tidak butuh apa-apa," sahutku membuatnya terdiam.


Tak lama telapak tangannya memegang dahiku. "Sepertinya kau juga tidak demam."


Oh, tidak... Mungkin kepalanya terbentur ke dinding. Di mana ekspresi dingin dan datarnya? Mengapa aneh sekali? Aku jadi ketakutan sendiri diperlakukan seperti ini oleh orang beku seperti dirinya, pikirku.


Tok... tok... tok...


"Masuklah!" perintahnya tegas dan setengah berteriak. Raut wajahnya kembali datar dan dingin, tidak seperti sebelumnya yang penuh kekhawatiran. Tanpa menoleh ke arah orang di belakangnya.


Kurasa memang masih dia, lihat saja ekspresi datar dan dinginnya sudah kembali.


"Salam Sejahtera kepada Yang Mulia Raja dan Ratu... Saya, Rudolf. Ingin melaporkan bahwa pertemuan para menteri sudah diundur menjadi lusa," lapor Rudolf dibalas anggukan oleh tuannya. Ya, Rudolf yang mana lagi? Tentu saja pria tua yang selalu setia bahkan ketika Alfa terkena kutukan Putri Luciana.


"Rudolf, kemarilah!" ucapku yang mengubah posisi dari berbaring menjadi terduduk.


"Baik, Yang Mulia Ratu."


Rudolf mendekat dan hampir saja membuatku tak percaya. Benar-benar dia! Woww... Aku tidak percaya akan semirip ini dengan aslinya, hanya terlihat lebih muda sedikit saja.


"Mendekat," ucapku membuat Alfa dan Rudolf kebingungan. Pria tua itu mendekat tanpa membantah, membuat tanganku terulur memegang wajahnya. Oh, ya ampun... ini asli... aku pikir hanya bohongan.


"Ehem... Menjauhlah! Ratu sedang sakit," ucap Alfa dengan nada tidak suka, sedangkan Rudolf begitu ketakutan dan segera menjauhkan diri sejauh-jauhnya. "Di mana dokter kerajaan?"


"Sebentar lagi tiba, Yang Mulia Raja."


"Hm..." dehamnya.


Tok... tok... tok...


"Salam Sejahtera kepada Yang Mulia Raja dan Ratu."


Aku ternganga melihat siapa yang datang. Tidak, ini tidak masuk akal. Apakah aku sedang bermimpi? Mengapa Alfa yang di dunia nyata tidak pernah memberitahukan hal ini? Sungguh?


"Ratu, kau baik-baik saja?" tanya Alfa membuat lamunanku membuyar.


"Kau adalah..."

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2