
Wusss...
Angin bertiup kencang. Bahkan sanggup membuka jendela yang tertutup, membuat sepasang gorden merah menari-nari. Aku membuka mata mendapati diriku yang tengah terbaring. Mengedarkan pandangan yang sungguh asing, berbeda dengan ruangan yang sebelumnya.
"Hm? Aku dimana?" gumamku menyesuaikan diri dengan sekitar, masih berposisi terbaring di kasur yang empuk.
Kemudian satu tanganku memijat pelipis, menerawang kejadian terakhir, dan jatuh pada bayangan laki-laki itu. "Alfa... kau harus jatuh hati kali ini."
Kriettt...
"Tuan Putri, cepat bangun! Sebentar lagi matahari akan terbit, tentu saja kita tidak ingin melewatkan hari terpenting dalam hidupmu, bukan?" ucap seorang gadis yang aku yakini adalah pelayan pribadiku. Ingatanku dan pemilik tubuh ini menjadi satu, sangat mudah menyesuaikan diri kalau seperti ini.
Aku mengulas senyum tercantik sembari dalam hati berkata, Kali ini peranku adalah menjadi Putri Luciana Lighter, sekaligus calon Ratu Kerajaan Maple Leaf, dan seorang gadis yang akan menyentuh hati si beku Alfa. Sangat aneh menyebut namaku sendiri dengan embel-embel 'Putri'.
"Tuan Putri..." panggil pelayan itu lagi sambil menggoncangkan tubuhku. Sebelumnya aku berpura-pura tertidur agar menyempurnakan acting-ku sekarang.
"Woahhh... iya, Hanna. Aku akan segera bangun," ucapku disertai menguap palsu.
"Cepatlah, Putri... sebelumnya, kau yang sangat bersemangat dengan pernikahan ini. Namun mengapa begitu tenang sekarang, hingga terlambat bangun," gerutu gadis tadi, dari ingatan yang aku dapatkan namanya adalah Hanna.
Aku beranjak bangun dari tempat tidur dan melakukan sedikit peregangan tubuh. "Aku terlambat bangun juga bukan karena tenang, Hanna. Semalam sangat sulit bagiku untuk tidur, sampai-sampai terlambat bangun."
"Ah! Hanna mengerti, Tuan Putri pasti gugup."
Aku mengangguk dengan senyum yang tak luntur. Mengapa aku tersenyum? Bukan, bukan. Aku bukannya bahagia ingin menikah, melainkan bayangan menjadi seorang putri pastilah sangat menyenangkan.
"Mari Tuan Putri, Hanna akan membantu Tuan Putri bersiap-siap untuk pergi ke Kerajaan Maple Leaf," tutur Hanna dengan senyum manisnya. Ya, pelayanku ini begitu manis.
Setelah dua kali membalik jam pasir di meja...
Haihhh... siapa yang menyangka, bersiap-siap menikah membutuhkan waktu yang lama. Satu kali membalik jam pasir, berarti sudah lewat satu jam, kini sudah dua kali membaliknya yang berarti dua jam penuh waktuku terbuang hanya untuk persiapan menikah dengan si beku.
Aku bosan. Katanya pernikahan adalah hal membahagiakan sekali seumur hidup, namun jika dingat-ingat perkataan Alfa, katanya aku akan menjadi pengantin wanitanya juga di masa depan. Menikah dua kali dengan orang yang sama mungkin aku termasuk yang beruntung mendapati hal langka ini. Meskipun sikapnya dingin dan tak tersentuh, namun Alfa begitu tampan.
"Pepatah mengatakan, Don't judge the book by the cover. Tetap saja mata dulu yang melihat, baru dapat dirasakan jika sudah mendekat, hehehe..." gumamku yang ternyata tertangkap indera pendengaran Hanna.
"Tuan Putri mengatakan apa? Hanna tidak mengerti," seru Hanna masih merias wajahku.
__ADS_1
"Oh tidak, Hanna. Aku sedang asal bicara untuk menghilangkan rasa gugupku."
"Sudah siap, Tuan Putri. Silakan becermin," ucap Hanna menuntunku menuju kaca besar yang dapat memuat pantulan diriku dari atas sampai bawah.
Sebuah gaun putih yang terbuka di bagian leher dan bahunya khas kostum mempelai wanita dalam pernikahan, dipadupadankan dengan sepatu kaca layaknya Cinderella, dan sarung tangan transparan dari tile sutra. Namun...
"Hanna... apakah orang yang ingin menikah, gaya rambutnya hanya sesederhana ini? Dan juga... riasan wajah ini begitu berlebihan hingga aura kecantikanku tertutupi," ujarku membuat Hanna tiba-tiba berlutut dan menundukkan kepala.
"Maafkan Hanna, Tuan Putri. Jika membuat Tuan Putri merasa tidak puas, Hanna akan mengubahnya lagi," serunya dengan nada penuh penyesalan.
Aku memutar bola mata dengan malas. Hufff... seorang pelayan zaman dulu memang begitu setia.
