Marriage Life

Marriage Life
Marriage Life Part 2


__ADS_3

Alex tersenyum sembari memikirkan bagaimana romantisnya dan Alice kemarin di kafe. Alice benar-benar memintanya ke kafe, kemudian lucunya, dia menyiapkan kue dengan lilin 58 tahun, yang seharusnya itu adalah umur ayahnya jika ayahnya belum meninggal, kemudian beraktung seakan-akan dia menjadi ayahnya.


Hal yang mungkin menurut orang lain konyol, tapi sangatlah berarti untuk Alex. Dia benar-benar beruntung sekali bisa mendapatkan istrinya itu. Lalu keduanya memakan kue, Alice meminum minuman kesukaan ayahnya dan Alex meminum minuman kesukaannya sendiri.


"Terima kasih Sayang.." ucap Alex sembari menatap foto pernikahannya dan Alice yang dia letakkan di meja kerjanya.


Di sisi lain, Alex tidak menyadari jika temannya, Gavin sudah masuk. Teman sekaligus sekretarisnya tepatnya. Dia mendengus melihat Alex yang tersenyum sembari menatap foto pernikahannya dengan Alice.


"Tuan Alexander.." panggil Gavin membuat Alex tersadar. "Istrimu akan datang sebentar lagi, jadi harap bersabar saja."


"Diam kau!" ucap Alex. "Katakan, kenapa kau kesini?"


"Ini, ini adalah jadwalmu hari ini, besok kau akan meeting dengan seorang CEO wanita untuk membicarakan mengenai proyek kerja sama kalian."


"Oh.. Jadi CEO-nya adalah wanita? Aku baru tahu, aku kira pria."


"Aku juga baru tahu. Sudahlah, jadi kau harus mempersiapkan diri."


"Baiklah."


"Ngomong-ngomong tadi istrimu menelponku. Sekitar jam 7,aku lupa mengatakannya padaku tadi, sekarang aku baru ingat."


Alex menghentikan aktivitas membaca jadwalnya, langsung menatap Gavin. "Untuk apa dia meneleponmu? Kenapa tidak menelponku?" tanyanya heran.


"Bukan begitu, dia katanya susah meneleponmu, tapi tidak diangkat, jadi dia meneleponku."


"Hah? Benarkah?" tanyanya kaget, dia mengambil ponsel yang dia letakkan di saku, dan tertawa kecil melihat ada panggilan tidak tejawab dari Alice. "Ternyata benar, aku lupa menyalakan suara, jadi tidak ada suara."


"Ya ampun, seorang CEO bisa berperilaku begini," ucap Gavin meremehkan. Dia berani seperti itu karena dia dan Alex memang tidak masalah.


Gavin dan dia sudah bersahabat sejak SMP sampai sekarang, jadi mana mungkin Alex membiarkan temannya sungkan kepadanya? Jadi dia meminta Gavin untuk tidak perlu sungkan kepadanya dan tetap bersikap seperti biasa saja.


"Hei, aku bisa memecatmu Tuan Gavin." Tentu saja Alex bercanda.


Gavin memahami candaan itu, kemudian menyatukan kedua tangannya. "Baiklah, maaf Tuan Alexander, aku tidak akan mengulanginya."


Keduanya tertawa kecil sehabis itu, sebelum Alex bertanya. "Untuk apa Alice meneleponmu?"


"Oh.. Dia hanya mengatakan mungkin dia akan agak telat ke kantor untuk mengantarkan makan siangmu nanti. Karena dia baru sadar bahan makanan habis dan dia harus ke pasar untuk membeli bahan makanan yang terlebih dahulu."


"Dia pergi sendiri?"


"Iya. Tapi katanya kau tidak perlu khawatir, dia akan baik-baik saja."


"Baiklah, terima kasih. Kau boleh pergi."


"Baiklah."


Gavin mengambil mapnya, kemudian keluar dari ruangan Alex. Alex memandang jam, sudah jam 8.00, pasti istrinya sudah pulang. Dia thu, sehabis dari pasar, dia harus membersihkan rumah segala macamnya. Dia sudah menawarkan untuk membayar pembantu, tapi dia tidak mau.


Alex segera mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Alice.


Alex:


Kau sudah sampai rumah Sayang?


Beberapa menit kemudian, Alice membalas pesannya.


Alice:


Sudah, maaf aku baru menjawab, tadi aku sedang mencuci baju, sembari menunggu aku melihat ponsel dan baru melihatnya.

__ADS_1


Alex terkekeh kecil, gemas sendiri dengan istrinya.


Alex:


Tidak apa-apa Sayang, sebaiknya kamu istirahat dulu, jangan kelelahan.


Alice:


Tidak apa-apa, aku masih kuat. Aku harus cepat kalau tidak kamu akan kelaparan.


Alex:


Lebih baik aku kelaparan sebentae daripada kamu sakit.


Alice:


Tidak akan terjadi apa-apa suamiku.. Tenanglah.


Alex:


Baiklah. Kamu akan datang jam berapa.


Alice:


Mungkin lewat sekitar 10-15 menit.


Alex:


Baiklah, aku menunggumu, jangan sampai kelelahan Sayang, aku mencintaimu.


Alice:


Aku juga mencintaimu. Semangat kerjanya.


Alex:


Alex tersenyum sembari meletakkan ponselnya di mejanya. Dia kembali memandang Alice di foto itu, sebelum dia mulai kembali bekerja dan fokus ke laptopnya.


