Maple Leaf Kingdom

Maple Leaf Kingdom
Page 6


__ADS_3

"Haiss... sangat merepotkan," gerutuku pelan, "Tiara, bantu aku membawakan semua ini." Aku membenarkan dengan siku, mahkota yang seolah mau jatuh dari kepalaku.


Akademi Nusa Bangsa memberiku sebuah mahkota tiara, sebuket bunga mawar putih, dua buah paperbag, dan sebuah kotak yang berisi kunci ruang private perpustakaan.


"Apa kau tidak lihat tanganku juga penuh?" ucap Tiara yang juga terlihat kerepotan, di lehernya dikalungkan kunci rumah kaca tanaman obat, tangan sebelah kiri memegang sebuket bunga mawar putih, dan di tangan kanan mengapit plakat hak atas obat ciptaannya sambil menggenggam sebuah paperbag.


"Huh, lain kali aku akan membawa sebuah kantong plastik yang sangat sangat sangat besar untuk mengangkut semua ini," ujarku sambil menghentakkan kaki kesal, "eh, eh, eh... huft... untuk saja mahkota ini tidak jadi jatuh." Aku membenarkan lagi mahkota yang sudah ingin terjatuh.


"Hahhh... menerima hadiah pun begitu merepotkan," gumamku lagi.


"Diamlah, Luci! Kau sudah mengatakan itu puluhan kali sejak turun podium," sahut Tiara.


"Kasihan sekali kalian... begitu kerepotan membawa hadiah."


Aku yang sedang repot, hanya menganggap ucapan tersebut sebagai angin lalu dan berjalan melewati orang itu.


"Luciana Lighter! Mengapa kau selalu mengabaikanku?" kesal gadis yang biasanya kupanggil 'Chilli'. Aku dan Tiara menghentikan langkah kami.


Tiara terlihat geram, sementara aku menghela napas. Suasana hatiku sudah dibuat hancur oleh Rey, dan sekarang Si Chilli mencari gara-gara.


"Lihatlah! Aku memiliki teman seperti Raisa yang bisa membantuku membawakan semua ini, sungguh kasihan sekali kalian tidak memilikinya... hihihihi..." pamer Cechillia.


Aku menormalkan raut wajah menjadi semanis mungkin, masih ingat dengan peran hari ini. "Chilli... sayang sekali ya, sahabatku sangat pintar dan berbakat. Yah... mau bagaimana menjelaskannya, tangan kita begitu penuh untuk saling membantu."


"Kau... kau..." geram Cechillia hingga tidak dapat berkata-kata, sementara aku dan Tiara menampakkan senyum tanpa dosa.


Drap, drap, drap, drap, drap...


Terlihat dari jauh segerombolan anak laki-laki menghampiri ke arah kami.


Cechillia menoleh untuk melihatnya dan tersenyum puas. "Lihatlah! Penggemarku sudah datang untuk memberiku bunga, kau juga pasti tidak memilikinya..." ejek Cechillia dengan wajah sombong menyebalkannya itu.


"Pstt... Ra, untuk apa masing-masing mereka membawa setangkai bunga?" bisikku di telinga Tiara.


Tiara menghela napas lelah, kemudian membalas berbisik, "Kau pasti melupakannya, Luci... Ritual bulanan yang mengharuskan setiap murid membawa setangkai bunga untuk diberikan kepada murid terfavorit bagi mereka."


Bibirku membentuk huruf 'O' menanggapi penjelasan Tiara.


"Hai kalian, terima kasih atas..." ucap Cechillia terhenti ketika segerombolan anak laki-laki itu melewatinya begitu saja.


"Luciana Lighter, Tiara Granindra, kami membawakan kalian setangkai bunga. Demi kalian, kami membawa masing-masing dua tangkai bunga. Terimalah penghormatan kami ini," ucap salah satu laki-laki di gerombolan itu.


"Hm... terima kasih, tetapi tangan kami begitu penuh sekarang," sahut Tiara polos.


"Bagaimana kalau kami yang membawakan barang-barang kalian? Dengan begitu kalian dapat menerima bunga dari kami..." tutur salah satu laki-laki di sana.


"Iya, benar."


"Betul, aku akan membantu membawakannya."


"Aku juga."


"Aku juga."


"Aku juga."


Sahutan dari gerombolan itu.


"Baiklah kalau kalian memaksa," ucapku menyerahkan barang bawaan ke mereka, "kalian titipkan saja ke Ibu Refisha, suruh beliau meletakkannya di kamar asramaku dan Tiara."


"Baik. Ini bunga dariku."


"Ini punyaku."


"Aku juga."


"Terima kasih sudah menerima bungaku."


Dan beberapa sahutan lain dari mereka saat memberikan bunga kepadaku dan Tiara.


"Terima kasih sudah membantu kami," ucap tulus Tiara kepada mereka.


"Barang-barangnya..." aku mengerlingkan sebelah mata, "tolong yaa..."

