
Kedua prajurit itu hanya melempar tatapan iba, tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong ratunya. Poor Ratu! Nasibmu sangat bagus! Mati dengan cepat dari yang seharusnya. Aku mulai menertawakan diri sendiri dalam hati. Padahal raut wajahku sudah ketakutan melihat ekspresi Alfa yang sulit ditebak itu, masih sambil memasang senyum miring.
Aku memejamkan mata dan...
"Aaaaa..."
Alfa membopong tubuhku tanpa izin.
Aku, Luciana Lighter, tidak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya. Hanya Alfa brengsek ini yang benar-benar membuatku kesal terus-menerus, geramku dalam hati. Mengepalkan tangan kuat-kuat hingga memutih.
"Turunkan aku!" rontaku.
Alfa tidak menggubris, menaikkan aku ke atas kuda. Memacu kudanya dengan cepat dan kembali ke istana.
Akhirnya sampai juga. Aku tidak mungkin bisa diam begitu saja, membuat Alfa gusar ketika memacu kudanya. Ibaratnya ya, kalau di dunia nyata, aku ingin nekat turun dari mobil yang tengah melaju. Hanya bedanya ini kuda.
"Turunlah!" titahnya dengan tegas. Prajurit dan pengawal sampai bungkam. Dengan tanpa dosa, aku membuang muka kesal. Menuruni kuda dan berjalan santai menjauhi mereka. Ke mana lagi? Tentu saja menuju gerbang Kerajaan Maple Leaf.
Apa aku bodoh? Hello... siapa yang dengan pasrah ingin masuk lagi ke penjara itu? Bentuknya saja yang castil, namun sama seperti penjara.
Alfa begitu geram melihat wanita yang sudah berjalan menjauh itu, membuatnya berjalan dengan langkah lebar-lebar, berniat menyusul.
Aku panik dan setengah berlari.
Apa?
Mengapa dia malah berlari lebih kencang? Memikul tubuhku layaknya memikul karung beras di sebelah bahu. "Alfa, brengsek! Turunkan aku! Ini perintah!" pekikku di telinganya. Hahaha... aku yakin telinga pria ini sudah berdengung hebat.
Semua yang melihat takjub. Pelayan, prajurit, pengawal, dan siapapun hanya mundur memberi jalan dengan disertai sapaan untuk Yang Mulia Raja dan Ratu mereka.
"Aku tidak mau! Mengapa kau paksa aku ke sini lagi? Biarkan saja aku di hutan sialanmu itu! Kau senang 'kan kalau aku mati?!"
Napasku tersegal. Berteriak ternyata sangat melelahkan. Punggung saja belum pulih seutuhnya, bisa-bisanya Alfa begitu seenaknya menjadikanku santapan peliharaannya. Aku kesal.
Alfa menurunkanku di tengah kamar. Aku berdiri kokoh. Prajurit dan pelayan yang ada di depan pintu dibuat jantungan tatkala dengan kasar dia menutup pintu.
BRAK!!
Aku mundur selangkah. Namun mata masih memelototi Alfa yang mendekat. Aku benar-benar kesal dibuatnya. "Mau apa lagi kau?! Ayunkan pedangmu dan segeralah tebas leher ini!" bentakku sembari memejamkan mata, dan memiringkan kepala. Kalau-kalau Alfa ingin menebas lehernya akan lebih mudah, bukan?
Pada dasarnya aku takut. Tetapi sok berani saja. Jika aku hanya punya satu nyawa, pasti juga sudah ciut, hehehe... pikirku masih memejamkan mata.
Tubuhku merinding ketika merasakan tubuh Alfa sudah berada di hadapan. Aura tekanannya kuat, barulah aku bisa merasakannya sudah sangat dekat.
Jantungku serasa mencelos ketika kedua tangan Alfa merengkuh tubuhku, memeluk erat, sangat erat. Aku benar-benar mau jatuh saja ke lantai rasanya karena terkejut bukan main.
Yang ada di pikiranku saat Alfa sudah mendekat, mungkin dia akan mencekik, menjotos, atau langsung menebas. Bikin kaget saja.
Jantung yang seolah berhenti berdetak sesaat, napas yang tertahan, hati yang sudah siap mati, dan tubuh yang kaku. Itu semua tidak berarti. Hanya dipeluk? Oh, ya ampun... Apa aku mengharapkan hal buruk? Tidak, tidak. Aku hanya mempersiapkan kemungkinan terburuk. Apa-apaan perlakukan orang labil ini? batinku tidak terima, sudah memikirkan hal menegangkan apa akan terjadi, malah hanya ini yang kudapat? Tidak seru.
"Kenapa kau selalu ingin pergi? Apa sebegitu tidak sudikah berada di sini?"
Perkataan itu.
Ha! Aku tertohok mendengar ucapan itu. Siapa yang mengirim Ratunya ke hutan sialan itu? Aku hanya ingin pergi jalan-jalan. Apa dia gila?!
Plak!
__ADS_1
"Sadarlah! Kau yang membuatku seperti ini," ucapku setelah menampar wajah tampannya.
Bagus, Luciana Lighter! Kau baru saja menampar Raja brengsek dan beku ini. Hadiah apa yang akan kau dapatkan? pikirku menyadarkan kesalahan tangan yang suka seenaknya ini.
Alfa tertegun. Dalam pikirannya, Apa aku baru saja ditampar?
Alfa memikul tubuhku lagi di sebelah pundaknya.
BRAK!!
