
Tok... tok... tok...
"Salam Sejahtera kepada Yang Mulia Raja dan Ratu."
Aku ternganga melihat siapa yang datang. Tidak, ini tidak masuk akal. Apakah aku sedang bermimpi? Mengapa Alfa yang di dunia nyata tidak pernah memberitahukan hal ini? Sungguh?
"Ratu, kau baik-baik saja?" tanya Alfa membuat lamunanku membuyar.
"Kau adalah..."
Orang itu membungkuk hormat seraya berkata, "Perkenalkan, Yang Mulia Ratu. Nama saya..."
"Tiara Granindra, benar 'kan?" tanyaku mengonfirmasi kebenaran yang ada di depan mata.
Baik Alfa, Rudolf, maupun orang yang aku yakini adalah Tiara, mereka menatapku bingung. Dalam benak mereka, Bagaimana Ratu bisa tahu?
Orang itu mengangguk.
Aku lantas bangkit dari kasur dan menghampirinya.
"Oh, ya ampun. Maukah kau menjadi temanku di sini? Aku kesepian sekali..." ucapku seraya memeluk gadis itu erat.
Aku menoleh ke arah Alfa, "Bolehkah?"
Bukannya menjawab, laki-laki itu bangkit dan berjalan ke arahku.
Tanpa diduga malah membopongku agar kembali berduduk di ranjang. "Kau sedang sakit. Beristirahatlah!"
"Apa aku tidak boleh punya teman?" tanyaku dengan wajah menggemaskan disertai fish eyes.
"Iya, boleh." Satu tangan Alfa terulur, mengelus puncak kepalaku. Perkataannya membuat senyumku merekah.
"Oh... kau memang yang terbaik..." seruku sembari memeluknya girang.
"Ehem... Sudah, jangan bertingkah lagi. Cepat berbaring! Dokter kerajaan akan memeriksamu." Aku melepas pelukan itu.
Haduhhh... malunya. Luciana bodoh! Kau perempuan murahan... batinku.
Di lain sisi, Rudolf dan Tiara berdiri terpaku melihat Raja mereka bisa berlaku selembut itu pada Ratunya. Bahkan, sampai memperbolehkan permintaannya, memberikan titah agar mengenyahkan benda berbulu, dan menunda pertemuan para menteri.
Tiara mendekat ke arahku yang sudah dengan patuh berbaring. Kemudian gadis itu memeriksa layaknya dokter.
Duh, deg-degan diperiksa oleh sahabat sendiri. Tiara... cita-citamu menjadi dokter ternama sudah tercapai dari ribuan tahun lalu, pikirku mengingat Tiara di kehidupan nyata sangat ingin menjadi dokter ternama.
"Ada apa dengan Ratu? Apa penyakitnya parah?"
Huh! Si Beku, apa kau menyumpahiku punya penyakit parah, hah?
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ratu hanya alergi pada hal berbulu dan mungkin juga dengan debu. Semuanya akan baik-baik saja jika dua hal itu tidak ada di dekat Yang Mulia Ratu," jelas Tiara tersenyum ramah.
Tiara memang dari dulu sangatlah ramah. Uh... sahabat baikku...
"Rudolf!" teriak Alfa, membuatku terlonjak kaget. Mengapa orang ini selalu berteriak dan marah? Tidak ada lemah lembutnya sama sekali, ck, ck, ck...
__ADS_1
"Sudah kau lakukan perintahku menyingkirkan benda-benda berbulu di istana?"
"Sudah, Yang Mulia Raja."
"Juga perintahkan para pelayan agar membersihkan istana setiap hari, pagi dan malam, terutama kamar ini harus tetap bersih dan jangan sampai ada debu," titah Alfa membuatku terharu.
Si beku romantis sekali... Seandainya dia tidak membunuh Putri Luciana Lighter, aku pasti sudah jatuh hati padanya, benakku.
"Alfa..." panggilku membuat Rudolf dan Tiara melotot kaget. Memanggil Yang Mulia Raja langsung dengan namanya akan dikenai hukuman potong lidah atau potong leher.
