
Alie terbangun ketika matahari menusuk matanya. Dia merasakan perutnya dipeluk oleh seseorang, Alice tersenyum sembsri mengelus tangan Alex. Pasti itu adalah suaminya, siapa lagi yang memeluknya seperti ini? Senyum Alice memudsr mengingat kejadiankemarin, masih terselip kekecewaan dalam hatinya.
Namun Alice berusaha keras untuk memendam rasa kecewa itu. Alex pasti lelah kemarin. "Aku harus memanaskan makanan kemarin dan menyembunyikannya. Tidak baik jika Alex sampai memakan makanan kemarin," ucap Alice. Dia akan memakan makanan kemarin itu sendiri.
"Sayang.."
Tubuh Alice menegang ketika Alex memanggilnya, Alex semakin mempererat pelukannya. Alice berusaha tersenyum.
"Hm?"
Alex semakin memeluknya, kemudian berbisik di telinganya. "Maafkan aku sayang.." Alice terkejut. "Aku tahu kemarin pasti kamu kecewa kepadaku, aku memang salah. Aku sudah membuatmu menunggu, lalu tidur begitu saja. Kumohin maafkan aku."
Alice tersenyum, kemudian membalikkan tubuhnya, melihat Alex yang sudah menatapnya dengan sorot mata penyesalan. Alice menangkup kedua pipi Alex, lalu menggeleng sembsri tersenyum manis.
"Tidak perlu meminta maaf Alex.. Kamu pasti lelah kemarin, jsdi kau tidak makan. Tidak apa-apa, yang penting perutmu tidak kosong kemarin. Asalkan kau sudah makan, aku sudah tenang."
Alex menggeleng. "Tidak sayang.. Aku tidak makan diluar, bagaimana mungkin aku tidak memakan makananmu, lalu aku makan diluar? Aku mengatakan itu agar kamu tidak memaksaku makan kemarin. Maaf.."
Mata Alice membulat. "Astaga! Jadi sejak kemarin perutmu kosong?! Sekarang juga kamu harus makan! Aku akan membuatkan--"
"Tidak sayang... Kenapa kau panik sekali?" ucap Alex sembari terkekeh keidl dan menahan tangan Alice yang baru saja ingin turun menuju ke dapur untuk membuatkan makanan. "Tenanglah, kemarin aku terbangun karena gelisah. Aku menyadari aku salah, aku merasa bersalah. Jadi aku kemarin memakan makanan yang kamu buat."
"Apa?"
Alex mengangguk. "Aku sudah menghangatkannya sayang," ucap Alex yang tahu kekhawatidan Alice. Alice menghela nafas lega.
"Baguslah. Lalu sisanya kamu masukkan ke kulkas lagi kan?"
"Tentu saja! Sayang.. Hari ini aku mau memakan makanan yang kamu saja ya? Makanannya enak sekali!"
"Sebenarnya tidak baik memakan makanan yang dihangatkam kembali. Kemarin aku berniat untuk memakannya sendiri dan memasakkanmu makanan baru."
"Apa-apaan? Aku baik-baik saja sayang.. Kamu terlalu khawatir, aku mau makan itu ya. Kemarin aku makan banyak sekali, sisanya tinggal sedikit, itu untukku sarapan saja ya. Nanti siang, baru makan yang lain."
Alice tekrkeeh kecil, sebelum dia mengangguk. "Baiklah Alex.. Terserah kamu ya."
Alex tersenyum, kemudian memeluk Alice erat. "Terima kasih sayang.."
"Hm."
__ADS_1
"Terima kasih karena kamu bisa mengerti aku dan tidak marah kepadaku, padahal aku jelas-jelas membuatmu kecewa."
"Alex. Itu hanya masalah kecil, tidak perlu diperbesar ya."
"Masalah besar untukku."
"Sudahlah. Lebih baik kamu siap-siap, kamu harus berangkat ke kantor." Alice berusaha mengalihkan pembicaraan karena melihat raut wajah Alex yang penuh penyesalan, dia benar-benar tidak tega. "Kita lupakan saja masalah ini, toh.. Kamu bahkan sudah menghangatkan makanan itu semalam dan memakannya kan? Sekarang lebih baik kamu siap-siap."
Alex tersenyum. Merasa beruntung memiliki istri yang perhatian seperti Alice, Alice bisa mengerti dirinya, padahal untuk sebagian wanita, pasti sangat marah ketika mengetahui perilakunya semalam. Alex yakin dia bisa bertengkar dengan istrinya jika istrinya bukan Alice. Alice dan hanya Alice yang ada di hatinya.