__ADS_1


"IYAAA..." jawab serempak gerombolan laki-laki itu, lalu pergi dengan bahagia.


"Ehem..." dehamku, "Para penggemar sudah datang... membantu kami gadis lemah membawakan barang-barang yang begitu banyak..."


"Benar sekali, Luci... jadi begini rasanya punya penggemar..." sahut Tiara menimpali.


"Huh, sombong... dari yang kulihat, gerombolan itu berasal dari tingkat 1. Mereka buta, tidak bisa melihat maskot Aknusbang di sini. Hanya sebuah keberuntungan saja sudah begitu besar kepala..." ejek Cechillia.


"Benar sekali, pasti senior tingkat 2 dan 3 akan banyak memberikanmu bunga seperti biasanya, Cechillia," ucap Raisa.


"Tiara... Bunga-bunga ini enaknya diapakan ya... begitu banyak aku sampai bingung," ujarku tak menggubris perkataan kedua gadis itu.


"Luci, kau benar, aku pun bingung," balas Tiara seolah tahu bahwa aku sedang malas menanggapi ucapan dua gadis itu.


Drap, drap, drap, drap, drap...


"Lihatlah, Cechillia. Senior tingkat 3 sudah datang," seru Raisa.


"Benar. Kemarilah, penggemar-penggemarku," ucap Cechillia percaya diri.


"Dan lihatlah! Dari arah sana juga ada gerombolan dari senior tingkat 2, kau pasti akan mendapatkan bunga yang lebih banyak dari pada mereka berdua," seru Raisa lagi.


"Tentu saja," ucap sombong Cechillia, "kalian lebih baik menyingkir daripada harus terdorong oleh gerombolan itu." Tangan gadis itu mengibas tanda mengusir.


"Ayo kita menyingkir, Luci..." ujar Tiara menarik tanganku menjauhi Cechillia dan Raisa, sementara kedua gadis sombong itu melempar tatapan meledek saat kita berjalan menjauh.


Di lain sisi. Dev dan Rey sudah menaruh hadiah penghargaan yang diterimanya, mereka lalu kembali ke lapangan untuk melakukan ritual memberi bunga.


"Dev, mengapa ada dua gerombolan dari arah berlawanan mendekati keempat gadis di sana?" seru Rey.


"Mungkin ingin melakukan ritual memberi bunga, tetapi..." Dev tampak berpikir, "bukankah keempat gadis itu adalah Luciana, Tiara, Cechillia, dan Raisa?"


"Princess Luciana? Dimana? Oh... tidak, kita harus secepatnya ke sana," ucap Rey meninggalkan Dev di belakang.


Dua gerombolan itu semakin mendekat. Terlihat sekali senyum Cechillia dan Raisa semakin lebar dan begitu puas, tatapan mereka seolah meledek ke arah kami.


"Huh, dasar Chilli. Sombong! Ayo kita pergi saja, Ra! Untuk apa di sini," gerutuku.


"Ayo, Luci! Mataku sakit melihat dua gadis sombong itu."


"Luciana Lighter! Tiara Granindra! Terimalah bunga dari kami, Senior tingkat 3!" seru salah satu gerombolan.


"Terimalah bunga dari kami juga, Senior tingkat 2!" seru gerombolan yang lain.


Mereka semakin mendekat hingga Cechillia dan Raisa seperti terhuyung menjauh ke belakang, setelah itu aku tidak dapat melihat bagaimana ekspresi mereka saat itu.


Aku dan Tiara sampai kewalahan menerima bunga-bunga tersebut. Tangan kami semakin penuh dengan bunga.


"Haihhh... sepertinya kita terlambat, Rey. Mereka sudah dikepung," ucap Dev.


"Luciana... tiba-tiba aku merasa saingan cintaku begitu banyak. Kenapa pesonamu begitu memikat hingga sebagian besar murid laki-laki di Aknusbang tergila-gila padamu?" ujar Rey lesu.


"Rey, kau mendadak begitu menjijikan jika sudah menjadi budak cinta Luciana," kata Dev bergidik.


"Lihatlah, Cechillia! Bahkan Rey dan Dev ikut mengantri memberikan mereka bunga," ujar Raisa.


"Huh! Awas saja kau Luciana..." jengkel Cechillia, "Ayo pergi, Sa!"


Setelah butuh waktu lama, akhirnya gerombolan itu bubar.


"Luci, semua bunga-bunga ini mau kita apakan?" tanya Tiara sambil menggaruk-garuk kepala.


Aku berpikir sejenak, tring... seperti ada bohlam kuning di atas kepalaku.


Aku membisik di telinga Tiara, "Bagaimana jika kita pergi ke taman hiburan di kota ini dan menjual semua bunga-bunga ini, setelah itu... blablabla?"


"Setuju!" seru Tiara bersemangat.


"Apa yang sedang kalian rencanakan?" tanya Dev yang berjalan mendekat diikuti Rey.


"Dev!!!!" teriakku memanggil Dev yang datang tepat waktu, lalu aku menghampirinya, "aku butuh bantuanmu."


