Maple Leaf Kingdom

Maple Leaf Kingdom
Page 18


__ADS_3

Dev? Mengapa dia melempar tatapan begitu?


Tunggu... tatapan itu bukan untukku 'kan? Aku duduk lebih mundur agar tubuh Alfa tidak terhalangi olehku, barang kali tatapan itu ditujukan untuk Rajanya.


Aneh... meski aku sudah mundur dan maju, tatapannya tidak lepas dariku, batinku.


"Ratu... Ada yang ingin kau sampaikan kepada mereka?" tanya Alfa membuatku menoleh ke arahnya dengan kikuk. Melihatku begitu aneh, membuatnya menempelkan telapak tangan ke dahiku. "Apa kau sedang tidak enak badan?"


"Tidak, tidak. Aku baik-baik saja." Aku melepas tangan Alfa dari dahi.


"Semalam kau tidur terlalu larut dan membaca beberapa buku sekaligus. Pasti kau lelah, aku akan mengantarmu ke kamar."


Aku mengangguk patuh, di sini pun tidak begitu nyaman. Mereka menatapku seolah tidak dapat menerima kehadiran Ratu dari luar. Tetapi... tatapan macam apa yang barusan diberikan Dev kepadaku?


"Pertemuan hari ini aku tutup. Silakan kalian melakukan tugas masing-masing," ujar Alfa menutup pertemuan dan menggapai satu tanganku agar memegang lengannya. Seketika aku teringat kembali peranku hari ini, menjadi Ratu yang cantik, anggun, dan bijaksana.


Dengan pesona luar biasa, aku berjalan anggun. Tidak terlalu mengecewakan Alfa memiliki Ratu sepertiku yang cantik juga pandai. Berkat tes IQ Akademi Nusa Bangsa, aku jadi mengetahui bahwa otakku ini bukan otak biasa, meski kelemahan dalam hal kepekaan sangat mengkhawatirkan.


"Mengapa kau jadi berubah menjadi lebih anggun seperti ini?" tanya Alfa tiba-tiba membuatku tersentak kaget. Setelah menjauhi keramaian dan kini menaiki tangga menuju kamar.


Mengapa dia lebih terang-terangan sekali? Mana mungkin aku berkata sedang memainkan peran. Haisss... si beku ini... lamunku.


"Hei..." Telunjuknya menoyor pelan dahiku, hingga lamunan pun buyar.


Dengan sangat cantik, aku berkata seraya tersenyum, "Bukankah biasanya juga cantik dan anggun?"


"Hahaha... oke, terserah saja."


Wah... dunia terbalik? seorang Alfa Bellezza Dell'arcobaleno yang sedingin es bisa tertawa?


Seingatku, menurut Alfa di dunia nyata dan buku sejarah Kerajaan Maple Leaf, Alfa Bellezza Dell'arcobaleno begitu dingin dan tak pernah sekalipun tersenyum, bahkan bengis dan tidak pernah mengampuni siapa saja yang menyinggungnya.


"Baiklah, sampai di sini saja. Kau bisa kembali mengurus urusan kerajaan," ucapku ketika sampai di depan pintu kamar.

__ADS_1


"Oke, kau istirahatlah baik-baik," ucap Alfa sembari satu tangan mengelus rambut hitamku.


Alfa kembali ke ruangan kerjanya. Dan juga, beberapa hari ini, mengapa aku tidak melihat Rudolf? Bagaimana keadaannya setelah hukuman? Dalam hatiku merasa bersalah karena mungkin bisa saja saat itu akulah yang akan dihukum, namun cerita di dalam buku sejarahnya jika dibandingkan dengan sekarang ini sangat berbeda sekali.


Contohnya, ketika seharusnya Putri Luciana Lighter bahkan tidak pernah dipandang sama sekali oleh Raja. Mengapa aku justru mendapat banyak perhatian darinya? Dan lagi, bukankah setelah acara pernikahan, Putri Luciana Lighter akan mendapat pengasingan hingga 10 tahun lamanya? Kamar saja aku tidak punya, jadi harus tidur di kamar Alfa. Aku sudah meminta diasingkan pun malah ditolak mentah-mentah. Ini aneh, tidak adakah petunjuk?


Berpikir Luciana, berpikir... Apa? Apa?


Oke, kini aku mulai gila karena berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar.


"Yang Mulia Ratu..." panggil seseorang membuatku yang sedang gelisah jadi terkejut karena panggilannya. Saat menoleh, seorang pelayan perempuan berdiri seraya memilin ujung baju yang sedang dia kenakan.


"Iya, ada apa?" sahutku lembut dan ramah. Kembali ke peran.


"A-aku ingin meminta tolong," ucap pelayan itu tergagap.


Aku menautkan kedua alis bingung. "Minta tolong? Apa yang bisa aku lakukan untukmu?"


"Yang Mulia Ratu... Akankah Anda bersedia menolong saya?" tanyanya dengan mata berbinar dan suara bergetar.


Pelayan itu tampak bersusah payah menelan ludah, bersiap untuk berbicara.


