
"Sayang.."
Alice terbangun dari tidurnya hanya karena suara lembut yang memanggilnya itu. Alice membuka matanya perlahan dengan kondisi yang masih mengantuk, dia mengucek matanya sendiri yang masih terasa berat. Baru membuka mata, dia sudah disambut oleh Tuan Alexander Radendra, suaminya yang biasanya dipanggil Alex.
"Alex, kamu sudah bangun?" tanya Alice dengan suara serak. "Sudah jam berapa sekarang? Kenapa kamu tidak berangkat ke kantor?"
Alex tertawa kecil mendengar ucapan Alice, dia kembali duduk ketika dia tadi sedikit membungkuk untuk membangunkan istrinya. "Sayang.. Apa maksudmu? Sekarang itu weekend, tidak mungkin aku masuk kantor. Kamu memang ingin sekali aku ke kantor ya?"
Alice langsung menggeleng cepat, kantuknya hilang seketika. "Bukan begitu Alex, aku lupa." Alice melirik ke nakas dan menemukan sepiring roti dan segelas susu disana. "Kamu yang membuatkannya?" tanyanya. Alexander mengangguk. "Kamu tidak perlu repot begitu, ini pekerjaan sebagai istri. Sekarang jam berapa?"
"Sekarang jam 9, memang telat untuk memberikan sarapan, tapi itu lebih baik dibandingkan perutmu kosong."
"Apa?! Jam 9?!" Alice benar-benar terkejut, dia tidak pernah bangun sesiang ini, dia selalu bangun jam setengah 7 setiap harinya dan dia akan bangun jam 7 ketika weekend, sesiang-siangnya, itu hanya sampai jam 8 pagi. "Kenapa kamu tidak membangunkanku?"
"Melihat wajahmu yang tertidur lelap saja aku tidak tega. Bagaimana bisa aku membangunkan i? Jadi lebih baik aku membuatkan sarapan untukmu."
"Tapi ini bukan tugasmu. Ini tugasku."
"Tidak apa-apa. Aku menyukainya, ini mudah. Sekarang lebih baik kamu sarapan dulu, jangan menyia-nyiakan sarapan yang dibuat oleh Alexander ini, hanya Alice Radendra yang bisa merasakannya."
Alice tertawa kecil mendengar ucapan Alex, memang benar. Dia tahu jelas kalau Alex malas berurusan dengan dapur, tapi Alex malas sekali membuat sarapan, bahkan hanya dengan seperti ini saja. Membuatkan untuknya, itu benar-benar keajaiban.
"Oh.. Aku terharu, terima kasih Tuan Alexander."
"Sama-sama Nyonya Radendra."
Keduanya tertawa kecil. Pernikahan yang sudah dijalani selama 1 tahun ini, semuanya benar-benar menyenangkan, masa mereka berpacaran selama 4 tahun juga tidak bisa dilupakan. Mereka sudah cukup lama bersama, pastinya ada pertengkaran kecil, namun mereka selalu bisa mengatasinya.
"Tapi aku mau menggosok gigi dulu, baru sarapan."
"Ya sudah. Terserah kamu, aku akan menunggumu sayang."
Alice tertawa dan mengangguk. Dia turun dari kasurnya, kemudian ke kamar mandi untuk menggosok gigi, setelah nanti dia memakan sarapan buatan Alex dan membereskan kasur, dia baru akan mandi. Beberapa menit berlalu, setelah selesai menggosok gigi, Alice keluar untuk memakan sarapan Alex.
Namun matanya membulat, menemukan kasurnya sudah rapi dan Alex tersenyum sembari menatap kasur mereka, Alex pasti sudah membantunya untuk membereskan semuanya. "Alex! Kenapa kamu merapikannya?" tanya Alice sembari berjalan menghampiri Alex.
"Kenapa? Kan aku juga tidur disini."
__ADS_1
"Tapi itu bukan tugasmu."
"Berhenri membicarakan tugas, itu tidak berlaku disini. Setidaknya untukku, aku hanya ingin membantu istriku ini.."
Alice tersenyum manis mendengar ucapan Alex. Sungguh, dia benar-benar menjadi wanita paling beruntung katena bisa memiliki Alex. Alice memeluk Alex, sempat membuat Alex terkejut, namun tidak lama, Alex membalas pelukan itu tidak kalah erat.
"Terima kasih sayang.." ucap Alice sembari memeluk Alex.
Alex tersenyum. "Tidak perlu mengucapkan terima kasih, aku memang harus membantu sebagai seorang suami."
--Marriage Life Part 1--
Alice tersenyum bangga melihat semua masakannya sudah tersedia di meja. Dia menatap kamarnya dan Alex yang ada di lantai dua. Suaminya itu tadi mandi dan sampai sekarang belum kelusr juga. Aneh, tidak biasanya Alex mandi lama seperti ini. Oh.. Atau mungkin Alex sedang bermain ponsel.
"Alex! Ayo sarapan!" teriak Alice, namun tidak mendapat respon. Dia mergenyitkan kening. "Alex!" panggilnya lagi, tapi tetap tidak ada respon.
