Marriage Life

Marriage Life
Marriage Life Part 4


__ADS_3

Alex memaba lagi berkas-berkas yang akan ditunjukkan kepada CEO yang akan bekerja sama kepadanya. Alex harus memastikan semua berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan sedikitpun. Alex menganggukan kepala sembari meletakkan map-map itu di mejanya, menaruh ya dengan rapi.


"Bagus! Semua sudah siap. Kapan dia akan datang?"


"Dia di lift, sedang menuju kesini," jawab Gavin.


"Oke."


"Tuh. Berdiri."


Gavin menunjuk dengan dagunya ke arah pintu terbuka. Alex buru-buru berdiri dan menoleh ke arah CEO itu dan matanya membulat seketika. Dia mematung melihat CEO itu, bukan hanya dia, tapi Gavin juga, tadi dia hanya melihat sekretarisnya. Dia terkejut bukan main, bersama Alex disana.


CEO wanita itu juga terkejut. Namun tak lama, dia disadarkan lamunannya oleh sekretarisnya, dia langsung berjalan maju. Alex dan Gavin juga berusaha menetralkan wajah mereka, mereka harus tetap profesional.


"Pak Alex." CEO itu mengulurkan tangan. "Tiara. Senang bekerja sama denganmu."


Alex membalas uluran tangan itu. "Senang juga bertemu denganmu, Bu Tiara," ucapnya sebelum dia buru-buru melepaskan pegangan tangan itu.


Tiara tersenyum miris, sebelum menjauhkan tangannya. Gavin berdehem, berusaha mencairkan suasana. "Baiklah, mungkin kita bisa mulai meetingnya."


--Marriage Life Part 4--


Alice tersenyum sembari mengelap keringatnya yang menetes. Dia baru saja selesai memasak untuk makan malam, dia menoleh ke arah jam dan melihat sudah jam 6. Bersrti sebenar lagi, Alex akan segera pulang ke rumah, sekitar 1 jam lagi. Alex sudah berjanji akan pulang jam 7, dia ada meeting, jadi harus kembali lebih lama lagi.


Alice melepas celemek yang dia pakai, kemudian menyiapkan piring dan sendok sembari menunggu Alex pulang.


"Tampaknya aku akan mandi dulu. Menunggu Alex pulang," ucapnya, kemudian naik ke lantai dua untuk mandi.


--Marriage Life Part 4--


Meeting sudah selesai.


Tapi Tiara dam Alex masih di ruangan meeting, hanya berdua. Awalnya Alex ingin segera pergi, namun Tiara menahannya dengan alasan ingin membicarakan sesuatu dengan Alex. Alex mau tidak mau tetap disini. Suasana hening katena keduanya tidak membuka suara. Hingga Alex melirik jam tangan, dia sudah janji kepada istrinya untuk pulang awal.


"Apa yang ingin kau bicarakan? Aku harus segera pulang," tukas Alex dingin membuat Tiara mengangkat kepalanya.


Tiara menarik nafas dan membuangnya, berusaha untuk tenang. Lalu membuka suara. "Aku.. Aku hanya ingin minta maaf atas apa yang sudah terjadi di masa lalu Lex.."

__ADS_1


Alex menghela nafas. "Sudah, tidak perlu dibahas. Aku tidak mau membahasnya, itu adalah masa lalu yang seharusnya tidak perlu kita ingat lagi. Aku dan kau tidak memiliki hubungan apapun lagi, kau mantanku."


"Iya. Aku tahu."


Mantan? Ya, Alex dan Tiara awalnya adalah mantan, mereka berpacaran sejak SMA, namun itu hanya bertahan dua tahun. Katena Tiara tiba-tiba memutuskan hubungan mereka begitu saja, dia bilang karena dia sudah tidak nyaman lagi bersama Alex. Alex benar-benar putus asa saat itu, tapi untunglah dia bertemu dengan Alice.


"Tapi Lex, saat itu aku benar-benar menyakitimu."


"Kita masih belum dewasa, aku tidak akan menyalahkanmu. Jadi kau tenang saja."


Sebenarnya dibalik putusnya dia dan Tiara, ada untungnya. Karena jika dia tidak putus dengan Tiara, dia tidak akan bersama cinta sejatinya sekarang yang sudah berstatus sebagai istrinya, yaitu Alice.


"Maaf Alex. Maaf."


Tiara benar-benar merasa bersalah sekali. Dia ingin sekali menenus kesalahannya, jadi dia datang dan berniat untuk memulai kembali hubungannya dengan Alex yang sempat kandas beberapa tahun lalu. Karena Tiara merasa dia masih mencintai Alex, masih ada cinta didalam dirinya yang tidak bisa dia lupakan sama sekali.


