
Apa aku mati?
Aku dimana?
Press... tes, tes...
Suara perasan kain yang basah. Kain itu menyentuh kulit punggung. Dingin dan sakit terasa bersamaan. Sakit sekali...
Beberapa hari setelahnya.
Cit... cit... cit... tuk, tuk...
Beberapa ekor burung berkicau di luar jendela, mengetuk kaca jendela dengan paruh mereka.
Aku mengerjapkan mata, mencoba mengenali tempatku berada sekarang. Seharusnya aku sudah mati dan kembali ke Akademi Nusa Bangsa. Akan tetapi...
"Kau sudah sadar?"
Apa-apaan ini? Aku lebih baik mati daripada bertemu dengannya lagi... geramku dalam hati.
Ketika Alfa mendekat, aku lantas membalikkan badan agar membelakanginya. Namun, nyeri tiba-tiba menyerang punggungku. Sakit sekali...
"Ishhh..." ringisku menahan sakit.
"Pelayan!!" teriak Alfa memanggil pelayan dengan garangnya. Seperkian detik langsung muncul seorang pelayan yang berlari terengah-engah. "Panggilkan dokter kerajaan! Cepat!"
"Baik, Yang Mulia Raja."
"Apa masih begitu sakit?" tanyanya dengan nada khawatir. Aku tidak mau tahu ekspresi mukanya sekarang seperti apa, yang jelas tidak ingin rasanya membalas ucapan manusia sekeji dia. Aku mau pulang...
"Apa kau begitu marah padaku?"
Aku masih diam, tidak menggubris ucapan Alfa. Mengapa ada laki-laki sekeji dia di dunia ini?
"Rudolf!!" teriaknya lagi, kini memanggil orang kepercayaannya.
"Salam Sejahtera kepada Yang Mulia Raja dan Ratu..." sapanya seraya membungkuk hormat.
Alfa tidak menanggapi sapaannya dan justru melontarkan pertanyaan untukku. "Kau ingin aku menghukumnya seperti apa? Bagaimana? Aku sudah memberikannya hukuman berserta semua prajurit yang mengeksekusi, 5 kali lipat rasa sakit yang kau rasakan, yaitu 20 kali cambukan. Kau ingin mereka menerima 20 cambukan lagi?"
Aku diam.
Tok... Tok... Tok...
"Salam Sejahtera kepada Yang Mulia Raja dan Ratu." Suaranya menginterupsi membuatku memaksakan diri untuk bangkit mendudukkan diri.
"Biar aku periksa, Yang Mulia Ratu," katanya duduk di sisi ranjang dekat denganku.
Aku memeluk tubuh Tiara yang kini terkejut atas perlakuan yang dia dapatkan. Aku baru bisa menangis dan tidak ingin sama sekali menghiraukan yang lainnya. Paling tidak, masih ada Tiara meski bukan yang sesungguhnya. Aku menangis sejadi-jadinya hingga sesekali sesegukan menyela.
Entah apa yang dipikirkan Alfa sekarang. Aku terlalu sedih, menjadi seorang Ratu pun tidak sepenuhnya senang. Hidup macam apa ini?
"Rudolf... ambil hukuman cambuk 20 kali lagi," titah Alfa membuatku sontak mendongak melihat ke arahnya. Wajah datar dan dingin itu, sama seperti yang ada di buku.
"Baik, Yang Mulia Raja," jawab patuh Rudolf.
"Ja..ngan..." ucapku parau dan pelan, masih memeluk tubuh Tiara, dan berlinang air mata.
"Kau begitu kesakitan, makanya sampai menangis seperti itu. Biarkan dia menerima hukumannya karena sudah mencambukmu," ucap Alfa tidak mengubah ekspresi di wajahnya, sementara Rudolf menunggu kepastian nasibnya.
"Kau masih tidak pergi juga, Rudolf!" bentak Alfa.
"Baik, Yang Mulia Raja." Rudolf pasrah pada ajalnya kali ini, dengan susah payah menahan sakit 20 cambukan sebelumnya, dan 20 cambukan lagi akan membunuhnya. Pria itu berjalan pergi.
"Tunggu! Aku gantikan, jika kau masih ingin menghukumnya!" pekikku tidak tega.
Langkah Rudolf terhenti, matanya membelaklak terkejut. Ratu yang mendapat cambukan atas perintahnya justru tanpa ragu ingin menggantikan dirinya menerima hukuman.
