
Perjalanan ke Barat sangat lama.
Sebab tragedi pedagang tomat sebelumnya, jadi memerlukan waktu berjam-jam hingga sampai di sana.
"Woahhh..." uapku sembari merentangkan kedua tangan ke atas. "Huh? Di mana?" tanyaku ketika sudah benar-benar membuka mata.
Sebuah selimut menutupi tubuhku. Tunggu, tunggu... Ini di kamar?
"Putri, ups... Yang Mulia Ratu maksudnya. Anda sudah bangun?"
"HANNAAA!!!" teriakku melihat Hanna melenggang memasuki kamar. Dengan segera loncat menuruni ranjang dan memeluk tubuh pelayan kesayanganku selama di Kerajaan Lighter.
"Iya, Yang Mulia Ratu. Ini memang Hanna. Bisa Anda lepaskan? Hanna takut dihukum jika Ratu memeluk tubuh kotor Hanna," ujarnya tidak aku gubris, masih saja memeluk tubuhnya.
"Aku rindu dengan Hanna. Bagaimana kabarmu di sini? Oh, iya! Kau sudah tidak menjadi pelayan pribadiku, lantas apa pekerjaanmu sekarang?" seruku begitu heboh.
"Hanna juga rindu dengan Putri, eh Yang Mulia Ratu maksudnya. Maaf Ratu, Hanna belum terbiasa. Sekarang Hanna menjadi pelayan dapur."
"Tidak apa, Hanna. Pelan-pelan saja membiasakan diri. Apakah pekerjaan pelayan dapur lebih berat? Kau mau ikut aku ke Kerajaan Maple Leaf sebagai pelayan pribadiku, tidak?" tanyaku bertubi-tubi.
"Kau kekurangan pelayan di kerajaanku, Ratu?" suara bariton Alfa menginterupsi, membuat Hanna buru-buru melepas pelukanku, dan membungkukkan badan hormat.
"Salam Sejahtera kepada Yang Mulia Raja," sapa Hanna mendapati kehadiran Alfa yang menyela pembicaraan kita.
"Tidak begitu, Raja. Aku hanya tidak tega dengan Hanna, dia sudah lama menjadi pelayan pribadiku di Kerajaan Lighter. Namun kini, justru menjadi pelayan dapur. Pasti pekerjaannya sangat berat," sahutku dengan mimik muka sedih dan mata berbinar.
"Tidak berat, Yang Mulia Ratu. Hanna permisi undur diri, pelayan hanya ingin menyapa kedatangan Ratu saja. Salam Sejahtera kepada Yang Mulia Raja dan Ratu." Hanna pergi dengan tergesa.
"Han... na..." Aku menghela napas, mengeluhkan kepergian Hanna.
"Tidak pernah boleh pelayan dari luar menjadi pelayan pribadi di Kerajaan Maple Leaf, Ratu. Apalagi menjadi pelayan pribadi seorang Ratu."
"Why? Aturan macam apa itu?"
Upss... Aku kebablasan berbicara menggunakan Bahasa Inggris. Selama ini yang tahu aku bisa berbahasa Inggris hanya Tiara saja.
"Ratu? Kau bisa berbicara seperti orang di negara bagian Barat?" tanya Alfa terkesima mendengar perkataan aku barusan.
Secepat kilat, aku menormalkan raut wajah. "Oh... itu. Aku mempelajarinya dari buku. What, when, who, where, why, dan how. Hanya bagian dasarnya saja," kilahku dengan senyuman lebar yang mendukung alibi itu.
"Ternyata kamu begitu berbakat, Ratu. Aku terpukau."
__ADS_1
"Apakah kau baru saja memuji aku?"
Alfa mengangguk. "Oh. Aku ke sini ingin melihat keadaanmu. Kau pasti lelah menempuh perjalanan yang sangat lama hingga tertidur. Sebab itu, aku membawamu ke kamar agar kau bisa beristirahat."
"Terima kasih, Raja. Maaf sudah menyusahkanmu," ucapku tulus.
Sepertinya sifat beku si Alfa sudah mencair. Tetapi, aku bahkan baru dikurung tiga hari. Ke mana sejarah yang seharusnya masa pengabaian Putri Luciana Lighter yang sepuluh tahun itu?
Aku tidak mengerti, ada yang salah dengan sejarah ini. Apa jangan-jangan... aku sudah mengubah sejarahnya?
Dengan cepat kugelengkan kepala.
"Ratu? Apa kau tidak enak badan?" ucap Alfa menghentikan gelengan kepala dengan menahan dahiku.
Hadeh... aku jadi terlihat bodoh di hadapannya sekarang.
"Tidak apa-apa, sebelumnya aku hanya terpikir sesuatu," jujurku menciptakan seukir senyum tipis Raja dingin itu.
"Kepala kecil ini... apa yang dipikirkan?" Tanpa permisi Alfa menyentil dahiku pelan. Walau pelan, tetapi tetap saja sakit.
Tangan kanan tersita mengelus bekas sentilan Alfa.
"Salam Sejahtera kepada Yang Mulia Raja dan Ratu dua kerajaan," salam seorang pelayan wanita di ambang pintu.