"A-anakku masih berusia 8 tahun, suka sembarangan berlari dan bodoh. Dia menabrak Yang Mulia Raja pagi ini ketika beliau ingin menghadiri pertemuan para menteri. Membuat jubah Yang Mulia Raja kotor dan beliau marah besar hingga akhirnya anakku akan dijatuhi potong kaki," jelas pelayan itu dengan raut wajah sedih dan putus asa.


Oh, ya ampun. Luciana... nyawamu juga masih belum aman. Bagaimana caramu menolong anak itu? Sudahlah, abaikan saja demi kelangsungan hidupmu sendiri. Tidak, tidak, tidak, bagaimana bisa seorang anak kecil menerima hukuman potong kaki hanya karena menabraknya? Si Beku yang kejam... Luciana, kau mungkin akan mendapat hukuman potong leher jika membantunya.


Perdebatan batin lagi. Aku bingung harus bagaimana jika seperti ini keadaannya.


"Yang Mulia Ratu..." tangis pelayan itu seraya berlutut di hadapanku. "Kau adalah satu-satunya kesayangan Raja, mungkin nasib anakku bisa selamat jika kau menolongnya. Aku mohon..."


Hei! Aku pun sedang bertaruh nyawa di sini. Tetapi...


"Baiklah," ucapku seraya menghela napas. Paling tidak, aku masih bisa hidup sekali lagi di dunia nyata jika mati di sini.

__ADS_1


Pelayan itu menuntunku ke tempat hukuman dilakukan. Hingga sampai di lapangan Kerajaan Maple Leaf tampak sudah banyak orang jika dilihat dari kejauhan. Para prajurit dan juga Rudolf sudah di sana, bahkan ada beberapa pelayan yang ikut menonton. Menonton? Apa mereka tidak punya belas kasih?


Tiba-tiba seorang prajurit mengacungkan sebuah cambuk, bersiap melakukan eksekusi. Sepanjang jalan menuju ke sini banyak yang berdesas-desus bahwa hukuman potong kaki diganti menjadi hukuman cambuk 20 kali. Ternyata benar.


Bukankah itu sama saja membunuh? Alfa... mengapa kau begitu kejam?


Aku berlari, karena jika berjalan tidak akan sempat menghentikan hukuman itu.


Plak!


Satu cambukan sudah dilemparkan membuat semua yang melihat terkejut ketika cambukan itu bukan mengenai tubuh anak laki-laki yang tengah meringkuk, melainkan terkena ke tubuh Ratu mereka yang menghalangi seraya memeluk tubuh anak itu yang kini sudah bergemetar hebat.


"Yang Mulia Ratu... kau harus menyingkir. Jika tidak, Raja akan marah besar, dan kita semua yang ada di sini tidak akan ada yang selamat," ucap Rudolf memperingati. Dari yang aku baca di buku dan dengar dari Alfa yang sebenarnya, Raja Alfa Belleza Dell'arcobaleno memiliki ilmu pedang yang sangat handal, bahkan Rudolf saja yang menjadi orang kepercayaannya dan kesatria terkuat kerajaan tidak dapat mengalahkannya.


Aku menahan sakit. Satu cambukan saja sudah begini sakit di tubuhku. Bagaimana jika terkena anak ini? Oh, ya ampun Alfa... dosamu begitu banyak jika begini sifatmu.


Aku tidak berkutik, masih memeluk anak itu. Darah segar terasa mengalir di punggungku yang terkena cambuk. Satu prajurit diperintahkan Rudolf untuk menghadap Raja.


Bagaimana ini? Tubuhku bergetar hebat, tadi pagi hanya makan beberapa lembar roti. Kau harus tahan Luciana... kau harus kuat... nyawa anak ini berada di tanganmu...


"Lanjutkanlah! Aku akan menggantikannya menerima hukuman," seruku lantang.


"Lanjutkan!" perintah Rudolf dengan wajah tak terbantah. Dia masih merasa kesal mendapat hukuman dari Raja Alfa hanya karena menegur Ratunya yang jelas-jelas sudah berbuat salah.


Pertama kalinya, para pelayan melihat seorang Ratu berkorban untuk orang rendah seperti mereka. Air mata menangisi setiap cambukan yang mendarat. Bukan, bukan berasal dari Luciana yang kini meringis menahan sakit. Melainkan dari para pelayan yang menyaksikannya.


Cambukan kedua sudah mendarat. Aku mengokohkan kaki agar tetap kuat berjongkok memeluk erat tubuh anak itu. Cambukan ketiga membuat jubah dan baju yang dikenakan sobek hingga terlihat luka dan darah segar semakin deras mengalir dari banyak bekas luka. Haihhh... sakitnya...


Cambukan keempat sudah membuat pendengaranku mengabur, bahkan tubuh sudah sempoyongan. Kuatlah, Luciana...


"BERHENTI!!" teriak Alfa terdengar samar di telingaku, dia menghentikan cambukan kelima yang sudah siap diacungkan. Entah apa yang terjadi setelahnya, aku bahkan sudah tidak bertenaga untuk membuka mata.


Apa aku mati?

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2