
"Luci... Luci... ishhh... berhenti sebentar," panggil Tiara menghentikan langkahku.
Aku membalikkan badan menghadapnya, terlihat Tiara begitu kelelahan mengejarku, namun pandanganku teralihkan.
"Kau mau membunuhku? Mengejarmu sungguh melelahkan, kau bergerak begitu cepat hingga aku sempat mengira bahwa kau bukan lagi seorang manusia, melainkan hantu... apa kakimu masih menapak di bumi?" celetuk Tiara masih sambil mengatur napas.
"Dan kau..." tanganku menunjuk, bukan, bukan ke arah Tiara melainkan ke belakang gadis itu, "mau menjadikanku sebuah batu? Untuk apa membawanya ke sini. Haisss... aku tidak sedang tertarik dengan kisah cinta kalian. Menghentikanku hanya untuk memamerkan seorang pacar? Aku juga bisa," gerutuku melihat Tiara yang datang langsung disusul oleh Rey. Kemudian aku mengedarkan pandangan dan... ulala... sudah ketemu. "Dev... Dev... kemari... "
Baik Tiara maupun Rey saling bertukar pandangan bingung, sementara Dev dengan menurut datang menghampiriku.
"Oke, Ra. Apalagi yang mau disombongkan? Hanya seorang pasangan, sekarang Dev sudah ada," kataku pada Tiara dan beralih memandang Dev yang berada di sampingku, "Dev, terima kasih sudah mau datang. Dengan begini Tiara tidak akan bisa sombong lagi sekarang, maklumi saja Dev..." aku mencondongkan tubuh berjinjit mengarahkan wajahku mendekati telinga Dev, lalu berbisik, "mereka pasangan baru, wajar kalau masih ingin sombong."
Meskipun berbisik, namun ternyata masih dapat didengar oleh Tiara, lalu gadis itu mendekat ke arahku. Plakkk...
"Aduhhh... sakit, Ra. Ini kepala, kenapa main pukul saja? Kalau aku mendadak bodoh, bagaimana? Lalu dikeluarkan dari Aknusbang. Tiara sayang... apa kau tidak kasihan pada Aknusbang jika kehilangan satu gadis cantik dan lemah lembut sepertiku?" cerocosku.
"Luci sayang..." panggil Tiara melembut, "maaf ya, kalian harus jadi korban tingkah biadab Princess Luciana Lighter. Dia baru kembali dari rumahnya, tidak heran jika lupa minum obat pemulih akal sehat," celetuk Tiara kepada dua laki-laki yang masih berdiri pada posisinya, ekspresi mereka sangat sulit diartikan.
"Apa aku berbuat salah? Setelah dua hari tidak bertemu, bukannya mendapat pelukan dari sahabatku, tetapi mengapa mendapat pukulan di kepalaku? Apa begini cara Tiara melampiaskan rasa rindunya? Ck, ck, ck... kalau begitu kasihan sekali Rey jika menjadi pacarnya..." gumamku pelan, namun sepertinya mereka masih dapat mendengar.
"Kalau begitu aku dan Luci pergi dulu." Tiara menarik tangan kiriku hingga terpaksa harus mengikutinya pergi, sementara aku menengok ke belakang untuk mengatakan suatu hal, "Dev, terima kasih... dan Rey, berhati-hatilah dengan Tiara! Dia punya cara yang aneh untuk melampiaskan rasa rindunya, kepalaku sudah menjadi korban sekarang."
Di kantin Akademi Nusa Bangsa.
"Aku mau ke perpustakaan. Mengapa kau menarikku ke sini?" tanyaku pada gadis yang masih menarik tanganku, raut wajahnya seperti orang yang sedang kesal.
"Luci, duduk!" perintahnya dengan tatapan tajam. Aku menurut.
