
Masih dengan pandangan kosong, aku bertanya, "Alfa... jika suatu hari aku mengkhianatimu, akankah kau membunuhku?"
Baru saja Alfa ingin menjawab, aku sudah menghentikannya. "Tunggu, jangan menjawab, apalagi berjanji. Aku tidak akan menanyakannya lagi."
Kalau dia sampai bilang tidak akan membunuhku apalagi berjanji, kapan selesainya sejarah ini? Kapan aku bisa pulang? pikirku.
"Baiklah, ayo kita makan," ajak Alfa seraya mengelus puncak kepalaku.
Ah, iya! Benar juga. Aku belum makan tiga hari. Tetapi, masih tidak habis pikir sih sama jalan otak bekunya Alfa. Bisa-bisanya biarin Ratunya tiga hari tidak makan, rutuk batinku.
Aku mengangguk. Ya, kelaparan. Biarpun gengsi juga, tetapi kalau kelaparan masa ditahan. Kita realistis saja deh jadi orang, nge-drama juga butuh asupan, batinku tidak tahu malu.
Di ruang makan.
Dilihat dari tataan meja makan. Alfa pasti sebelumnya tengah makan. Di meja sudah tersaji banyak makanan yang masih hangat, tidak panas, juga belum dingin.
"Ratu, kau jadi pendiam semenjak dikurung. Apa ada yang sakit? Apa kau masih marah padaku?" tanya Alfa cemas.
Oke. Aku mulai terbiasa dengan sifat labilnya yang terkadang mendadak berubah 180 derajat, batinku.
"Bukankah kalau makan tidak boleh bicara? Aku hanya melakukan tata krama yang ada," sahutku baru ingat membalas perbuatan Alfa yang memperingatiku kalau makan tidak boleh bicara saat hari pertama menjadi Ratu. Sesungguhnya aku merasa malas bicara saja bawaannya. Entah mengapa.
"Salam Sejahtera kepada Yang Mulia Raja dan Ratu," sapa suara bariton seorang pria menginterupsi acara makan malam kita.
Prang!
"TIDAK BISAKAH KALIAN TIDAK MENGGANGGU SAAT AKU SEDANG MAKAN MALAM?!" Alfa geram, dia membating sendok dan garpunya ke lantai dekat dengan kaki orang yang baru saja tiba.
Aku sampai tersentak cantik dibuatnya, belum lagi melihat siapa yang datang, orang itu... benarkah dia juga?
"Mohon ampun kepada Yang Mulia Raja dan Ratu, atas kelancangan saya yang mengganggu makan malam kalian." Orang itu berlutut dengan kepala menunduk.
__ADS_1
Aku melirik ke arah Alfa yang tengah merasa gusar. Tangannya terkepal menahan marah. Dia marah? Wajar sih, mengingat orang-orang datang di saat dia sedang makan malam terus.
Alfa menoleh ke arahku. Menangkap basah aku yang sedang melirik ke arahnya.
"Apa aku membuatmu terkejut?" tanyanya dengan nada suara yang lembut. Aku mau tertawa rasanya ketika melihat ekspresi wajah Rey terkaget bukan main mendengar kalimat tanya yang terlontar dari mulut si kejam Alfa. Benar, pria itu adalah Rey. Orang yang aku tidak ingin temui karena tingkat kebucinannya yang akut.
Aku tersenyum menunjuk ke arah Rey dengan dagu. "Sepertinya dia ada hal penting yang ingin disampaikan."
"Katakanlah!" perintah Alfa pada Rey yang sudah bangkit berdiri. Di wajah Rey sekarang tersemat perasaan bingung dan juga tidak mengerti dengan perubahan sikap Rajanya ketika berbicara kepada Ratu, juga perasaan lega dapat terhindar dari amarah Raja kejam itu.
"Pasukan sudah pulang membawa kemenangan, Yang Mulia Raja. Kali ini bagian itu sudah aman. Perekonomian dan kehidupan rakyat berangsur-angsur mulai membaik dan mendapat titik cerah," jelas Rey dengan bangga. Karena dia adalah Jenderal yang memimpin peperangan di sana. Aku mengulas senyum cantik ketika mendengarnya. Ternyata, playboy cap badak begini bisa juga diandalkan buat kerajaan, cemooh batinku.
Baik Alfa maupun Rey, keduanya menilik ke arahku yang tengah tersenyum sendiri.
"Apa kalian lihat-lihat?" tanyaku ketus.
Alfa melempar tatapan tajam saat mendapati fakta bahwa jenderalnya memberi tatapan memuja untuk Ratu kesayangannya itu. "Jika sudah tidak ada lagi. Keluarlah!"
Rey mengangguk patuh dan mengucap salam sebelum pergi.
