Maple Leaf Kingdom

Maple Leaf Kingdom
Page 17


__ADS_3

Pintu yang sangat besar, batinku, ketika berhadapan dengan ruangan berpintu besar dan menjulang tinggi dengan sepasang daun pintu berukiran klasik. Jika dilihat-lihat, sepertinya ini bukan ruangan biasa.


Ngikkk...


Suara yang timbul saat dua prajurit yang berjaga mendorongnya pelan hingga cahaya lampu petromak dari dalam ruangan menyebar keluar.


"Uwahhh..." takjubku langsung melewati Alfa, berniat memasuki ruangan tersebut. Hal yang paling membahagiakan bagiku di seluruh dunia ini adalah bertemu dengan banyak buku-buku dengan berbagai genre.


Dua prajurit kerajaan di sisi kiri dan kanan dengan siap sedia menghadang jalanku dengan tombak besinya.


"Salam Sejahtera kepada Yang Mulia Raja dan Ratu," ucap dua prajurit itu serentak. Namun masih tetap menghadang jalanku. "Mohon ampun, Yang Mulia Ratu. Kau harus berjalan di belakang Yang Mulia Raja. Karena hanya Yang Mulia Raja saja yang boleh mengunjungi tempat ini. Kau tidak boleh sembarangan."


Aku melempar tatapan tak percaya, What?! Apa-apaan ini? Aku Ratunya, bukan pelayannya. Menyebalkan...


"Lancang!!" bentak Alfa. Membuatku memejamkan mata tanpa berani menoleh ke arah Alfa.


Derap kaki mendekat pria itu membuat jantungku berdegup kencang. Apa ini yang dirasakan ketika detik-detik menjelang kematian?


"Kalian ingin kubunuh?"


Aku mengerjapkan mata beberapa kali. Kalian? Bukan 'kau'?


"Belum menyingkirkan tombak besi kalian?!" bentaknya, membuat dua prajurit itu menarik kembali tombak besinya seraya menundukkan kepala. "Mohon ampun, Yang Mulia Raja."


Alfa tidak menggubris permohonan mereka dan justru mempersilakanku masuk duluan. "Masuklah duluan. Kau adalah Ratu, tidak ada yang boleh menghalangimu."


Aku mengangguk ragu, kemudian berjalan memasuki ruangan setelah menatap ke arah dua prajurit itu. Sementara Alfa...


Buk! Buk!


Memberikan masing-masing satu tonjokannya untuk dua prajurit lancang itu.


"Minta hukuman kalian kepada Rudolf!" perintahnya dengan nada datar dan raut wajah sama datarnya, tidak peduli dua prajurit itu sedang menahan sakit di perut akibat pukulannya barusan.


Di dalam ruangan itu.


Aku berjalan mendekati deretan rak dengan puluhan buku, oh tidak, ratusan atau bahkan ribuan buku yang bisa dibaca. Hari-hariku di sini akan semakin berwarna... yuhuuu... gembiraku dalam hati.

__ADS_1


"Kau menyukainya?"


Aku menoleh lantas mengangguk dan tersenyum semanis mungkin.


"Aku melihatmu begitu fokus ketika membaca buku. Kau pasti sangat suka membaca ya," ujarnya dengan senyum. Senyum? Oke, aku mulai terbiasa dengan sikap aneh Alfa yang suka berubah-ubahnya ini.


"Aku memang sangat suka membaca buku..." ucapku terpotong ketika pikiran brilian menghampiri otak cantikku ini. Kalau di kartun-kartun yang biasa kutonton, akan ada bohlam kuning menyala di atas kepalaku. "Alfa... bisa tunjukkan aku buku tata krama Kerajaan Maple Leaf?"


Meski wajahnya berekspresi bingung namun kepalanya tetap mengangguk seraya berjalan ke salah satu rak.


Sambil menunggu Alfa mengambilkan buku, aku melenggang ke arah sofa yang dilapisi kulit hewan. Sangat nyaman...


Tak lama, Alfa kembali dengan tiga buah buku tebal di tangannya, laki-laki itu kemudian mengambil posisi duduk di sofa yang berhadapan denganku sekarang. Hanya ada sebuah meja yang memisahkan dengan banyak kertas dan buku-buku bertumpukan di atas meja itu.


"Ini... sudah kuurutkan dari atas yang prioritas untuk dibaca. Dua lainnya hanyalah tambahan, kau tidak perlu membacanya juga," ucapnya sembari menyerahkan buku-buku itu.


Aku menerima dengan senyum sumringah. Membayangkan akan ada hal besar besok. Buku paling atas kuletakkan di pangkuan, sementara dua lainnya disisipkan ke ruang kosong sofa yang aku duduki.


Seperti biasanya ketika membaca buku, aku akan sangat serius hingga tidak menghiraukan apapun, termasuk Alfa yang kini tengah sibuk mempelajari dokumen-dokumen penting di atas meja.


Hingga tidak terasa waktu semakin larut. Setelah dua buku selesai kubaca, bahkan Alfa tidak juga selesai dengan pekerjaannya.


Sembari menopang dagu, aku mulai membaca buku ketiga. Setelah rasanya kantuk tidak terelakan lagi, mataku terpejam di hadapan buku yang tengah kubaca sebelumnya. Aku benar-benar terlelap karena terlalu lelah membaca.


***


Keesokan paginya.


"Yang Mulia Ratu..."


"Yang Mulia Ratu..."


