
"Dia sudah menyerahkannya?" ucap ulang laki-laki dengan bayangan hitam di lantai, wajahnya tidak terlihat di dalam kegelapan malam, "lebih menarik dibanding dengan seratus tahun lalu."
Kilatan cahaya membelah langit malam yang dingin, rintikan halus hujan berjatuhan menerpa penghuni bumi, dan hembusan angin dengan arah yang berubah-ubah melengkapi kesuraman malam ini.
***
Jederrr... Jederrr...
Cuaca malam ini benar-benar buruk.
Seorang gadis berdiri di dekat jendela, memandangi keadaan di luar.
Tok... tok... tok...
Aku menoleh ke ambang pintu kamarku setelah mendengar suara ketukan di sana.
"Nona... saya datang mengantar makan malam," suara seorang wanita di balik pintu.
"Silahkan masuk! Aku tidak mengunci pintu," seruku mengalihkan pandangan lagi ke jendela. Tak lama, terdengar suara trolley memasuki ruangan.
Tuk, tuk, cring...
Suara peralatan makan diletakkan di atas meja.
"Silahkan, Nona," suguh wanita itu.
Aku berjalan mendekatinya. "Terima kasih, Ibu Refisha."
"Sama-sama, Nona. Seperti biasa, saya akan ke sini lagi untuk mengutip peralatan makan setelah selesai Nona gunakan," tuturnya, lalu keluar kamar dan menutup pintu.
Ibu Refisha adalah salah satu pengurus asrama. Setiap pengurus asrama akan mendapat tugas mengurus segala keperluan dua buah kamar pegangannya. Kebetulan Ibu Refisha yang ditugaskan mengurus kamar nomor 124 dan 125, yaitu kamar Tiara dan aku.
Aku bisa bersahabat dengan Tiara juga karena kamar asrama kita bersebelahan dan memang karakter gadis itu yang begitu mudah bersosialisasi.
"Hari ini menu-nya cumi-cumi pedas manis. Hmm... benar-benar lezat" gumamku, "ngomong-ngomong, apa yang sedang Tiara lakukan di kamarnya ya?"
***
Cit, cit... cit, cit...
Kicauan burung kecil yang terbang bebas, sengatan sinar matahari yang hangat dan menyilaukan. Pagi ini begitu cerah setelah semalaman cuaca begitu buruk.
Hehehe... semalam aku tertidur nyenyak sekali dengan perut dalam keadaan kenyang, ucapku dalam hati.
Dengan langkah ringan, aku menuju ke lapangan utama Akademi Nusa Bangsa. Ritual wajib yang setiap sekolah miliki di hari Senin juga dilakukan oleh Akademi Nusa Bangsa, apalagi jika bukan upacara. Setelan seragam anak perempuan untuk hari Senin adalah rok maroon selutut dengan atasan kemeja putih dan sebuah blazer maroon, serta sebuah dasi pita berwarna maroon juga.
Hari ini suasana hatiku begitu baik, model rambut yang kupilih adalah ikat setengah ala bidadari.
Hari ini aku akan menjadi gadis yang manis... hohoho... tawaku dalam hati.
"Apa yang pertama kali gadis manis ini akan lakukan ya?" gumamku tampak berpikir, jari telunjuk di pipi, "aku bangun sedikit terlambat, pasti Tiara sudah berbaris di barisan depan."
Tak butuh waktu lama aku sudah sampai di lapangan yang penuh dengan para murid. Di Akademi Nusa Bangsa terdiri atas tiga tingkatan, antara lain tingkat 1, senior tingkat 2, dan senior tingkat 3. Jika sedang upacara, setiap tingkatan dibagi menjadi dua barisan perempuan dan dua barisan laki-laki. Posisinya dari kiri ke kanan mulai dari tingkatan terendah. Perbandingan murid perempuan dan laki-laki tingkat 1 sama, jadi jika tidak hadir satu murid saja, dapat dengan kentara terlihat.
"Luciana Lighter, masih belum memasuki barisan?" suara berat laki-laki dewasa di belakangku membuyarkan lamunan.
