
"Astaga! Aku tertidur!"
Alex buru-buru mengamnil kunci mobil dan berlari ke parkiran. Dia sudah janji akan pulang jam 8, tapi sekarang sudah jam 9. Dia tertidur selama 1 jam selesai meeting, tampaknya karena dia terlalu lelah. Dia buru-buru naik mobil dan dengan kecepatan tinggi ke rumahnya dan Alice.
Alex menurunkan kecepatan mobilnya ketika dia sudah sampai dirumah dan masuk garasi, setelah dia membuka pintunya, agar tidak membangunkan Alice yang mungkin sudah tidur. Lalu dia segera turun dan membuka pintu rumahnya dan Alice.
Alex melepaskan sepatunya, kemudian berjalan pelan masuk dan betapa terkejutnya dia menemukan istrinya tengah tertidur di meja makan dengan makan malam yang sudah trrsedia di atas meja. Alex menatap semua makanan itu, makanan kesukaan yang dibuat Alice.
Alex merasakan dadanya sesak, dia sudah membuat Alice menunggu sampai tertidur seperti itu. Alex perlahan berjalan, meletakkan tas kantornya di sofa ruang tamu dan berjalan menghampiri Alice yang tertidur dengan kedua tangan yang dilipat sebagai bantal.
Alex tersenyum, kemudian membelai lembut rambut Alice. "Maafkan aku sayang , aku pulang terlambat," ucapnya sembari menatap wajah Alice yang tertidur.
Namun Alice yang memang mudah sekali terbangun piye, perlahan membuka matanya membuat Alex terkejut. "Sayang, maafkan aku, apa kamu terbangun karenaku?" tanyanya.
Alice yang masih berusaha mengumpulkan kesadarannya, tersenyum dan menggeleng. "Tidak, aku menang seharusnya bangun. Maaf, aku tertidur, sekarang jam berapa?" tanyanya sembsri mengucek mata.
"Jam sembilan lewat."
"Ah.. Aku tertidur satu jam." Alice melihat Alex yang masih memakai pakaian kantornya. "Kamu pasti baru pulang."
Alex mengangguk. "Iya, maaf sayang. Aku tertidur di kantor tadi. Maaf sudah membuatmu menunggu sampai tertidur."
Alice tersenyum sembari menggeleng. "Tenanglah Alex, tidak masalah. Aku tahu kalau kamu pasti sibuk sebagai CEO, kau tertidur di kantor? Pasti kamu lelah, bukannya aku sudah mengatakan kalau kamu jangan terlalu lelah? Kasihan tubuhmu," ucap Alice khawatir sembsri mengusap lembut pipi Alex.
Alex tersenyum, padahal dia sempat mengira Alice akan marah kepadanya. Dia memegang tangan Alice di pipinya, lalu mengecupnya..
"Iya sayang, terima kasih perhatianmu. Aku memang beruntung mendapatkanmu. Kamu tahu? Aku mengira kamu akan marah ketika pulang terlambat."
"Aku ingin, tapi aku tahu, kamu tidak sengaja. Sudahlah, lebih baik sekarang kamu mandi ya. Aku sudah menyiapkan bajumu dan air hangat, kamu langsung mandi saja, lalu makan dan istirahat. Aku akan memanaskan makanannya, pasti makanannya sudah dingin."
Alex mengangguk. "Baiklah, terima kasih sayang."
Alice tersenyum dan mengangguk. "Ya sudah, pergilah," ucapnya sembari tersenyum.
Alex mengecup kening Alice sebentar, sebelum dia berjalan pergi dsrisana menuju ke kamar mereka yang ada kamar mandi juga. Alice tersenyum, kemudian mulai memanaskan makanan yang sudah dia buat.
--Marriage Life Part 3--
"Alex, tidurlah. Sudah jam setengah 12, besok kamu harus bangun dan bekerja, nanti kamu kelelahan," ucap Alice kepada Alex yang memeluknya dengan tatapan khawatir.
Alex tersenyum, dia malah memeluk istrinya itu semakin erat. "Tidak apa-apa sayang, suamimu ini tidak akan sakit."
__ADS_1
"Tapi kesehatan tidak ada yang tahu, Alex. Aku tidak mau kamu sakit, ayo sekarang pejamkan matamu dan tidur. Ayo."
Alex terkekeh kecil, sebelum dia menatap Alice lekat. Dia benar-benar merasa bersalah kepada istrinya. Karena dia jarang menghabiskan waktu dengan istrinya seperti biasanya, walau dia berusaha membagi waktu, seperti pulang cepat, dia yakin itu tidak cukup sebenarnya.
