
"Yang Mulia Ratu?" ujar seseorang di belakangku.
Aku menoleh dan mendapati orang yang sebelumnya menatapku intens.
"Dev?" seruku.
"Salam Sejahtera kepada Yang Mulia Ratu. Bagaimana keadaan Anda? Sudah lebih baik?" tanyanya terlihat khawatir.
Apa ini orang yang sama, yang menatapku intens sebelumnya? Mengapa sekarang pandangan matanya menghangat? batinku melihat aneh ke arahnya.
Aku mengangguk kaku, "Ya... baik. Ada apa?"
Melanjutkan jalanku dengan tergesa diikuti olehnya.
"Sepertinya Anda ingin pergi ke suatu tempat. Ke mana Anda ingin pergi seorang diri?" tanya Dev penasaran.
"Ah... itu aku belum tahu. Terlalu membosankan di dalam kamar."
"Mau saya antar?" tawar Dev.
"Ratu!"
Baru saja aku mau mengangguk, si Beku sudah muncul. Kalau begini, dia pasti mengutus seorang pelayan untuk melihatku di kamar. Dan ulala... aku tidak ada di kamar dan malah sudah sampai di halaman depan istana.
Alfa berlalu melewati Dev begitu saja tanpa menghiraukannya.
"Mengapa kau keluar dari kamarmu?" tanya Alfa dengan wajah tidak suka dan melempar tatapan tajamnya ke arah Dev.
"Perdana Menteri, kau begitu luang untuk berbincang dengan Ratu?" sindir Alfa ditambah tatapan sinis.
"Salam Sejahtera kepada Yang Mulia Raja. Maaf atas kelancangan yang saya lakukan. Kalau begitu, saya permisi," ujar Dev meninggalkanku dengan si Beku yang sudah beraura gelap.
"Kau ingin pergi ke mana, Ratu?" tanyanya dengan penuh penekanan.
"A-a-aku bosan di kamar. Tidak bolehkah pergi jalan-jalan?" tanyaku. Haihhh... mengapa pula sampai tergagap? Tubuh ini begitu lemah, selain punya penyakit jantung, mudah menangis, juga mudah tergagap. Tidak cocok dengan karakterku.
"Prajurit! Siapkan kuda!" titahnya pada prajurit yang dengan segera menyiapkan kuda.
"Ayo ikut!"
Dua kata itu sukses membuatku menurut, menaiki kudanya yang dipacu dengan amarah tingkat tinggi. Sebenarnya apa yang membuatnya marah? Apa aku hewan peliharaannya hingga tidak boleh keluar kamar? Benar-benar...
Ha! Sepertinya aku bukan hewan peliharaan, melainkan santapan lezat untuk koleksi hewan buasnya. Karena sekarang, dia sudah membawaku ke halaman belakang dan menunggang kuda putihnya memasuki hutan. Selamat Luciana... kau sangat pandai menyinggung orang lain. Nikmatilah akhir hayatmu! pikirku ketika sampai di dalam hutan.
__ADS_1
Tiba-tiba si Beku menuruniku.
"Ini hukumanmu agar tidak sembarangan keluar!" bentaknya, membuat jantungku nyeri rasanya. Sudah tahu Ratunya punya penyakit jantung, tidak bisakah dia berbicara perlahan?
Kemudian dia berlalu meninggalkanku sendiri. Sendiri... sendiri... sendiri... gema kata itu berulang-ulang di otakku.
"Hei! Alfa! Apa kau gila?!" teriakku padanya yang sudah pergi jauh.
"Ck, sekalian saja penggal kepalaku, itu lebih mudah dari pada bersusah payah memamerkan bakatnya menunggang kuda sebelum malaikat pencabut nyawa tiba," gerutuku kesal sembari terus berjalan memasuki hutan.
Kalian pasti bingung 'kan mengapa aku malah melenggang ke dalam hutan? Sama, aku juga penasaran. Kenapa pula kaki ini melangkah memasuki hutan, bukannya mencoba berjalan keluar.
Hari menjelang sore, mungkin sebentar lagi akan malam.
Lagi pula aku tidak akan sayang nyawa. Aku punya dua nyawa, satu di dalam sejarah dan satu lagi di dunia nyata. Meski jadi hilang ingatan yang ada di sini, tetapi bukan masalah, toh memori dari sejarah semuanya buruk-buruk.
"Apa lagi si Alfa es batu itu... Ck, ck, ck. Menyebalkan," gumamku seraya menendang krikil di tanah.
Hari semakin lama semakin menggelap, masalahnya langit saja tidak terlihat di sini. Pepohonan begitu lebat dan raungan hewan buas di hutan ini begitu seram kedengarannya.
"Aku sebenarnya juga takut, tetapi yah... mau bagaimana lagi, pulang ke istana pun belum tentu diterima. Lebih baik aku berpetualang, hehehe..." gumamku mulai tertawa-tawa sendiri.
Sementara di lain sisi.
"Ratu belum kembali?"
Alfa mengepalkan tangannya geram. Mengapa dia begitu membangkang? Tidak bisakah pulang dan memohon ampun agar aku memaafkannya? batin Alfa bertanya-tanya.
"Siapkan kuda! Cepat!" bentak Alfa pada Rudolf yang langsung tergesa melaksanakan perintah rajanya tanpa berkata-kata lagi.
