Maple Leaf Kingdom

Maple Leaf Kingdom
Page 13


__ADS_3

Matahari tenggelam, pesta keluarga kerajaan dan bangsawan telah usai. Berangsur-angsur langit menggelap. Aku berdiri di satu jendela, memandangi langit yang semakin lama semakin hitam. Cukup lama, hingga bintang-bintang bermunculan dan bulan terlihat semakin terang.


"Bulan dan bintang begitu indah di sini," gumamku.


"Mereka hanya sementara, seindah apapun akan tetap harus bergantian dengan panasnya matahari."


Alfa melangkah mendekatiku. Untuk apa dia ke sini? Aku menghindarinya karena takut menyinggung, lalu dihukum mati, batinku.


"Justru karena sementara makanya harus dinikmati," sahutku ketus.


"Untuk apa? Membuat kecewa jika sudah pergi," katanya masih dengan pandangan menghadap langit.


Aku beralih menghadapnya dan berkata, "Hei! Hidupmu juga sementara. Kau tidak mungkin akan berdiam diri 'kan? Paling tidak butuh makan dan tidur."


Aku menghela napas, dan berkata lagi, "Di antara kebahagiaan dan kesengsaraan. Mana mungkin kau akan memilih hidup sengsara, sebisa mungkin pasti ingin bahagia. Di antara banyaknya pemandangan, mana mungkin kau ingin melihat kematian, pastilah ingin melihat hal-hal membahagiakan."


"Yang Mulia Raja dan Ratu, makan malam sudah siap," ujar pelayan.


Alfa yang semula diam, kini mengangguk. "Kami akan segera ke sana."


"Hei! Psstt, psstt... " Aku memanggil pelayan itu, kemudian mengibaskan tangan, mengisyaratkan agar telinga pelayan itu mendekat ke mulutku.


"Di mana pelayanku Hannah?" bisikku pelan. Sementara Alfa hanya menatap tak acuh.


Pelayan itu balas berbisik, membuatku berkata, "Ah! Begitu... baiklah, ayo makan!"


"Silakan lewat sini, Yang Mulia Ratu," ucap pelayan itu menunjukkan jalan.


Di ruang makan.


Klontang... klontang...


"Haihhh... sepi sekali..." keluhku melihat sekeliling yang begitu sepi, hanya terdengar suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Hanya aku dan Alfa yang makan malam, semua pelayan langsung pergi setelah mempersiapkannya.


"Kau adalah putri, dan sekarang statusmu menjadi Ratu Kerajaan Maple Leaf. Tidak tahukah adab makan? Perlu aku mengajarimu lagi kalau makan dilarang berbicara," nasehat Alfa, wajahnya benar-benar datar dan dingin. Menyebalkan...


"Kau juga barusan berbicara, aku tidak bernafsu makan," gerutuku seraya meletakkan sendok dan garpu di meja.


"Pelayan!" teriaknya. Entah dari mana asalnya, seorang pelayan tiba dengan terengah-engah.


Haisss... tabiatnya benar-benar buruk.


"Berikan sendok dan garpu yang baru untuk Ratu, punyanya sudah kotor menyentuh meja."


Aku mengerjap cepat beberapa kali, mulutku ternganga. Setahuku Alfa yang asli tidak mengindap mysophobia.


Ketika pelayan itu melangkah untuk melakukan perintahnya, aku berkata, "Tidak perlu, aku sudah tidak ingin makan."


Pelayan itu mundur mendengar perkataanku.


"Ambilkan!" bentak Alfa dengan tatapan membunuh, sementara wajahnya sangat dingin hingga dinginnya mungkin mampu menusuk tulang.


Pelayan itu ketakutan dan segera mengambil yang diminta, lalu menyerahkannya padaku. "Ini, Yang Mulia Ratu."


"Cepat Makan!" Kali ini aku yang dibentak dengan tatapan setajam elang seakan ingin menerkam mangsa. Wah... si beku ini...


Aku bangkit berdiri, kemudian membuang ke lantai sendok dan garpu yang baru saja di berikan pelayan itu. "Aku mau makan atau tidak, kau tidak berhak memaksaku."