Gadis itu mengambil posisi duduk di seberangku hingga kita duduk berhadapan di meja kantin. Aku menengok kiri dan kanan, memperhatikan beberapa anak Akademi Nusa Bangsa yang tengah menyantap makanannya atau sedang mengantri makanan. Kemudian aku teringat kotak bekal yang Mamah berikan padaku pagi ini, aroma selai cokelat di roti lapis buatan mamah menyeruak ke indera pembauku ketika tutup kotak bekalnya dibuka.
"Luci... kita luruskan kesalahpahaman ini," ucap Tiara dengan wajah serius.
"Salah paham? Oh... tenang saja, Ra. Aku maklum kalau kau mau memamerkan pacar, masih pasangan baru, jadi bolehlah dipamerkan," sahutku sambil mengunyah sesuap roti lapis.
"Jangan bicara dulu, Luci! Biar aku jelaskan dulu," kata Tiara, "kamu pasti belum membuka majalah Aknusbang News online rupanya."
Tiara mengedarkan pandangan dan memanggil, "Hei! Kamu yang di sana, kemarilah!"
Seorang anak laki-laki melangkah ke arah kita dengan membawa sebuah majalah Aknusbang News versi cetak.
"Aku pinjam ini," celetuk Tiara yang secara paksa langsung merampas majalah tersebut, "Luci, lihatlah!"
"Hm... aku sebenarnya malas, tetapi... ya sudahlah," sahutku kemudian membaca berita yang ditunjuk oleh gadis itu, "hasil peringkat lima besar murid genius bulan ini?"
__ADS_1
Tiara mengangguk. "Iya. Lihatlah siapa di posisi pertama!"
"What?! Ini namaku dan kau tidak tertukar posisi 'kan?"
"Tidak ada yang salah. Peringkat pertama, Luciana Lighter. Kedua, Tiara Granindra. Ketiga, Reyhan Linggasatya. Keempat, Deva Kasafanya. Kelima, Cechillia Anatashia," Tiara menyebutkannya satu persatu, kemudian membalik ke lembar berikutnya, "lihat? Berita yang menyebutkan bahwa Reyhan Linggasatya menyukai seorang gadis di peringkat pertama murid genius."
"Itu aku, bukan kau?" tanyaku menunjuk wajahku sendiri dengan raut tak percaya.
Tiara menutup majalah dan mengembalikan ke sang empunya, "Terima kasih."
"Sama-sama. Ehem... kalau aku tidak salah, kalian adalah Luciana Lighter dan Tiara Granindra sang peringkat satu dan dua?" tanya laki-laki pemilik majalah tersebut.
"Iya, betul. Ada apa?" sahut Tiara.
"Boleh aku meminta tanda tangan di majalah ini? Aku adalah penggemar kalian, terutama kau, Luciana Lighter," tutur laki-laki itu.
"Aku?" tanyaku dengan dahi berkerut.
"Iya. Tiara, tolong kau dulu yang tanda tangani di sebelah sini!" Laki-laki itu menunjuk sudut kosong majalah untuk ditandatangani, kemudian mengeluarkan pulpen dari saku celananya.
Tiara tanpa protes menandatanganinya, lalu berkata, "Sudah, sekarang giliranmu Luci."
Baru ingin mengambil alih pulpen dan majalah yang ada di tangan Tiara, namun sudah lebih dulu dirampas oleh tangan orang lain.
"Ini, ambil dan pergilah!" Setelah menandatangani majalah itu, Rey menyodorkan majalah dan pulpen tersebut ke laki-laki tadi, "tanda tangannya aku wakilkan."
Tiara tersenyum penuh arti, laki-laki tadi ketakutan dan bergegas pergi, sementara aku... apa yang aku lakukan? Hanya diam tak berkutik.
"Sekarang kau sudah tahu dan tidak salah paham lagi 'kan? Aku menyukaimu," tutur Rey ke arahku.
Huft... mengapa? Mengapa kedua pipiku memanas? ucapku dalam hati.