Alice pun memutuskan untuk pergi ke kamarnya dan Alex untuk melihat apa yang Alex lakukan sebenarnya. Dia tidak mungkin masih mandi, namun jika tidak, kenapa Alex tidak menjawab panggilannya. Alice perlahan membuka pintu kamarnya dan Alex, keningnya mergenyit melihat Alex tengah duduk di kasur mereka sembari mengusap foto di ponsel.
"Alex? Foto siapa yang dia lihat?" tanya Alice dalam hati.
Deg!
Mata Alice membulat seketika mendengar ucapan itu. Hari ini berwrti adalah ulang tahun ayah Alex? Alice kembali mendengarkan ucapan Alex.
"Seharusnya kita bisa merayakannya, tapi Ayah pasti sedang merayakannya bersama Ibu diatas sana, kalian pergi cepat sekali. Aku ingin menyusul, tapi masih ada satu wanita yang harus aku bahagiakan dan aku jaga. Jika tidak ada dia, mungkin aku sudah menyusul kalian lebih dulu. "
Alice terdiam mendengar ucapan Alex, dia tahu wanita yang dimaksud Alex disini adalah dia. Alex sudah kehilangan Ayah dan Ibunya ketika kuliah karena mereka kehilangan nyawa ketika mereka liburan dan terjadi kecelakaan pesawat. Saat itu Alex sedang ujian, jadi dia tidak bisa ikut.
Alex mungkin akan menyusul ayah, ibunya. Tapi Alice selalu disampingnya dan menyemangatinya membuat Alex memiliki semangat untuk mempertahankan hidupnya karena itu, dia benar-benar tidak bisa hidup tanpa istrinya itu.
"Selamat ulang tahun Ayah, semoga nanti kita bisa merayakannya bersama-sama. Bersama dengan menantu Ayah dan Ibu juga, Alice. Hanya dua yang kupunya sekarang, Ayah dan Ibu berdoa agar dia baik-baik saja ya? Aku benar-benar sangat mencintainya dan hanya dia yang kumikiki dalam hidup ini."
"Aku hampir mati ketika kalian yang pergi, jangan sampai aku juga harus kehilangannya. Kalau tidak aku sudah dipastikan akan menyusul."
Pertahanan Alex runtuh, dia menundukkan kepalanya, meletakkan foto itu ke nakas dan menangis, merindukan ayahnya. Alice menggigit bibirnya, sebelum dia berlari menghampiri Alex dan memeluknya dari belakang membuat Alex terkejut. Alice benar-benar tidak tega melihat Alex sehancur ini.
"Jangan menangis lagi."
__ADS_1
"Sayang?" tanya Alex, dia langsung menghapus air matanya dan berbalik menghadap Alice, dia menarik senyuman. "Sejak kapan kamu masuk Sayang? Aku bahkan tidak menyadarinya sama sekali," ucapnya sembari terkekeh, berusaha menyembunyikan lukanya. "Sarapannya sudah siap ya?"
"Berhenti seakan kau baik-baik saja, kumohon.. Jangan memendam lukamu sendirian, aku istriku, kau bisa berbagi semua lukamu denganku, Alex."
Raut wajah palsu Alex berubah kembali ke aslinya. Dia tersenyum miris. "Kau mendengar semuanya?" tanyanya dibalas anggukan kepala Alice.
Alex menghela nafas, membalikkan tubuhnya, menghadap langit dan tersenyum. "Kamu tahu sayang? Hari ini adalah ulang tahun Ayah, hari lahir Ayah. Biasanya Ayah akan membawaku ke kafe untuk minum bersama, tapi sekarang--" Alex menggantungkan peekatannya, air matanya kembali mengalir.
Alice langsung memeluk Alex dari belakanh--lagi. Dia tidak tega melihat Alex terpuruk seperti ini.
"Jangan sedih lagi, Ayahmu tidak akan menyukainya. Alex-ku tidak boleh sedih. Kalau kamu sedih, aku ikut sedih." Alice melepaskan pelukannya, berdiri didepan Alex menghapus air matanya. "Kita akan ke kafe itu ya?"
"Kafe?"
"Dimana kafe yang Ayahmu selalu datangi ketika dia ulang tahun? Kita akan kesana sehabis makan! Aku akan menemanimu!"
Alex tertawa kecil. "Astaga, tidak perlu sampai seperti itu, Sayang."
"Tapi aku mau! Kamu harus membawaku!" Alice memeluk Alex sekarang dari depan. "Dan kamu tidak boleh sedih lagi."
Alex tersenyum, merasa beruntung memiliki Alice dalam hidupnya. "Baiklah, semuanya untukmu, Sayang. Terima kasih telah menjadi istriku, aku mencintaimu."
"Terma kasih telah menjadi suamiku, aku mencintaimu."
.
.
.
.
.
--To Be Continue--
Hi.. Bagaimana Part pertama? Semoga suka! Jangan lupa beri dukungannya, terima kasih.
__ADS_1