
"Woah..." Aku meregangkan badan, mengulet, dan bangkit dari kasur, beberapa detik kemudian melakukan pemanasan pagi. Belum berniat mandi memang, justru malah mengobrak-abrik se-isi kamar.
"Dimana ya? Dimana? Ponsel... where are you?" Aku mencari-cari keberadaan ponselku, lupa sekali kalau aku masih memiliki ponsel. Bahkan aku juga sering kali lupa untuk membawa ponsel kalau bepergian.
"Oh, ternyata kau di sini." Aku menemukannya ketika melongok ke kolong tempat tidur.
Pasti setelah Tiara memeriksa tugas bulananku kemarin, ponselku jadi terjatuh dan tidak sengaja tertendang masuk ke kolong tempat tidur, ucapku dalam hati.
Dengan usaha keras, aku mencoba menggapai agar dapat memungutnya. "Jauh sekali..."
"Akhirnya!" Aku melompat girang setelah ponsel berhasil di tangan. "Hufttttt... huftttttt..." Kutiup kedua sisi ponsel dan mengelapnya dengan ujung piyama untuk menghilangkan debu.
"Coba kita lihat," gumamku sambil menekan sebuah tombol dan layar ponsel pun menyala.
Banyak sekali notifikasi di sana. Setelah penyerahan hadiah kemarin, semakin banyak nomor asing yang mengirimiku pesan.
"Haihhh... walaupun aku tidak memiliki bakat, masih saja ada yang mencoba mendekatiku. Namun kali ini, MENGAPA HINGGA PULUHAN NOMOR DALAM SEHARI?!" seruku ketika menggulir layar ponsel ke atas tetapi tidak ada ujungnya. Banyak sekali...
Notifikasi dari Aknusbang News menggodaku untuk membukanya. Pemberitaan di sana sontak membuatku melempar ponsel ke kasur. "Hiiii... lebih horor dari film hantu. Kerjaan siapa itu?"
Bagaimana bisa mereka mengadakan acara live "30 Menit Mengenal Luciana Lighter"? Aku belum mengatakan 'iya' ataupun 'tidak', meskipun sebuah wawancara eksklusif, tetapi apakah mereka tidak tahu kalau aku ini 'kan seorang yang pemalu... hehe...
Aku menepis segala asumsi di otak dan segera menyambar handuk, lalu menuju kamar mandi.
Setengah jam kemudian.
"Lalalalala... lalalalala..."
Aku bersenandung merdu. "Ah! Jangan-jangan bakat terpendamku adalah menjadi seorang penyanyi, hanya bersenandung saja begini merdu," percaya diriku.
Aku membuka lemari dengan tubuh masih dibalut jubah mandi. "Hari ini jika ingin ke sekolah... Ah! ini dia." Aku mengambil setelan seragam Akademi Nusa Bangsa untuk hari Selasa, blouse krem lengan panjang dan rok selutut berwarna oranye. Kemudian berpikir. Seperti ada yang kurang. Aku melongok ke luar jendela dan... "Ah iya! Cuaca terlalu terik, lebih baik aku memakai stoking berwarna putih susu."
Sempurna! Dengan model rambut kuncir satu tidak akan membuatku begitu kegerahan. Aku menyampirkan tas di pundak sebelah kanan dan menenteng tas laptop di tangan kiri. Lihatlah! Aku begitu cantik sekarang.
"Siap! Let's go!!" seruku mengambil benda dari atas meja, lalu keluar kamar. Tidak lupa mengunci pintu.
"Pagi, Bu Refisha!" sapaku saat kebetulan berpapasan dengan pengurus asramaku.
"Pagi, Nona! Seperti biasanya, cantik sekali..." sapa sekaligus puji wanita itu.
"Terima kasih. Ibu Refisha juga ramah seperti biasanya," pujiku.
"Eh? Nona, bukankah itu kunci ruangan private perpustakaan khusus?" tanya Ibu Refisha.