Panggilan para pelayan membangunkan tidur nyenyakku.


"Woahhhmm..." Aku menguap dan menyadari sudah berada di kamar.


"Ini di kamar?" tanyaku membuat para pelayan menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Yang Mulia Raja yang membopong Ratu ke mari ketika larut malam," ucap salah satu pelayan.


"Benar, Yang Mulia Raja bahkan secara pribadi menghampiri kami untuk membangunkan Ratu, membantu bersih-bersih, dan bersiap," sahut pelayan lainnya.


Alfa tidak seburuk yang kukira. Mungkin kali ini aku akan membuatnya takjub... hehehe...


Senyumku merekah seraya berkata kepada pelayan, "Bantu aku bersiap, jadikan aku Ratu kalian yang paling cantik hari ini."


Para pelayan dengan senang hati membantu. Satu di antara mereka kuperintahkan mengambil beberapa lembar roti untuk sarapan. Sementara Alfa sudah berada di singgasananya untuk pertemuan para menteri.


Sentuhan terakhir. Sebuah mahkota tiara yang sudah menjadi milikku di masa depan maupun masa lalu sudah bertengger di kepala cantikku. Rambut hitam lurus panjang yang tergerai sama cantiknya dengan penampilanku hari ini.


"Siap. Ayo kita berangkat!" seruku bersemangat seraya dalam hati berkata, Hari ini peranku menjadi seorang Ratu cantik, anggun, dan bijaksana.


Pelajaran dari buku yang kubaca semalam sudah melekat di otakku dan tinggal bagaimana mengaplikasikannya.


Aku berjalan anggun dengan baju dan jubah baru seorang ratu, tanpa ada bulu-bulu putih tebal tentunya. Seorang pelayan menuntunku menuju ruang utama kerajaan, di mana Alfa berada sekarang. Sementara kedua pelayan yang lainnya mengekori di belakang. Ketika pintu dibuka, seluruh mata tertuju padaku. Tanpa diduga, Alfa bangkit dari duduknya, wajah yang semula dingin mulai menghangat. Aku tersenyum, menunjukkan pesonaku sebagai seorang ratu yang anggun dan bijaksana.


Ketika posisi Alfa berhadapan denganku, lengannya terulur seperti biasa. Aku dengan senang hati menyambutnya, lalu kami berjalan di atas karpet merah menuju singgasana raja dan ratu.


"Pstt... Bagaimana penampilanku saat ini?" ucapku berbisik.


Alfa tersenyum seraya berkata, "Sangat cantik." Sementara penghuni ruangan itu terkaget-kaget melihat senyum Alfa.


Sebagian dari mereka menganggapnya mimpi, sebagian yang lainnya menganggap efek sihir Ratu kepada Yang Mulia Raja. Bagaimana aku bisa tahu? Karena sekarang mereka mulai gaduh dengan segala ungkapan yang ada di hati mereka masing-masing.


Aku menduduki singgasana yang agung ini. Oh... meski suka sekali berkhayal menjadi putri atau seorang ratu. Tidak pernah terbayang akan sungguh duduk di singgasana ini.


"SALAM SEJAHTERA KEPADA YANG MULIA RAJA DAN RATU..." serempak hormat dari kerumunan para menteri dan petinggi kerajaan ketika aku dan Alfa sudah duduk di singgasana masing-masing.


"Duduklah!" titah Alfa membuat kerumunan itu duduk dengan tertib.


"Pertemuan para menteri dan petinggi kerajaan kali ini dimaksudkan untuk menyambut Ratu Kerajaan Maple Leaf yang kini ada di hadapan kalian. Maka dari itu, kita harus sama-sama berjuang memperluas kerajaan dan melakukan usaha untuk kepentingan rakyat dan Kerajaan Maple Leaf ini. Aku, Alfa Bellezza Dell'arcobaleno, Raja yang memimpin dua kerajaan, yaitu Kerajaan Maple Leaf dan Kerajaan Lighter, sebagai raja baru kalian didampingi oleh Ratuku, Ratu dua kerajaan, Ratu Luciana Lighter. Kalian harus bersumpah setia pada kerajaan dan negeri ini, tidak akan berkhianat ataupun melakukan pemberontakan, bersumpah setia sehidup semati. Lakukanlah!!!" tegas Alfa yang membuatku seketika terpana takjub, menjadi pendamping seorang raja yang hebat. Siapa yang bisa membayangkannya? Aku pun masih tidak percaya.


"KAMI BERSUMPAH SETIA KEPADA KERAJAAN DAN NEGERI INI, TIDAK AKAN BERKHIANAT ATAU MELAKUKAN PEMBERONTAKAN, BERSUMPAH SETIA SEHIDUP SEMATI."


Gemuruh pengucapan janji setia yang dilakukan para menteri dan petinggi negara seolah menggetarkan kerajaan ini. Dalam hatiku, Mungkin aku sudah berlebihan mengkhawatirkannya sebagai raja bengis dan tanpa belas kasih. Dan perjalananku di sini sebagai seorang ratu baru saja dimulai...

__ADS_1


Mengapa air mataku menetes? Apa ini air mata bahagia Putri Luciana Lighter? Rasanya begitu terharu melihat ini semua. Aku menyeka air mata dengan anggun dan mengalihkan pandangan, melihat sepasang bola mata seorang pria yang kini menatapku intens. Dev? Mengapa dia melempar tatapan begitu?


To be continue...


__ADS_2