
"Tuan Putri, jangan mengeluarkan kepala. Berbahaya."
Aku hanya mendengus sebal. Sementara kereta kuda kembali berjalan memasuki gerbang Kerajaan Maple Leaf. Sorak sorai rakyat terdengar bergembira menanti calon ratu mereka.
Huh, mereka senang karena apa? Mereka tidak tahu saja kalau si beku akan mengubah kerajaan seperti neraka, kataku dalam hati sembari memegangi dahi.
Tak lama, kereta kuda kembali berhenti. Firasatku mengatakan kalau sekarang pasti sudah tiba di tujuan.
Srekkk...
"Tuan Putri, silakan turun."
Hanna membuka pintu kereta kuda dan para prajurit menggelar karpet merah sepanjang jalanku.
Hohoho... jadi ini rasanya menjadi orang penting.
"Sepertinya aku akan sangat menikmati peran kali ini," gumamku pelan.
Hanna mengulurkan satu tangannya, berniat membantuku menuruni kereta kuda. Setelah turun, aku baru dapat menarik napas dalam, di kereta kuda sangat minim udara.
Aku mendongakkan kepala yang semula menunduk. Kemudian melihat tiga orang yang paling mencolok di kejauhan. Aku tebak, itu pasti raja dan ratu Kerajaan Maple Leaf, calon mertua pemilik tubuh ini. Dan...
"Ck, si beku kenapa terlihat lebih tampan dari aslinya," gerutuku pelan. Ini tentu saja fana, mengulang sejarah yang sudah terjadi, batinku.
"Mari, Tuan Putri." Hanna menuntunku ke arah ketiga orang itu, mengekori kedua orang tuaku yang sudah turun dari kereta kuda mereka.
"Salam sejahtera kepada Raja, Ratu, dan Putra Mahkota Kerajaan Maple Leaf," sapaku dengan membungkukkan badan.
"Berdirilah, Nak." Sebuah tangan terulur memegang bahuku agar berdiri tegap lagi. Ketika aku menoleh, ternyata ketampanannya tidak serta merta ada, Yang Mulia Raja begitu gagah, dan Yang Mulia Ratu begitu cantik mempesona. Lantas, dari mana sifat bekunya itu?
"Salam sejahtera kepada Raja, Ratu, dan Putri Mahkota Kerajaan Lighter," sapa Alfa yang juga membungkukkan badannya.
Aku bertanya-tanya, kedua orang tuanya bahkan terlihat ramah dan pengertian. Mengapa bisa melahirkan anak yang beku dan datar seperti itu? Mataku melirik ke arahnya yang bahkan tidak memandangku.
Apa dia pikir aku seperti angin lewat? Haisss... tabiat orang ini begitu buruk. Mari kita lihat! Aku akan mengajarkanmu caranya berlaku buruk dengan benar, hehehe... batinku, kemudian tersenyum penuh arti.
Yang Mulia Ratu membawaku duduk di salah satu singgasana yang sudah disiapkan. Posisinya, Putra Mahkota, Ratu Kerajaan Maple Leaf, Raja Kerajaan Maple Leaf, Raja Kerajaan Lighter, Ratu Kerajaan Lighter, dan aku.
__ADS_1
"Mulai hari ini, Kerajaan Maple Leaf dan Kerajaan Lighter akan bersatu dan bersamaan dengan itu... Mulai hari ini juga, Putra Mahkota dari Kerajaan Maple Leaf dan Putri Mahkota dari Kerajaan Lighter akan menikah di bawah berkah dewa. Sekaligus penobatan mereka menjadi Raja dan Ratu di masa depan," tutur Yang Mulia Raja.
Aku tersenyum bangga, menjadi Ratu memang membanggakan.
"Kemarilah, Nak." Tangan Ayahanda mengajakku dan menggiringku ke depan bersamaan dengan Yang Mulia Raja menggiring Putra Mahkota.
"Dengan ini, aku menyerahkan Putri Mahkota, penerus satu-satunya bagi Kerajaan Lighter kepada Kerajaan Maple Leaf sebagai Ratu masa depan atas bersatunya kedua kerajaan yang berjaya ini," ucap Ayahanda, kemudian tangan kananku ditautkan dengan tangan kiri Putra Mahkota. Kedua ayah itu pun mundur dan duduk kembali di singgasana mereka. Sementara aku dan Alfa tetap berdiri di hadapan pendeta. Kami mengucap sumpah pernikahan dan berjanji akan bahagia seumur hidup.
Tak terasa, mataku menitikkan air mata yang tak lepas dari pandangan Putra Mahkota yang kini memakaikan mahkota tiara yang sama dengan yang aku dapatkan ketika menjadi murid genius peringkat pertama dan menjadi simbol dari Akademi Nusa Bangsa waktu itu.
"Kau menangis?" tanyanya pelan hingga hanya kita berdua saja yang dapat mendengar.
"Menurutmu?" tanyaku seraya menyapu jejak-jejak air mata.
"Kau pasti terharu menikah denganku," ucapnya yang langsung mendapat cibiran dari hatiku, Hiii... percaya diri sekali orang ini.
