Maple Leaf Kingdom

Maple Leaf Kingdom
Page 4


__ADS_3

Kamar asrama nomor 125.


Jegrug! Ceklek!


"Huh... huh... huh..." Aku bersandar di daun pintu setelah masuk dan menguncinya, dadaku naik turun, napasku tersegal.


"Si Chilli punya aura yang sangat menakutkan, aku seolah melihatnya akan menjadikanku mangsanya," gumamku, kemudian berjalan ke arah tempat tidur, membuang tas ke sembarang arah setelah mengeluarkan ponsel dari dalamnya, lalu membanting tubuhku ke kasur dengan posisi telungkup.


Aku membalikkan tubuh menjadi posisi telentang, memejamkan mata, dan mengatur napas setelah penat melakukan langkah seribu menghindari Cechillia Anatashia.


Meskipun tidak begitu dekat dengannya, namun siapapun pasti mengetahui Sang Ratu Aknusbang, maskot Aknusbang, sekaligus pemegang peringkat pertama dalam bakat kesenian, teater, tari, dan permodelan. Anak dari pemilik perusahaan periklanan yang bahkan sudah menjalin kerja sama dengan perusahaan multinasional terkemuka. Sikapnya yang sombong dan juga kecantikannya sebagai model menjadi ciri khas seorang Cechillia Anatashia, itu juga mengapa ia mendapat julukan Sang Ratu Aknusbang, bahkan senior di bidang bakat yang sama dengannya pun kagum akan prestasi gadis itu. Setiap acara dan program dari Akademi Nusa Bangsa selalu dirinya yang menjadi ikon hingga julukan maskot Aknusbang juga berhasil didapatkannya. Entah mengapa hawa dingin menyelimuti tubuhku ketika dia memanggil namaku tadi, membuatku bergidik ngeri.


Baru sebentar bernapas lega, situasi kembali mencekat.


Tok... tok... tok...


Seseorang mengetuk pintu kamarku.


Tok, tok, tok, tok, tok...


Diketuk beberapa kali lagi, namun dengan tidak sabaran.


"Iya... tunggu sebentar," ucapku bangkit dan berjalan menuju pintu, menggenggam gagang pintu dan membukanya.


"Luci!"


"Aaaaaa!!!" teriakku diikuti teriakan seorang gadis yang barusan mengetuk pintu, "sialan, kau mengagetkanku."


"Kau yang mengagetkanku, Luci. Untuk apa berteriak?" sahutnya.


Aku melongok ke kiri dan kanan lorong kamar asrama, menarik tangan gadis itu agar memasuki kamar, lalu menutup pintu dan menguncinya.


Ceklek!


"Luci, sebenarnya ada apa? Kenapa kau terlihat khawatir?" tanyanya.

__ADS_1


Aku berjalan santai ke kasur dan merebahkan tubuhku, lalu berkata, "Si Rey membuat hidupku runyam. Aku baru saja teringat bahwa Si Chilli digosipkan menyukai anak dari rekan kerja orang tuanya, yaitu anak dari pemilik perusahaan multinasional terkemuka. Dan kau memberitahukanku bahwa Rey adalah pewaris tunggal perusahaan multinasional terkemuka. Di era ini, hanya ada satu perusahaan multinasional terkemuka yang menjalin kerja sama dengan perusahaan periklanan milik keluarga Si Chilli. Dapat disimpulkan bahwa orang yang Si Chilli sukai adalah..."


"Rey," potong Tiara sambil memutar bola matanya dengan malas, "hanya ingin mengetahui siapa orang yang Cechillia suka saja begitu panjang analisismu. Luci... Luci... semua orang sudah mengetahui itu dengan sangat jelas. Kau memang tidak pekaan. Lagi pula, kau hanya perlu menghindari masalah dengannya, selesai 'kan?"


"Menghindari masalah..." gumamku.


"Iya, menghindari masalah," ulang Tiara.


"Sayang sekali, 'masalah' baru saja mendekat," kataku santai sambil mengotak-atik ponsel dan membaca majalah Aknusbang News online.


"Masalah baru saja mendekat? Jangan-jangan maksudmu..."


"Benar sekali, aku baru saja bertemu Si Chilli," potongku tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel.


"Kalau begitu mengapa masih bisa se-santai ini? Bermain ponsel seolah tidak terjadi apapun," celetuk Tiara.