Namun Alice tidak protes atau mengeluh karena dia tidak ingin Alex khawatir dan mengganggu konsentrasinya dalam bekerja. Lagipula memang Alex sudah berusaha membagi waktu, tidak seperti CEO lain yang jauh mementingkan pekerjaan sampai melupakan keluarga.
"Sayang.."
"Hm?"
"Kamu tidak marah kepadaku?" tanya Alex sembari mengusap lembut wajah Alice.
Kening Alice mergenyit. "Marah? Kenapa aku harus marah kepadamu Alex?" tanyanya heran.
Alex menatap Alice dalam. "Karena aku kurang waktu untukmu."
"Oh.." Alice tertawa kecil. "Tidak. Kamu kan sudah membagi waktumu, jarang ada suami sepertimu. Itu cukup."
"Jangan berusaha menghiburku sayang, aku masih jauh dari kata baik untukmu."
"Itu hanya perasaanmu. Asalkan kamu selalu bersamaku, dan kamu telat pulang bukan karena wanita, aku tidak akan marah, dan juga jika kamu keterlaluan, aku baru akan marah."
Alex terkekeh kecil melihat wajah Alice yang beringas ketika menyebutkan wanita disana. Alex mengangguk. "Tenang sayang, sampai kapanpun, aku tidak akan pernah selingkuh darimu. Untuk apa selingkuh jika aku saja sangat mencintaimu, kau saja sudah menjadi istriku."
"Tapi aku tidak pernah melirik mereka kan? Yang aku cintai kan hanya kamu."
Alice tersenyum manis mendengar ucapan manis suaminya. "Dasar! Selalu saja menggombal!" ucapnya sembari memegang pelan pipi Alex.
"Tentu saja."
"Ya sudah, ayo tidur."
"Cepat sekali."
"Alex.. Kamu masih ingat, besok kamu ada meetung, kau tidak boleh terlambat."
Alex memdemgus dan tidak bisa berkutik ketika istrinya sudah menatapnya dengan tatapan tajam. Dia pun mengangguk pasrah. "Baiklah. Aku akan tidur."
"Pintar."
Alex memdemgus dan mulai menutup matanya sembsri memeluk Alice. Alice hanya tersenyum sembari menepuk punggung Alex, agar suaminya cepat tertidur, tak butuh waktu lama, suaminya itu langsung terlelap. Alice terkekeh kecil, sebelum dia menutup mata dna menyusul Alex menuju ke dunia tidurnya.
__ADS_1
--Marriage Life Part 3--
"Sayang.. Aku pergi dulu, hati-hati dirumah, telepon aku jika ada masalah."
"Iya suamiku.. Jangan khawatir aku akan baik-baik saja," ucap Alice sembari tertawa kecil melihat kekhawatiran suaminya yang selalu saja kambuh ketika dia ingin pergi bekerja.
"Baiklah. Aku pergi, hati-hati sayang."
"Ya.."
"Dah.."
"Dah.."
Setelah itu mobil Alex langsung pergi dengan kecepatan tinggi. Alice tersenyum, kemudian setelah memastikan mobil suaminya sudah benar-benar tak terlihat, dia ingin masuk. Walaupun mereka sebenarnya bisa saja membayar pembantu atau satpam, Alice tidak mau, dia hanya mau mengerjakan semuanya sendiri dia juga bosan hanya dirumah saja.
Namun baru saja Alice ingin menutup pintu, ada yang menahannya. "Tunggu!" teriak, wanita itu membuat kening Alice mergenyit.
"Ya, ada apa?"
"Nyonya. Ini adalah minuman yang dibuat sendiri olehku, maukah kau membelinya?"
Alice tersenyum kaku, kemudian menggeleng. "Maaf, tapi aku tidak mau."
"Nyonya, kumohoj cobalah dulu. Daritadi aku tidak mendapatkan uang, aku sudah lelah!" geruru wanita itu membuat kening Alice mergenyut. Jujur saja, dia tidak suka orang yang seperti ini.
"Kau baru jualan, jadi berusahalah Nyonya! Maaf, aku harus pergi, permisi," ucap Alice, kemudian masuk ke dalam memedulikam teriakan wanita itu.
Wanita itu mendengus kesal. Mengambil ponsel dan menelepon seseorang.
"Nyonya, aku gagal."
.
.
.
.
.
__ADS_1
--To Be Continue--