"Aku hanya berpikir, betapa malangnya nasibku nanti," jawabku pelan, sangat pelan, dengan tatapan lurus memandangi para rakyat yang sudah bersorak ramai. Ya, aku teringat kemalangan pemilik tubuh ini ketika mendapat perlakuan yang tidak adil.
"Mengapa kau berpikir begitu? Apa menikah denganku membuatmu tidak puas?" tanyanya dengan raut wajah yang tidak kumengerti.
Apa? Kalian pikir aku akan meliriknya setelah itu? Tidak penasaran dengan responnya? Tidak, tidak, tidak. Bahkan paling-paling orang se-beku dia akan melempar tatapan tajam dan membunuh atau menatap seolah berkata 'Aku akan memberimu pelajaran, hahahahaha...'.
Membayangkan wajah Alfa dengan tawa jahatnya dan seolah ingin mencabik-cabik mangsa. Aku tidak dapat menahan rasa bergidik ngeri.
Baik aku maupun Alfa berlutut di hadapan para raja dan ratu. Kini waktunya acara penobatan yang dipimpin oleh Raja Kerajaan Maple Leaf dan Raja Kerajaan Lighter.
"Mulai hari ini, kalian akan menjadi raja dan ratu dua kerajaan yang berkedudukan di Kerajaan Maple Leaf. Aku dan Ratu akan pindah ke Castil bagian barat daerah ini yang dekat dengan Kerajaan Lighter. Kalian akan memimpin kerajaan seumur hidup berdua dan tak terpisahkan," kata Yang Mulia Raja.
"Aku serahkan bala tentara Kerajaan Lighter untuk kalian sebagai pemimpin dua kerajaan. Semoga berbahagia bersama, tidak peduli apapun halangannya," ucap Ayahanda.
Baiklah, mengapa aku seolah merasa akan hidup dan mati bersama si beku ini? Beruntung sekali si beku mendapat kepemimpinan dua kerajaan, batinku.
"Terima kasih para Ayahanda," ucapnya.
"Terima kasih para Ayahanda," ulangku.
Setelah itu, Yang Mulia Raja memerintahkan pembukaan pesta perayaan hingga tujuh hari tujuh malam bagi rakyat. Sementara bagi keluarga kerajaan sampai matahari tenggelam di hari ini.
__ADS_1
Pandangan mataku menyapu kerumunan yang kini tengah menikmati acara, sementara kami hanya duduk di singgasana sembari sesekali menyambut ucapan selamat dari delegasi negara atau kerajaan tetangga.
"Huihhh... melelahkan," gerutuku pelan sambil menduduki singgasana dengan kasar.
"Raut wajahmu seolah menikah dengan terpaksa," ucap suara bariton di sebelahku sekarang. Benar, hanya tinggal aku dan Alfa di sini, sedangkan para orang tua kami sudah kembali ke Barat.
"Becerminlah! Kau lebih parah," sahutku tak bersemangat.
"Aku kira rumor mengenai dirimu yang bodoh tidaklah benar," katanya dengan senyum. Senyum? Dia tersenyum? Alfa tersenyum? Meski sangat sedikit, tetapi aku belum buta.
"Ehem..." dehamku melancarkan tenggorokan yang tercekat, "Kau mengapa mau menikahi orang bodoh ini?" ujarku dengan raut wajah ketus.
"Untuk menjadi raja?" katanya yang seolah memintaku mengonfirmasinya.
"Ck, ck, ck. Kasihan sekali..." seruku sambil menggelengkan kepala pelan.
"Kau mengasihaniku? Sekarang aku adalah raja. Kau tidak takut?" tanyanya. Dalam hatiku, Mengapa orang ini jadi banyak bicara? Tidak sedingin sebelumnya.
"Kalau kau raja, maka aku ratunya. Mengapa takut? Kau akan membunuhku di hari pernikahan?" jengkelku. Tidak usah membuang waktu hingga mengabaikan 10 tahun lamanya, kau bunuh saja aku sekarang. Dengan begitu, aku dapat kembali ke dunia nyata, meskipun akan kehilangan memori dan akan melupakan Si Beku yang asli di sana.
Ah, iya! Kalung dari Alfa.
Tanganku meraba leher dan bernapas lega setelah mendapati yang dicari ternyata masih ada.
"Mengapa aku harus membunuhmu?" tanyanya yang membuatku melempar tatapan tidak percaya.
Aku membuang napas kasar. "Haihhh... dengar. Kau tidak mencintaiku, dipaksa menikahi gadis yang tidak dicintai pasti akan membuatmu membenci gadis itu. Lagi pula menikah tanpa dasar cinta akan membuat seseorang melakukan berbagai cara untuk mengenyahkan pasangannya. Ck, ck, ck, kasihannya aku..."
Lagi-lagi laki-laki itu tersenyum, semakin lama aku ketakutan melihatnya aneh begini.
Apa dia jadi gila karena menikahi perempuan se-cantik aku?
"Hm, sepertinya aku berubah pikiran."
Apa maksudnya? Pikiran apa yang diubah laki-laki ini? Aku semakin bergidik ngeri, jangan-jangan takdirku benar-benar lebih cepat berakhir.
To be continue...
__ADS_1