
"Jelas saja nyata, buktinya sekarang aku sudah sebulan bersekolah di Aknusbang," gumamku sambil menuruni tangga bus sekolah. Aku memandangi gerbang yang begitu tinggi menjulang, apalagi kalau bukan gerbang Akademi Nusa Bangsa.
"Ehem, ehem... jangan bilang kau di sini juga untuk bernostalgia saat-saat tes dulu."
Aku sontak menoleh ke arah asal suara. Ish... sudah lama sejak tes dulu, aku sungguh sial bertemu dengan mereka lagi hari ini, kataku dalam hati.
"Gadis berotak kosong ini pasti sangat ingin masuk ke Aknusbang. Ck, ck, ck... mungkin ia tidak bisa mendapat sekolah umum yang bagus, kasihan sekali..." kata gadis itu sambil menatap penampilanku dari atas ke bawah.
"Ketua, kau benar. Dia mungkin masih berharap menggenggam bintang yang jelas-jelas sudah tidak mampu didapatkan," ucap salah satu dari teman gadis itu.
"Lihat saja seragamnya. Bahkan dia sampai mencari sekolah yang memakai rok berwarna navy juga, namun siapa yang tahu atasan seragam sekolah mana yang ditutupi sweater itu. Hahahahahha..." seru satu lagi yang lain.
Mereka lagi, aku sangat sial bertemu mereka hari ini. Siapa lagi kalau bukan gadis dengki dan dua temannya saat tes masuk dulu. Dari seragam mereka sudah jelas, mereka bukan murid dari Akademi Nusa Bangsa. Huh, begitu sombong... rutukku dalam hati.
"Lihatlah, Ketua. Dia mengeluarkan sesuatu dari saku roknya," ucap salah satu teman gadis itu ketika melihatku mengambil sesuatu dari saku rok sebelah kanan.
"Yah... paling hanya barang tidak berguna yang mampu keluar dari saku rok palsu peniru seragam Aknusbang," kata gadis itu.
Aku memasang benda yang kuambil dari saku rok ke sweater, lebih tepatnya ke bagian dada kiri.
Melihat benda yang kupasang, membuat ekspresi ketiganya terkejut.
"Haisss... tidak perlu terkejut, tidak perlu terkejut. Itu juga paling hanya barang imitasi, sungguh niat sekali membuat pin maple menyerupai logo Akademi Nusa Bangsa." Ekspresi terkejut gadis itu kembali normal.
"Betul sekali, Ketua. Hai, gadis berotak kosong... dimana membuat pin maple yang begitu menyerupai aslinya itu? Aku juga ingin sekali membuatnya... Hahahahahaha..." kata satu temannya, setelah itu ketiganya tertawa.
Aku hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan ketiga gadis tersebut, tidak pernah berubah. Tanpa menghiraukan mereka, aku melangkah mendekati gerbang dan muncul dua orang petugas keamanan Akademi Nusa Bangsa.
"Lihat, Ketua. gadis itu ingin nekat menerobos masuk."
__ADS_1
"Haihh... pasti langsung ditendang keluar. Betul tidak, Ketua?"
"Kita nikmati saja, Girls. Momen-momen gadis itu diusir tidak boleh kita lewatkan."
Aku semakin mendekat ke arah dua petugas keamanan yang berjaga.
"Selamat pagi, Nona. Silahkan masuk," ucap salah seorang petugas keamanan.
"Nona Luciana Lighter, ini kunci loker yang Anda titipkan kemarin. Karena Nona sudah sebulan bersekolah di Akademi Nusa Bangsa, maka mulai besok sudah diperbolehkan membawa pulang kunci loker Nona," kata petugas keamanan yang satu lagi.
"What?! Dia... Dia..." gagap gadis itu.
"Ketua, ini tidak mungkin. Jelas-jelas dia sudah gagal di tes masuk tahap pertama."
"Iya, Ketua. Bagaimana mungkin ia ternyata lolos? Sulit dipercaya..."
Sedikit kuceritakan pengalamanku sebulan bersekolah di Akademi Nusa Bangsa.
