
Aku membalikkan badan dan... Bruk!
Siapa orang yang berani-beraninya menabrak gadis secantik aku?
Tampak seorang laki-laki muda yang tampan ketika aku mendongakkan kepala. Wajah dinginnya mengingatkanku pada peranku hari ini. Tidak mau kalah dingin, aku pun memasang ekspresi andalanku.
"Luciana Lighter, ya?" tanyanya dengan wajah datar itu.
"Benar. Maaf saya tersesat hingga kemari," sahutku tenang.
"Mungkin memang kau berjodoh dengan teh yang baru saja dibuatkan khusus untukku," ucapnya tanpa sedikitpun terlihat ada perubahan raut wajah, tetap datar dan dingin.
"Teh tersebut dibuatkan khusus untuk Anda. Mana mungkin saya berani meminumnya?" ujarku kemudian sedikit membungkukkan badan tanda hormat kini berniat meninggalkan tempat, "Maaf mengganggu, kalau begitu saya permisi."
Berani-beraninya dia menolak tawaranku, dalam hati pria itu.
"Tunggu..." ucapnya menghentikan langkahku, "Kau sudah berjalan jauh kemari, lebih baik berbincang dulu sebelum pergi."
*Penawarannya ramah, namun ekspresi dingin di wajah kepala sekolah ini tidak sedikitpun luntur. Aku tidak tertarik berbicara dengan orang sedingin ini, bisa-bisa aku membeku*, batinku.
"Maaf. Saya bukan orang yang sibuk, tetapi Anda tentu berbeda. Keberadaan saya di sini pastilah sangat mengganggu," tolakku ramah, namun dengan raut muka datar.
Siapa dia? Berani sekali menolak tawaranku dua kali, batin pria yang ternyata adalah kepala sekolah Akademi Nusa Bangsa.
Karena pria ini begitu muda baru berani aku menolaknya, mengingat dia adalah kepala sekolah Aknusbang, seruku dalam hati.
"Saya tidak sedang sibuk," ucapnya final dengan tatapan tajam.
"Baiklah."
Haihhh... tabiat orang ini begitu pemaksa, batinku.
Aku mengekorinya memasuki ruangan dengan dua daun pintu yang besar dan tinggi. Mataku tidak bisa tidak menjelajahi segala sudut ruangan megah ini, barang-barang di sini terlihat begitu antik. Akan tetapi, semuanya tetap bersih dan terjaga.
Aku serasa sedang berada di museum.
"Silahkan duduk," silanya ramah padaku, kemudian menuangkan teh ke dua buah cangkir.
Setidaknya raut mukanya tidak sedatar tadi, batinku lagi.
Cahaya di ruangan ini sangat minim. Aku bahkan lebih penasaran dan melangkahkan kaki menuju gorden daripada menggubris tawaran kepala sekolah.
Sret...
Sebenarnya ini tidak sopan, namun ketika aku menyibak gorden dan melihat seluruh Akademi Nusa Bangsa dari atas membuatku tanpa sadar membuka gorden lebih lebar lagi. Ruangan kepala sekolah terdapat di posisi setinggi ini, padahal tadi beliau menekan tombol nomor 2 di lift. Namun, siapa sangka bahwa lantai dua gedung ini setara dengan rooftop gedung perpustakaan yang merupakan gedung terbesar di Akademi Nusa Bangsa.
Seketika aku lupa diri.
"Kau menyukai pemandangannya?" interupsinya yang kubalas anggukan tanpa mengalihkan pandangan dari luar jendela.
"Kalau begitu kau boleh ke sini kapanpun kau ingin," ucapnya lagi.
Tiba-tiba ekspresiku tidak terkontrol karena begitu senang. "Benarkah?!"
"Iya."
Aku kembali menoleh ke luar jendela, mataku berbinar, dan tanpa kusadari membuat senyum pria di sampingku terukir, meskipun hampir tak kasat mata.
Brak!
"Tuan... Tuan... Pagi ini Luciana Lighter..." ujar orang yang baru saja memasuki ruangan dengan tergesa. Dia tidak melanjutkan ucapannya ketika manik matanya melihat ke arahku.