"Haihhh..." Dev menepuk dahinya sendiri, "memang tidak seharusnya aku mengikutimu kemari, Rey."
"Aku hanya ingin memamerkan seorang pacar, lagi pula kita ini masih pasangan baru, bukankah wajar kalau pamer?" celetuk Rey dengan seringaian penuh arti.
Aku merasa pernah mendengar kalimat serupa. Dimana? Hah... aku ingat, itu kalimatku, dia mencoba membalas dendam atau apa? batinku.
"Dev, jangan mengganggu mereka, terlalu lama kita di sini hanya akan menjadi obat nyamuk," ucap Tiara sambil menaik-turunkan alisnya.
Diam-diam kumasukkan kotak bekal ke dalam tas.
Dalam hati, Aku sudah tidak tahan lagi berada di atmosfer seperti ini, lebih baik...
__ADS_1
"Siapa yang pacar siapa? Haisss... kalian memang suka sekali bercanda sampai aku ingin ke perpustakaan saja tidak tenang. Kalian berbincanglah, aku akan segera kembali ke kamar asrama, dah..." kataku dengan langkah seribu menjauhi ketiganya.
"Luci... Luci..." panggil Tiara.
"Kau santai saja berbincang dengan mereka, sekarang ada hal yang ingin kukerjakan, nanti kita bertemu lagi! DAHHH..." teriakku dengan tangan melambai. Sementara kulihat Rey memasang senyum penuh arti, Huft... orang itu, apa pula yang dia pikirkan.
Di jalan menuju kamar asrama.
"Huft... untung saja, yang tadi itu canggung sekali," gumamku bernapas lega.
"LUCIANA LIGHTER!!!" panggil seseorang di belakangku yang membuatku bergidik ngeri, nada bicaranya seolah tidak bersahabat dan seakan-akan menyebarkan aura hitam ke sekelilingku.
"Lebih baik aku pura-pura tidak mendengar," gumamku.
"LUCIANA LIGHTER... BERHENTI KAU ATAU AKU AKAN..."
Belum selesai orang itu bicara, buru-buru aku menjawab, "Iya-iya aku berhenti."
Nada bicaranya mengintimidasi. Siapa dia? kataku dalam hati dengan posisi diam tanpa berani membalikkan tubuh ke belakang untuk melihat siapa orang yang memanggilku.
Drap... drap... drap...
Suara langkah kaki menghampiriku, semakin membuat tubuhku menegang. Seorang gadis berjalan melewatiku dan berhenti tepat di depanku, kemudian ia membalikkan badan hingga posisi kita berhadapan. Disusul oleh seorang gadis lagi yang kuyakini adalah temannya.
Aku meneliti penampilan mereka dari atas ke bawah, begitupun dengan mereka yang melalukan hal sama padaku.
"Luciana Lighter? Si genius peringkat pertama? Lumayan..." kata gadis di hadapanku, "perkenalkan, namaku Cechillia Anatashia, dan ini adalah sahabatku, namanya Raisa Nathalia." Gadis yang bernama Cechillia itu mengulurkan tangan untuk dijabat.
"Luciana Lighter, panggil saja Luci," sahutku menjabat tangan gadis itu, "senang berkenalan denganmu... Chilli. Aku masih ada yang perlu dikerjakan, nanti kita bicara lagi."
Aku melenggang meninggalkan dua gadis yang tengah terperangah di sana.
Ketika jarakku sudah semakin jauh, terdengar seseorang berteriak, "LUCIANA LIGHTER!! SIAPA YANG MENGIZINKANMU MEMANGGILKU BEGITUUU?!"
Dia tidak memberitahuku nama panggilannya. 'Chilli' masih bagian dari namanya, mengapa sampai marah begitu?
Note:
Dalam pikiran Cechillia, Chilli \= Cabai.
Dalam pikiran Luci, Chilli terdengar imut, lucu, dan menggemaskan.
To be continue...
__ADS_1