
Pemandangan kota yang cukup cerah tidak berhasil membuat senyum dari Alice terbentuk. Didalam otaknya, hanya ada suaminya dan mantannya itu membuatnya rasanya ingin mengurung diri ke kamar dan menangis saja. Benar-benar menyakitkan rasanya. Terlebih sekarang suaminya itu berada disampingnya, menyetir sembari sesekali menatap ke arahbya yang enggan bicara.
"Sayang?" Akhirnya Alex membuka suara setelah menghentikan mobil. Tapi Alice masih enggan bicara.
"Sayang.. Apa kamu terluka?"
Alice masih tak menjawab.
"Sayang.. Kenapa kamu tak menjawab? Kamu benar-benar ada yang terluka? Katakan saja kepadaku sayang, sekarang juga kita akan mengobatinya, setahuku disini ada rumah sakit."
"Maaf, tadi aku terlalu kuat memegang---"
Alice berdecak. "Aku tak apa, bawa saja aku kerumah Ibu."
Kening Alex mergenyit. "Ibu? Kamu mau mengunjunginya?"
"Aku mau berpisah rumah. Enggan aku satu rumah denganmu." Alice membalas tanpa menoleh ke arah Alex yang membulatkan mata terkejut.
"Tidak!" Alice menoleh ke arah Alex. "Kita adalah suami-istri, Bagaimanapun juga kamu tidak boleh pisah bersamaku. Kamu mengerti?"
"Kenapa kamu sangat egois?! Kau mau memilihku atau dia?! Jangan plin-plan!" Alice menjawab dengan mata berkaca-kaca. "Selama ini aku hanya pelampiasan! Kau sakit hati ditinggal olehnya lalu mencariku. Begitukab siklusnya? Sekarang dia kembali, cintamu hilang dan kau akhirnya hanya mencintainya!"
"Tidak!!" Alex menggeleng cepat. "Kenapa kamu berpikir begitu sayang? Aku benar-benar hanya mencintaimu seseorang. Kehadirannya sama sekali tidak berpengaruh."
"Tidak?! Kau bahkan mengatakan kalian bisa kembali bersama! Kau mau---"
"Sayang. Maksudku kembali hanya sebagai teman!" Alex ikut meninggikan nada suaranya agar mengalahkan teriakan Alice. Alice mematung disana. "Hanya teman, bukan hubungan yang seperti kau pikirkan. Bagaimana aku bisa melakukan itu sedangkan kamu sekarang saja sudah menjadi istriku."
"A-Apa?" Alice terkejut.
"Benar sayang.. Tadi sebenarnya Tiara sempat berpikir sama seprtimu. Tapi aku langsung memberitahu bukan itu maksudku. Aku dan dia hanya bisa sebagai teman, jadi maksudnya kami tidak perlu bermusuhan atau saling menjauh. Karena aku lebih nyaman jika tidak ada permusuhan, lagipula jika bukan karena aku putus dengannya, aku tidak akan menemuimu kan sayang?"
Alice memejamkan matanya, air matanya jatuh. Bukan karena apa, tapi sekarang dia merasa bersalah saja karena sudah berpikiran buruk terhadap Alex. Tapi dia benar-benar hanya takut saja dijauhi oleh Alex, takut Alex akan kembali bersama dengan Tiara.
Alex yang peka, langsung melepas sabuk pengaman dia dan Alice, kemudian memeluk tubuh istrinya sebisa mungkin yang tengah menangis. Tak butuh waktu lama, Alice langsung membalasnya.
"Sudah.. Tenang sayang, jangan menangis lagi," bujuk Alex.
"Aku salah kepadamu. Aku benar-benar salah kepadamu." Alice memeluk tubuh Alex semakin erat. "Maaf, aku hanya takut kau akan kembali bersamanya. Aku takut kehilanganmu."
Alex tersenyum dan menggeleng. "Tidak apa-apa sayang. Setiap orang yang mendengarnya bisa berpikir sama seprtimu, jangan terlalu sedih."
__ADS_1
"Kau tidak marah?" tanya Alice sembari mendongakkan kepala.
Alex menggeleng. "Kenapa aku marah? Ini juga ada salahku, harusnya aku menyusun kata-kata yang benar."
Alice ikut tersenyum, lalu kembali menenggelamkan kepalanya dipundak Alex. "Aku mencintaimu. Sungguh," ucapnya tulus.
Alex mengembangkan senyum. "Aku juga sangat mencintaimu."
--Marriage Life Part 7--
"Akh.."