"Baiklah sayang."
Alice tersenyum, lalu megecup pipi Alex. "Aku akan menyiapkan sarapan."
Alex mengangguk. Alice tersenyum, kemudian turun dari kasur dan berjalan menuju ke dapur yang ada di lantai dasar. Disana Alex menghela nafas kasar, sembari memandang langit-langit kamarnya. Dia perlu membicarakan masalah Tiara kepada Alice. Dia tidak mungkin menyembunyikan semuanya dari Alice.
Alex menghela nafas, kemudian turun dari kasurnya dan Alice, kemudian masuk ke kamar mandi.
--Marriage Life Part 5--
"Makananmu tetap saja enak sayang."
"Terima kasih."
Alex tersenyum melihat Alice yang tersenyum malu. Dia merasa senang melihat Alice tersipu malu karenanya. Namun tak lama, senyuman Alex memudar ketika mengingat dia harus memberitahu istrinya mengenai Tiara.
"Baiklah sayang, sebenarnya ada yang harus aku bicarakan denganmu." Alex menjadi serius seketika membuat Alice sempat terkejut.
"I-Iya. Apa yang mau kamu bicarakan?"
Alex menghela nafas. "Sayang.. Kamu tahu aku telat karena macet kan?" tanya Alex dibalas anggukan kepala Alice.
"Sebenarnya bukan karena itu, tapi karena kemarin aku--"
Drrt, Drrt..
Alex menghentikan perkataannya dan berdecak ketika telepon masuk disaat yang tidak tepat, dia melihat siapa yang meneleponnya, ternyata adalah Gavin. Dengan gusar, Alex mengangkatnya.
"Halo?! Ada apa? Kau menganggu tahu!" kesal Alex membuat Alice bergidik.
__ADS_1
Tampaknya Alex benar-benar ingin membicarakan hal yang sangat serius sampai-sampai dia marah begitu. Padahal Alex bukan tipe pemarah, topik pembicaraan yang ingin Alex bicarakan, tampaknya benar-benar serius.
Di sisi lain, Gavin juga tidak kalah terkejutnya mendengar nada tinggi Alex yang memang jarang dia keluarkan. Namun Gavin berdehem, berusaha untuk menetralkan keterkejutannya, karena dia yakin, itu berhubungan dengan kemarin, dimana Alex bertemu dengan seseorang yang tidak dia inginkan.
"Maaf kalau aku menganggu. Tapi Nona Tiara sedang dalam perjalanan kesini untuk membahas kerja sama kita. Kau harus segera datang."
Alex menghela nafas kasar, kenapa harus disaat ini sih?! "Baiklah, aku akan kesana," ucapnya dengan nada datar, sebelum dia mematikan teleponnya. Dia beralih ke Alice yang menatapnya heran.
"Ada apa Alex? Kau harus ke kantor?"
Alex mengangguk. "Aku harus membicarakan mengenai kerja sama kami."
"Oh.. Ya sudah, tidak apa-apa, kita bisa membahas ini nanti malam. Tapi Alex, sebenarnya kenapa? Apa sesuatu yang ingin kamu bicarakan sangat serius? Tadi kamu bahkan marah, kamu bukan tipe pemarah Alex. Kamu mudah emosi jika masalah itu benar-benar menganggu kamu."
Alex terdiam. Benar juga, tadi dia menaikkan nada bicaranya kepada Gavin. Alex menghela nafas, berusaha mengomtrol amarahnya yang naik begitu saja, lalu berusaha menarik senyum.
"Tidak apa-apa sayang.. Kita bicarakan nanti malam, aku akan berusaha pulang lebih awal."
Alice tersenyum dan mengangguk. Dia berdiri, kemudian memberikan tas kerja Alex yang tadi sudah dia siapkan, memakaikam dasi kepada Alex, dan merapikan sedikit kerah kemeja Alex. Alice tersenyum melihat Alex yang benar-benar tampan.
"Wah.. Tampan sekali suamiku ini," ucapnya sembari tersenyum.
Alex ikut tersenyum mendengar pujian Alice yang seolah bisa memperbaiki moodnya yang berantakan, walau mungkin hanya sedikit. "Terima kasih sayang. Maka aku berangkat dulu ya."
"Oke, aku akan mengantarmu."
"Baiklah, ayo."
Alice tersenyum, lalu Alex mengandeng tangannya menuju ke gerbang.
.
.
.
.
.
__ADS_1
--To Be Continue--