__ADS_1
Aku menoleh dan berkata, "Eh, pagi, Pak Pengawas."
"Luciana Lighter, sudah berapa kali Bapak bilang, jangan memanggil Bapak dengan sebutan 'Pak Pengawas' lagi, kita sudah tidak sedang tes masuk sekolah, saya sekarang adalah guru pembimbingmu, guru pembimbing tingkat 1," serunya.
"Siap, Pak Peng-- , maksud saya Pak Gubing," tuturku dengan tubuh tegap dan tangan hormat.
"Luciana Lighter, panggil saja saya Pak Guru, apa pula itu Gubing?" tanyanya sambil menggaruk tengkuk.
Aku menjawab, "Gubing itu singkatan dari Guru pembimbing, aku panggil Bapak begitu agar tidak tertukar dengan para tutor Akademi Nusa Bangsa. Boleh 'kan, Pak?" Dengan Fish eye, aku mulai menjalankan peranku hari ini menjadi 'gadis yang manis'. Hehehe... drama hari ini dimulai.
"Oke, oke. Bapak perbolehkan. Cepatlah memasuki barisan!" perintah Pak Gubing dengan sebelah tangan memijat dahi dan sebelah lagi mengibas seolah sedang mengusir anak ayam.
"Baik, Pak Gubing..." Aku melangkah ringan dengan lompatan-lompatan kecil menuju barisan yang hanya tersisa di belakang.
Slupp...
Aku berhenti dengan langkah terakhir yang begitu anggun.
"Eh? Bukankah ini Princess Luciana Lighter?" Seseorang melongokkan kepalanya ke depan wajahku, membuatku memalingkan muka karena sudah dapat melihat sekilas siapa orangnya.
Kemudian orang itu menarik kembali wajahnya. "Apakah aku begitu tak kasat mata sampai Princess Luciana tidak melihatku?"
Ucapannya menarik perhatian beberapa murid di depan kita, terutama tatapan para gadis yang seolah ingin mengulitiku. Kekaguman gadis pada seorang laki-laki, sungguh mengerikan...
Aku menarik napas kasar dan menghembuskannya perlahan. Menjadi gadis yang manis, menjadi gadis yang manis. "Iya? Ada apa?" tanyaku menolehkan kepala dengan senyum dan ekspresi semanis mungkin.
Terlihat laki-laki di hadapanku tersentak dan diam seketika.
"Manis sekali..." gumamnya pelan.
Aku masih dapat mendengar gumamannya. Sudah kuduga, siapa yang dapat menghindar dari pesona manisku hari ini? batinku kemudian terkekeh.
"Tentu saja. Akan ada hal besar hari ini, siapa yang tidak bahagia?" sahutku.
"Hal besar?" tanyanya sambil menampakkan ekspresi bingung.
"Iya, hal besar," ulangku, "oh iya, mengapa kau berbaris di belakang?"
Dengan senyuman mempesona, dia menjawab, "aku sudah tahu kau akan telat, tidak sempat sarapan, makanya aku sengaja berbaris di belakang agar bisa bersebelahan dan jika kau tiba-tiba pingsan, aku akan..."
"Rey... kau, kau jangan menakut-nakutiku. Kata-katamu membuatku merinding," peringatku.
"Oh tidak, sepertinya aku akan pingsan..." ucapku dengan mata memejam, sebelah tangan di dahi, dan sebelahnya lagi mengacung ke depan.
"Tenang saja Princess, aku akan menangkapmu," sahut Rey berlagak seperti seorang pangeran yang berlari dengan gagahnya.
Duk!
Sepasang tangan kokoh menangkapku yang terjatuh.
"Biarkan aku akan selalu ada di sisimu untuk menangkapmu ketika ingin terjatuh," ucapnya.
Hatiku terharu. "Oh... Pangeran Rey..." ucapku dengan ekspresi manja.
"Oh... Princess Luciana..." sahutnya dengan nada yang tak kalah berlebihan, "aku sendiri yang akan membopongmu ke klinik..."