"Yang Mulia Ratu!" bentak Rudolf menghunuskan pedangnya ke arahku.
Cling!
Alfa menepis pedang itu hingga terlempar jauh. Membuatku yang masih polos ini terkejut bukan main.
"Kau ingin kubunuh, Rudolf?!"
Aura yang sangat mengerikan... ada apa ini sebenarnya? ucapku dalam hati.
Rudolf berlutut memohon pengampunan, tuannya marah besar. Sementara Tiara terkejut bukan main sama halnya denganku, namun di sini aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
"Ampun, Yang Mulia Raja. Aturan kerajaan, memanggil dengan nama langsung tidak diperkenankan. Hukumannya potong lidah atau potong leher."
Mendengar ucapan Rudolf membuatku ketakutan seraya kedua tangan menutup mulut ketika kata 'potong lidah' dan memegang leher saat kata 'potong leher' disuarakan. Meski aku sudah mempersiapkan diri untuk mati, tetapi aku masih manusia normal yang akan takut jika itu benar-benar terjadi.
"Apa aku akan mati secepat ini?" ucapku tanpa sadar, membuat Alfa menatap tajam ke arah Rudolf.
"Tidak ada yang boleh menyentuh Ratu, apalagi menyakitinya. Rudolf, berjemurlah di lapangan selama dua hari dua malam dan renungkan kesalahanmu! Kalian... Keluarlah!"
Apa-apaan ini? Sempat-sempatnya ada perdebatan batin di saat seperti ini.
Aku bingung harus apa di hadapan Alfa yang kini sedang marah besar. Akhirnya dengan banyak pertimbangan, aku memilih berbaring membelakangi Alfa yang kini duduk di pinggir kasur, lalu kutarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh rapat.
Terdengar helaan napas kasar milik laki-laki dingin itu. Tak lama ia berkata, "Baik, istirahatlah. Aku akan menemuimu lagi nanti."
Pergilah jauh-jauh! Siapa yang mau bertemu dengan orang kejam sepertimu, pikirku malas.
Bamn!
Suara pintu yang ditutup dengan kasar sangat jelas menandakan si Raja Es itu sedang marah. Jika dipikir-pikir, berjemur di lapangan dua hari dua malam bukanlah hal yang bagus. Oh, tidak... Bukankah itu sama saja membunuh? Jika tidak diberikan makan dan minum juga bagaimana? Kalau aku meminta meringankan hukuman Rudolf, apa si beku akan marah?
Setelah mengintip dan memastikan Alfa sudah benar-benar tidak ada di kamar, aku turun dari kasur. Dari jendela yang gordennya sudah kubuka pagi tadi, terlihat Rudolf berdiri di tengah lapangan untuk menjalankan hukumannya. Sepertinya siang nanti akan begitu terik melihat sekarang saja cuaca secerah ini, jika nanti malam atau besok hujan maka akan sangat buruk bagi Rudolf.
"Bagaimana ini? Luciana, ayo berpikir Luciana..." gumamku pelan sembari berjalan mondar-mandir. Aku hanya bisa berdoa agar hal itu tidak terjadi.
Hari menjelang malam.
Aku tidak berani membuka pintu apalagi melangkah keluar. Melihat ada beberapa buku di rak, akhirnya mengisi waktu luang dengan membaca. Awalnya aku heran, gaya tulisan Kerajaan Maple Leaf bukan huruf latin. Akan tetapi, mengapa aku mengerti cara membacanya? Atau mungkin karena Putri Luciana Lighter pemilik tubuh ini barulah aku bisa mengerti maksud dari tulisan di tiap buku ini?
Krukukukkkk...
"Haihhh... para pelayan di sini benar-benar tidak ada inisiatif. Bagaimana bisa membiarkan seorang Ratu kelaparan? Bahkan tidak ada yang masuk ke kamar ini hanya sekedar untuk melongokku apakah masih hidup atau tidak... ck, ck, ck..." gerutuku pelan.