"Oh? Ini? Iya..." Aku mengacungkan kunci itu dan mengalungkan tali kunci yang menjuntai ke leherku, "tetapi, bagaimana Ibu Refisha dapat mengetahuinya?"
"Tentu saja. Aku sudah bertahun-tahun di Akademi Nusa Bangsa. Oh iya, Nona jangan sampai melewatkan sarapan lagi."
"Siap, Kapten. Kalau begitu aku pergi dulu. Dah... Ibu Refisha..." Aku melambai sambil berjalan menjauhi Ibu Refisha yang melanjutkan aktivitasnya membuang sampah di tempat pengumpulan sampah di dekat asrama.
"Sekarang seharusnya ada kelas umum mata pelajaran sejarah. Belum terlambat kalau aku pergi, pastinya Tiara juga ada di sana," ucapku.
Ah iya! Hampir lupa. Peranku hari ini akan menjadi gadis cantik yang dingin. Oke, mari kita mulai!
Karena peranku berbeda dari kemarin, aku tidak berjalan dengan lompatan-lompatan kecil lagi, melainkan dengan santai dan dingin namun juga tetap meninggalkan kesan cantik.
__ADS_1
Kalian tidak perlu heran mengapa aku repot-repot melakukan semua ini. Bisa dibilang, itu merupakan kebiasaanku sejak berumur lima tahun. Bermain peran hingga dewasa... seperti anak kecil memang, tetapi cobalah! Sangat menyenangkan...
"Di antara begitu banyak karakter yang aku perankan, aku sampai lupa yang mana sifat asliku..." gumamku.
Tok... tok... tok...
Aku mengetuk daun pintu dengan plang 'Ruang Sejarah'.
"Masuklah!" perintah tutor sejarah dari dalam ruangan.
Aku membuka pintu dan menutupnya lagi setelah memasuki ruangan itu. Kemudian kembali menjalani peran, berjalan santai menghampiri tutor. "Maaf saya terlambat, Pak Guru."
"Ya sudah. Kebetulan Bapak baru saja ingin mulai, duduklah bersama yang lainnya," ucapnya ramah, namun tetap tegas dan berwibawa. Kira-kira usia tutor sejarah itu sudah di atas empat puluh tahunan.
Aku melangkah menuju tempat duduk yang kosong, sementara tutor sudah mulai menjelaskan sejarah mengenai 'Kleopatra'. Namun, baru kusadari kalau dari awal masuk hingga akhirnya duduk di salah satu bangku, seluruh pandangan murid tertuju ke arahku.
"Ada apa ini? Apakah ada yang salah dengan penampilanku? Atau ada kotoran di wajahku?" gumamku pelan sambil mengusap wajah. Aneh... Tidak ada yang salah dengan wajahku, lalu mengapa mereka masih memandangiku? Hehehehe... aku tahu, pesonaku memang sulit ditolak makanya mereka bersikap seperti itu.
"Psttt... psttt..." Seseorang memanggilku dengan berbisik. Aku pun menoleh ke asal suara.
Tidak jauh dari tempat dudukku terlihat seorang gadis sedang mendekat dan kemudian berucap pelan, "bukankah kau adalah Luciana Lighter, murid tingkat 1?"
Saat tutor sudah menerangkan materi tidak diperbolehkan berbicara apalagi sampai mengganggu jalannya pelajaran, itulah mengapa gadis itu mencuri-curi bicara padaku dengan berbisik.
"Iya, betul sekali," balasku dengan berbisik juga. Apa aku begitu tenar hingga banyak sekali yang mengenaliku? Hehe...
Gadis itu mendekatkan wajahnya lagi. "Psttt... aku ingin memberitahumu..." Benar dugaanku, ayolah katakan apa yang ingin kau beritahu? Aku cantik hari ini? Aku begitu pintar? Atau begitu mempesona? batinku sambil tersenyum bangga.