Ha! Apa dia baru saja melarangku?! Mau membuat ekspresi wajah cantik ini menjadi semuka tembok dia, hah?! Jangan harap! pekikku dalam hati.
Aku tidak menggubris kecemburuan tidak masuk akalnya. Benar-benar membuatku pusing kepala. Didiami begitu tetapi Alfa tidak marah. Sama sekali tidak seru kalau begini.
Setelah acara makan malam selesai.
"Kau sudah ingin tidur, Ratu?" tanya Alfa, senyum yang menghiasi wajahnya sama sekali tidak cocok. Jadi tidak berwibawa jatuhnya.
Tunggu... senyum itu, apa maksudnya? Jangan bilang... pikirku mulai mengerti, terutama ketika Alfa mendekatiku dan berbisik di telingaku, "Kita belum melewati malam yang berarti kita setelah pernikahan."
Alfa membopong tubuhku. Membuat batinku menjerit, Apa tidak ada yang bisa menghentikan si mesum ini?! Oh, tidak. Ini mungkin saat-saat keperawananku akan hilang.
__ADS_1
Jantung rasanya berdegup sepuluh kali lebih cepat dari biasanya. Ketika Alfa menutup pintu kamarnya dan membaringkanku di ranjang. Aku hanya bisa pasrah.
Keesokkan paginya.
Matahari sepertinya sudah naik cukup tinggi. Semalam begitu melelahkan. Alfa benar-benar mesum dan tidak membiarkanku istirahat. Memalukan sekali...
Seluruh tubuhku sakit semua, bercak-bercak merah sudah menghiasi hampir di setiap bagian. Setiap kali aku menyibak selimut dan melihat tubuh polosku tanpa sehelai benang pun, aku langsung teringat hal memalukan itu. Biar bagaimanapun di dunia nyata aku masih perawan sekarang. Si Alfa brengsek... Mesum... jengkelku dalam hati dan mengambil bantal, memukulkannya ke wajah Alfa yang juga tengah tertidur dengan tubuh polosnya.
Aku panik ketika dia mengerang tidurnya diusik. Bagaimana ini... bagaimana ini... apa aku pura-pura tidur lagi? pikirku akhirnya memutuskan memejamkan mata, pura-pura masih tertidur.
Alfa terbangun memegangi kepala, satu mataku membuka sedikit, lalu buru-buru menutup lagi ketika Alfa menoleh ke arahku. Jari telunjuknya mulai menelusuri wajahku mulai dari dahi, alis, mata, hidung, dan jatuh ke mulut. Menangkup pipi kananku dan mengelus lembut.
"Hahaha... geli," tawaku mencuat ketika tidak tahan menahan geli akibat sentuhannya. Alfa tersenyum teduh. "Kau berpura-pura tidur, Ratu?" tanyanya.
Aku refleks menaikkan selimut menutupi seluruh tubuh hingga ke muka. Ini sangat memalukan, memalukan sekali... rutukku dalam hati. Luciana Lighter... kau sangat murahan, murahan...
Alfa terkekeh pelan namun merdu. Hais... untuk apa dia menertawakanku? Aku ingin sekali dia lenyap dari muka bumi rasanya.
"Aku akan bersiap duluan. Setelah itu, akan aku panggilkan pelayan untuk membantumu bersiap," ucap Alfa lembut dan membuatku terperangah. Entah ini perasaanku saja atau memang benar adanya, semakin hari dia semakin sulit ditebak, dan juga sikapnya mengapa berubah menjadi tokoh protagonis. Dia 'kan harusnya kejam, bengis, dan mematikan.
"Kita mau kemana?" tanyaku, bersiap untuk apa?
"Mengunjungi para Ayahanda dan Ibunda tentunya," sahut Alfa santai.
"Mengapa tiba-tiba? Mengapa tidak bilang dulu sebelumnya?" tanyaku tidak terima dia mengajak seenaknya begitu tanpa membiarkanku bersiap.
"Aku berpikir bahwa kau ingin jalan-jalan keluar istana, makanya sekalian membawamu menemui para Ayahanda dan Ibunda. Apa kau tidak mau? Kita bisa membatalkannya jika kau tidak inginkan itu."
"Tidak, tidak. Jangan dibatalkan. Aku mau kalau untuk berjalan-jalan. Aku sudah bosan setengah mati berada di istana ini sepanjang hari," sergahku cepat.
"Baiklah kalau begitu. Aku bersiap dulu." Alfa beranjak menuju kamar mandi, bersiap-siap. Sementara aku masih termenung dan bingung. Jika nanti aku berjalan-jalan, apakah bisa menemukan sesuatu yang menarik? Aku jadi penasaran di luar kerajaan akan seperti apa.
__ADS_1
"Oke. Peranku kali ini menjadi apa ya? Ratu cantik dan murah senyum. Ah, iya. Itu saja, aku suka," gumamku pada diri sendiri.
To be continue...