Aku kesal setengah mati, lalu pergi meninggalkan ruang makan yang suram itu. Berjalan cepat menuju...

__ADS_1


"Oh, ya ampun... di mana ini?" gumamku melihat sekeliling yang sangat asing. Terlalu cepat berjalan keluar hingga tiba di hadapan hutan belantara.


"Sepertinya ini halaman belakang istana," kataku.


"Sungguh sial, sungguh sial!" rutukku pada diri sendiri.


Bukannya berbalik arah, kakiku malah melangkah maju. Aku sendiri heran, hutan itu begitu gelap dan dingin, bahkan tak terkena cahaya bulan. Lalu mengapa aku sangat penasaran? Hehehe... tidak ada salahnya melakukan petualangan. Kalau kembali, si beku pasti akan marah besar, yang paling buruk lagi kalau sampai dikurung di penjara bawah tanah.


Hutan yang menyeramkan setiap langkah memasukinya. Aku mengangkat gaun pernikahan yang belum sempat diganti. Aku duduk termenung di sebuah batang pohon yang sudah terbaring di tanah.


"Hufff... Kata pelayan tadi, Hannah pulang ke Kerajaan Barat bersama rombongan para orang tua. Si Alfa begitu beku dan penghuni di istana sama asingnya dengan majikan mereka. Dia masih memiliki Pak Rudolf dan Ibu Refisha di sini, sementara aku... tidak adakah orang yang akan menemaniku? Pantas saja pemilik tubuh ini mengubah cintanya menjadi kebencian. Aku mengerti," dumelku seorang diri.


Aku turun duduk di tanah dan melingkarkan tangan di atas batang pohon, lalu meletakkan kepalaku di atasnya.


Ini masih hutan di lingkungan istana, tidur sebentar tidak akan ada hewan buas 'kan? tanyaku dalam hati, lamat-lamat mulai terpejam.


***


"Hiah... Cari sampai ketemu! Hiah..." Raja Alfa memacu kudanya. Mencari-cari sosok berbaju putih di sekeliling istana yang luas. Hanya tinggal satu tempat, hutan penampungan koleksi binatang buasnya.


Dengan cepat laki-laki itu memacu kudanya.


Tak butuh waktu lama, yang dicari akhirnya ketemu. Jika saja tertidur lebih dalam hutan ini, mungkin hanya sisa tulang belulang saja.


Raja Alfa menuruni kuda putihnya. Melihat gadis di hadapannya tengah tertidur pulas. Dia pun membopong tubuh gadis itu dan membawanya menaiki kuda.


"Hahaha, pangeran berkuda putih. Seperti di dongeng yang aku baca..." ucapnya ketika membuka sedikit mata dan ternyata kesadarannya masih di alam bawah sadar.


Raja Alfa kembali memacu kudanya, namun kini lebih pelan. Entah mengapa dalam benaknya takut membangunkan gadis di pangkuannya itu.


Ketika sampai di istana, para pelayan dan penghuni di sana hanya mampu menatap tuannya yang kini membopong seorang gadis yang sedang tertidur.


"Yang Mulia Raja, saya sudah menyiapkan kamar Yang Mulia Ratu," ucap seorang kepala pengurus istana, Refisha.


Ketika di kamar pribadi Raja Alfa Bellezza Dell'arcobaleno.


Dengan perlahan Alfa membaringkan tubuh Luciana. Laki-laki itu terkejut ketika tiba-tiba Luciana membuka matanya setengah sadar seraya berkata, "Selamat malam, Alfa..." Kemudian gadis itu berbalik, tertidur dengan posisi menyamping.


***


Keesokkan paginya.


Seorang gadis masih memejamkan matanya tak kala hari sudah memasuki pagi. Di depan pintu kamar yang terbuka sudah berkumpul beberapa pelayan.


"Bagaimana caranya membangunkan Ratu?"


"Aku juga tidak tahu, siapapun tanpa penglihatan Raja memasuki kamarnya akan di bunuh."