"Itu... kau... kau sepertinya salah kelas," lanjutnya.
"Iya? Coba ulangi, Apa yang barusan kau katakan?" tanyaku memperjelas apa yang barusan kudengar.
"Ini kelas sejarah senior tingkat 2 yaa..." gumamku, lalu seketika sadar dan langsung berucap kencang sambil tiba-tiba berdiri, "WHAT?! BENARKAH?"
"Siapa yang gaduh di sana?!" interupsi tutor sejarah dengan raut tidak bersahabat.
Seluruh mata tertuju padaku, Oh, tidak... ucapan Tiara benar, tingkat kepekaanku sangatlah buruk. Bagaimana bisa tidak menyadari ini kelas untuk senior tingkat 2? Matilah aku sekarang...
Aku mengedarkan pandangan dan akhirnya bertemu pandang dengan Cechillia dan Raisa yang seolah ingin berkata 'Matilah kau!' sambil menampakkan senyum mengejek. Kemudian mengalihkan pandangan hingga akhirnya tak sengaja melihat Dev sedang menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.
Aku yang masih berdiri seketika membeku di tempat, apalagi tatapan tutor sejarah sekarang sangatlah tajam hingga sanggup mengalahkan tatapan elang.
"Aku sedang menjelaskan sejarah tentang 'Kleopatra'. Dari caramu menyela tadi, sepertinya kau tidak sependapat denganku bahwa Kleopatra adalah gadis yang hebat?" ucap tutor, tatapannya nyalang seolah akan memakanku hidup-hidup.
Aku menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Apa peranku sekarang? Oh, ayolah... bermain peran selalu tidak cocok dengan situasi di Aknusbang. Aku menenangkan diri seolah tidak terpengaruh oleh ekspresi tutor saat mengajukan pertanyaan. Kemudian aku menyampirkan tas di pundak sebelah kanan, juga menenteng tas laptop di tangan kiri, lalu berjalan mendekati tutor tersebut dengan berwajah dingin, lalu berkata, "Tentu saja saya sependapat dengan Anda, Pak Guru. Siapapun mengetahui betapa hebatnya Kleopatra, ia adalah seorang pemimpin wanita yang dapat membuat wanita lain berdecak kagum, termasuk saya sendiri. Ia juga menjunjung kesetaraan gender dengan begitu banyak kontribusi dalam masa kepemimpinannya. Bahkan, ia juga adalah seorang diplomat, laksamana, administrator, poligot, dan pujangga ilmu pengobatan. Namun... sayang seribu sayang, akhir hidupnya begitu tragis dengan bunuh diri."
Aku sampai di hadapan tutor itu, dan berkata lagi, "Saya, Luciana Lighter, murid Akademi Nusa Bangsa tingkat 1, sungguh sangat meminta maaf dari lubuk hati saya yang paling dalam. Maaf sudah mengganggu kelas Anda hari ini karena kecerobohan saya yang salah mengingat jam kelas sejarah untuk tingkat 1. Saya meminta maaf."
Aku kemudian membungkuk ke arah tutor dan berniat melenggang pergi. Namun, langkahku terhenti ketika tutor sejarah itu tiba-tiba memanggil namaku, "Luciana Lighter..."
Padahal baru ingin bernapas lega dan secepatnya menghindar dari kecanggungan ditatap hampir seluruh murid senior tingkat 2. Haihhh... semoga bukan hal yang buruk, batinku.
Aku mau tidak mau membalikkan badan dan berjalan menghampiri tutor itu lagi. "Iya, Pak Guru. Ada apa?"
"Kau sepertinya begitu mengerti tentang sejarah meskipun masih tingkat 1. Aku berikan pengecualian untukmu, boleh mengikuti kelas sejarahku kapan saja kau ingin, baik itu di kelas tingkat 1, senior tingkat 2, maupun senior tingkat 3," ucap tutor itu, kini dengan raut wajah tenang.