"Kau tidak akan aku biarkan pergi tanpa seizin dariku. Benar-benar membuatku marah," ujar Alfa penuh kekesalan dan amarah. Membuat semua pelayan dan prajurit yang dilewatinya menunduk takut. Dalam pikiran mereka sama, Yang Mulia Ratu akan berada dalam bahaya.
Alfa memacu kuda putihnya menuju halaman belakang istana dan memasuki hutan, diikuti dua orang prajurit dengan kudanya masing-masing.
Setiap hewan buas yang dilaluinya akan langsung menemui ajal, tidak peduli hewan buas itu koleksi langka atau kesayangannya. Dalam pikirannya agar secepatnya menemukan Ratu Luciana Lighter.
***
Semakin jauh melangkah, aku semakin mendengar jelas raungan hewan buas. Seperti orang yang sudah bosan hidup. Langkah kakiku malah semakin gencar ke sana.
"Baiklah, Luciana Lighter. Kau menggunakan tubuh orang lain, meski memiliki rupa yang sama persis. Jika dia mati tercabik-cabik, bukankah kau akan mengecewakan Alfa di masa depan?" kataku kembali bicara sendiri. Mengapa pula aku harus menyelesaikan cerita tanpa terbunuh dan mengucapkan sihir itu sekali lagi agar Alfa di dunia nyata dapat terbebas dari kutukan. Melawan kutukan dengan kutukan. Haihhh... itu semua merepotkan. Tidak peduli bagaimana nantinya, yang penting aku jalani saja, pikirku mencoba tenang.
"Lagi pula aku 'kan sama saja sudah menepati janji dengan masuk ke dalam sejarah," ucapku acuh tak acuh.
__ADS_1
"HIAH! HIAH!!" suara seseorang memacu kuda. Apa aku tidak salah dengar? Sepertinya ada yang kemari.
Aku menoleh ke arah suara, dan benar saja, dengan sebuah lentera dia datang. Namun, di saat yang sama, gerombolan serigala melihat cahaya lentera dan mengepung kita.
Huhhh... si Beku ini. Mengapa harus membawa lentera? Kalau begini, mempermudah tugas malaikat pencabut nyawa saja, batinku.
"Kau baik-baik saja, Ratu?" tanyanya dengan nada cemas.
Aku membuang muka, kesal. Lebih baik pikirkan saja caranya melawan segerombol serigala itu, remehku dalam hati.
Alfa memegang pedangnya kuat dan semakin erat. Sepertinya responku membuatnya kesal.
Syutt... syutt... syutt...
Tanpa bantuan prajurit, Alfa membinasakan semua gerombolan serigala itu, bahkan tanpa turun dulu dari kudanya. Hal itu semakin membuatku yakin jika pria di hadapanku sekarang benar-benar bengis dan berdarah dingin.
"Naiklah," ajaknya mengulurkan satu tangan yang tidak memegang pedang. Melihat tangan dan tubuhnya berlumuran darah membuatku enggan.
Tanpa takut, aku justru menggelengkan kepala seraya berkata, "Aku tidak mau. Kau brengsek!"
Perkataan barusan membuat kedua prajurit itu tercengang dan ternganga. Pasalnya, siapapun tidak akan berani menolak Raja Alfa, apa lagi sampai mengatainya 'brengsek'. Itu hal yang jarang terjadi, sekalipun ada, pasti sudah mendapatkan tebasan di lehernya.
"Baiklah, aku memang brengsek. Aku sudah mengakuinya, kau cepatlah naik," tuturnya yang membuat dua prajurit itu semakin ternganga. Mereka saling berpandangan, pasti benaknya berkata, Apa aku tidak salah dengar? Raja Alfa membenarkan ucapan kasar Yang Mulia Ratu tanpa marah.
"A-KU TI-DAK MA-U," ucapku menjeda-jeda setiap suku kata agar lebih jelas didengar olehnya.
"Baiklah, kau yang memaksa."
Alfa menuruni kudanya dan berjalan mendekat. Dua prajurit itu hanya dapat menelan ludah memikirkan ratunya akan segera menemui ajal. Aku mundur selangkah ketika manusia berwajah es itu semakin mendekat, terus mendekat hingga membuatku terus mundur, dan menghindar.
"Aduh." Aku mengaduh ketika langkah mundurku salah dan malah membuatku jatuh terduduk di tanah. Membuat Alfa memampangkan senyum miring, entah apa yang dipikirkannya.
Percuma, percuma kau menghindar lagi, Luciana Lighter. Ajalmu tinggal hitungan detik, ratapku dalam hati.
Kedua prajurit itu hanya melempar tatapan iba, tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong ratunya. Poor Ratu! Nasibmu sangat bagus! Mati dengan cepat dari yang seharusnya. Aku mulai menertawakan diri sendiri dalam hati. Padahal raut wajahku sudah ketakutan melihat ekspresi Alfa yang sulit ditebak itu, masih sambil memasang senyum miring.
Aku memejamkan mata dan...
"Aaaaa..."
To be continue...
Aku sudah lumayan lama tidak update ya, maaf lagi mandek otak. Terima kasih untuk kalian yang mau membaca cerita ini. Tunggu kelanjutannya ya, jangan lupa like dan vote sebanyak-banyaknya biar nambah semangat aku buat update lagi...
__ADS_1
See you soon,
Yanuarita