"Alex.."


Alex memandang Tiara yang menggigit bibir, sebelum dia membuka suara. "Kau mau menjalaninya lagi?" Mata Alex membulat. "Kau mau menjalaninya lagi bersamaku? Kali ini aku benar-benar akan setia, aku tidak akan pernah meninggalkanmu, aku bersumpah."


Alex menggeleng cepat, dia langsung menggeleng dan buru-buru berdiri. "Maaf, tapi kau perlu tahu satu hal," ucap Alex membuat kening Tiara mergenyit. "Aku sudah memiliki istri dan tentu saja aku tidak bisa memulai hubungan kembali denganmu."


"Itu benar. Namanya adalah Alice, setelah kau meninggalkanku, dia yang ada dan menemani hariku, aku benar-benar mencintainya dan tidak akan pernah meninggalkannya. Hanya dia yang ada di hatiku. Mulai detik ini sampai selamanya. Jadi kuhaeap kau lupakan saja tentang perbaiki hubungan kita, itu tidak mungkin."


Tiara benar-benar tercengang sekaligus merutuki kebodohannya sendiri katena dia tidak berpikir kesana. Dia berpikir Alex belum memiliki istri atau setidaknya orang yang dia cintai, dia tidak menduganya. Hah.. Bodoh sekali dia.


Mata Tiara berkaca-kaca. Jadi begini rasanya sakit hati, sakit yang dirasakan Alex ketika dia memutuskan hubungannya dengan Alex. Alex yang menyadarinya panik seketika.


"Tiara.. Jangan menangis."


Tiara berusaha tersenyum sembari menghapus air matanya. "Sudah, tidak apa-apa. Kau pergilah ke rumah, bagaimana kalau sampai istrimu menunggu? Tidak perlu khawatirkam aku, semua imi salahku dan aku harus menanggungnya."


Alex tak bisa berkata apapun. Dia pun menghela nafas. "Baiklah, maafkan aku Tiara. Jangan sedih, kau pantas mendapatkan pria yang jauh lebih baik dibandingkan diriku," ucapnya.


Tiara hanya tersenyum dan mengangguk. Alex tersenyum kemudian pergi dsrisana, meninggalkan Tiara yang sekarang menatap pintu ruangan meeting itu dengan sendu.


--Marriage Life Part 4--

__ADS_1


Alice menghela nafas kasar ketika Alex lagi-lagi tak menjawab teleponnya, tepatnya tidak aktif. Alice menjadi khawatir kepada Alex, apa terjadi sesuatu kepada suaminya, namun dia berusaha untuk berpikir positif dan tidak berpikir negatif. Sekarang sudah jam setengah 8 atau 07.30, tapi Alex belum juga pulang.


Cklek!


Alice langsung menoleh dan tersenyum menemukan Alex sudah pulang. "Alex!" ucapnya, lalu berlari ke arah Alex dan memeluknya. Alex tersenyum sembari membalas pelukan Alice. "Alex! Kenapa kamu tidak menjawab teleponku? Ah tidak.. Tepatnya kenapa ponselmu tidak aktif, aku khawatir Alex."


"Maafkan aku sayang.. Aku kembali pulang terlambat," ucapnya dengan raut wajah menyesal. "Jalanan tadi macet sekali," ucap Alex. Dia tidak berbohong, jalanan memang macet, hanya saja ada faktor lain yang bisa membuatnya telat.


Alice tersenyum, kemudian menggeleng. "Tidak apa-apa. Jangan terlalu dipikirkan Alex, kamu pasti lelah juga sepanjang macet. Bawa sini tasnya, kamu langsung mandi saja ya, lalu makan."


"Sayang," panggilnya sembari memberikan tas itu kepada Alice. "Sehabis mandi aku langsung tidur ya, aku mengantuk."


"Hah?" tanya Alice kaget. "Jadi kamu tidak mau makan?"


Alex menggeleng. "Tidak sayang."


"Alex.. Kamu harus makan ya, nanti kamu bisa sakit. Makan saja ya."


"Aku sudah makan diluar."


Seketika hati Alice tertohok, padahal dia sudah berusaha memasak semua ini, jarinya tadi sempat teriris pisau. Tapi Alex ternyata sudah makan diluar, padahal dia berjanji akan malam malam bersama Alice. Namun Alice berusaha mengerti, Alex tampak lelah, tampaknya terjadi sesuatu di kantor.


"Ba-Baiklah. Terserah."


"Terima kasih."


Alex tersenyum, kemudian naik menuju ke kamarnya,meninggalkan Alice yang menghela nafas berat.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


--To Be Continue--


__ADS_2