__ADS_1
"Terima kasih atas penawaran Pak Guru. Saya tersanjung sekali, namun untuk hari ini saya sudah mengganggu kelas Anda. Jadi, saya ingin undur diri meninggalkan kelas hari ini. Saya permisi," ucapku sedikit membungkuk, namun dengan wajah tetap berekspresi dingin.
"Iya, tidak apa. Kau boleh keluar," ujar tutor itu.
Aku mengangguk dan kembali melangkah menuju pintu.
"Tunggu..."
Apa-apaan ini? Memanggilku lagi? Apa kali ini aku tidak dapat menghindar dari masalah? batinku.
Aku membalikkan badan lagi, namun kali ini tidak berbicara sepatah kata apapun. Seandainya tidak sedang menjadi gadis dingin, pasti aku sudah ciut dan menundukkan kepala. Haisss... bermain peran sangat tidak cocok dengan situasi di Akademi Nusa Bangsa. Perlukah aku meninggalkan kebiasaan hebatku ini? Oh, tidak mungkin. Tetapi, di sini situasinya sangat sulit diprediksi, ada-ada saja yang terjadi setiap harinya, sungguh membuatku tidak tenang...
"Kau, Luciana Lighter?" tanyanya.
"Iya, Pak Guru. Saya, Luciana Lighter," jawabku.
"Bukankah kau sudah menyelesaikan buku tugas bulan ini? Mengapa masih ingin mengikuti kelas?" tanyanya lagi.
"Oh, soal itu... Aku hanya bosan di kamar asrama, barulah kemari untuk mengisi waktu," sahutku tak mengubah ekspresi dingin sama sekali.
"Haisss... dunia orang genius memang berbeda."
"Iya. Dapat keluar-masuk kelas sesuka hati, aku iri."
"Betul. Senangnya..."
"Kabarnya, Luciana Lighter selesai mempelajari seluruh materi bulan ini dalam waktu tiga hari."
"Benar sekali. Dan juga, menjawab seluruh ujian materi hanya beberapa menit."
"Kemampuannya begitu mengerikan, tetapi tetap saja membuat iri."
"Benar. Aku jadi penasaran dengan wawancara eksklusif-nya dengan majalah Aknusbang News dua hari lagi."
"Aku juga. Tidak sabar ingin menonton."
"Aku juga."
Sahutan-sahutan dari senior tingkat 2. Dalam hati, Ayolah... puji aku lagi, puji aku lagi...
"DIAM!" bentak tutor sejarah yang tidak suka kegaduhan.
Aku merasa ikut terbentak, huhu...
"Kalau begitu saya permisi, Pak Guru," ujarku sambil sedikit membungkuk.
"Iya.." sahutnya.
Aku berjalan meninggalkan kelas, keluar melewati pintu, dan menutupnya dengan hati-hati. Setelah itu, dengan langkah lebar-lebar segera meninggalkan tempat itu. Sangat memalukan dan canggung, syukurlah tidak terjadi apa-apa...
Aku terburu-buru meninggalkan ruangan itu hingga berjalan tanpa memperhatikan sekitar. "Lho? Aku dimana?" ucapku melihat sekeliling halaman gedung yang begitu asing.
Aku memasuki gedung di depanku ini dan semakin aku menyusuri lorongnya, semakin terasa gelap. Aku terus berjalan, tempat ini begitu sepi, bahkan langkah kakiku pun menciptakan bunyi gema. Aku berjalan terus ke dalam, tetapi suasana semakin suram saja... tidak ada pencahayaan yang cukup di sini. Apakah masih sempat kalau aku berbalik arah untuk kembali?
Aku membalikkan badan dan... Bruk!
__ADS_1
To be continue...
Sudah page 7 nih... Ayo dong klik simbol 'tangan' dan simbol 'hati'... Jangan sampai lupa yaa ^_^