Aku segera menggelengkan kepala membuyarkan khayalan tersebut. "Hiiii... menjijikan sekali..." kataku dengan kedua lengan memeluk diri sendiri.
__ADS_1
Ctak! Rey menyentil dahiku tanpa belas kasih hingga membuatku mengaduh.
"Apa yang sedang kau pikirkan? Tentu saja aku akan memanggilkan petugas medis untuk membawamu ke klinik Aknusbang," ucapnya, kemudian terkekeh.
Ah... benar juga. Tenaga medis punya tandu untuk mengangkatku, untuk apa aku berkhayal hal menjijikan seperti itu...
Aku hanya membalas ucapannya dengan cengiran sambil sebelah tangan memegang tengkuk.
"TES... TES..." intruksi dari pengeras suara, di depan sana terlihat seorang guru pembimbing senior tingkat 3 sebagai pembicara, "hari ini merupakan upacara pertama di bulan ini, yang juga merupakan hari pengumuman dan penyerahan hadiah untuk murid berprestasi dan berbakat. Tidak seperti sebelumnya, kali ini yang akan memimpin upacara adalah kepala sekolah langsung."
Seketika dari arah kerumunan murid begitu gaduh. Bisik-bisik mulai terdengar seperti sekawanan lebah, membuat telingaku sampai berdengung.
Dengan sebelah tangan menormalkan dengungan di telinga, aku bertanya kepada Rey, "Hei, Rey! Apa sebenarnya yang sedang diributkan?"
Laki-laki itu menepuk dahi, " Haihhh... benar kata Tiara, tingkat kepekaanmu sangatlah buruk. Mereka pasti sedang membicarakan Pak David Robert, kepala sekolah yang konon tidak pernah diketahui wujudnya seperti apa. Hanya ada desas-desus yang mendeskripsikannya, namun hingga sekarang belum ada yang pernah bertemu dengannya."
Aku menganggukkan kepala tanda paham. "Oh... begitu. Lalu, mengapa beliau ingin memimpin acara secara langsung?"
"Aku juga tidak tahu," sahut Rey dengan mengedikkan bahu.
"Paling hanya seorang yang tua, begitu heboh," ucapku meremehkan.
"Kau memang sangat menggemaskan," seru Rey sambil mencubit kedua pipiku tanpa ampun.
Dengan lembut, aku melepas cubitan Rey, dan berkata dengan lemah lembut, "Sakit sekali... lepaskan, Rey."
Dalam hatiku, Sialan sekali orang ini, benar-benar menyebalkan. Untung saja sekarang aku sedang menjadi 'gadis yang manis', kalau sekarang aku memerankan 'gadis yang jahat'... sudah pasti akan aku pukuli dia sampai mati, berani-beraninya menyentil dan mencubitiku.
"Baiklah, Princess..."
Princess, princess, mengapa sangat menjijikan mendengarnya memanggilku begitu, jadi mengingatkanku khayalan sebelumnya yang tak kalah menjijikan itu.
"Perhatian semuanya. Perkenalkan, Saya adalah kepala sekolah Akademi Nusa Bangsa, kalian pasti sudah mengetahui nama saya," suara dari pengeras suara dengan seorang laki-laki sebagai pembicara di sana, seketika para murid senyap, begitu pula diriku yang langsung mengalihkan pandangan ke arah podium, "saya yang akan memimpin upacara pada hari ini. Diharapkan para murid dapat bekerja sama menciptakan suasana yang kondusif."
Melihat kepala sekolah Akademi Nusa Bangsa membuatku bergumam, "Bagaimana mungkin? Tampan sekali..."
"Ehem... bukankah sebelumnya ada yang berkata kalau kepala sekolah adalah seorang yang tua?" ledek Rey dengan raut wajah tidak senang.
"Aku ralat... dimana Akademi Nusa Bangsa mendapat kepala sekolah seorang pemuda yang begitu tampan dan berwibawa, karisma dan pembawaannya yang begitu mempesona..." tuturku sambil menangkup kedua pipi yang terasa memanas.
