
Setelah prajurit membukakan gembok dan kunci. Raja Alfa masuk.
"Ratu!!"
Pekikan Alfa membuatku tersentak. Apa yang membuatnya memekik seperti itu? batinku.
Sementara Alfa sudah berpikir yang tidak-tidak. Ratu pingsan? Terkulai di lantai? Atau bahkan bunuh diri?
Hahaha... lucu sekali. Sepertinya Alfa harus mengenal Ratunya dengan baik. Seorang Luciana Lighter tidak akan pernah mau berperan menjadi gadis yang tersiksa. Dia paling suka peran yang membanggakan.
Mendapati pekikannya sia-sia. Alfa berjalan mendekatiku yang kini sudah berdiri menghadap jendela. Menikmati pandangan lagi, pekikan Alfa tadi hanya membuatku menoleh sebentar.
Alfa memelukku dari belakang, mengecup puncak kepalaku, dan mengelus rambut hitam panjangku yang terawat.
"Kau baik-baik saja?" bisiknya penuh kasih sayang.
Hei, hei, hei. Ini tidak benar, Ferguso. Harusnya dia mengasingkanku, mengapa jadi menghampiri? jeritku dalam hati.
Dengan kasar, aku mendorong tubuhnya menjauh. Melempar tatapan nyalang bak elang mau menerkam mangsa. "Untuk apa kau kemari?" tanyaku ketus.
"Tentu saja ingin bertemu Ratunya. Apa itu salah?"
Woww... ingin sekali menonjok wajah si beku tidak tahu malu ini. Salah, sangat salah. Apa berhak Ratu diasingkan seperti ini?
"Pergilah!" bentakku kesal. Alfa tertegun, selama hidupnya baru kali ini dia masih membiarkan hidup seseorang yang kurang ajar.
"Kau tuli? Telingamu tidak berfungsi?" ejekku dengan tatapan sinis, wajah tidak bersahabat, dan nada meremehkan.
"Aku minta maaf. Apa kau begitu marah?"
Wah... dia benar-benar mengajak ribut, ucapku dalam hati, hampir tidak percaya dibuat manusia jadi-jadian ini.
Bagaimana menjelaskannya bahwa aku begitu marah, sangat marah hingga sanggup melakukan tindakan bar-bar untuk membunuhnya.
Aku diam tak acuh, memalingkan badan ke arah jendela lagi. Alfa merasa bersalah.
"Ayo kembali ke kamar," ajak Alfa lembut, namun aku malah membalas dengan senyum sinis.
"Kamar? Kamar mana yang kau maksud? Sejak awal aku bahkan tidak memilikinya. Oh, bukan. Ini kamarku, kau ingin mengajakku ke kamar yang mana?" Aku sudah tidak bisa lagi mengontrol emosi. Mengapa si Beku ini bukan berperan sebagaimana seharusnya, bengis dan kejam. Aku jadi merinding dan tidak paham harus berbuat apa agar cerita ini cepat selesai.
"Aku mengerti. Kau pasti terluka diperlakukan seperti ini. Kau ingin aku memohon dan berlutut di hadapanmu?"
Aku hanya diam. Siapa peduli, berlututlah sepuas hati. Belum tentu juga Raja yang senang membunuh sepertimu berlutut di hadapan seorang Ratu yang sangat mudah digantikan.
__ADS_1
"Yang Mulia Raja!!" pekik Rudolf dan dua pengawal, serta satu pelayan di sana. Mereka bergegas berlutut, malah mungkin lebih seperti bersujud.
Aku menoleh, mendapati seorang Raja Kerajaan Mapel Leaf benar-benar berlutut, membuatku tercengang.
Apa maksudnya ini? Aku di mana? Masih di sejarah Kerajaan Maple Leaf, bukan? Mengapa Raja yang bengis berubah menjadi budak cinta tingkat dewa?
Ha! Aku terpukau.
"Yang Mulia Ratu! Tidak benar membiarkan Raja berlutut terus. Siapapun yang melihat Raja berlutut harus berlutut lebih rendah darinya," jelas Rudolf.
Aku mengerti sekarang mengapa mereka bersujud.
Haih... sangat merepotkan. "Bangunlah," ucapku disertai hembusan napas kasar.
Alfa bergeming. Membuatku geram.
Dengan nada menyindir, aku berkata, "Sepertinya kau belum puas. Ingin aku ikut bersujud seperti mereka dan menempelkan wajah di lantai. Apa boleh buat."
Aku sudah membungkuk, siap menempelkan lutut ke lantai.
"Tidak! Baiklah, aku akan berdiri." Alfa membuatku bangkit, menghentikanku yang ingin bersujud.
Hohoho... niatnya hanya mengertak. Siapa sangka dia sangat ketakutan. Aku merasa tersanjung, tawa puasku dalam hati.
Aku mengangguk. Dalam hati, Tidak baik memendam dendam kesumat.
"Baiklah, ayo kembali ke kamar," ajaknya, namun segera kutepis kedua tangan si beku yang menyentuh bahuku.
"Ini kamarku. Suatu hari aku berbuat salah, pasti kau akan mengirimku ke mari. Lebih baik jika tidak perlu membuang waktu memberikan kenyamanan sesaat yang fana itu," gerutuku.