"Pesta penyambutan sudah mau dimulai, Yang Mulia Raja. Para Raja dan Ratu Tetua sudah menunggu kedatangan Raja dan Ratu," ujar pelayan tersebut agak takut-takut.
"Baiklah, terima kasih," sahutku dengan senyum ramah.
"Kau mau turun, Ratu? Jika tidak enak badan lebih baik di kamar saja," toleh Alfa ke arahku dengan nada bicara menghangat. Pelayan yang menunggu kepastian saja sampai melongo dibuatnya.
Haha... aku juga awal-awal mendapati kelabilan Alfa lumayan terkejut. Tidak heran pelayan itu ternganga dibuatnya. Sepertinya kekejaman dan sikap dingin Alfa sudah menyebar sepenjuru dunia.
"Tidak masalah, Raja. Aku sudah cukup istirahat. Lebih baik kita segera turun dan jangan membuat Para Ayahanda dan Ibunda menunggu," sahutku tersenyum semanis mungkin. Peran kali ini sangat cocok dengan keadaan, aku juga jadi tidak susah melakoninya.
"Baiklah jika kau baik-baik saja."
Alfa menatap tajam pelayan itu dan berkata dengan penuh wibawa, "Kami akan segera turun. Sampaikan kepada Para Ayahanda dan Ibunda."
"Ba-baik, Yang Mulia Raja," gagap pelayan tersebut, lalu membungkuk hormat. "Saya undur diri, Salam Sejahtera kepada Yang Mulia Raja dan Ratu."
***
__ADS_1
Di meja makan panjang acara perjamuan untuk menyambut anak dan menantu kerajaan.
"Akhirnya kalian memiliki kesadaran untuk mengunjungi kami. Ini pasti gagasan Ratu Luciana Lighter, bukan?" ucap Ratu Tetua Kerajaan Maple Leaf, ibu mertuaku, seolah meremehkan ketidakpekaan Alfa.
"Bukan Ibunda, itu inisiatif Raja," sahutku berkata apa adanya. Kasihan juga si Alfa ini di negative thinking terus sama orang banyak. Salah sendiri punya sifat kelewat dingin dan kejam, jadi begini 'kan akhirnya, hahahaha... tawaku dalam hati.
"Eh? Putraku ada kesadaran juga akhirnya. Tidak menyangka di balik sifat dingin dan kejamnya itu masih ada juga kepedulian terhadap orang tua," timpal Raja Tetua Kerajaan Maple Leaf membuat semua orang di meja makan tertawa termasuk Ayahanda dan Ibundaku, juga aku yang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan menertawakannya.
"Begitulah sifat Putra kami, Raja dan Ratu Kerajaan Lighter. Putri kalian sangat pengertian menghadapi sifat buruknya itu." Ucapan Ibunda Alfa di satu sisi memuji aku, namun di sisi lain menyindir Alfa yang terlihat tidak berminat dengan pembicaraan tersebut.
Mereka tidak tahu saja, aku hampir jadi santapan koleksi hewan buasnya dan dikurung tiga hari tiga malam tanpa makan dan minum. Si beku ini manusia super tega yang pernah aku temui, batinku menggerutu kesal.
"Sudah, sudah. Lebih baik kita lanjutkan makan perjamuannya," kata Ibundaku, Ratu Tetua Kerajaan Lighter.
"Benar, tetapi sebelum itu..."
Prok... Prok...
Dua tepukan tangan Ayahanda, Raja Kerajaan Lighter menginterupsi.
Setelahnya suara kincringan gelang kaki dan tangan yang saling beradu mengisi suasana perjamuan.
Wait... wait... wait... I-itu... bukankah...
Sebuah tarian indah dipersembahkan oleh wanita cantik yang baru saja memasuki aula perjamuan, setiap langkah dan gerakannya diiringi bunyi kincringan kumpulan gelang emas.
"Raja Dua Kerajaan sepertinya menyukai penari utama itu," interupsi suara Ayahanda aku. Sontak kutolehkan wajah ke arah Alfa. Pandangan pria itu tidak beralih pada wanita yang tengah menari tersebut.
"Cukup menghibur," sahut Alfa.
"Kau bisa membawanya ke Kerajaan Maple Leaf ketika pulang nanti."
"Cechillia..." panggil Ayahandaku.
Benar. Itu benar Cechillia. Yang aku heran, mengapa dia juga ada di sini? Mengapa Alfa yang di dunia nyata sama sekali tidak memberitahukan aku akan hal ini? benakku.
Cechillia menghampiri meja perjamuan. "Salam Sejahtera kepada Yang Mulia Raja dan Ratu sekalian. Maafkan jika penampilan hamba kurang memuaskan."
Bahkan suara angkuhnya pun sama. Ini hanya perasaanku saja atau wanita ini memang sedang melempar tatapan meremehkan ke arahku?
"Penampilanmu sangat memuaskan, bahkan Raja Dua Kerajaan, Alfa Bellezza Dell'arcobaleno, tidak berkedip menyaksikannya. Raja ingin membawa Cechillia ke Kerajaan Maple Leaf? Dia berbakat dalam menampilkan seni tari dan musik," tawar Ayahanda aku.
__ADS_1
"Terima kasih atas niat baik, Ayahanda Kerajaan Lighter," sahut Alfa mengiyakan tawaran Ayahanda.