"Princess Luciana... aku juga dapat membantumu, katakan... apa yang kau ingin kubantu?" ucap Rey menyela jarak di antara aku dan Dev.

__ADS_1


"Heiii, Rey!" ujar Dev yang terdorong ke belakang.


"Oke, oke. Kita butuh bantuan kalian," ucap Tiara menengahi.


"Baiklah, Princess. Tetapi sebelum itu, terimalah bunga dariku ini." Sambil bersimpuh, Rey memberikan sebuket bunga mawar merah untukku.


Boleh juga keromantisan bocah ini, akan aku terima... ucapku dalam hati.


"Terima kasih, Rey," ucapku dengan senyum tulus, lalu mengambil bunga pemberian dari Rey.


"You're welcome, My Princess," sahut Rey dengan senyum sumringah.


"Ehem..." deham Dev, "Luciana, ini buatmu." Dev memberikanku setangkai bunga lily dengan canggung.


Aku menerimanya, lalu berkata dengan disertai senyuman, "Terima kasih juga ya, Dev."


"Dev..." panggil Rey dengan wajah menunduk. Aura hitam menyelimutinya, menyeramkan...


"Ayo bantu aku melakukan sesuatu!" ajakku mencoba mengalihkan situasi yang begitu mencekat itu.


"Iya, ayo!" seru Tiara.


Rey dan Dev masih beradu pandang. Haihh... merepotkan sekali.


"Rey..." panggilku lembut.


"Iya, Princess?" jawabnya kembali sumringah. Suasana hatinya begitu moody seperti perempuan.


"Ayo bantu kita menjual semua bunga-bunga ini di taman hiburan!" ajakku bersemangat.


Akhirnya siang ini kita sepakat bertemu untuk pergi ke taman hiburan dan tak butuh waktu lama, semua tangkai bunga terjual habis dengan dijual setengah dari harga pasaran.


"Mengapa kalian menjual semua bunga-bunga itu?" tanya Dev.


"Benar. Jika kau membutuhkan uang, aku bisa memberimu, Princess," sahut Rey, "aku hanya tidak ingin melihat wanitaku dalam kesulitan."


Aku dan Tiara saling pandang, serta bertukar senyuman.


"Karena ini..." serentak jawabku dan Tiara sambil menunjuk sebuah panti asuhan di sudut kota.


"Daripada aku membuang atau memberi bunga-bunga itu, lebih baik dijual, dan hasilnya bisa disumbangkan ke panti asuhan. Lebih bermanfaat, bukan?" kataku dengan senyum cerah.


"Benar. Ini semua ide cemerlang, Luci..." sambung Tiara.


"Wah, benar-benar aku tidak salah pilih," ujar Rey dan Dev bersamaan, kemudian kembali beradu tatap seolah ingin saling memangsa.


"Oh iya! Princess... bunga milikmu, kau berikan untuk siapa? Pasti untukku 'kan?" tanya Rey.


"Untukku 'kan, Luciana?" sahut Dev tak mau kalah.


"Hm... soal itu... sebenarnya aku sama sekali tidak tahu bahwa hari ini ada ritual memberi bunga... hehehe..." ucapku sambil memasang senyum tanpa dosa.


Dalam hati, Aku hanya memikirkan hal besar di hari ini, yaitu aku akan mendapat penghargaan kunci ruangan private perpustakaan apabila menyelesaikan tugas bulanan dengan nilai sempurna. Itu aku ketahui dari orang yang biasa menjaga perpustakaan Aknusbang.


Malam hari. Di kamar asramaku.


"Haihhh... aku lelah sekali," gumamku.


"Aku juga. Hari ini sangat melelahkan, namun aku baru kali ini bisa se-berguna ini dalam hidup. Terima kasih sudah mau menjadi sahabatku, Luci..." kata Tiara tersenyum.


"Terima kasih juga sudah menjadi sahabatku, Ra..." sahutku, kemudian memeluk Tiara.


Tiba-tiba suatu pemikiran terlintas di benakku, hingga membuatku melepaskan pelukan kami. "Oh iya, Ra. Aku tidak melihat anak perempuan Aknusbang memberi bunga kepada anak laki-lakinya di lapangan. Mereka berikan ke siapa bunga-bunga itu?"


"Oh iya! Benar juga, Ra. Aku pun penasaran akan hal itu," balas Tiara.


***


Di depan pintu sebuah ruangan.


"Rudolf!! Cepat singkirkan semua bunga-bunga ini!" perintah tegas dan dingin dari seorang laki-laki di tengah kegelapan ruangan, "selanjutnya jangan ada satu orang pun yang boleh ke lorong ini tanpa izin dari saya!"


"Baik, Tuan," sahut orang yang diperintah, kemudian menyingkirkan bunga-bunga itu.

__ADS_1


"Cepatlah... aku sudah tidak sabar terbebas dari kutukan ini," gumam pelan laki-laki berparas dingin dan tampan itu.


To be continue...


__ADS_2