"Baiklah, Hanna. Aku ada ide, kau bantu aku saja melepaskan hiasan-hiasan rambut ini," ucapku.
"Baik, Tuan Putri." Meskipun ekspresi wajahnya kelihatan bingung, namun tetap dilakukan juga perintahku.
Dengan cekatan, tanganku mulai mengepang rambutku sendiri, kemudian mencepolnya.
"Tuan Putri, dari mana kau belajar menata rambut? Bahkan Hanna tidak dapat membuat yang seperti itu," kagum gadis itu.
"Ini, Tuan Putri," ujar Hanna menyerahkan yang kumau.
"Sekarang bantu aku membersihkan wajah," perintahku yang langsung dilakukan oleh Hanna.
"Baik, Tuan Putri."
Ketika Hanna membersihkan wajahku, aku menjawab pertanyaan yang belum sempat dijawab tadi. "Aku bisa melakukannya karena pernah melihatnya di buku yang aku baca."
"Oh... seperti itu. Tuan Putri begitu hebat, suka membaca buku diam-diam tanpa sepengetahuan Hanna."
"Apa kau sebelumnya tidak pernah melihatku membaca buku?"
"Tidak pernah. Setau Hanna, Tuan Putri hanya membaca satu buku, yaitu sejarah Kerajaan Lighter. Itu juga buku yang seharusnya seorang anak kecil di sini pun sudah mampu selesai membacanya," jawab Hanna.
"Ah, aku sengaja diam-diam membaca agar orang lain tidak menganggapku sombong," ucapku asal, namun Hanna percaya dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Setahuku, dari memori Putri Luciana Lighter ini, meskipun hanya membaca satu buku, namun dia mendalaminya hingga mampu membuka sihir penghenti waktu yang merupakan sihir turun-temurun Kerajaan Lighter.
__ADS_1
Orang-orang hanya menganggap sihir tersebut sebagai legenda, namun siapa sangka, putri ini begitu berbakat.
"Selesai," ucapku ketika selesai merias wajah sendiri. Dengan riasan tipis dan natural membuat wajahku terlihat lebih segar.
"Wahhh... Tuan Putri memang berbakat. Hanna sampai terkagum melihat Tuan Putri semakin cantik dengan riasan tipis itu."
"Kau terlalu memuji, Hanna," ucapku pura-pura tersipu malu, padahal dalam hati, Kecantikanku sudah dari lahir membuat orang lain terpesona, lagipula merias wajah seperti ini adalah hal dasar bagi wanita di zamanku.
"Baiklah, Tuan Putri. Ayo kita turun dan menemui Yang Mulia Raja dan Ratu," ajak Hanna. Aku mengangguk.
Dari atas aku melihat orang-orang Kerajaan Lighter sudah berkumpul, baik dari kalangan kerajaan, bangsawan, kesatria, dan bahkan rakyat jelata.
Semuanya ingin mengantar Putri Luciana Lighter yang akan menikah, batinku.
Aku sedikit gugup mendapati tatapan semua orang tertuju padaku, entah tatapan kagum atau tatapan tak percaya. Ya, aku memang cantik, tidak perlu se-kaget itu.
Aku menuruni tangga dengan Hanna yang membantu memegang satu tanganku. Kemudian gadis itu menggiringku ke hadapan sepasang insan yang terlihat tidak muda lagi. Mereka duduk di singgasana Kerajaan Lighter sebagai raja dan ratu, juga sebagai orang tuaku sekarang.
Aku melepas pegangan Hanna, lalu membungkukkan badan hormat.
"Salam sejahtera kepada Ayahanda dan Ibunda." Begitulah sapaan yang kuingat dari memori Putri Luciana Lighter.
"Berdirilah anakku!" sila Ayahanda.
"Lihat putri kita begitu cantik sekarang. Apa kau masih putriku?" ucap Ibunda seraya bangkit dari duduknya dan mencubit pipiku gemas.
"Ibunda... nanti riasan wajahku rusak," ucapku membuatnya terkekeh dan aku ikut terkekeh juga disertai semua yang melihat.
"Ayolah, anakku ini sudah dewasa sekarang. Kita tidak boleh membiarkan Yang Mulia Putra Mahkota menunggu lebih lama lagi," tutur Ayahanda.
Putra Mahkota? Oh... si beku itu belum dinobatkan kalau tidak menikah denganku. Dasar tidak tahu diri... menjadi raja saja berkat putri ini, tetapi malah mengabaikannya selama 10 tahun. Kejam, sungguh kejam, ucapku dalam hati.
Setelah lama perjalanan, akhirnya kereta kuda berhenti. Aku melongokkan kepalaku keluar dan membulatkan mata tak percaya.
"Kalau begini, aku tidak perlu bersusah payah mengkhayalkan isi buku itu, karena sekarang... AKU SUDAH BERADA DI DEPAN GERBANG KERAJAAN MAPLE LEAF!!" gumamku sedikit kencang hingga Hanna yang berada di luar kereta kuda menengok ke arahku dan mengulurkan tangannya, mendorong kepalaku agar masuk kembali ke kereta kuda.
To be continue...
__ADS_1