Pintu yang tak bersalah itu ditendang kasar olehnya.
"REFISHA!!" panggilnya dengan nada tinggi dan amarah memuncak. Matilah aku kali ini! rutukku dalam hati dengan mata mengerjap cepat.
Dari bawah tangga Ibu Refisha tergopoh-gopoh naik.
"Salam Sejahtera kepada Yang Mulia Raja dan Ratu. Ada yang dapat saya bantu?" sahut Ibu Refisha mencoba setenang mungkin. Akan tetapi, aku sangat tahu, jantungnya sudah nyer-nyeran melihat tampang Rajanya yang sedang marah luar biasa.
"Bukakan kamar pengasingan untuk Ratu! Jangan berikan makanan atau minuman apapun untuknya!" titah tegas Alfa.
Apa ini sudah saatnya? benakku. Pada akhirnya tiba juga saatku diasingkan.
"Ba-baik, Yang Mulia Raja. Silakan lewat sini," tuntun Ibu Refisha.
Aku?
Aku hanya bisa pasrah, terutama ketika dengan tega Alfa melempar tubuh ini ke lantai dengan kasar. Membuatku mengaduh, selain bokongku sakit membentur lantai, juga punggung bekas cambukan belum pulih sepenuhnya.
"Pengawal! Awasi! Jika Ratu keluar lagi, kalian akan aku bunuh!"
Wah... ini ternyata sifat asli si Beku brengsek, batinku terpukau dan sedikit tercengang.
BRAK!!
Dari luar terdengar perintah Alfa. "Kunci dan gembok, tidak ada yang boleh mengasihaninya!"
Hebat.
Ternyata ini rasanya menjadi Putri Luciana Lighter.
"Kamar yang kecil seperti di penjara," gumamku mengamati ruangan berukuran 5x5 meter ini.
"Kasur ini bahkan tidak seempuk milik si Brengsek," umpatku sebal.
"Hahahaha..." Aku tertawa keras. Membuat dua prajurit yang berjaga berpikir bahwa Ratu mereka sudah gila karena perlakuan kejam Raja.
"Akhirnya tiba juga saat ini, aku jadi ingin cepat-cepat mengutuknya, dan pulang," ucapku girang. Girang? Apa aku benar-benar hilang akal?
Benar. Mungkin orang yang dikurung seperti aku akan merasa tersiksa. Namun, siapa yang sangka kalau ini yang aku tunggu-tunggu.
Awas saja, Raja Alfa Bellezza Dell'arcobaleno! Aku akan mengutukmu secepatnya! Hahahahahaha... batinku tertawa iblis dengan senyum seringai yang mengerikan.
Di lain sisi.
Ruang kerja Raja Alfa.
BRAK!!
__ADS_1
Dengan langkah gusar, dia memasuki ruangan. Diikuti Rudolf yang langsung menghampirinya ketika seorang pelayan melapor bahwa Raja Alfa sedang meledak.
"RUDOLF!! Kau yang bertanggung jawab memastikan Ratu tersiksa diasingkan. Jangan beri makan atau minum hingga dia memohon ampun!" titahnya menyeramkan.
"Tetapi, Yang Mulia Raja. Apa ini tidak terlalu kejam?" tanya Rudolf takut-takut.
"Apa aku sedang menyiksa fisiknya? Biar dia rasakan akibat melawan seorang Raja seperti aku."
Iya, seperti kau. Kejam dan tak berbelas kasih. Apa kau pikir Ratu Luciana Lighter akan memohon ampun? Tidak. Dengan Luciana Lighter dari masa depan yang memiliki ego dan gengsi tinggi, mana mungkin akan memohon hanya untuk makanan dan minuman.
"Tetapi--"
"Kau mau kubunuh?" Alfa menatap Rudolf nyalang. "Keluarlah!"
Rudolf patuh dan keluar, meninggalkan Rajanya yang akan menyesal suatu saat nanti.
"Kau akan berlutut di hadapanku Ratu," kecamnya pada angin yang berhembus melewati celah-celah kecil jendela yang tertutup.
Satu hari berlalu.
Di kamarnya. Alfa menatap keluar jendela yang gordennya sudah terbuka sejak Ratunya membuka gorden itu tanpa merasa bersalah waktu itu.
"Ratu sudah memohon, Rudolf?"
"Belum, Yang Mulia Raja."
Hari kedua.
Di ruang kerjanya.
"Ratu sudah memohon?"
"Belum, Yang Mulia Raja."
Hari ketiga.
Di ruang makan.
"Ratu memohon?"
Rudolf menggeleng pelan. "Belum, Yang Mulia Raja."
Brak!
"Apa Ratu mati? Atau kalian tuli tidak mendengarnya memohon? Seorang Ratu sudah tiga hari dikurung tanpa makan dan minum. Kalian pasti tuli!" bentak Alfa tidak terima.
Luciana Lighter adalah orang yang keras kepala. Hanya tiga hari, bahkan sampai matipun dia tidak akan memohon.
Alfa beranjak bangkit dari kursi. Melenggang dari ruang makan menuju kamar pengasingan Ratu.
Di depan pintu.
Sepi sekali. Memang tidak ada suara, bahkan rintihan pun tidak ada, dalam hatinya bertanya-tanya. Rasa cemas mulai menyeruak ke relung hatinya.
Setelah prajurit membukakan gembok dan kunci. Raja Alfa masuk.
"Ratu!!"
__ADS_1
To be continue...
Ratu kenapa tuh?