"Tidak! Ini penjara. Kau tidak boleh tinggal di tempat tidak nyaman ini."
Haha... Siapa yang sebelumnya mengirimku ke mari? Dia berujar seakan aku mau sendiri tinggal di sini. Hidungku gatal sekali karena di sini begitu berdebu.
Ah... kesal sekali berbicara dengannya. Ingin sekali aku lempar dirinya keluar jendela, sayang sekali statusnya Raja.
Aku lalu mendapat sebuah ide yang menggelitik diri ini untuk merealisasikannya. Otak cantikku... kau luar biasa.
Dengan langkah anggun nan percaya diri, aku menghampiri Rudolf yang sudah bangkit dari sujudnya selepas Alfa berdiri. Tanpa menghiraukan Alfa yang udah menautkan alis bingung.
"Rudolf..." suaraku mulai menjalankan ide cemerlang.
"Iya, Yang Mulia Ratu," sahut Rudolf tenang, namun bingung. Entah apa yang akan dilakukan Ratunya kali ini.
__ADS_1
"Aku ingin bertanya kepadamu."
"Tanyakanlah, Yang Mulia Ratu. Rudolf akan menjawab dengan sungguh-sungguh jika mengetahui jawabannya."
Aku memampangkan senyum penuh makna.
"Ehem..." dehamku melancarkan tenggorokan, tanpa sedikitpun melunturkan senyuman itu. Sementara Alfa hanya diam, penasaran dengan apa yang akan dikatakan Ratunya.
"Begini Rudolf. Jika ada seseorang yang menampar Raja Alfa atau bisa dibilang memukul wajahnya. Hukuman apa yang pantas didapatkan orang itu?" tanyaku dengan wajah polos dengan satu jari telunjuk mengetuk-ngetuk dagu.
Alfa membulatkan matanya sempurna, tidak menyangka Ratu Luciana Lighter akan mempertanyakan hukuman untuk dirinya sendiri kepada Rudolf.
"Siapa yang berani, Ratu?! Katakan! Orang itu akan dipotong tangan dan diasingkan seumur hidupnya. Tetapi... jika memang ada orangnya... aku tidak akan segan-segan menebas lehernya di hadapan Raja," jelas Rudolf penuh dengan ancaman dan amarah membara.
Aku terkejut bukan main mendengar hukuman apa yang seharusnya aku dapatkan, seketika wajahku memucat. Ha! Apa Alfa mencoba melindungiku?
"Yang Mulia Ratu? Kau baik-baik saja? Kau tidak perlu khawatir. Yang Mulia Raja pasti akan langsung menebas dan mencabik-cabik tubuh orang itu, memberikan jasadnya pada hewan buas koleksi Raja," ucap Rudolf bangga akan kebengisan Alfa. Sementara aku tercekat, merinding, membayangkan leherku ditebas dan tubuhku dicabik-cabik, serta jasad pun tidak dikubur dan malah diberikan ke hewan buasnya sebagai camilan. Hanya sebuah tamparan. Woww... si brengsek kejam sekali.
"RUDOLF!!" bentak Alfa menghentikan ucapan orang kepercayaannya.
Rudolf ketakutan melihat sorot mata Raja Alfa yang memandangnya tajam. Dalam hatinya, Apa aku ada salah bicara?
Sementara aku, dengan pandangan kosong berkata pelan, "Cepat tebas leherku, Rudolf."
"Yang Mulia Ratu? Apa yang kau katakan?"
"Cepat tebas leherku. Aku sudah menampar Raja kalian." Kini suaraku lebih lantang dan membuat Rudolf tak bisa berkata-kata. Di satu sisi, dia sudah begitu kejam memberitahukan hukuman bagi yang menampar atau memukul wajah Raja. Di sisi lain, orang itu adalah Ratunya.
Tangan Rudolf sudah terangkat siap mengeluarkan pedang dari sarungnya. Tangan itu gemetaran. Namun, hukum tetaplah hukum.
"RUDOLF!! KAU BERANI?!" bentak Alfa, menarik tangan Ratu Luciana Lighter keluar kamar pengasingan menuju kamarnya.
Sementara Rudolf menghembuskan napas lega. Raja sendiri yang menghentikannya, maka dia tidak perlu merasa bersalah pada penyelamat hidupnya.
Namun... bagaimana nasib Ratu sekarang?
Di kamar Raja Alfa Bellezza Dell'arcobaleno.
Alfa mendudukkan aku dengan sedikit kasar, berjongkok di hadapanku yang masih melamun. Aku pikir, aku akan mati muda.
"Tenang saja. Aku tidak akan menghukummu. Tidak akan menyakitimu lagi. Aku tidak akan membuat perhitungan atas perlakuanmu," ucap Alfa cemas melihatku yang masih bengong. Menangkup kedua pipiku agar menatap matanya. "Sadarlah, Ratu. Aku tidak akan menyakitimu. Siapapun yang berani menentang keputusanku ini, akan menemui ajalnya," ucap Alfa meyakinkan.
Masih dengan pandangan kosong, aku bertanya, "Alfa... jika suatu hari aku mengkhianatimu, akankah kau membunuhku?"
__ADS_1
To be continue...