"Kau kejam sekali, Alfa... hiks, hiks..." Mengapa aku menangis lagi? Harusnya tidak se-drama ini, namun perasaan tubuh Putri Luciana Lighter ini begitu lembut. Aku tidak dapat mengontrol rasa sedih yang berlebihan sekarang.
"Baiklah, aku akan memaafkannya. Tetapi, kau juga harus memaafkanku," ucap lembut Alfa seraya mengelus puncak kepalaku.
Aku mengangguk patuh di pelukan Tiara, hatiku sekarang begitu lembut. Padahal aku masih ingin marah padanya dan memasaknya hidup-hidup agar sikap beku itu mencair. Haisss... ya sudahlah.
__ADS_1
Rudolf berlutut seraya berkata, "Maafkan aku, Yang Mulia Ratu. Mulai sekarang Rudolf akan mematuhi semua perintah Ratu dan setia, tidak akan membiarkan Ratu terluka barang sedikitpun," janji setia Rudolf membuatku tersentuh.
Hohoho... ternyata membuat orang begitu patuh padaku sangatlah menyenangkan. Sebelumnya siapa yang seolah ingin sekali membunuhku?
Ah, iya. Anak itu apa kabar? Jika dia mati, maka usahaku akan sia-sia.
"Bagaimana dengan anak pelayan itu?" tanyaku dengan suara serak sebagai akibat dari menangis.
"Sudah kuampuni, dia baik-baik saja," sahut Alfa.
Syukurlah...
"Yang Mulia Ratu, biarkan aku memeriksa lukamu dulu," tawar Tiara membuatku mengangguk mengiyakan.
"Keluarlah kalian," perintahku.
"Keluarlah, Rudolf!" titah Alfa.
"Baik, Yang Mulia Raja."
"Kau juga," intruksiku menatap ke arah pria itu. Setelahnya melihat Alfa menghela napas kasar.
"Baiklah."
Aku tersenyum penuh kemenangan. Bagus, singa yang mematikan, kini sudah menjadi kucing penurut, banggaku dalam hati.
Kedua pria itu keluar kamar dan menutup pintu. Menyisakanku berdua dengan Tiara yang dengan gugup membuka resleting belakang bajuku. Menampakkan luka yang kembali mengeluarkan darah.
"Yang Mulia Ratu, apakah sakit?" tanyanya ketika mengoleskan obat herbal.
"Iya," jawabku singkat sembari menahan ringisan.
"Boleh aku bertanya beberapa hal?" tanyanya lagi.
"Katakan."
"Anda sudah dua kali memeluk saya. Sejujurnya saya tidak mengerti, mengapa Anda begitu akrab?"
"Di awal aku sudah menganggapmu teman. Bukankah sesama teman harus berbagi suka dan duka?" ucapku membuatnya mengangguk mengerti.
"Aku mengerti. Lalu, pertanyaan kali ini mengenai Yang Mulia Raja."
"Silakan," silaku padanya yang masih mengoleskan obat.
"Selama aku mengabdi di Kerajaan Maple Leaf, tidak pernah Yang Mulia Raja mengampuni seseorang. Mengapa..."
"Kau bisa bertanya langsung kepadanya kalau perihal itu. Aku juga tidak mengerti," potongku sudah tahu jalan pikiran Tiara.
"Aku tidak berani menanyakannya."
"Mengapa kau begitu gugup mengobatiku?" tanyaku mendapatkan sensasi dingin dari sentuhan tangan Tiara, juga sepertinya tangannya sedikit gemetar ketika menyentuhku.
"Maafkan aku, Yang Mulia Ratu," ucapnya dengan perasaan bersalah.
"Mengapa meminta maaf? Aku hanya bertanya, kenapa kau begitu gugup?"
"Itu, itu karena Anda, Yang Mulia Ratu."
"Aku? Apa wajahku semenyeramkan Raja?" tanyaku sembari menunjuk wajah sendiri.
"Bukan," bantahnya cepat. "Melihat Yang Mulia Raja begitu menyayangi Ratu membuatku gugup. Jika Anda menjerit kesakitan sekarang, mungkin kepalaku akan langsung dipenggal oleh beliau."
Eh? Sampai segitunyakah?
"Baiklah, aku tidak akan meringis, apalagi menjerit."
"Terima kasih, Yang Mulia Ratu."