Refleks aku tersentak ketika tiba-tiba sebuah telapak tangan menghalangi pandanganku. Emosiku sudah memuncak ingin mematahkan lehernya sekarang juga. Sabar, Luci... sabar... menjadi gadis yang manis, menjadi gadis yang manis... Persetan! Setelah ini aku akan memilih peran gadis yang bengis agar lebih mudah membalaskan dendam yang sudah bergejolak ini...
"Hahahahaha..." tawaku membuat Rey langsung menarik tangannya dari depan wajahku.
"Ke-kenapa kau tiba-tiba tertawa jahat seperti itu? Tubuhku tiba-tiba menjadi dingin..." kata Rey.
Aku menangkup telapak tangan kanan Rey dengan kedua tanganku, lalu memasang senyum semanis mungkin. "Oh, bukan kenapa-kenapa. Aku hanya sedang merasa senang, lebih baik kita mengikuti upacara dengan khidmat."
"Syukurlah kalau begitu..." kata Rey, dalam hatinya, entah hanya perasaanku saja, atau tadi aku merasakan hawa ingin membunuh saat Luci tertawa.
30 menit berlalu.
Akhirnya tiba di penghujung upacara, sebelumnya sudah diumumkan dan diserahkan hadiah untuk beberapa murid berprestasi dan berbakat di bulan ini.
"Itulah para murid yang berprestasi dan berbakat di bulan ini, silahkan kembali ke barisan masing-masing. Yang terakhir adalah pengumuman lima besar murid genius dengan prestasi dan bakatnya..." ucap kepala sekolah, "Di posisi kelima, Cechillia Anatashia mendapat penghargaan sebagai murid genius di peringkat lima, dianugerahi sebagai maskot Akademi Nusa Bangsa, berada di peringkat pertama dalam bakat kesenian, teater, tari, dan permodelan. Di posisi keempat, Deva Kasafanya mendapat penghargaan sebagai murid genius di peringkat keempat, peringkat pertama dalam bakat leadership dan merupakan ketua perserikatan murid Akademi Nusa Bangsa, dipilih menjadi delegasi Akademi Nusa Bangsa dengan sekolah terkemuka di dunia. Di posisi ketiga, Reyhan Linggasatya mendapat penghargaan sebagai murid genius di peringkat ketiga, baru-baru ini menorehkan prestasi di banyak bidang olahraga dan unggul dalam bisnis, serta diangkat menjadi ketua utama dalam keseluruhan bakat olahraga. Di posisi kedua, Tiara Granindra mendapat penghargaan sebagai murid genius di peringkat kedua, baru saja menciptakan obat organik untuk penyakit langka, dianugerahi sebagai ketua umum bakat meramu obat organik dan diberikan kepercayaan untuk memegang kunci duplikat dari rumah kaca tanaman obat. Dan... di posisi pertama, Luciana Lighter mendapat penghargaan sebagai murid genius di peringkat pertama, peraih IQ tertinggi di antara semua generasi Akademi Nusa Bangsa ber-skor 200, mampu menyelesaikan buku tugas bulan sebelumnya dengan nilai sempurna dan dalam jangka waktu kurang dari satu bulan, dan juga... sudah menyelesaikan buku tugas bulan ini dengan nilai sempurna hanya dalam waktu beberapa hari, dianugerahi kunci ruangan private perpustakaan khusus dengan segala fasilitas di dalamnya, juga dianugerahi mahkota tiara sebagai simbolis pemegang tahta yang mewakili murid genius dan berbakat Akademi Nusa Bangsa. Sekian pengumuman dari saya, terima kasih dan saya harap para murid ke depannya dapat lebih giat lagi dalam menuntut ilmu dan mengasah bakat kalian."
Guru pembimbing senior tingkat 3 mengambil alih setelah kepala sekolah selesai mengumumkan peringkat lima besar murid genius dan berbakat Akademi Nusa Bangsa dan menuruni podium. "Kepada kelima besar murid genius dan berbakat, harap menaiki podium dan menerima penghargaan dari Akademi Nusa Bangsa. Selamat..."
__ADS_1
To be continue...