Pertama kali aku menerima paperbag berwarna keemasan, di dalamnya sudah terdapat surat resmi yang menyatakan bahwa aku adalah salah satu murid Akademi Nusa Bangsa, selain itu di dalamnya juga terdapat seragam putih berlogo daun maple bertuliskan 'Student of Nusa Bangsa Academy' dengan sebuah rok selutut berwarna navy, serta sebuah pin maple khas logo Akademi Nusa Bangsa.
Sehari setelah itu aku sudah harus masuk sekolah, dikarenakan jadwal Akademi Nusa Bangsa berbeda dengan sekolah pada umumnya. Setiap murid diberikan buku tugas bulanan. Di dalam buku tersebut terdapat mata pelajaran yang harus diikuti, paling lambat harus terpenuhi semua dalam jangka waktu satu bulan. Namun yang membuatnya istimewa adalah kita dapat dengan sesuka hati menyelesaikan tugas yang mana saja terlebih dahulu, tidak peduli yang manapun itu, yang penting dapat selesai hingga batas maksimal satu bulan, serta tugas-tugasnya juga dapat diakses secara online sehingga kapanpun dapat diselesaikan. Bahkan setiap murid dengan bebas datang ke sekolah, karena Akademi Nusa Bangsa dibuka setiap hari, dua puluh empat jam. Selain itu, Akademi Nusa Bangsa juga menyediakan masing-masing satu buah kamar asrama khusus bagi setiap muridnya, jadi bisa kapanpun menginap jika sedang tidak ingin pulang ke rumah. Semua fasilitas yang menunjang kegiatan belajar mengajar sudah tersedia, fasilitas kebugaran, bahkan salon perawatan diri pun ada, dan yang paling penting, semua itu kita dapatkan secara gratis.
Setiap murid yang menyelesaikan buku tugas bulanan sebelum batas waktunya, maka akan mendapat hadiah bonus, tergantung kebijakan pihak sekolah yang tentunya akan memberikan barang-barang berbeda setiap bulannya. Akan tetapi, bagi mereka yang gagal atau terlalu bersenang-senang dan melalaikan tugas bulanan, maka akan langsung dikeluarkan dari Akademi Nusa Bangsa tanpa ampun.
"Yah... mereka-mereka yang bodoh saja yang menyia-nyiakan segala kenikmatan di sini. Buku tugas bulanan asal diselesaikan lebih awal juga bisa menghabiskan sisa waktunya dengan bersenang-senang. Lagipula mata pelajaran di sini tidak jauh berbeda dengan sekolah pada umumnya. Benar-benar bodoh yang membuang-buang kesempatan sebagus ini," gumamku di sepanjang jalan menuju perpustakaan, "aku sangat senang dapat bersekolah di Aknusbang, apalagi ada makanan yang selalu tersedia dua puluh empat jam dan yang paling penting... gratissss... hehehehe..."
Aku terkikik membayangkan betapa lezat makanan yang disediakan Akademi Nusa Bangsa sebulan ini. Hehehehe... ini baru yang disebut surga dunia... kekeh batinku.
"Hai, Luci! Pagi-pagi sudah seperti orang kerasukan, gadis secantik ini dari kejauhan terlihat seperti gadis yang baru saja keluar dari rumah sakit jiwa, tertawa sendiri di tengah jalan. Jika Rey melihatmu yang seperti tadi, mungkin rasa sukanya padamu langsung menguap begitu saja."
__ADS_1
Gadis berkacamata yang entah muncul dari mana, membuatku terkejut setengah mati saat ia menepuk bahuku. Nama gadis itu adalah Tiara Granindra, putri dari salah satu keluarga terhormat di kota ini, diterima Akademi Nusa Bangsa dengan bakatnya di bidang meramu obat. Hobinya berkecimpung di rumah kaca tanaman obat dan bereksperimen membuat berbagai temuan obat-obatan organik terbaru yang belum pernah ada di dunia. Bisa dibilang, satu-satunya sahabatku di Akademi Nusa Bangsa ini, karena prinsipku, memiliki teman boleh banyak, tetapi sahabat cukup satu saja, terlalu banyak orang akan sangat merepotkan.