Alice sedikit menjauhkan tangannya yang tengah mengoleskan alkohol di punggung Alex yang tergores ketika mendengar rintihan Alex. Padahal dia sudah selembut mungkin, tapi Alex masih saja meringis.
"Maafkan aku. Aku akan berusaha lebih pelan agar kau tidak kesakitan."
Alex tersenyum dan menggeleng. Tadi dia sudah berusaha keras menahan sakit dan tidak mengeluarkan suara agar Alice tidak khawatir. Tapi akhirnya dia tetap saja gagal karena memang sakit sekali rasanya.
"Tidak apa-apa sayang. Lanjutkan saja," ucapnya.
Alice mengangguk. Perlahan dia kembali mengobati luka Alex di punggung dengan sangat pelan dan menggigit bibirnya sendiri karena takut. Alex berusaha menahan ringisannya ketika rasa sakit di punggungnya kembali menjalar. Tadi dia tanpa sengaja terluka di tangan, kaki, dan punggung, karena tergores aspal.
Alice? Dia baik-baik saja. Hanya luka kecil di tangan. Tapi Alex meminta Alice lebih dulu mengobati luka Alice sendiri, baru luka Alex.
Alex membuka matanya yang dia pejamkan, lalu menghela nafas lega, memakai bajunya yang tadi dia lepas untuk mempermudah proses pengobatan. Dia memandang Alice yang tengah membereskan dan memasukkan kotak P3K ke lemari kamar mereka.
"Alex.. Kamu jangan ke kantor ya. Istrahat dulu," pinta Alice sembari duduk disamping Alex.
"Sebenarnya meetingnya sudah selesai, aku lelah juga bekerja. Aku akan memberitahu Gavin jika tadi ada kecelakaan kecil, aku tidak akan masuk. Besok pagi aku baru datang ke kantor."
Alice tersenyum. "Baguslah. Seperti itu saja."
Alex mengangguk, lalu memeluk Alice yang ada disampingnya. Alice membiarkan Alex menyandarkan diri dipundaknya.
"Sayang.."
"Hm?"
"Sebenarnya hal yang mau aku katakan kepadamu terus-menerus yang gagal, aku mau memberitahu tentang Tiara. Tapi waktunya selalu tidak tepat."
Keniny Alice mergenyit. Dia menyadari sesuatu. "Tunggu, jadi kamu telat karena Tiara?"
__ADS_1
Alex mengangguk. "Dia membicarakan sesuatu denganku."
"Tentang?"
Alex terdiam beberapa saat. Ada keraguan untuk memberitahukan kepada Alice. Namun Alice yang disampingnya, malah terus mendesak.
"Alex.. Ayo jawab, dia membicarakan apa?"
Alex menghembuskan nafasnya, percuma juga dia sembunyikan. "Sayang.. Awalnya dia memintaku untuk memulai hidup baru lagi, tepatnya kembali bersama denganku."
Mata Alice membulat seketika. Terkejut bukan main dengan perkataan Alex, bahkan tangannya yang mengenggam erat tangan Alex mulai melonggar. Alex yang mengetahuinya, buru-buru mengenggam tangan Alice erat.
"Tapi kamu tidak perlu khawatir, aku menolaknya dan mengatakan aku sudah memilikimu. Tiara pasti mengerti. Dia mengira aku belum memiliki istri, karena itu dia menjadi seperti ini. Kamu mengerti kan?"
Alice menoleh ke arah Alex yang menatapnya serius, sebelum perlahan mengangguk." Ya, aku mengerti." Alice menghela nafas. "Tapi dia benar-benar bisa menerimanya kan?"
Alex tersenyum, menatap Alice penuh keyakinan. "Pasti sayang. Percaya kepadaku, Tiara adalah wanita yang baik."
Alice tersenyum kecut. Entahlah dia lega atau ada perasaan tak nyaman. Alice mengangguk. "Baiklah."
Drrt, Drrt..
Alex berdecak ketika teleponnya berbunyi. "Siapa sih? Mengganggu saja!" gerutunya membuat Alice terkekeh.
"Angkat saja, siapa tahu penting. Lihat, itu dari Gavin." Alice bisa melihay dari layar ponsel Alex.
"Memang. Aku angkat dulu sayang."
Alice mengangguk. Lalu Alex mulai mengangkat telepon dan mulai berbicara dengan Gavin. Alice terdiam, kemudian memandang kosong kedepan.
Benarkah Tiara menerima dirinya dan Alex yang resmi menjadi suami-istri?
.
.
.
.
.
__ADS_1
--To Be Continue--
Dukungan dibutuhkan.