"Pagi menuju Siang, Pak Rudolf," sapaku dengan wajah dibuat sedingin es dan sedatar mungkin, kemudian mengalihkan tatapan ke kepala sekolah. "Mungkin ada hal penting yang ingin dibicarakan Pak Rudolf, saya permisi." Aku menganggukkan sedikit kepala, kemudian melenggang pergi ketika dibalas anggukan oleh kepala sekolah.
Ketika sampai di luar ruangan.
__ADS_1
"Hm... Pak Rudolf ingin membicarakan apa ya?" gumamku.
Dalam hati, Aku bukannya orang yang suka ikut campur, tetapi namaku disebut-sebut. Ada apa?
Di lain sisi.
"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu? Mengacau saja," ucap jengkel pria itu.
"Maaf, Tuan. Sejak seribu tahun yang lalu Tuan tidak pernah menerima tamu, saya jadi terbiasa langsung masuk tanpa mengetuk," sahut Rudolf ketakutan.
"Sudahlah, mood-ku sedang baik. Ada masalah apa?" kata pria itu melangkah menuju sofa, duduk santai, kemudian menyesap tehnya.
"Pagi ini Luciana Lighter mengacau di kelas sejarah senior tingkat 2," jelas Rudolf.
"Jika tutor sejarah tidak berkenan dengannya, pecat saja tutor itu," ujar pria yang kini membuka ponselnya melihat Aknusbang News Online.
"Tutor sejarah tidak marah sama sekali pada Luciana Lighter."
"Lalu?" tanya pria itu sambil mengklik sebuah berita tentang wawancara eksklusif dua hari mendatang.
"Beliau malah memperbolehkan Luciana Lighter mengikuti kelasnya kapan saja jika ia ingin."
Sudah aku duga kalau kali ini akan berbeda daripada setiap seratus tahun sebelumnya, ucap dalam hati pria yang sekarang sedang menatap foto Luciana Lighter dari promosi wawancara eksklusif Aknusbang News.
***
Tuk...
Sebuah kerikil kutendang hingga menghantam sepatu seseorang.
"Bosan?"
Aku menatap ke arah orang itu.
"Iya," jawabku singkat.
"Boleh."
Kami berjalan beriringan.
"Princess Luciana!!" pekik Rey.
Aku terkejut dengan anggun. Kemudian mengelus dada menetralkan jantung.
"Kau ingin membunuhnya? Lihat! Luciana terkejut hingga membisu," ucap Tiara memukul punggung Rey.
*Ayolah Tiara... Aku sedang berperan, bukannya sengaja terkejut hingga membisu*, ujarku dalam hati.
"Maaf, maaf, maaf, Princess. Aku bukan sengaja," panik Rey.
"Kau baik-baik saja?" tanya lembut orang yang tadi mengajakku ke perpustakaan.
"Dev!" pekik Rey dengan tatapan membunuh.
"Ayo, Luciana!" ajak Dev menarik tanganku. Iya, Dev-lah yang mengajakku ke perpustakaan. Tanpa menghiraukan peringatan Rey, Dev kini menarik tanganku lagi agar cepat ke perpustakaan dengannya.
Baru dua langkah, tanganku yang satu lagi di tarik oleh orang yang ketika aku menoleh ternyata adalah Rey. Jadilah kejadian tarik menarik seolah aku adalah tali dalam permainan tarik tambang.
"Hei, kalian berdua. Hentikan!" Tiara mengurai keduanya agar melepas tanganku.
"Kau jangan coba-coba menggoda Princess Luciana di hadapanku, Dev," seru Rey geram.
"Kalau begitu akan aku lakukan jika tidak ada kau," sahut santai Dev.
"Kau!" bentak Rey dengan telunjuk menunjuk ke depan wajah Dev.
__ADS_1
"Aku akan ke ruang private perpustakaan. Kalian mau ikut?" tanyaku kepada ketiganya. Kemudian aku berjalan duluan bersama Tiara, berniat ke perpustakaan tanpa peduli mereka mau ikut atau tidak.
Aku hanya dapat diam dan memasang wajah datar melihat kalian ribut sekali...
"Tiara, mengapa kau bisa bersama dengan Rey?" tanyaku masih dengan wajah datar untuk hari ini, juga aku heran mengapa Tiara ke mari bersama dengan laki-laki Playboy seperti Rey.