"Dan juga, tubuh Ratu ditutupi selimut Yang Mulia Raja. Siapapun yang menyentuh barang-barang Raja akan dipotong tangan."


"Mereka ribut sekali," gerutuku pelan mendengar ucapan para pelayan itu.


Meributkan apa sebenarnya mereka? tanyaku dalam hati.


Aku meregangkan tubuh mendapati diriku yang tertidur di kamar. Di kamar? Bukannya di hutan?


Indera pembauku mengendus kasur yang kutempati. Bau si beku, ini pasti kamarnya.


Ketika mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan, para pelayan itu hanya menatapku. Kamar ini suram sekali... seperti hidupnya...

__ADS_1


Srekkk...


Aku membuka gorden merah tebal hingga cahaya matahari menembus kaca.


"Yang Mulia Ratu!" Para pelayan berteriak serentak membuatku menoleh, namun tidak peduli.


"Bagaimana ini?"


"Iya, kita tidak bisa masuk selangkah saja ke sana."


"Kalau Yang Mulia Raja tahu, maka hukuman potong tang..."


Ucapan pelayan terakhir terhenti ketika ada bayangan dari belakang mereka. Sedangkan aku? Sedang menikmati hangatnya cahaya matahari pagi.


"Yang-Yang Mulia Raja, maafkan kami." Para pelayan itu histeris dan segera berlutut.


Sosok itu memasuki ruangan kamar. Aku yang menyadari kehadirannya pun menoleh, namun setelah itu membuang muka ke arah pemandangan di luar jendela. Melihat wajahnya membuatku teringat kejadian semalam.


"Ayo sarapan! Kau baru makan sedikit semalam," ajaknya dengan suara lebih lembut dibanding semalam, kemudian mengulurkan satu tangannya.


Benar juga, aku kelaparan karena semalam tidak nafsu makan, benakku.


Aku menerima uluran tangannya dan langsung diletakkan di lengan pria itu, kemudian berjalan keluar dari kamar itu.


"Tunggu," hentiku ketika sampai di ambang pintu. "Apa yang kalian lakukan? Mengapa terduduk di sini?"


Para pelayan itu bukannya menjawab malah menatap ke arah Alfa dan dengan cepat kembali menundukkan kepala. Aku melepas pegangan di tangan Alfa dan berjongkok.


"Berdirilah!" perintahku, namun mereka tidak mau mendengar dan tetap berlutut.


"Kalian tidak mendengar perintah Ratu?" ucap Alfa menusuk. Benar-benar si wajah tembok.


Aku bangkit berdiri dan kembali memegang lengan pria itu disusul para pelayan yang berdiri namun masih menundukkan kepala.


"Apa kalian tidak membantu menyiapkan sarapan?" tanyaku.


"Mereka pelayanmu yang akan mengurus segala keperluanmu."


Tiba-tiba teringat sesuatu. "Ah, iya. Aku hanya butuh satu pelayan. Bisakah kau membiarkan Bu Refisha menjadi pelayan pribadiku?"


"Ampun, Yang Mulia Ratu. Jangan buang kami! Kami tidak ingin berada di penjara bawah tanah," pekik para pelayan.


"Berisik!" bentak Alfa membuatku sangat terkejut hingga melepas pegangan dari lengannya. Masalahnya karena posisi telingaku sangat dekat dengan wajahnya.


Haihhh... sampai berdengung.


"Maaf."


Para pelayan menoleh terkejut ke arah Alfa.


To be continue...


Note:


•Ketika narasi memakai nama Luciana, berarti sudut pandang Author.


•Ketika narasi memakai 'aku', berarti sudut pandang Luciana.


Oh, iya! Aku 'kan ikutin cerita 'Maple Leaf Kingdom' ini ke kompetisi 'You Are A Writer Season 3'. Jadi, mohon dukungan kalian untuk cerita ini dengan cara 'Like' semua bab, berikan vote terbaik kalian, dan boleh juga memberikan tip untuk Author.

__ADS_1


Terima kasih.


See you soon.


__ADS_2