__ADS_1
Sudahlah, lanjut membaca saja. Dengan posisi duduk selonjoran di ranjang, aku terkejut bukan main saat pintu kamar tiba-tiba terbuka dan menampakkan sosok Alfa di sana.
Aku tidak melihat ke arah pintu, namun hawa-hawa membunuh laki-laki itu sangatlah kuat, sehingga aku bisa langsung tahu meski mata dan wajahku masih mencoba tetap fokus membaca buku di pangkuan.
Jangan menatapnya, Luciana... kau bisa langsung mati kaku hanya dengan melihat tatapan membunuhnya itu. Mengerikan... pikirku.
"Kau membaca?" tanyanya dengan suara pelan. Sangat berbanding terbalik dengan ekspresi wajahnya sekarang.
Aku sedang tertidur! Tidak bisakah kau melihat bahwa aku sedang membaca, masih saja bertanya.
"Hm..." dehamku mengiyakan. Kemudian tiba-tiba teringat ucapan Rudolf dan segera membenarkan jawabanku seraya menatap ke arahnya. "Iya, aku sedang membaca, Yang Mulia Raja."
"Kau belum makan. Ayo ke ruang makan!" ajaknya sembari duduk di sampingku, membuatku lantas bergeser menjauh. Seluruh bulu kuduk rasanya merinding setiap kali berdekatan dengan Alfa.
"Aku sedang malas ke sana."
Prok, prok...
Dua kali Alfa bertepuk tangan hingga tiba seorang pelayan memasuki kamar. Aku tidak berminat melihat rupa pelayan itu, kemudian kembali membenamkan diri pada buku yang tengah kubaca.
"Bawakan makan malam ke mari," titahnya dengan wajah super duper dingin.
"Maaf, Yang Mulia. Makan di kamar bukanlah hal yang bagus, tidak sesuai dengan tata krama kerajaan."
"Kau sudah berani membantahku, Refisha?" Tidak, itu bukan pertanyaan. Lebih terdengar seperti ancaman. Tunggu... Refisha?
Aku mendongakkan kepala untuk melihat rupa wanita paruh baya yang membantuku mengurus segala keperluan di asrama Akademi Nusa Bangsa. Mirip sekali... dari aku masuk ke istana, baru pertama kali bertemu dengannya. Sungguh membahagiakan...
"Tidak. Maaf, Yang Mulia Raja. Aku akan segera siapkan dan membawa ke mari."
"Tidak usah dibawa ke mari. Aku tidak memiliki nafsu makan." Mendapati Alfa di sini, membuat nafsu makanku menguap.
Alfa mengangguk dan diam. Mengapa dia hanya diam? Meski aku sedang membaca, namun jika dia terdiam begini di sampingku, aku juga akan salah tingkah. Sementara Bu Refisha sudah keluar dari kamar.
"Oh, tidak!" pekikku langsung beranjak dari kasur, menaruh buku sembarangan di sana, berlari menuju jendela, dan menatap keluar. "Bagaimana ini? Hujan begitu tiba-tiba dan deras."
Aku hanya bisa memandangi tubuh tua Rudolf yang terkena timpaan hujan deras. Siang tadi begitu panas, kini hujan deras akan membuatnya jatuh sakit.
"Jika kau mau makan malam denganku, aku dapat menghentikan hukuman Rudolf."
Suara bariton Alfa di belakangku menyela, membuatku tanpa pikir panjang berkata, "Ayo makan!"
Alfa menatapku dengan senyum kemenangan.
Padahal sebelumnya, pria itu gusar bukan main mengetahui pelayannya melapor bahwa Luciana tidak sama sekali keluar kamar, bahkan untuk makan pun tidak. Entah mengapa membuatnya marah dan segera menemui gadis itu seusai menyelesaikan urusan kerajaan yang menyita waktunya sepanjang hari ini.
"Kalau begitu, ayo..."
Oh, ayolah! Masih harus berpegangan tangan? Mau tidak mau, aku menerima uluran tangannya.
To be continue...
Jika suka dan sayang dengan cerita ini, berikan like dan vote sebanyak-banyaknya...
__ADS_1
Terima kasih.