--Marriage Life Part 2--


Gavun memasuki ruangan Alex membuat Alex yang tadi fokus mengetik memandang ke arah pintu. "Kenapa lagi? Dari tadi kau terus saja bolak-balik membawakanku ini dan itu, kasihan kakimu," ucap Alex ketika Gavin kembali kesekian kalinya.


"Ada informasi. Hari ini kita bahas tentang masalah meetung besok, kita benar-benar harus diskusi, cukup lama karena kita harus mengupasnya dari awal. Jam pulang kantor jam setengah enam. Ya.. Jam 8,meetingnya akan selesai. Itu baru kemungkinan."


"Hek.. Lama sekali," ucap Alex membuat Gavin memutar bola matanya malas.


"Kita harus mengupasnya dari awal karena itu lama, weekend kemarin tidak cukup menghabiskan waktu dengan istrimu?" Alex menggeleng. "Ya sudah, nasibmu. Sudah untung ada pasangan."


"Hehe.. Kenapa kau iri? Tidak ada pasangan? Karena itu cepat cari pasangan Pak Gavin," ucap Alex sembari terkekeh kecil. Karena memang, sahabatnya itu belum memiliki pacar atau bahkan orang yang dia sukai.


"Jangan sombong ya kau! Kuberitahu saja padamu, katanya wanita yang akan bekerja sama dengan kita itu cantik, hati-hati saja kau, bisa saja kau jatuh hati kepadanya."


"Tidak mungkin. Hatiku hanya ada Alice."


"Sombong saja kau, ya sudah, kalau dia sesuai denganku, aku akan membuatnya menjadi istriku."


"Kau dengan dia?" Alex tertawa, seakan menertawakan Gavin membuat Gavin cemberut. "Dia memangnya mau denganmu?"


"Huh! Lihat saja nanti!"


"Baiklah aku menunggu."

__ADS_1


Gavin mendengue, sebelum dia pergi dsrisana meninggalkan Alex yang terkekeh. Baru saja Gavin ingin membuka pintu, pintu sudah terbuka, ternyata yang membukanya adalah Alice.


"Oh.. Alice.. Kau sudah datang?" ucap Gavin membuat Alex yang tadi membaca map dengan serius langsung mengangkat kepala dan tersenyum melihat istrinya disana.


"Iya," jawab Alice sembari tersenyum.


"Sayang.." Alex memanggil dengan senyumannya.


"Lihat sayangmu itu? Sudahlah, aku lebih baik pergi. Selamat romantisan."


Alice tertawa kecil, lalu Gavin pun pergi. Alice segera menutup pintu dan menghampiri Alex.


"Maafkan aku, tadi jalanan macet," ucapnya sembari menghapus keringat di keningnya dan menyiapkan makan siang Alex.


"Tidak perlu terburu-buru begitu sayang, lihat, kamu kelelahan sampai basah karena keringat," ucap Alex khawatir sembsri mengelap keringat yang tersisa di kening Alice. Alice terkekeh kecil.


"Kalau tidak terburu-buru, aku tidak sampai sekarang. Sudahlah, ayo makan, kau pasti lapar, aku memasakkan nasi goreng kesukaanmu, aku masak banyak untukmu makan sampai sore."


"Iya sayang.. Terima kasih, kamu sudah makan?"


Alice menggeleng. "Aku belum sempat."


"Sempat tidak sempat harus tetap makan sayang!" Nada bicara Alex naik, Alice tahu kalau berhubungan dengan kesehatannya, Alex akan berubah menjadi galak.


"Iya Alex.. Aku akan makan nanti dirumah ya"


"Tidak ada dirumah, makan bersamaku. Sebanyak ini tidak akan habis."


"Tapi--"


Alex sudah menyodorkan sendok yang diatasnya sudah ada nasi goreng di depan mulut Alice, matanya menatap sendok itu, sebagai isyarat agar Alice mamakan makanannya. Alice mengjela nafas dan memakannya, dia tidak bisa menolak.


"Nah! Begini lebih baik kan." Raut wajah Alex berubah. Alice geleng-geleng kepala.


"Dasar."


"Sayang. Hari ini aku pulang jam delapan malam ya, aku ada meetung untuk pertemuanku dengan CEO lain, dari perusahaan yang akan bekerja sama denganku."


"Wah.. Bensrkah? Semoga sukses!"


"Terima kasih Sayang.." ucap Alex sembari tersenyum. Padahal tadi dia sempat mengira Alice akan protes tentang jadwal pulangnya. "Kamu tidak masalah aku pulang lebih malam kan?"


Alice tersenyum dan menggeleng. "Tidak, aku tahu kamu adalah CEO, kamu harus melakukannya. Itu kewajibanmu."


Alex tersenyum, untunglah dia punya istri pengertian seperti Alice. Alex memeluk Alice dari belakang. "Biarkan seperti ini, aku butuh energi."


"Makan makananmu itu baru energi sesungguhnya."


"Kamu energinya lebih besar, sudah biarkan aku menelukmu."


Alice terkekeh kecil. "Ya sudah, terserah," ucapnya sebelum dia menyandsrkan kepalanya di dada Alex.


.


.


.


.


.

__ADS_1


--**To Be Continue--


Mari dukungan ya di Patg 2. Lanjut**?


__ADS_2