Buru-buru Rey menyerobot Tiara yang ingin menyahut. "Tidak, tidak, Princess. Kau jangan salah paham, di hatiku hanya ada dirimu seorang."
Dev memutar bola mata malas, sementara Tiara meluruskan jawaban Rey. "Oh, itu. Rey menawarkanku sebuah kontrak kerja sama dengan perusahaan keluarganya, menciptakan sebuah kosmetik herbal. Katanya, dia akan membayarku mahal."
"Benarkah?" tanyaku kepada Rey, "Sebaiknya begitu, karena jika kau berani menggunakan sahabatku hanya untuk menguntungkanmu saja... maka, kekkkkk." Ini kedua kalinya aku mengancam Rey dengan membentuk garis horizontal di leherku sebagai tanda potong leher.
"Tentu, Princess. Aku tidak akan berbohong," sahut Rey bangga.
Aku tak menggubris ucapannya dan justru melenggang pergi masih dengan wajah datar andalanku.
Pada akhirnya kami berempat sudah menginjakkan kaki di halaman perpustakaan Akademi Nusa Bangsa.
Kami pun memasuki lobi perpustakaan dan melihat pemuda penjaga perpustakaan yang selalu berjaga di sana. Terkadang dia berjaga ditemani oleh Pak Rudolf, hanya saja sepertinya beliau begitu sibuk mengurus hal lain.
"Rafian, aku ingin ke ruangan private perpustakaan khusus," kataku pada pemuda penjaga perpustakaan, Rafian Angger. Ia adalah murid senior tingkah 3 Akademi Nusa Bangsa, seorang ahli perpustakaan atau biasa kita sebut pustakawan.
"Baik, Luciana Lighter. Lalu... untuk kalian bertiga, apa yang dapat aku bantu?" tanya Rafian pada Tiara, Rey, dan Dev.
"Tentu saja kami ingin ikut melihat ruangan itu, Luci yang mengajak kami," ucap Tiara diikuti anggukan Rey dan Dev.
"Oke, kalau begitu aku akan segera menelpon Pak Rudolf," kata Rafian.
"Biar aku saja," ujar singkatku, kemudian mengeluarkan ponsel dari saku rok oranye sebelah kananku.
Aku memasukkan sederet angka yang diberikan Rafian dan melakukan panggilan telepon. Sebenarnya tujuanku menggantikan Rafian menelpon Pak Rudolf sebab ada hal yang ingin aku tanyakan soal kejadian tadi, makanya aku membutuhkan nomor ini.
***
Kringgg... kringgg... kringgg...
"Rudolf, matikan! Ponsel itu menggangguku," ucap kepala sekolah. Pria itu mengeluarkan ponsel dari saku celana dan menghentikan permainan caturnya dengan kepala sekolah.
"Tuan, ini dari Nona Luciana Lighter," sahutnya.
"Kalau begitu angkat," ucap santai kepala sekolah.
"Tetapi, bukannya Tuan sangat tidak senang jika permainan caturnya diganggu. Mengapa..." ucapnya lagi, namun terhenti ketika kepala sekolah menatapnya nyalang.
Tanpa berbicara lagi, pria itu segera menjawab telepon sebelum panggilan berakhir.
"Halo, Nona Luciana Lighter..." sapanya.
"Pak Rudolf, aku ingin ke ruangan private perpustakaan khusus," sahutku dari seberang telepon.
"Baiklah, Nona. Tunggu sebentar, aku akan segera ke sana," ucap pria itu mengiyakan.
"Baiklah, terima kasih, Pak Rudolf," kataku.
"Iya, Nona."
Sambungan telepon diputus.
"Tuan, Nona memintaku memperlihatkan ruangan private perpustakaan khusus," katanya kepada kepala sekolah.
"Baiklah dan tolong bantu aku memberikan sesuatu padanya." Kepala sekolah memberikan sebuah kotak yang diambil dari laci meja kerjanya.
To be continue...
"Berikan aku vote, like, dan cinta kalian," ucap Luciana Lighter disertai kerlingan sebelah mata andalannya.
__ADS_1
See you soon.