"Tiara Granindra... sahabatku satu-satunya... Aku sedang membaca Aknusbang News online, juga sedang membaca beberapa materi dari tugas bulanan. Aku khawatir masalah Si Chilli, tetapi kalau sampai dikeluarkan dari sekolah karena tidak mengerjakan tugas bulanan, bukankah lebih mengkhawatirkan?" jelasku.


"Dunia orang genius memang berbeda ya, masih memiliki hasrat mengerjakan tugas... memang cocok mendapat sebutan itu," gerutu Tiara.


"Para murid penasaran, sudah sebulan kita bersekolah di Akademi Nusa Bangsa, namun hanya kau yang belum diketahui bakatnya. Memang benar bahwa kau mampu mendapatkan peringkat pertama sebagai murid genius seluruh Akademi Nusa Bangsa, mengalahkan aku dan Rey, padahal kita sama-sama baru sebulan bersekolah, dan bahkan kau juga mengalahkan Dev dan Cechillia, beserta murid senior lainnya," jelas Tiara.


"Apakah mereka tidak ada kerjaan hingga mengorek tentang diriku?" tanyaku sambil mengerutkan dahi memikirkan jawaban soal terakhir ujian ini.


"Luci, aku belum selesai bicara. Dev dan Rey memiliki IQ ber-skor 180, karena memiliki banyak bakat di bidang olahraga dan bisnis, Rey baru bisa mengalahkan Dev yang jelas-jelas merupakan ketua perserikatan murid Akademi Nusa Bangsa, berbakat di bidang leadership dan diangkat menjadi delegasi hubungan Akademi Nusa Bangsa dengan sekolah-sekolah terkemuka di dunia. Cechillia memiliki IQ ber-skor 175, bakatnya pun kau sudah tahu. Sementara skor IQ-ku hanya terpaut 2 poin di atas Dev dan Rey, itu juga wajar karena aku merupakan ilmuwan pencipta obat-obatan organik. Para murid saja sudah berdecak kagum karena aku dan Rey mengalahkan Dev dan Cechillia yang merupakan senior tingkat 2. Namun, mereka lebih berdecak kagum lagi mengetahui IQ-mu ber-skor 200, terpaut jauh dari kita berempat, hingga para murid bertanya-tanya, bakat hebat apa yang kau miliki. Sekarang ini, para murid berasumsi bahwa bakatmu adalah menjadi 'seorang genius di antara para genius'," jelas Tiara panjang lebar.


"Haihhh... Syukurlah..." kataku bernapas lega.


"Iya, bersyukurlah kau karena mereka belum menyadari bahwa kau belum menemukan bakat apapun selain memiliki otak yang cerdas. Terkadang aku bingung, tingkah lakumu benar-benar tidak mencerminkan IQ ber-skor 200 itu, tetapi aneh sekali, skor IQ yang tinggi dan nilai-nilai sempurna yang kau dapatkan untuk tugas bulananmu itu dari mana munculnya ya?" ucap Tiara.


"Aku bukan bersyukur karena itu, melainkan karena aku baru saja selesai mengerjakan soal ujian untuk materi tugas bulan ini dan barusan sudah kuserahkan semua," sahutku kini kembali merebahkan tubuh di kasur.


"Semua? Bukankah buku tugas bulanan untuk bulan ini baru diberikan tiga hari lalu? Kau pasti bercanda..." kata Tiara, terkikik geli mengganggap ucapanku adalah guyonan semata.


Masih dengan mata terpejam, aku menyahut, "Silahkan saja kau periksa sendiri buku tugas bulananku kalau tidak percaya."

__ADS_1


Tiara menyambar ponsel yang tergeletak di sampingku di atas kasur, membuka buku tugas bulananku, dan menelitinya lamat-lamat. "Sulit dipercaya... berapa hari waktu yang kau perlukan untuk mengerjakan ujiannya?"


"Hari? Aku mengerjakannya barusan sambil mendengarkanmu berbicara tadi. Huh... dengan begini, aku dapat menghabiskan waktu lebih lama di perpustakaan," tuturku.


"Tidak mungkin... kau sudah mengerjakan ujian semua materi itu sangat tidak mungkin, menyelesaikan buku tugas selama beberapa hari saja sudah tidak mungkin, tidak, menonton dan membaca materi-materi di buku tugas dalam hitungan hari saja sudah sangat tidak mungkin, satu materi buku tugas paling cepat selesai ditonton atau dibaca sekitar 30 menit, bulan ini ada masing-masing 5 materi dari 10 mata pelajaran, jika ditotal maka ada 50 materi yang harus dipelajari. Jika masing-masing materi dikalikan 30 menit, maka waktu yang kau perlukan sekitar..."