Haisss... Tiara yang ini begitu penakut, tidak seperti yang di dunia nyata. Padahal dia bahkan dengan bar-bar menoyor kepalaku kasar jika di dunia nyata.
"Sudah selesai, Ratu." Tiara kembali menarik resleting baju, menutupnya.
"Terima kasih, Tiara," ujarku dengan senyum ramah.
__ADS_1
"Tidak perlu berterima kasih, Ratu. Ini sudah menjadi kewajibanku."
"Hm... kau tinggal di mana?" tanyaku mengingat tidak banyak hal yang kuketahui tentang Tiara yang di sini.
"Masih di lingkungan kerajaan ini, lebih tepatnya di serambi kanan," sahutnya.
Aku mengangguk mengerti.
"Oh, iya. Berapa lama aku terbaring tidak sadarkan diri?" tanyaku penasaran.
"Sudah tiga hari, Ratu."
"What?! Hanya empat kali cambukan tidak sadarkan diri tiga hari, lalu kalau dua puluh kali..." Aku tercengang.
"Mungkin Yang Mulia Ratu tidak akan sadarkan diri selamanya." Ucapan Tiara membuatku mengerjapkan mata beberapa kali. "Karena kondisi tubuh Ratu begitu lemah rupanya. Selain alergi debu, bulu, dan udara yang terlalu dingin. Jantung Ratu juga begitu lemah."
Aku hanya dapat mengangguki ucapan Tiara. Aku yang di dunia nyata hanya alergi, mengapa di sini jadi punya penyakit jantung?
"Ratu..." panggilnya.
"Hm?"
"Anda juga mengerti bahasa kerajaan di dunia bagian barat?"
Oh, aku tidak sengaja mengucapkan Bahasa Inggris.
"Kau sendiri mengetahuinya?" tanyaku.
"Itu, aku pernah mempelajarinya dari buku selama lima tahun untuk percakapan sehari-hari saja."
"Iya, aku bisa," jawabku. Ternyata Tiara di dunia ini juga pintar, dapat mempelajari bahasa asing.
"Baiklah, Yang Mulia Ratu. Aku akan melapor dulu kepada Raja. Aku permisi. Salam Sejahtera kepada Yang Mulia Ratu," ucapnya seraya membungkuk hormat dan keluar setelah aku menganggukkan kepala.
"Aku sendiri lagi... baiklah, aku akan jalan-jalan," seruku menuruni ranjang.
Kemana gadis cantik ini akan pergi? Mari kita lihat.
Ngikkk...
Aku perlahan membuka pintu. "Oh, ya ampun!" kagetku.
"Apa-apaan kalian?" tanyaku seraya mengelus dada. Sungguh mengejutkan.
"Salam Sejahtera kepada Yang Mulia Ratu," sapa serentak dua prajurit yang berjaga.
"Yang Mulia Ratu tidak diperkenankan keluar," ucap salah satu di antara keduanya.
"Apa itu perintah Raja kalian?" tanyaku.
"Bukan. Raja memerintahkan kami untuk menjaga kamar ini."
"Kalau begitu tidak masalah jika aku ingin berjalan-jalan keluar, di kamar begitu pengap, dan aku ingin menghirup udara segar," alibiku.
"Tidak bisa, Ratu. Jika Raja tahu, bagaimana menjelaskannya?" hadang mereka.
"Baiklah, aku akan melapor pada Raja kalau kalian menghadang jalanku. Aku tidak yakin, apakah Raja akan mengampuni nyawa kalian?" Hehehe...Luciana Lighter, kau mulai menyalahgunakan kekuasaan.
"Tetapi, Raja akan marah juga jika tahu kami membiarkan Ratu pergi."
"Itu mudah. Katakan saja bahwa aku pergi atas kemauan sendiri dan mengancam nyawa kalian jika tidak dipersilakan pergi. Dengan begitu membuat kalian takut, dan akhirnya mau tidak mau membiarkan aku pergi. Jika begitu, maka yang akan disalahkan hanya aku saja. Bagaimana?"
"Baiklah. Silakan lewat, Yang Mulia Ratu," sila mereka.
"Terima kasih, terima kasih," sahutku senang.
Akhirnya keluar.
"Sekarang kemana kita akan pergi?" gumamku ketika sudah menuruni tangga.
"Yang Mulia Ratu?" ujar seseorang di belakangku.
To be continue...
__ADS_1