Oh, iya, satu lagi. setiap murid mendapat buku tugas bulanan yang sama diluar dari bakat masing-masing dari mereka, dengan kata lain setiap murid dapat mengembangkan bakatnya di sela-sela menyelesaikan buku tugas bulanan, bebas melakukan apapun selagi tidak mengganggu kegiatan Akademi Nusa Bangsa dan tidak berbuat hal yang melanggar aturan sekolah.
Tetapi sejauh ini yang aku tahu, aturan sekolah hanya terdiri dari satu kalimat, yaitu tidak melakukan hal jahat, tidak etis, dan mencemarkan nama baik Akademi Nusa Bangsa. Aturan itu tercetak jelas di batu besar yang ada di depan sekolah ketika baru memasuki gerbang Akademi Nusa bangsa.
"Haihhh... Tiara membuatku terkejut. Lagi pula, siapa laki-laki bernama Rey yang kau sebutkan itu? Aku bahkan tidak mengenalnya," kataku.
"Luci, Luci... kepekaan orang genius seperti dirimu benar-benar mengkhawatirkan. Rey, Reyhan Linggasatya, laki-laki yang paling terkenal satu Aknusbang, bahkan kakak senior pun memandangnya. Dia terkenal karena pesonanya yang mengagumkan dan bakatnya di banyak bidang olahraga. Dari berita yang aku dengar, Rey merupakan pewaris tunggal perusahaan multinasional terkemuka, digadang-gadang sebagai calon ketua basket, sepak bola, renang, badminton, dan tenis Akademi Nusa Bangsa. Berada di peringkat ketiga Akademi Nusa Bangsa sebagai murid genius dengan skor IQ-nya 180, dan yang paling penting... Aknusbang News mengatakan bahwa Rey sedang menyukai seorang gadis pemegang tahta murid genius peringkat pertama," jelas Tiara panjang lebar.
Aknusbang News, merupakan majalah jurnalistik Akademi Nusa Bangsa yang berisi berita terkini di dalam maupun luar sekolah, berisi berita perkembangan terbaru di dunia dan di dalam Akademi Nusa Bangsa. Bisnis, entertainment, lifestyle, news, dan masih banyak lagi terangkum di dalamnya. Di buat oleh kumpulan murid dengan bakat jurnalistik yang bekerja sama dengan berbagai sumber berita dunia yang faktual dan aktual.
"Yah... sayang sekali aku tidak tertarik dengan berita yang tidak ada hubungannya denganku," sahutku acuh tak acuh dengan penjelasan panjang lebar Tiara.
"Luci... Kau belum mengerti juga ya? Rey suka sama gadis di tahta tertinggi orang genius."
"Ya terus masalahnya sama aku apa, Ra?"
"Ya karena gadis itu adalah..."
"Aku, Reyhan Linggasatya menyatakan menyukai gadis cantik di hadapanku sekarang ini," potong laki-laki yang mengaku sebagai Rey, laki-laki itu memutus ucapan Tiara yang tiba-tiba berdiri kikuk di sampingku.
Aku menatap Tiara dengan tatapan heran. Beberapa saat mengerti ucapan Rey.
"Selamat, Ra. Hei... Reyhan, jaga perasaan sahabatku baik-baik ya, kalau dia sampai menangis... kekkkkk," ucapku membentuk garis horizontal di leherku sebagai tanda potong leher kalau sampai membuat Tiara menangis, kemudian aku menepuk bahu Reyhan, dan melenggang pergi menuju perpustakaan.
"Luci, hei, Luci... maaf, maaf ya, Rey. Luci memang tidak pekaan, nanti aku tepuk kepalanya biar otak geniusnya bekerja," ucap Tiara panik dan segera mengejarku, sementara Reyhan tidak dapat berhenti tersenyum, lalu berujar, "Memang menarik."
To be continue...
__ADS_1