"1500 menit atau sekitar 25 jam," sahutku memotong ucapan Tiara yang kini sedang menghitung.


"Iya, benar. 25 jam adalah waktu tercepat, tetapi itu masih tidak mungkin karena masih ada mata pelajaran rumit seperti Matematika dan lainnya yang bahkan dalam waktu 2 jam pun mungkin belum dapat dipahami, masih harus membaca atau menonton ulang materi tersebut, kira-kira sekitar tiga hari tiga malam baru dapat menyelesaikannya," jelasnya. Ekspresi wajah Tiara menampakkan raut tak percaya, gadis itu mendekat, dan menggoncangkan tubuhku hingga terduduk dari baring, lalu berkata lagi, "Luci... jangan bilang bahwa kau langsung mengerjakan asal soal ujian tanpa membaca atau menonton materi?"


"Raaa... berhenti menggoncangkan tubuhku," kataku sambil menepis kedua tangan Tiara dari bahuku, "tenang saja, aku bukan siluman yang mampu membaca semua materi dalam waktu singkat. Jika aku se-gila itu, mungkin aku sudah tidak makan, tidak mandi, dan tidak ada waktu bermain denganmu."


"Betul juga. Lalu, apakah kau langsung mengerjakan ujian tanpa mempelajari materi?" tanya Tiara menyelidik.


"Apakah bisa begitu?" tanyaku dan Tiara menggeleng.


"Ujian baru dapat dikerjakan jika kita sudah menonton atau membaca materi, jika langsung melompat ke ujian maka akan berbahaya untuk nilai kita. Akademi Nusa Bangsa sudah memberikan opsi apakah kita ingin mempelajari materi dengan membacanya atau menonton video pengajar terkait materi tersebut, dan aku hanya memilih opsi yang paling mudah," ucapku lagi.


"Tetapi masih mustahil jika kau hari ini sudah menjawab semua ujian materi, aku masih tidak percaya bahwa kau dapat mempelajari semua materi dalam waktu tiga hari tiga malam tanpa henti. Dua hari kemarin kau pulang ke rumah, namun sebelum itu kita seharian menghabiskan waktu berkeliling kota. Bagaimana, Bagaimana mungkin?" tutur gadis itu, terlihat wajahnya sudah memucat.


"Haihhh... sebenarnya aku sangat malas menjelaskannya, namun kau sepertinya begitu ingin tahu hingga wajahmu memucat seperti itu," celetukku.


Tiara berlari ke meja riasku dan becermin di sana untuk melihat wajah pucatnya.


"Buku tugas bulanan diberikan tiga hari lalu di pagi hari. Seharian itu kita berkeliling kota, aku sudah tahu pasti akan sangat membosankan, jadi..." ucapku terpotong dengan Tiara yang tiba-tiba menatapku nyalang.


Dia merebahkan tubuh di sampingku yang masih berposisi duduk. "Luci... kau... jangan bilang seharian itu memakai earphone karena sedang mendengarkan tutor menjelaskan materi?"


"Akhirnya kau mengerti... sebagian besar mata pelajaran dapat dipelajari cukup dengan didengar saja, sementara mata pelajaran yang melibatkan hitungan dan menggunakan rumus hanya perlu dipahami konsepnya saja tanpa perlu dibaca semua. Jika konsepnya sudah paham, untuk apa diulang-ulang," jelasku sambil ikut merebahkan tubuh di kasur, "lagi pula, belajar tiga hari tiga malam non-stop di rumah, bisa-bisa aku kena marah oleh Mamah. Belajar memang penting, tetapi tidak perlu mengorbankan makan, tidur, mandi, dan main. Haihhh... kau ini, Ra."


Tiara menggapai bantal dan menutupi wajahnya. "Memang cocok jika julukanmu adalah 'seorang genius di antara para genius', kau bahkan dapat bersenang-senang dan melakukan aktivitas lain sambil mempelajari materi, kau juga bahkan dapat menjawab soal ujian semua materi tanpa terganggu oleh pembicaraanku tadi, apalagi kau masih dapat menanggapi pembicaraannya. Luci, kemampuanmu sangat mengerikan..."


"Baiklah, sekarang kita pikirkan cara untuk masalah Rey dan Chilli. Keduanya benar-benar menggangguku," kataku.


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2